Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 88 Diperlakukan istimewa


__ADS_3

“Kia, sebenarnya kami itu segan, makan bersama mereka, suasananya itu lho, kami merasa gugup. Menurut mu apakah seperti itu jika mereka makan? Semuanya pada diam tak ada bicara?”


“Itu karena Ibu belum terbiasa, kami semua dulu seperti itu juga kok. Bahkan untuk menarik nafas pun, kami harus pelan, agar tak terdengar oleh mereka. Tapi kalau kita salah, juga nggak jadi masalah kok, mereka semua nggak bakalan marah pada kita.


“Benar begitu Kia?”


“Iya, Bu,” jawab Zakia datar.


“Kalau begitu, ayo Pa! kita makan di dalam bersama mereka!”


“Mama aja yang makan duluan, Papa ogah,” jawab Ahong pelan.


Di saat Ahong bertahan untuk tak mau makan bersama, lalu Zaki pun keluar dari dalam rumahnya.


Dengan tenang, Zaki datang menghampiri Ahong yang saat itu enggan untuk makan bersama dengan keluarga Mang Ojo.


“Kenapa nggak mau makan Pak? padahal kita mau keluar kota lho,” ujar Zaki pada Ahong.


“Kapan berangkatnya nak?”


“Pagi ini, tapi jika Bapak nggak mau makan, biar saya sendiri yang pergi.”


“Kalau begitu, Bapak bersiap dulu nak.”


“Buat apa?”


“Ya, ikut keluar kota.”


“Nggak usah!”


“Kenapa?”


“Gimana mau ikut, kalau perut Bapak aja sedang kosong.”


“Baiklah, kalau begitu Bapak makan dulu,” jawab Ahong sembari bergegas menuju rumah Majikannya.


Melihat Ahong bergegas menuju rumah untuk makan, Zaki dan yang lainnya hanya bisa tersenyum.


Setiba dimeja makan, Mang Ojo hanya menatap Ahong dengan pandangan yang begitu sejuk.


Sementara itu, Ahong yang merasa menjadi pusat perhatian keluarga Mang Ojo, menjadi agak sedikit kikuk.


“Sini! Duduknya dekat saya aja!” ajak Mang Ojo sembari mengeluarkan kursi yang ada disampingnya untuk Ahong.

__ADS_1


“Iya, Pak,” jawab Ahong dengan perasaan malu.


“Bapak kemana tadi? Kenapa begitu lama sekali datangnya?”


“Saya bersama Istri ada di kebun belakang Pak, menikmati suasana pagi bersama.”


“Bagus itu, untuk usia yang sudah tua seperti kita, hal itu memang harus sesering mungkin kita lakukan, agar seluruh otot dan persendian kita nggak kaku dan sakit.”


“Iya, Pak.”


“Sesekali, Bapak ajak Gita, berjalan-jalan di kebun, menghirup udara pagi yang segar dan sehat.”


“Baik, Pak.”


“Lakukan apa saja yang menurut Bapak baik, saya dan keluarga nggak akan melarang dan marah.”


“Iya, Pak. terimakasih atas semua kebaikan yang Bapak berikan pada keluarga saya selama ini. Kami sekeluarga merasa berhutang budi pada keluarga Bapak.”


“Nggak ada yang berhutang budi Pak, saya melakukannya dengan ikhlas, dan keluarga Bapak menerimanya dengan senang hati. Jadi kita sama-sama impas.”


“Tapi, Pak.”


“Udah-udah! Nggak usah dibahas lagi, mari makan!” ajak Mang Ojo pada Ahong sekeluarga.


“Keluarga yang sakinah dan penuh berkah,” ujar Defi pada dirinya sendiri.


Bersama Zaki, Defi juga ikut merawat Gita yang semakin hari semakin mengalami perubahan, Gita bahkan sudah bisa tersenyum kepada Defi yang merawatnya, akan tetapi, Gita tak tak merasakan perasaan apa-apa terhadap Zaki dan Defi.


Sepertinya semua rasa itu telah sirna dalam hidupnya, dia bahkan tak merespon siapa saja yang berada di sekitarnya.


Sementara itu, Zaki yang dengan setia merawat Gita, bahkan dia sendiri tak merasakan apa-apa. Gita benar-benar tak punya semangat untuk hidup.


Di saat mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing, Retno orang tuanya Niko, siang itu mendatangi rumah putranya. Setibanya di restoran, Retno memanggil pelayan restoran itu.


Aida, pelayan kepercayaan Intan datang menghampirinya, Aida memandang Retno seperti orang yang keheranan.


“Kenapa kau memndang ku seperti itu? Nggak pernah melihat orang kaya datang ke restoran ini!” bentak Retno dengan suara lantang.


“Idih! Perasaan kali. Heh Bu! di dunia ini, bukan Cuma Ibu orang kaya, lihat thu, keluarga Mang Ojo, bahkan mereka sekeluarga punya segalanya, tapi mereka nggak sombong,” kata Aida membandingkan Retno dengan keluarga Mang Ojo.


“Kurang ajar!” bentak Retno sembari menampar meja.


“Aih! Hap, hap,” ujar Aida seraya mengeluarkan jurus silatnya.

__ADS_1


“Banyak omong kau! Keluarga Mang Ojo itu belum seberapa bila dibandingkan dengan saya, ngerti kagak!”


“Nggak! Karena setau saya, hanya keluarga Mang Ojo lah orang yang paling kaya di daerah ini. Ibu tau kagak, selain memiliki kemewahan yang berlimpah, mereka juga nggak pelit, suka bersedekah dan saling menyayangi.”


“Alah! Itu kan hanya formalitasnya saja, di dalam hatinya siapa yang tau!”


“Allah,” jawab Aida spontan.


“Udah, udah! Kalau udah ngomong dengan orang seperti kalian, pasti bawaan saya marah terus.”


“ya udah! Kalau Ibu mau marah, jangan kesini dong! Ibu tau kagak, restoran ini di bangun dengan uang yang halal. Para tamu yang datang kerestoran ini pun, orang yang mudah senyum, kagak seperti Ibu. Bawaannya marah mulu.”


“Heh, bisa diam kagak, nanti saya siram baru tau rasa!” kata Retno sembari menyiram wajah Aida dengan segelas air.


Merasa gelagapan, karena disiram air, sontak hal itu membuat Aida marah, wajah Aida yang tampak memerah menahan rasa kesalnya, langsung menghajar Retno.


Pukulan Aida pun beberapa kali menghantam wajah Retno, hingga perempuan itu sempoyongan dan nggak kuat untuk berdiri.


Semua pelanggan di restoran itu ikut melerai perkelahian mereka, sedangkan Retno yang di pukul oleh Aida mengalami memar diwajahnya.


“Kurang ajar kalian semua, udah miskin masih saja belagu, nggak ada otaknya!” teriak Aida dengan suara lantang.


“Hei, Bu. Agar Ibu ketahui ya! walau pun kami ini miskin, tapi kami nggak pernah membuang anak kami ketempat sampah, seperti yang Ibu lakukan.”


“Kurang ajar! Apa maksud mu hah!” ujar Retno tersulut amarah yang meluap-luap.


“Kau membuang anak yang telah kau didik dan kau besarkan selama bertahun-tahun, sementara kami yang miskin ini saja, kami tak pernah melakukan hal sekeji itu.”


“Agar kau ketahui ya, saya nggak pernah membuang Niko, akan tetapi Keluarga pemulung itulah yang telah merebut Niko dari kami.”


“masa Ibu kalah dengan keluarga pemulung, Ibu kan orang kaya, punya uang banyak dan harta berlimpah, kok nak laki-lakinya direbut oleh keluarga pemulung, ibu langsung kalah! Heh, heh!” kata Aida meledek retno yang sedang menahan rasa kesalnya pada Aida.


“Saya nggak kalah! Saya akan rebut Niko dari kalian!” ancam Retno pada Aida.


“Emangnya Ibu mau merebut barang mainan.”


Merasa di rendahkan oleh Aida, Retno langsung saja pergi meninggalkan restoran itu, hatinya sangat sakit sekali, walau dia terus berusaha untuk mengendalikannya, namun Retno semakin kesal.


Setelah Retno pergi, seorang pembeli langsung bcara pada Aida, yang saat itu sedang membersihkan air yang sedang membasahi lantai restoran milik Intan.


“Ibu, kalau ada pelanggan kita yang merasa nggak senang dengan masakan kita atau bahkan karena pelayanan kita, tolong Ibu jangan marah dulu. karena hal ini dapat membuat citra restoran Ibu menjadi rusak di mata pelanggan.


Bersambung...

__ADS_1


\*Selamat membaca\*


__ADS_2