Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 86 Mengalami Sock berat


__ADS_3

“Aku nggak tahan melihat air mata kedua orang tua Gita yang sedih karena kehilangan putri satu-satunya.”


“Baiklah sayang, kita akan berangkat sekarang,” perintah Alhuda pada kedua adiknya.


Dengan berbekalkan sebilah golok, dan pisau dapur yang di bawa Dika, mereka bertiga langsung bergerak menuju pondok kosong yang letaknya sangat jauh dari mobil yang mereka parkir kan.


Berbekal senter ponsel yang dinyalakan Alhuda, bersama Zaki dan Dika mereka bertiga terus mengendap di balik semak.


“Ternyata di dalam ada penghuninya,” ucap Dika pelan.


“Iya, mari kita hampiri lebih dekat lagi,” ajak Alhuda pada kedua adiknya.


“Baik kak,” jawab keduanya sembari terus berjalan mengendap-endap.


Benar saja, setelah mereka begitu dekat dari rumah itu, Alhuda melihat Gita di dalamnya dengan tangan dan kaki terikat, tanpa mengunakan pakaian selembar pun.


“Ya, Allah!” ujar Alhuda sembari menarik tangan Zaki dan Dika menjauhi tempat itu.


“Ada apa Bang? Kenapa menarik tangan ku?”


“Kau benar Ki, di dalam rumah itu ada Gita yang terikat, tapi dia nggak mengenakan pakaian.”


“Apa? Benarkah itu Bang?”


“Iya, sayang,” jawab Alhuda pelan.


Setelah mereka memastikan, kalau Gita benar berada di dalam, lalu Alhuda melaporkannya, pada polisi.


“Hallo, Assalamua’alaikum,” ucap Alhuda.


“Wa’alaikum salam, dengan siapa ini?”


“Saya Alhuda, saya mau melaporkan penculikan yang dilakukan oleh tiga orang pria, Pak.”


“Dari mana Bapak tau, kalau ada penculikan?”


“Saat sekarang ini saya bersama kedua adik saya sudah berada ditempat kejadian pak.”


“Posisi anda sekarang ini berada dimana Pak?” tanya polisi pada Alhuda.


“Nanti akan saya kirim alamatnya, Pak,” jawab Alhuda seraya mengirim alamat di mana mereka berada.


“Baiklah, kami akan bergerak sekarang.”


Sambil menunggu kedatangan Polisi, Alhuda bersama kedua adiknya, hanya bisa duduk menunggu.


Setelah beberpa saat kemudian suara sirene mobil terdengar ditempat yang begitu jauh, Zaki langsung keluar dari persembunyiannya dan menghampiri beberapa orang polisi yang datang ke tempat itu.

__ADS_1


Di saat Zaki muncul dari balik semak-semak, polisi itu langsung menodongkan senjatanya kearah Zaki.


“Angkat tangan! Jangan bergerak, anda telah di kepung!” seru polisi itu seraya mengepung Zaki.


“Maaf, bukan saya pelakunya, saya orang yang baru melaporkan penculikan itu kepada Bapak,” ujar Zaki sembari menghampiri para polisi itu.


“Baiklah, dimana para penculik itu berada saat ini?”


“Mereka ada di dalam rumah itu.”


“Ada berapa orang mereka Pak?” tanya polisi itu pada Zaki.


“Menurut pemantauan kami, mereka ada berjumlah tiga orang.”


“Baiklah! Anggota!”


“Siap!”


“Kita kepung rumah itu, mereka semua berada didalam dan berjumlah tiga orang,” kata komandan polisi itu, memberikan keterangan pada anggotanya.


“Siap! Perintah segera di laksanakan.


Lalu mereka pun membagi tugas. Seperti yang telah mereka pelajari, satuan anggota itu pun langsung berpencar menjadi empat bagian dan sama-sama mencari posisi mereka masing-masing.


Setelah mendapat perintah dari komandannya, mereka pun langsung bergerak, menyusuri semak yang ada disekitar tempat penyergapan itu.


“Jangan bergerak!” seru polisi itu seraya menodongkan senjata api miliknya kearah para penculik itu.


Ke tiga penculik itu tampak tak berkutik di saat para polisi itu memborgol tangan mereka bertiga, sementara itu Zaki yang melihat Gita tak mengenaan pakaian, langsung melepas pakaiannya dan memasangkan ketubuh gadis itu.


Ketika Zaki hendak memasangkan pakaiannya ketubuh Gita, gadis itu langsung berteriak-teriak ketakutan.


“Oh, jangan! Jangan sentuh aku, aku nggak mau,” teriak Gita seraya berlari menghindari zaki.


“Ini aku sayang! Zaki,” kata Zaki menjelaskannya pada Gita.


Akan tetapi Gita masih saja tak mau mendekati Zaki, sementara itu, polisi dan yang lainnya mencoba untuk pergi meninggalkan Zaki.


Alhuda dan Dika juga tak kuasa melihat kejadian yang begitu miris itu, mereka hanya menundukkan kepalanya.


Sementara itu, Zaki terus saja membujuk Gita, yang berlari menghindar darinya. Tak tahan melihat kejadian itu, Zaki langsung menahan tangan Gita dan memasangkan baju miliknya ketubuh Gita yang saat itu tampak begitu sock sekali.


Zaki memeluk tubuh Gita dengan lembutnya, air mata pun mengalir tak terasa mengiringi rasa takut yang dirasakan Gita saat itu.


Di saat merasa aman berada didalam pelukan Zaki, terbayang olehnya kebiadapan ketiga orang pria itu, yang telah memperkosa dan menyiksa tubuhnya.


Seketika itu juga, Gita langsung memberontak dari pelukan Zaki dan lari ke sudut kamar yang lainnya.

__ADS_1


“Oh, sayang! Kenapa kau lakukan itu pada Abang!” teriak Zaki dengan hati yang tersayat pilu.


“Sabar dek! Gita masih kelihatan begitu sock,” ujar Alhuda pada Zaki.


“Bang Alhuda, benar. Cobalah Abang hampiri dia dengan perlahan,” timpal Dika dengan suara lembut.


Mendengar tanggapan dari kedua saudaranya itu, Zaki mencoba mendekati gita dengan pelan, akan tetapi betapa terkejutnya Zaki saat itu.


“Jangan dekati aku! pergi! pergi sana! Kau masih menginginkan tubuh ku? Baiklah, akan kulayani, ayo!” ucap Gita seraya melepas pakaiannya dan mencoba berbaring di hadapan zaki.


Zaki melihat Gita bertingkah seperti itu, dia pun memukul tiang rumah yang berada di sampingnya dengan kuat, hingga beberapa dari potongan kayu yang lapuk itu berjatuh kebawah dan menimpa tumpukan api unggun yang ada ditengah rumah itu.


Alhuda dan Dika yang menyaksikan kejadian itu, segera menghampiri Gita, dan memeluk tubuh Gita kuat-kuat serta mengenakan pakaian milik Dika ke tubuhnya.


Di saat Gita merasa aman bersama mereka, Alhuda langsung menggendong tubuh Gita dan menyelamatkannya keluar rumah.


Sedangkan Zaki bersama Dika, masih terperangkap didalam rumah itu. Sementara api yang saat itu semakin membesar, melahap semua yang ada di dalam rumah itu.


Melihat Zaki dan Dika belum juga keluar, Alhuda langsung mengejar adiknya dan masuk kedalam.


“Ayo kita keluar sayang! Sebelum api ini menghanguskan tubuh kita semua.” Ajak Alhuda pada kedua adiknya.


“Baik Bang.”


Lalu ke tiganya berlarian keluar rumah, untuk menyelamatkan diri dari kobaran api yang semakin membesar.


Gita yang menyaksikan kejadian itu, dia hanya tampak diam membisu, tubuhnya begitu pucat, dengan lembut Zaki langsung menggendong tubuh Gita dan membawanya kemobil.


Ahong dan Leni yang melihat putrinya seperti itu, mereka hanya bisa menangis histeris, di peluknya tubuh Gita dengan lembut, tapi gadis itu tak meresponnya sama sekali.


Di atas mobil Leni tak henti-hentinya menagis, seraya memeluk tubuh Gita yang mulai tampak melemah.


“Kita kemana sekarang nak?” tanya Ahong ingin tau.


“Kerumah ku saja, disana aku akan merawat Gita sampai dia sembuh.”


“Lalu bagai mana dengan kami?” tanya Ahong bingung.


“Bapak dan Ibu juga ikut kesana.”


“Tapi, nak! bapak nggak mau menyusahkan kalian semua.”


“Udah! Nggak usah terlalu dipikirkan,” ujar Zaki pada kedua orang tua Gita.


Bersambung...


\*Selamat membaca\*

__ADS_1


__ADS_2