
Lalu mereka pun mengikuti Randi dari belakang, Randi tampak senang sekali, karena keinginannya untuk menjadi seorang mahasiswa di Jakarta sebentar lagi akan terwujud jadi satu kenyataan.
Di dalam mobil semuanya tampak diam, tak seorang pun yang berkomentar, Riswan dan Rumana tampak begitu fokus melihat kedepan, hanya sesekali Randi mencoba mencuri pandang kepada kedua orang tuanya.
Mobil pun melaju sangat tenang waktu itu, setenang harapan Randi mencapai cita-cita yang ada diseberang lautan.
Setiba di bandara semua turun dari mobil, tampak Kepsek dan Riswan membantu mengeluarkan barang bawaan Randi.
Sedangkan Rumana dan Juwita tampak saling tersenyum saat keduanya sama-sama beradu pandang.
Mau tak mau, iklas tak iklas, Riswan dan Rumana, harus iklas melepas kepergian Randi, karena semua itu demi cita-cita dan masa depannya nanti.
Setelah menunggu beberapa jam, Randi pun akirnya berangkat ke Jakarta. Semetara itu Riswan dan Rumana, hanya bisa pasrah melepaskan kepergian anak satu-satunya.
Dengan membawa sedikit uang dan do’a restu kedua orang tuanya, serta uang yang di amplopkan kepsek padanya, Randi pun akhirnya berangkat menuju Jakarta.
Rumana sangat sedih sekali melepas putra semata wayangnya, hampir setiap malam dia menangis karena menahan rindu.
“Sudahlah Bu, nggak usah terlalu dipikirkan, Randi ke Jakarta itu untuk belajar, menuntut ilmu biar masa depannya nanti cerah. Ya iklaskan saja, do’akan agar dia berhasil selama disana, dan pulang bawa gelar sarjana, kamu banggakan, Bu ?”
“Bangga, Yah ! tapi yang membuat Ibu risau, kenapa sudah hampir satu bulan Randi tak pernah ngasih kabar ke kita.”
“Mungkin belum sempat Bu, bersabarlah.”
“Iya, Yah ! Ibu pasti bersabar.” Jawab Rumana dengan suara pelan.
Keresahan hati Rumana, ternyata menggundahkan hati Randi riswana. Disaat dia sedang duduk sendiri, Randi teringat pada kedua orang tuanya.
“Hai ! ada apa ? kenapa melamun bro !” tanya Sutoni teman satu kosan dengan Randi.
“Hai Ton, aku teringat orang tua dikampung, dah lama Aku nggak ngasih kabar ke mereka.”
“Kenapa bisa lupa ? Kalau bagiku orang tua itu adalah segalanya, dia inspirasi yang sangat mulia didalam hidup ku. Dan sedetik pun aku nggak bakalan lupakan mereka.”
“Benarkah ?”
“Iya, buat apa Aku bohong.”
“Kalau kau mau, pakailah ponsel ku ini dulu, hubungi Mama mu dikampung.”
“Ponsel ?”
“Iya ponsel, sejenis telpon genggam, kau bisa menghubungi nyokap lho di kampung.”
“Maaf Ton, dikampung ku, nggak ada yang menggunakan ponsel, kalau pun ada, mereka itu pasti orang kaya, sementara Ibu ku dirumah mereka hanya menginginkan sepucuk surat dari putranya ini.”
“Kalau Cuma itu, kenapa nggak segera kau tulis surat, nanti ku temani kau ke kantor pos.”
“Terimakasih ya Ton, kau teman ku yang paling baik sekali.”
__ADS_1
“Ah, biasa aja Bro ! jawab Sutoni sembari menepuk bahu Randi.
Karena Sutoni bersedia mengantarkan Randi ke kantor pos, maka Randi segera menulis sepucuk surat untuk kedua orang tuanya.
Betapa senangnya hati Riswan dan Rumana, saat membaca surat pertama dari putranya itu, dengan linangan air mata, Rumana terus membaca surat itu.
Sementara itu, Intan keluarga Mang Ojo, yang pernah berniat untuk membuka cabang baru restoran yang sedang di kelolanya, hari itu sepertinya akan dia wujudkan.
“Apakah kamu udah menghitung semuanya sayang ?” tanya Niko pada istrinya.
“Udah Bang, dan bahkan aku udah mencari tempat yang sangat strategis untuk kedua restoran yang akan kita bangun itu.
“Jadi kapan kita akan berangkat ?”
“Lebih cepat, tentu lebih baik Bang.”
“Baiklah, besok kita kerumah Kak Ranita, untuk dibuatkan sketsa gambarnya.”
“Baik Bang.” Jawab Intan dengan senang.
Seperti yang telah direncanakan, keesokan harinya Niko dan Intan mendatangi rumah Ranita, mereka minta di buatkan sketsa untuk restoran yang ingin mereka bangun.
“Emangnya kalian mau membangun restoran dimana sayang ?” tanya Ranita ingin tau.
“Rencananya Di Batam dan Padang kak.”
“Sebenarnya, biayanya udah ada kusediakan semenjak aku masih gadis, tapi karena saat sekarang ini, semua bahan harganya naik, makanya aku menambahnya lagi, dan dibantu dengan gaji yang di dapat Bang Niko.”
“Udah cukup ?”
“Malah berlebih dari target yang telah direncanakan.”
“Baiklah, malam nanti, kakak akan buatkan rancangan restoran yang bagus untuk mu.”
“Terimakasih ya kak, semoga dengan cabang yang baru ini, aku dapat meraup untuk yang lumayan.”
“Insya Allah, kakak yakin kamu pasti berhasil sayang.”
“Ya, Insya Allah kak.” Jawab Intan tersenyum senang.
Setelah rancangan gambar yang di minta Intan selesai, keesokan harinya, Intan minta izin pada kedua orang tuanya.
“Berapa hari kalian perginya sayang ?” tanya Fatma ingin tau.”
“Belum tentu, Bu!”
“Emangnya kalian punya rencana, mau nginap berapa hari ?”
“Dari sini, kami ke Batam dulu Bu, selanjutnya baru kami ke kota Padang.”
__ADS_1
“Pesan Ibu, restoran mu jangan terlalu lama ditinggalkan sayang, kasihan dengan pelanggan mu, mereka pasti merasa canggung karena kehilangan tempat favoritnya.
“Restoran tetap buka kok Bu, aku menitipkan keuangan restoran ku pada Nurul.”
“Bagus kalau begitu.” Jawab Fatma.
“Hati-hati selama di perjalanan, jaga anak mu baik-baik, jangan pernah melepaskannya di keramaian.”
“Baik, Pak.” Jawab Intan pelan.
Sesuai dengan rencana yang sudah mereka rancang, pagi itu Niko dan Intan langsung menuju bandara dengan diantar oleh seluruh keluarganya.
Diatas pesawat mereka berdua pun tertidur dengan pulas, begitu juga dengan si kecil, tujuan utama mereka adalah Kota Batam, karena di sanalah restoran pertama sekali di buka.
Setelah tiba di Kota Batam, Intan dan Niko langsung menuju daerah yang di maksud, dibawah pengawasan orang suruhan Intan, sesuai dengan sketsa gambar yang telah dibuat Ranita, maka restoran itu pun siap di bangun, di atas tanah seluas seperempat hektar.
Intan dan Niko juga menyaksikan peletakan batu pertama restoran itu, mereka mengundang banyak kalangan itu menghadiri peresmian restoran yang akan mereka buka nantinya.
“Begini Pak, bentuk sketsa restoran yang akan kita bangun nanti.”
“Nak Intan dapat sketsa ini dari mana ?”
“Kakak saya seorang arsitek terkenal di Jakarta.”
“Wah, bagus sekali sketsa, yang di rancang oleh kakak mu itu, kalau sketsanya begini, maka posisi restoran nak Intan terlihat jelas dari tiga titik ini.”
“Benarkah itu Pak ?”
“Ya, rancangan yang di buat kakak mu sangat menarik dan elegan.”
“Bapak sangat suka sekali.”
“Terimakasih Pak.”
“O iya, nak Intan, boleh Bapak minta kartu Namanya ?”
“Ya, tentu Pak !” kata Intan seraya mengeluarkan dua kartu nama sekaligus.”
“Kok dua nak ?”
“Yang ini kartu nama saya dan yang satunya lagi kartu nama kakak saya yang arsitek itu.”
“Oh, terimakasih.”
“Ya sama-sama, nanti kalau Bapak perlu seorang arsitek yang dapat merancang proyek yang akan Bapak bangun, maka kabari saja kakak saya.”
“Tapi gimana caranya nak Intan ?”
Bersambung...
__ADS_1