
“Buktinya, Papa malah belain Ranita jika Mama marah padanya. Padahal Ranita itu kan anak kita berdua, ya saling dukung dong !”
“Kalau itu Papa tau, tapi dengan cara yang seperti itu tadi, Papa kagak setuju sama sekali ! Itu sama saja Mama menyiksa anak sendiri. Dia kan sudah dewasa, mbok diajari saja dengan baik. Agar dia bisa mengerti dan paham dengan derajatnya sebagai orang terhormat dan terpandang.”
“Aaah ! Mama pusing, pusing !”
“Ya, sama ! Papa juga pusing !”
“Lalu kita mesti gimana Pa ?”
“Serahkan aja semuanya sama Ranita, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri ?” jawab Pak Margono.
“Ah, nggak bisa gitu dong !” bantah Resti.
“Ya, terserah !” bentak Pak Margono seraya mengerem mobilnya yang melaju kencang.
“Apa-apaan ini, Pa ! mau membunuh Mama ?”
“Kalau nggak ingin terbunuh, ya diam ! jangan bahas masaalah ini lagi !” kata Pak Margono seraya kembali menyetir mobilnya.
Mobilpun berjalan dengan kecepatan sedang, walau hati Pak Margono waktu itu sedang sakit, namun dia tetap tenang, seperti tak mengalami masaalah dengan keluarganya.
Sementara itu, Ranita yang terkurung dikamar rumahnya, tak henti-hentinya menangis, karena ulah Mamanya yang selalu mementingkan egonya sendiri, maka anak yang jadi korban.
Sebenarnya Ranita sudah lama ingin memberontak, karena kelakuan orang tuanya yang selalu sibuk bekerja, dan tak pernah memikirkan dirinya, hingga anak sudah lewat umur pun mereka tak pernah bertanya tentang masa depan putrinya.
Kini dibalik jendela kamar tingkat tiga rumah mewah itu, Ranita hanya bisa berharap agar Alhuda tetap memperjuangkan cintanya.
Dalam kesendiriannya Ranita mencoba menengadahkan kedua tangannya kehadirat Allah agar diberi kemudahan untuk segala urusan yang akan dia lalui nantinya.
Kini waktu terus berjalan, tak pernah berhenti walau sedetik, mesti demikian hati Ranita yang semakin sakit, sepertinya tak dapat obatnya.
Dari hari ke hari tubuhnya semakin kurus, tak mau keluar kamar dan tak mau apa-apa, selain tidur dan menangis.
Mama Ranita mulai mengkhawatirkan keadaan putrinya, hilir mudik dia berfikir namun tak ada hasilnya. Hatinya yang sekeras batu, tak mau melunak sedikit pun, walau hanya untuk mengorbankan egonya itu.
Pagi itu Resti sengaja bangun lebih awal, untuk memasak masakan kesukaan putrinya. Dan mengantarkan langsung kekamar.
“Ranita ! bangun sayang, lihat Mama bawa apa untukmu ! makanan kesukaan mu. Ayo nak dimakan !”
Namun Ranita diam saja, tubuhnya terasa begitu lemah dan tak bisa digerakkan sama sekali, karena putrinya tak mau bangun, Resti pun menghampirinya.
“Ranita ! pie toh nduk, ayo bangun Mama jadi sedih lho !” kata Resti seraya mengangkat tubuh putrinya.
Tapi betapa terkejutnya dia saat itu, tubuh Ranita benar-benar tak berdaya.
“Pa, Papa !” teriak Resti dari kamar Ranita.
“Ada apa, Ma ? pagi-pagi udah teriak ! bikin Papa kaget aja !”
__ADS_1
“Pa, Papa ! kesini ? lihat Ranita, Pa !”
“Ada apa dengan Ranita Ma ?”
“Ranita lemas, Pa ! tubuhnya tak bisa bergerak !”
Saat itu juga Pak Margono berlari menuju kamar putrinya, yang waktu itu benar-benar sudah tak berdaya sama sekali.
“Lihat putri kita, Pa !” kata Resti seraya menangis karena cemas.
“Ya Allah, apa yang terjadi dengan Ranita, Ma ?”
“Mama juga nggak tau Pa.”
“Neng Ranita melakukan mogok makan Nyah !”
kata Bi Inah.
“Apa ? Mogok makan ?”
“Benar nyah ?”
“Udah berapa hari, Bik ?”
“Udah lima hari nyah !”
“Apa ? udah lima hari, tapi Bibi diam saja ?”
“Aduh Bik ! ini bukan masaalah kecil, ini menyangkut nyawa anak saya lhoo. Kalau terjadi apa-apa dengan putri saya, apa Bibi mau bertanggung jawab ?” bentak Resti yang panik ketika melihat putrinya tak berdaya.
“Udah, udah, jangan salahkan Bi Inah dong ! ini semua kan salah Mama yang keras kepala.”
“Aduh ! Papa kok nyalahin Mama sih !”
“Lalu Papa mesti nyalahin siapa ! udah jelas yang punya anak itu Mama kan !”
“Ranita bukan hanya anak Mama seorang, Pa ! tapi dia anak kita berdua, jadi Papa jangan nyalahin Mama aja dong !”
“Dasar keras kepala, udah salah pun masih aja nggak nyadar.”
“Papa tuh, yang egois !”
“Mama !”
“Papa !”
“Aduh ! jadi gimana ini nyonya !” kata Bi Inah kebingungan.
“Eh ! kok malah Bibi yang bentak saya !”
__ADS_1
“Saya nggak bentak nyonya ! tapi kalau nyonya dan tuan bertengkar, ujung-ujungnya Neng Ranita justru tambah parah sakitnya.”
“Iya, Bi Inah itu benar ! Timpal Pak Margono.
Makanya kalau jadi istri itu yang manut sama suaminya ! Jangan selalu membantah !”
“Nyalahin lagi ! Ujung-ujungnya dirumah ini udah pada jadi tuan semua, nih !” sindir Resti seraya menatap tajam kearah Bi Inah.
“Udah sana ! Sekarang cepat telfon dokter !” bentak Pak Margono pada istrinya.
“Iya nih, mau Mama hubungi, Pa ?” jawab Resti dengan nada emosi.
“Ya, udah cepat hubungi !”
“Iya, iya ! bawel banget jadi suami.” jawab Resti sembari menghubungi dokter pribadi mereka.
Tak berapa lama kemudian hubungan pun tersambung dengan lancar.
“Halo, asallamu’alaikum !”
“Wa’alaikum salam, ada apa Bu Resti, ada yang bisa saya bantu ?” jawab dr. Harni.
“Iya dok ! ini anak saya Ranita, sepertinya sedang dalam keadaan sakit ! Apa bisa Ibu datang kerumah saya ?”
“Ooo, baiklah ! Sebentar lagi saya nyampe.”
“Ya, terimakasih dok !”
“Sama-sama.” Jawab dr. Harni singkat.
Sambil menunggu dr. Harni datang, Rasti begitu cemas sekali, dia berjalan hilir mudik, muka belakang tak tau arah, dari sorot wajahnya Rasti Nampak begitu cemas sekali.
“Giliran anak sakit, aja ! Paniknya setengah mati. Tapi giliran anak sehat, sampai ke jodohnya pun diatur oleh undang-undang, rumah tangga.” Sindir Pak Margono seraya menatap kearah Resti.
“Mulai dah ! nyindir lagi. Kayaknya mau nyarik masalah, Ya ?”
“Siapa yang mau nyarik masalah, nggak kok ! Mamanya aja yang baperan !” jawab Pak Margono seraya mencibir di belakang Resti.
Melihat majikannya selalu bertengkar, Bi Inah merasa kesal jadinya.
“ Huh dasar orang tua nggak tau malu, udah jelas putrinya sedang sakit, masih aja bertengkar !” gerutu Inah pelan. Sembari berlalu meninggalkan tuannya, bersama dengan dokter yang sedang memeriksa kondisi Ranita.
“Kenapa Nah, kau kelihatan kesal sekali ?”
“Tuh, majikan gendeng, putrinya udah sekarat pun dia masih saja bertengkar.”
“Iya Nah, gara-gara keegoisan mereka, Non Ranita jadi korban.”
“Aku jadi kesal Bud.”
__ADS_1
“Aku juga Nah.” Ucap Budi sembari duduk terhenyak di kursi.
Bersambung...