
Rohana begitu sayang pada Radit, dia selalu mementingkan kebutuhan Radit ketimbang dirinya sendiri, hal itu membuat Handoko menjadi senang, karena pewaris perusahaannya tumbuh sehat.
Tiga tahun telah berlalu, Radit yang bayi kini telah tumbuh menjadi batita, di halaman rumahnya Radit berlari bermain bersama Rohana.
Tiba-tiba saja dari depan pintu gerbang, dia melihat seseorang memanggilnya. Rohana yang tak menyadarinya sedang asik mengumpulkan mainan milik Radit yang masih berserakan, dari arah luar Rohana mendengar suara jeritan Radit yang menangis.
Melihat Radit sudah tak berada di dekatnya, Rohana langsung berlari menuju pagar, dari kejauhan Rohan melihat seseorang menenteng tangan Radit, sehingga bayi itu menjerit kesakitan.
Bukan hanya Rohana yang kuatir melihat hal itu, setiap warga yang menyaksikannya pun ikut merasa kasihan, mereka semua juga berusaha mengambil Radit dari tangan pemuda yang ternyata ayah kandungnya sendiri.
“Aduh kasihan bayi mu Riza, nanti tangannya bisa patah,” ujar salah seorang warga.
“Biar aja, aku juga mau melemparnya ke sungai kok,” jawab Radit dengan tenang.
“Oh, jangan, nanti kau nggak punya bayi lagi.”
“Biar saja, karena di anak Nurul.”
“Nurul itu kan istrimu!”
“Dia perempuan jahat, yang tega meninggalkan diri ku sendiri.”
Di saat warga mencoba mengajak Riza bicara, Rohana langsung menelpon majikannya Handoko dan Nurul.
“Apa? Radit di culik?”
“Iya, non, cepat pulang karena orang yang menculiknya masih berada di depan gang sebelah non.”
“Baik Bi, aku akan segera kesana sekarang.”
Setelah mendengar berita itu, Nurul langsung bergegas meninggalkan ruangannya, Nurul juga menghampiri Papanya untuk mengabari kejadian itu. Handoko yang mendengar langsung berdiri, dan kembali pulang kerumah bersama Nurul.
Belum sampai ke rumah milik tuan Handoko, dari kejauhan dia melihat seorang pria menenteng tangan Radit dengan kuatnya, sehingga anak itu menangis histeris karena kesakitan.
“Ya Allah Pa!”
“Dia itu Riza sayang,” ujar Handoko pada Nurul.
“Riza, berarti dia lari dari rumah sakit,” jawab Handoko seraya keluar dari dalam mobil miliknya.
“Riza! kapan kau datang nak?” tanya Handoko dengan suara lembut.
“Jangan bicara, kalau bicara terus akan ku patahkan tangan anak ini.”
“Kenapa kau melakukan itu Riza, dia itu darah daging mu sendiri, jangan kau sakiti dia!”
“Diam kau tua bangka!”
“Aku ini Papa mu nak.”
“Aku sudah lama nggak punya Papa, lebih baik begini dari pada punya Papa, tapi dia menyayangi orang lain.”
“Orang lain apa maksud mu, bukan kah dia itu istri dan anak mu?”
__ADS_1
“Dia itu perempuan laknat!” teriak Riza sembari berlari mengejar Nurul yang berdiri di belakang Papanya.
“Berhenti!” bentak Handoko.
“Walai Riza mendengar teriakan Papanya, namun dia tetap menghampiri Nurul dan menarik rambutnya kebelakang, sementara bayi yang ada di tangannya di buang begitu saja, untung seorang warga menangkap dan melarikannya.
Lalu pria itu mengembalikan anak Nurul ke tangan Rohana, mesti saat itu Nurul berada dalam bahaya, karena tangan Riza begitu keras untuk di lepaskan, namun Nurul senang karena Radit tak lagi dalam bahaya.
“Jangan seperti itu nak, kasihan dengan istrimu!” seru Handoko pada Riza yang terus menarik rambut Nurul.
“Aku bukan istrinya lagi Pa! aku udah cerai sama pria psikopat ini!” teriak Nurul seraya berusaha lepas dari cengkraman tangan Riza.
“Tolong lepaskan dia sayang, nanti Bapaknya bisa marah pada Papa.”
“Apa yang Papa takutkan pada pemulung itu, mesti dia kaya, tapi dia nggak sekaya kita Pa.”
“Papa tau itu nak, ayolah lepaskan dia.”
“Nggak! aku nggak bakalan melepaskannya.”
“Kenapa?”
“Karena dia Pa, hidup ku jadi hancur.”
“Itu bukan salah Nurul nak, itu salah kamu sendiri, kau yang menyakiti dirinya.”
“Itu karena dia telah melahirkan seorang bayi, aku nggak suka anak, Pa.”
“Aku nggak suka dia Pa!” teriak Riza sembari melepaskan rambut Nurul dan kembali mencari Radit yang telah di bawa pergi oleh Rohana.
“Mana dia, mana anak sial itu?”
“Dia itu anak mu, Namanya Radit!” teriak Handoko yang mencoba untuk terus menenangkan putranya itu.
“Nggak, aku nggak mau punya anak, mana dia!”
“Dia udah pergi, kau nggak boleh menyentuh putra ku,” ujar Nurul dengan lantang.
“Kurang ajar, kau orang tua!” teriak Riza sembari menarik kerah baju milik Handoko
“Ternyata kau telah memungut anak sampah ini di rumah kita.”
“Dia itu istri mu Riza, bukankah selama ini kau begitu mencintainya?”
“Aku nggak mencintainya Pa, dia istri nggak berguna,” jawab Riza sembari melepaskan kerah baju milik Handoko, dan duduk diam di trotoar jalan.
Di saat itu, mobil rumah sakit datang menghampiri Riza, dan menangkap tangan Riza serta membawanya kedalam mobil. Riza pun meronta-ronta minta di lepas.
“Lepaskan aku! lepaskan, aku nggak mau di masukan kerumah sakit lagi, tolong aku Pa, aku nggak mau jadi orang gila pa!”
“Tenang dek, tenang, nggak ada yang menjadi orang gila, semua orang pasti menginginkan jadi orang sehat, itu sebabnya kamu kami obati biar sembuh.”
“Nggak! aku nggak mau, aku nggak gila, aku sehat Pa!”
__ADS_1
Tak ada yang dapat di perbuat oleh Handoko, walau berat rasanya melepaskan putra semata wayangnya, namun Riza tetap harus menjalani perawatan, agar dia segera sembuh.
Handoko menangis menahan perasaannya, dengan pelan dia pun melangkah mengikuti mobil ambulance, bersama dengan Nurul, mereka berdua menuju rumah sakit.
Di rumah sakit jiwa, Nurul melihat bermacam ragam penyakit yang di derita pasien, diantara merekalah Riza mereka tempatkan, sebenarnya hati Nurul begitu sedih sekali, namun dia tak berdaya, karen Riza telah berusaha untuk mencelakai dirinya.
Ketika hendak pulang dari rumah sakit, Nurul menyempatkan diri untuk menemui dokter spesialis yang menangani penyakit suaminya.
“Gimana keadaan suami saya saat sekarang ini, dok, kenapa dia bisa keluar dari rumah sakit?”
“Dia menipu kami Bu, dan dia mencoba untuk kabur.”
“Sebenarnya suami saya bisa sembuh nggak dok?”
“Suami ibu itu, bukan hanya sekedar mengalami stress, tapi dia juga seorang yang memiliki mental labil.”
“Bisa nggak kira-kira dia itu di sembuhkan dok?”
“Tentu, tapi akan kita lihat dulu sampai dimana perkembangannya saat ini, kalau menampakkan perubahan, kita akan lanjutkan ke perawatan berikutnya.”
“Berilah ruang khusus untuknya, nanti kalau soal dana akan kami tanggulangi.”
“Baik, Bu.”
“Berikan pelayanan yang terbaik untuk kesembuhannya.”
“Baik Bu.”
“Suatu saat nanti, saya akan datang mengontrolnya kesini, jika ada kesalahan yang kalian lakukan pada dirinya, saya akan tuntut kalian semua.”
“Baik, Bu.”
“Ya sudah, saya permisi dulu.”
Setelah Nurul pergi, pimpinan rumah sakit itu tersenyum pada anggotanya. Karena pria itu merasa terharu dengan sikap Nurul yang rendah hati.
“Kenapa Bapak tersenyum?” tanya Mawar heran.
“Padahal dia itu cantik, seorang direktur lagi, tapi kenapa ya, masih berharap pada pria psikopat seperti Riza.”
“Iya, Pak.”
“Padahal kalau dia mencari pria tampan dan kaya pasti dapat.”
“Itu berarti Ibu itu setia pak.”
“Iya, berarti dia itu seorang perempuan setia.”
Setelah Nurul pergi, Riza pun di pindahkan keruangan yang terpisah, di ruangan itu, Riza mendapatkan perawatan khusus.
Bersambung...
\*Selamat membaca\*
__ADS_1