Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 82 Kabar yang menyakitkan


__ADS_3

Setelah hari itu, Gita tampak uring-uringan,dia tak tau mesti bagai mana, sementara kedua orang tuanya masih tetap pada pendiriannya.


Apalagi setelah di lihat sendiri oleh Gita akan kedekatan Zaki dengan Defi, hal itu membuat Gita semakin cemas. Dugaan Gita memang benar, Defi yang selama ini tinggal satu rumah dengan Zaki, semakin hari hubungan mereka semakin dekat saja.


Kedekatan mereka berdua di dukung oleh kedua orang tua, yang saat itu menghendaki agar hubungan Zaki dengan Gita bisa segera berakhir.


“Malam itu, ketika Gita pergi ke toko,


membeli susu untuk Mamanya yang sudah tua, tanpa sengaja, Gita memergoki Zaki berduaan dengan Defi, ingin sekali Gita menghampiri Zaki saat itu, akan tetapi Gita tak punya keberanian.


Dengan linangan air mata, Gita hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan, betapa sakit hati Gita saat itu, ternyata Zaki sudah beralih hati pada perempuan yang sering bersamanya itu.


Tak tahan dengan hal itu, Gita langsung saja mencari taksi untuk segera pulang kerumahnya. Diatas Kasur Gita hanya bisa meratapi nasib dirinya, kekasih hati yang sangat dia cintai, telah menggandeng perempuan lain.


Gita menangis histeris di dalam kamarnya, air matanya tak lagi dapat menahan beban yang sangat berat.


“Kenapa kamu menangis nak?” tanya Leni, saat dia melihat Gita sedang menangis di kamarnya.


“Ini semua gara-gara Papa dan Mama, yang nggak mengerti perasaan aku, coba saja kalian memberikan aku sedikit kebebasan untuk menetukan jalan hidup ku, pasti aku nggak akan begini!” kata Gita dengan suara serak.


“Jadi mau mu apa sekarang nak?”


“Izinkan aku mencari hidupku sendiri, agar aku bisa menentukan masa depan ku.”


Leni yang tak tega melihat putrinya selalu bersedih, dia pun memberi peluang, agar Gita bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.


“Baiklah, akan Mama izinkan kamu pindah Agama, kejarlah masa depan mu itu Gita !”


Mendengar jawaban dari Mamanya, hati Gita sangat senang sekali, dia pun bangkit dan langsung memeluk tubuh Mamanya yang mulai rapuh itu.


Leni hanya bisa tersenyum di saat putrinya terlihat ceria, hatinya juga senang saat itu, kebahagiaannya hanya putrinya itu.


Akan tetapi, Ahong yang mendengar keputusan dari istrinya langsung marah dan naik darah, dia menampar meja yang berada disudut kamar milik Gita.


“Kok bisanya kau mengambil keputusan seberat itu sendirian ! kan ada aku ! apakah kau nggak memandang aku sebagai suami mu lagi?” ujar Ahong emosi.


“Bukan hanya kau yang berhak dirumah ini atas putri kita Gita. Aku sebagai Mama nya juga berhak penuh atas dirinya!” jawab Leni, dengan nada yang tak kalah kuatnya dari Ahong.


“Lalu sekarang apa mau mu!”


“Biarkan Gita bahagia dengan pilihan hidupnya. Kasihan dia, jangan di tekan terus,” ucap Leni.


“Aku nggak pernah menekannya, aku hanya inginkan yang terbaik untuk masa depannya.”

__ADS_1


“Masa depannya hanya ada pada Zaki, Pa,”


jawab Leni memotong pembicaraan suaminya.


“Nggak Ma! Masih banyak pria yang lebih baik dari Zaki, kenapa mesti dia yang selalu kalian harapkan?” kata Ahong setengah kesal.


“Aku hanya mencintai Bang Zaki, Pa!” lirih Gita pelan.


“Kenapa harus Zaki, sayang! Kamu kira hanya Zaki pria di atas dunia ini?”


Gita hanya bisa menangis sedih mendengarkan ucapan dari Papanya yang seolah-olah menyalahkan dirinya karena mencintai Zaki.


“Papa jahat!” teriak Gita dengan suara lantang.


“Semua Papa lakukan, demi masa depanmu Gita,” jelas Ahong.


Untuk yang terakhir kalinya Gita tak mau menjawab, hanya air matanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.


Sore itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Gita pergi keluar rumah, ditengah perjalanan, Gita mencoba untuk menghubungi Zaki.


Disaat nomor Zaki mulai terhubung, Zaki langsung mengangkat ponselnya. Rasa herannya saat itu membuatnya segera menjawab perkataan Gita.


“Baiklah, kita ketemuan dimana?” tanya Zaki pada Gita.


“Di tempat biasa, Bang,” Jawab Gita yang saat itu langsung bergegas menuju ketempat mereka biasa bertemu.


Di perjalanan hati Zaki merasa resah sekali, entah apa yang bakal di kata kan Gita, sehingga dia pingin ketemuan ditempat biasa.


Setelah tiba di daerah yang dimaksud, Zaki langsung turun dari mobil, dari kejauhan, Zaki melihat ada Gita yang berdiri tegak menghadap air terjun yang tercurah deras.


“Sayang! Ada apa?” tanya Zaki seraya memeluk tubuh kekasihnya itu.


Belum sepenuhnya tangan Zaki melingkar di pinggang Gita, Gita telah menepisnya begitu cepat sekali.


“Jangan sentuh aku!” bentak Gita kesal.


“Apa maksud mu?”


“Aku ingin kita putus!”


“Kenapa?”


“Jangan berpura-pura, aku udah tau semuanya,” jawab Gita dengan suara serak.

__ADS_1


“Tau tentang apa?”


“Perempuan yang selalu bersama Abang, dia itu dr. Defi, bukan?”


“Iya.” Zaki pun menatap tajam kearah Gita.


“Dr.Defi, yang membuat Abang selalu menghindar dari aku kan?”


“Nggak sayang! Nggak ada yang menghindar dari mu, tapi kamu tau sendirikan, hubungan kita ini nggak ada kejelasannya, untuk itu kedua orang tua Abang menjodohkan kami berdua.”


“Apa? Kalian berdua mau menikah?”


“Belum, tapi kami mau bertunangan,” jawab Zaki dengan suara lembut.


Bagaikan petir di siang hari, niat Gita yang akan menyampaikan keinginannya untuk memeluk Agama Isalam, kandas setelah mendengarkan penjelasan dari Zaki, hatinya terasa begitu panas, jantungnya mendidih, Gita pun tak kuat menerimanya.


Hatinya yang Rapuh, menjadi semakin hancur berkeping-keping, masa depan yang telah dibayangkannya begitu indah bersama kekasih yang dia cintai, sore itu lenyap sudah.


Gita pun tertunduk lesu dipangkuan Zaki, air matanya tak henti-hentinya mengalir, walau Zaki berusaha untuk menghiburnya, namun Gita tetap saja menangis.


“Kenapa kau lakukan semua itu pada ku, Bang?” tanya Gita ingin tau.


“Setelah sekian lama Abang minta jawaban dari mu, kau selalu tak punya kepastian tentang hal ini, sementara kedua orang tua Abang terus mendesak agar Abang segera menikah.”


“Kenapa nggak berterus terang sedari dulu?”


“Bukankah sedari dulu hal itu udah Abang tanyakan pada mu, sementara itu kau tak pernah punya kepastian.”


“Aku selalu berusaha Bang! Meminta dan berharap pada kedua orang tua ku, untuk bersedia memberiku izin pindah ke Agama yang Abang anut, aku nggak diam berpangku tangan ! tapi apa balasannya! Huhuhuk.” Gita menangis di pelukan Zaki.


“Jadi apa kedua orang tua mu, memberimu izin?”


“Mama merestui kita Bang, hanya Papa yang masih pada pendiriannya.”


“Berarti, mereka belum sepenuhnya melepaskan mu untuk masuk Islam bukan?”


“Tapi setidaknya aku udah mencobanya kan?”


“Iya, kamu udah mencobanya.”


“Tapi apa balasannya untuk usaha ku itu, Bang?”


“Abang nggak bisa, kasih harapan lagi pada mu sayang.”

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2