Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 150 Akhir keluarga harmonis


__ADS_3

Mendengar perkataan Dika, Diki langsung menoleh kearah belakangnya, betapa terkejutnya dia, karena sosok nenek yang di temuinya di bawah kini telah berubah menjadi seorang perempuan yang muda dan kuat.


“Kau nggak kenal dengannya kan Ki?”


“Nggak Pak, tapi tadi dia seperti seorang nenek tua, sekarang kok jadi perempuan muda.”


“Dia telah menipumu Diki, dia menyamar menjadi seorang nenek tua untuk mengelabui mu, saya tau apa tujuannya menyamar datang ke rumah ini.”


“Haha! Ternyata kau pintar Dika! Kau mengerti apa tujuan ku datang kerumah ini.”


“Tapi sayang, saat ini aku udah nggak punya apa-apa lagi, aku udah lama bangkrut, karena Panti baru saja di timpa musibah, dan uang ku habis untuk membangun panti yang baru.”


“Aku nggak perduli, aku mau uang kes 1M,” ujar Meri dengan suara lantang.


“Nggak sedikit itu, kenapa nggak minta lebih? Kan kau bisa minta sesuka mu?”


“Kurang ajar, kau kira kau itu siapa, bicara seperti itu pada ku.


“Emangnya kau itu siapa, hah! Hanya seorang gelandangan yang mimpi mau menguasai seluruh panti ini.”


“Sombong sekali kau Dika!”


“Aku sombong? Nggak salah tuh, hei Meri! Kalau hidup susah, jangan suka nyari masalah, sebab ujungnya kau sendiri yang akan menanggungnya nanti. Jangan berlagak seperti nyonya besar kalau kita nggak punya apa-apa, sadarlah, cari jalan yang halal untuk mencari rezeki.”


“Tutup mulut mu Dika!”


“Kau yang tutup mulut! Diki seret perempuan jahat itu keluar, biarkan dia jadi gelandangan di luar sana.”


“Baik, Pak!” jawab Diki sembari menarik tangan Meri keluar.


Mesti sekuat apa pun Diki menarik tangan Meri, namun perempaun itu tetap bersikeras untuk tetap bertahan, Dika yang melihat Meri bertahan pada pendiriannya, datang membantu Diki untuk menarik tangannya.


Tepat pada saat itu, Meri memamfaatkan kesempatan yang ada dengan menusuk kan pisau yang ada di tangannya ke perut Dika, hingga darah pun menyembur keluar.


Yulia yang melihat suaminya tergeletak bersimbah darah, langsung menjerit meminta tolong. namun Meri lebih cepat dari warga yang akan datang membantu.


Meri dengan tenang menghampiri, Yulia yang saat itu sedang menggendong anaknya, Diki mencoba memukul punggung Meri dengan tangkai sapu, namun Meri tak merasakan sakit sama sekali, dia terus menghampiri Yulia yang semakin ketakutan.


“Mau apa kau?” tanya Yulia seraya terus mundur dan menjauh dari suaminya, agar Diki segera membawa Dika keluar untuk di selamatkan.


Dengan Bahasa isyarat, Yulia memberi kode kepada Diki untuk segera membawa suaminya keluar. Sesuai perintah Yulia, Diki langsung menggendong Dika yang sudah tak berdaya keluar dari dalam rumah itu.


Di depan Rumah Dika, Diki menjerit-jerit minta tolong, hingga beberapa orang warga datang menghampiri Diki dan menolong Dika untuk di larikan kerumah sakit, di saat itu Diki langsung masuk kedalam rumah Dika dan mencari cara untuk menolong Yulia.


Dengan di bantu beberapa orang warga, Diki mencoba menyelinap keruangan, di mana Yulia bersama anaknya sedang ketakutan karena di todong pisau oleh Meri.


“Cepat, buka brangkas nya!” perintah Meri dengan suara lantang.


“Tapi kami udah nggak punya uang lagi,” ujar Yulia ketakutan.

__ADS_1


“Bohong, aku tau siapa kalian.”


“Aku nggak bohong! Kami benar-benar kehabisan uang untuk pembangunan panti yang terbakar.”


Mendengar keterangan Yulia, sebenarnya Meri yakin sekali dengan apa yang di katakan Yulia saat itu, karena panti yang dulu sangat berbeda dengan panti yang di lihat Meri sekarang ini.


Namun Meri tak langsung percaya dengan ucapan Yulia, karena tak mungkin bagi Dika kehabisan uang, sebab satu lukisannya saja berharga hingga puluhan juta.


“Cepat, buka !” bentak Meri sembari mengacung-acungkan pisau itu ke arah Yulia.


Dengan berbagai macam cara, Yulia berusah memperlambat gerakannya, karena saat itu dia melihat Diki ada di belakang Meri.


“Cepat kamu ambil uangnya,” kata Meri seraya menarik tangan Yulia hingga perempuan itu hampir terjatuh bersama anaknya.


Kesempatan itu di mamfaatkan oleh Yulia untuk lari kebelakang Diki, dan Diki yang di tangannya ada sebatang balok kayu, langsung saja menghantamkan balok itu kewajah Meri, hingga perempuan itu terjungkal kebelakang.


Meri pun menjerit kesakitan, wajahnya tampak mengeluarkan darah, namun warga yang berada di tempat itu langsung mengikat kedua tangan Meri dan menyeretnya keluar rumah.


“Lepaskan aku!” teriak Meri dengan suara lantang.


Mesti Meri meronta dan menjerit minta di lepaskan, namun semua warga tetap mengikat tangannya dan tak mau melepaskan.


“Kalian belum tau, dengan siapa kalian berhadapan bukan, awas kalian semua saya bisa lapor balik perbuatan kalian ini.”


Bagai orang kesurupan, Meri terus meronta dan berteriak minta di lepaskan, namun semua warga tak memperdulikannya.


Beberapa saat kemudian polisi pun datang, untuk membawa Meri ke kantor polisi demi mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


“Bukan Pak, saya Diki, satpam panti ini Pak.”


“Saudara Dika ada?”


“Dia barusan di larikan kerumah sakit Pak, karena di tusuk oleh perempuan ini.”


“Dengan Ibu Meri bukan?”


Meri diam saja, walau pertanyaan polisi itu terdengar jelas di telinganya, karena saat itu Meri memang berniat mencari cara bagai mana untuk dapat melarikan diri.


“Kalau nggak salah, Ibu Meri baru kami bebaskan satu minggu yang lalu, ternyata udah bikin ulah lagi.”


“Saya hanya minta bagian saya Pak, nggak lebih.”


“Ibu minta bagian apa?” tanya Diki ingin tau.


“Pembagian harta.”


“Pembagian harta apa?”


“Yulia itu keponakan saya, berarti saya juga punya ha katas harta yang dia miliki saat ini, untuk itu saya datang kesini, untuk minta bagian saya.”

__ADS_1


“Dia itu berbohong, Pak.”


“Ibu kenal dengannya?”


“Iya, dia juga yang telah menipu kami waktu itu.”


“Kenapa, kau itu nggak pernah percaya pada tante Yulia?”


“Aku nggak pernah punya tante, bahkan aku nggak punya siapa-siapa lagi di Dunia ini, jadi jangan pernah mengaku sebagai Tante ku, Meri!” bentak Yulia sembari menepis tangan Meri yang mencoba untuk meraih pakaian Yulia.


“Ayo pak, bawa saja dia, kami takut, nanti Bu Meri menyakiti anak-anak panti yang ada disini,” ujar Diki.


“Baik, kami akan segera membawanya ke kantor.”


Setelah Meri di bawa ke kantor Polisi, hati Yulia menjadi lega, dengan di antar oleh sopirnya, Yulia langsung menuju rumah sakit, melihat keadaan suaminya yang ditusuk Meri dengan pisau.


Setiba di rumah sakit, ternyta seluruh keluarga telah berkumpul di sana, rasa sedih Yulia langsung di tumpahkan kepada Fatma, Ibu yang selama ini paling dihormatinya.


Isak tangis mewarnai pertemuan mereka siang itu di rumah sakit, dengan pelan Yulia menghampiri kamar suaminya, yang tampak terbaring lemah.


“Sayang kamu nggak apa-apa?” tanya Dika ketika melihat kedatangan Istri dan anaknya.


“Alhamdulillah, kami berdua selamat Bang.”


“Gimana dengan Ayah dan Ibu mu?”


“Mereka nggak berada di rumah, Ayah dan Ibu pergi ke panti pagi tadi.”


“Oh, syukurlah,” ucap Dika senang.


“O, iya Dik. Kamu Abang rawat di rumah aja ya, kalau di sini, Abang kebanyakan pasien, jadi nggak sempat mengurus mu.”


“Terserah Abang aja,” jawab Dika pelan.


Atas kesepakan bersama, akhirnya Dika mereka bawa pulang kerumag Mang Ojo, di sana Zaki merawat adiknya dengan baik, hingga Dika benar-benar sembuh.


Sejak hari itu, keluarga Mang Ojo tampak hidup bahagia, Rasti telah hidup bahagia bersama Ranita putri tunggalnya, sedangkan Niko telah kembali pada keluarganya, mesti Mama tercintanya telah tiada.


Begitu juga dengan Dika, mereka semua hidup rukun bersama dengan anak-anak panti, siang itu Mang Ojo tampak tersenyum bahagia, karena Defi di kabarkan tengah mengandung si buah hatinya yang kedua.


Sembari duduk tenang di atas sofa, Mang Ojo selalu berharap, kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga besarnya.


“ Kita sama-sama berdo’a kepada Allah, agar musibah menjauh dari keluarga kita, aamiin!”


Sesungguhnya yang paling mulia disisinya adalah hambanya yang bertaqwa yang selalu mendekatkan diri padanya. Sementara manusia, mereka hanya bisa menilai dari zhahirnya saja, walau pun murni didalam namun tetap hina didepan mereka.


Begitulah dengan kehidupan yang digeluti Mang Ojo sekeluarga, hanya menjadi pemulung dan penjaja kacang rebus keliling, walau dari pekerjaannya itu, mereka telah menghasilkan butiran Mutiara yang berharga dan tak ternilai, namun dia tetap saja di abaikan.


Tapi Allah punya kehendak lain, yang kita semua tak pernah mengetahui makna dibalik semuanya, itulah “Takdir” yang telah digariskan pada setiap hambanya. Kita hanya tinggal menjalankannya saja.

__ADS_1


Ingatlah sebaik-baik manusia itu, manusia yang selalu mensyukuri, apa-apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya. Sehingga dengan rasa syukur itu pula, mereka semakin mendekatkan diri pada sang penciptanya.


\* Tamat\*


__ADS_2