
“Oh, hahaha ! benar itu Pak ?” tanya Niko meledek ayah mertuanya itu.
“Ah Ibu. Kenapa mesti dibilangin sih ? kan Bapak jadi malu pada Niko."
“Itu mah udah biasa, Pak ! Namanya aja udah tua, yeah ! jalanin aja !”
“Kamu ini ya Niko ! hobinya ngeledekin Bapak ! terus.”
“Habis ! terkadang aku juga kangen, dengan masa-masa dahulu, sewaktu kita bersama-sama.”
“Benar itu nak ! Bapak juga kangen dengan masa muda dahulu.”
Mendengar Mang Ojo merasa kangen dengan masa mudanya, semua saling beradu pandang, mereka merasa heran dengan ucapan Mang Ojo yang baru saja di katakan nya.
Akan tetapi Fatma dengan cepat langsung menyambar apa yang baru di katakan suaminya itu.
“Owalah Pak ! Pak ! kangen kok sama masa muda sih !”
“jadi kangen itu dengan apa lagi Bu ?”
“Ya kangen sama sahabat kek, kangen sama cucu kek ! kayak gitu !”
“Jadi kita nggak boleh kangen dengan masa muda ?”
“Kalau Bapak kangen dengan masa muda, lalu Bapak mesti jemput kemana itu masa muda ? Ke Hongkong !”
“Hahahaha !” mereka semua pun jadi tertawa.
“Bapak ya, kalau ngomong ya nggak pakai mikir !” kata Fatma seraya tertawa lebar.
Melihat tingkah laku Fatma dengan yang lainnya, Mang Ojo jadi semakin bingung, dalam hatinya bertanya sendiri. “ Kenapa orang nggak boleh kangen dengan masa muda. Aneh !”
Walau Mang Ojo tau, kalau istri dan anaknya meledek dirinya, Mang Ojo tetap tenang dalam menghadapi mereka semua.
“Ya udah, kalau kalian nggak mau mendengar perkataan Bapak, ya nggak apa-apa.” Kata Mang Ojo dengan suara pelan.
Mendengar Mang Ojo sedikit memelankan suaranya, Fatma dan yang lainnya merasa heran, dia tau kalau Mang Ojo sedikit tersinggung, untuk itu mereka semua berusaha diam dan tak berkomentar.
“Kenapa pada diam ? tadi kayaknya serius kali meledek Bapak ?”
“Bapak tersinggung ya ?” tanya Intan seraya menghampiri Bapaknya.
“Owalah ! kalian pun ternyata termakan gaya Bapak yang berpura-pura sedih ya !” kata Mang Ojo sembari tertawa geli.
Intan yang merasa di kerjain habis habisan oleh Bapaknya, langsung memukul Mang Ojo dan mencubit lengan nya.
“Bapak jahat ! Bapak ngerjain kami rupanya !” seru Intan seraya menyembunyikan rasa malunya.
Di saat itu, tanpa sengaja, kakinya menendang meja, hingga Intan pun tersungkur, dan kening nya membentur lantai rumah.
“Ya Allah !” teriak Mang Ojo dengan kuat sekali.
Kejadian itu begitu cepat, sehingga Mang Ojo tak sempat menyelamatkan dirinya, Niko yang menyaksikan kejadian itu, mencoba untuk membantu istrinya berdiri, akan tetapi, kening Intan sudah mengeluarkan darah yang begitu banyak.
Zaki yang waktu itu masih berada dirumah, langsung keluar dan memberikan pertolongan pada Intan, keningnya pun di perban, agar luka nya tak mengalami infeksi.
__ADS_1
“Cuma luka sedikit, kakak ku sayang !”
“Nggak di jahitkan Dek ?”
“Nggak !”
“Makasih ya sayang.”
“Iya.” Jawab Zaki singkat.
“O iya dek, gimana kabar hubungan mu dengan Gita, apakah masih berlanjut ?”
“Kayaknya, nggak bisa di lanjutkan lagi kak.”
“Kenapa ? apa ada masalah ?”
“Masalahnya masih seperti waktu itu kak, dia nggak boleh sama orang tuanya pindah Agama.”
“Ooo, gitu ya.” Jawab Intan seraya mengangguk kan kepalannya.
“Tapi, kalau menurut Bang Niko sih, lebih baik cari aja gantinya Ki !”
“Iya Bang, Bapak juga menyarankan begitu, tapi mungkin masih agak lama.”
“Nggak apa, semuanya kan mesti di pikirkan lagi secara matang, agar kejadian seperti ini nggak terulang lagi."
“Iya, Bang ! sebenarnya yang kemaren itu pun, nggak sepenuhnya salah Gita, sebab waktu itu aku nggak bertanya dulu padanya, tentang Agama yang di anut nya.”
“kalau bisa kau melupakannya, lebih cepat, tentu hal itu sangat baik untuk mu, karena kau pun nggak hanyut dalam kesedihan terus.”
“Iya, Bang.”
“Pa, Bu dan yang lainnya, sebenarnya kami datang kesini, karena punya maksud dan tujuan yang belum kami utarakan.” Kata Niko mengawali pembicaraan mereka malam itu.
“Ada apa rupanya nak ?” tanya Mang Ojo ingin tau.
“Besok pagi kami mau ke Batam, untuk melihat restoran kami yang disana.”
“Ke Batam ? kapan ?” tanya Mang Ojo semakin penasaran.
“Besok Pak.”
“Lho, kenapa begitu cepat, kok nggak ngomong dulu sama Bapak, kan Bapak lebih sedikit tenang.”
“Maksud Bapak apa ya ?” tanya Intan heran.
“Kalau mau pergi jauh, ngomongnya jangan mendesak begini sayang, Bapak kan jadi sedih.”
“Ooo, gitu ya Pak, jadi sekarang gimana, kami udah beli tiket pesawat loh.”
“Ya mesti gimana lagi, kalau kamu mau pergi, Bapak pun nggak bisa melarang kan ?”
“Nanti kalau kami mau pergi lagi, kami akan bicarakan hal ini pada Bapak jauh-jauh hari, agar Bapak bisa siap dalam melepas kepergian kami.”
“Baiklah, jadi kapan kalian mau pergi ?” tanya Mang Ojo sekali lagi.
__ADS_1
“Besok Pak ? Intan sekeluarga akan pergi besok !” potong Fatma yang menanggapi pertanyaannya pada Intan.
“Ooo, besok ya.”
“Gimana, Bapak izinkan kami berangkat besok kan Pak ?”
Mang Ojo tak langsung menjawab, dia tampak diam sejenak, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.
Semua tampak diam menunggu jawaban dari Bapaknya, apalagi Intan dia begitu cemas, kalau Bapak nya nggak mengizinkan kepergiannya.
“Gimana Pak ? Bapak izinkan kami berangkat besok kan ?” tanya Intan penasaran.
“Ya sudah, silahkan kamu pergi. Tapi ingat ! jangan terlalu lama disana.”
“Oh, terimakasih Pak.” Jawab Intan seraya mencium tangan Bapaknya.
Setelah mendapat restu dari kedua orang tuanya, pagi itu Intan beserta keluarganya, langsung berangkat, semuanya ikut mengantar kepergian Intan, tampak mata Mang Ojo berkaca-kaca saat itu.
Hingga tak terlihat pun dari pandangannya, Mang Ojo masih saja mengangkat tangannya, melepas kepergian putri tercintanya.
“Pak, mereka udah nggak kelihatan lagi, ayo kita pulang !” ajak Fatma pada suaminya.
“Baik Bu.” jawab Mang Ojo dengan suara pelan.
Setelah pesawat yang di tumpangi Intan lepas landas, Fatma dan yang lainnya pun kembali pulang kerumahnya, saat menuju parkiran, seorang perempuan datang menghampiri Fatma.
“Boleh saya numpang tanya Bu ?”
“Boleh.” Jawab Fatma dengan suara lembut.
“Apakah Ibu tau alamat rumah sakit ini ?” tanya perempuan itu sembari menunjukan alamat yang dipegangnya pada Fatma.
Tapi karena Fatma sudah sedikit kabur pandangannya, maka alamat itu pun di serahkan pada Zaki putranya.
“Ooo, ini rumah sakit tempat saya bertugas.” Jawab Zaki.
“Perkenalkan saya Defi, dokter bedah yang akan bertugas dirumah sakit tempat anda bertugas.”
“O ya, nama saya Zaki, senang berkenalan dengan dr. Defi.” Jawab Zaki seraya tersenyum lebar.
“Udah lama bertugas di rumah sakit itu ?”
“Ya ! baru sekitar empat tahun.”
“Ooo, gitu ya.”
“Jadi dr. Defi sekarang ini mau kemana ?”
“Saya mesti cari kontrakan dulu, mungkin besok saya baru mulai bertugas di sana.”
“Gimana, kalau berangkatnya barengan dengan kami aja ?”
“Apakah nggak nyusahin nantinya ?”
“Nggak, kebetulan arah kita sama kok.”
__ADS_1
“Ooo, baiklah kalau begitu.” kata dr.defi seraya mengangkat barang bawaannya.
Bersambung...