
“Nggak juragan, Krisna bekerja sambil kuliah di semarang.”
“Bohong ! mana mungkin putramu bisa bekerja sambil kuliah, putra mu itu kan bodoh Kia !”
“Astagfirullah ! kenapa juragan menghina putra saya.”
“Karena saya itu tau persis, siapa putra mu itu ! dia itu kan anak kemaren sore yang dungu !”
“Juragan boleh memperlakukan saya dengan kejam dan bahkan memperlakukan saya seperti binatang, tapi juragan nggak punya hak menghina putra saya satu-satunya !” teriak Zakia seraya melemparkan uang itu kewajah juragan kejam itu.
“Huuh ! dasar perempuan bodoh ! udah di kasih kepuasan garatis, pakai nolak lagi !” gerutu juragan Anom, yang terkenal kejam dan pelit.
Walau Zakia mendengar jelas apa yang di katakan juragan Anom, namun dia terus saja berlalu meninggalkan pria tua itu.
Dengan nafas yang masih sesak, Zakia kembali kerumahnya dan duduk di sebuah dipan yang udah lapuk.
“Ibu udah membayar semua hutang Juragan itu nak, tapi juragan itu marah pada Ibu.”
“Biarlah dia marah, asalkan Ibu selamat dari cengkeraman juragan kejam itu.” Ucap Randi.
Sementara itu Krisna yang melihat Mamanya terbebas dari jeratan hutang sang juragan mafia itu, dia pun menangis histeris di pelukan Mamanya.
“Maafkan Krisna, Ma !” ucap Krisna sembari terus memeluk Mamanya.
“Sekarang kemasi barang Ibu, bawa barang yang penting aja, Ibu akan ku izinkan tinggal bersama ku di kontrakan.”
“Di kontrakan ? maksud mu apa Ran ?”
“Kau dengar sendiri kan, Kris ! kalau kedua orang tua Toni udah membayar uang kontrakan untuk ku, jadi bebas dong aku mau bawa siapa pun kesana, termasuk Ibu mu.”
“Benar kau mau membawa Mama ku kesana Ran ?”
“Iya, itu benar sekali, Mama mu bebas tinggal di sana sampai kapan pun dia mau.”
“Terimakasih Ran, kau benar-benar anak yang baik.” Kata Krisna sembari memeluk tubuh Randi.
“Sama-sama.” Jawab Randi seraya tersenyum lebar.
Sambil menunggu Mama Krisna berkemas, Randi dan Krisna, juga ikut membantu mengemasi barang bawaan Zakia.
Karena tak ada barang berharga yang mesti di bawa, untuk itu Zakia hanya mengemasi pakaian dan kain selimut.
“Ibu udah siap nak !” kata Zakia setelah dia selesai membungkus pakaiannya dalam selembar kain sarung bekas.
Dengan menggunakan ojol, Randi pun kembali ke kontrakannya, sebelum dia memasuki rumah kontrakan, Randi terlebih dahulu menemui pemilik kontrakan itu untuk meminta izin agar Mama Krisna dapat tinggal bersama dengannya.
“Kenapa Mama Krisna mesti tinggal bersama dengan mu Ran ?” tanya pemilik kontrakan.
“Aku kasihan pada mereka kak, karena Krisna dan Mamanya nggak punya tempat tinggal.”
__ADS_1
“Jadi selama ini, mereka tinggal dimana ?”
“Mereka numpang sama Juragan kejam di kampungnya kak !”
“Ooo, gitu.”
“Jadi sampai kapan Mama Krisna akan tinggal bersama mu Randi ?”
“Sampai masa kontrakan ku habis.”
“Nggak mengganggu pada kuliah mu kan ?”
“Justru jika ada Mama Krisna, kami merasa aman tinggal di kontrakan itu.”
“Baiklah, kalau itu mau mu, kakak akan izinkan mereka berdua tinggal di kontrakan mu.”
“Terimakasih kak !”
“Ya, sama-sama.”
Semenjak hari itu, Randi lebih giat lagi belajar, uang sisa pemberian Zaki, di serahkan semuanya pada Zakia untuk biaya hidup selama di kontrakan.
Zakia yang selama ini berpropesi sebagai buruh cuci, kesempatan itu pun di mamfaatkannya untuk mencuci pakaian anak-anak kos yang menginginkan jasa dari dirinya.
Sementara itu, Randi yang memiliki tekad bulat untuk dapat mempersunting Nurul, gadis yang pertama kali dicintainya. Mulai hari itu, dia semakin bersemangat belajar.
Sekali dalam satu semester Randi datang ke Jakarta mengunjungi Nurul. Hati Nurul terasa senang dan bahagia, karena pria yang dia cintai selalu datang mengunjunginya.
“Gimana kuliah Mu Randi ?” tanya Mang Ojo ingin tau.
“Alhamdulillah semua berjalan baik Pak.”
“Syukurlah ! semoga semuanya tetap berjalan seperti yang kita inginkan.”
“Aamiin !” jawab Randi.
Di saat mereka sedang berbincang- bincang, tak berapa lama kemudian Fatma pun keluar dari kamarnya sembari membawa sepiring kue basah.
“Nah dimakan kuenya nak Randi !”
“Iya, terimakasih Bu.” jawab Randi seraya mencicipi kue yang ada di piring itu.
“Gimana kabarnya kuliah mu ?”
“Alhamdulillah, kuliah ku aman Bu.”
“Ooo, syukurlah.”
“O iya, Bu ! aku punya sedikit keluhan pada Ibu.”
__ADS_1
“Keluhan ? keluhan apa itu Ran ?”
“Di rumah kontrakanku yang sempit dan kecil, di sana ada seorang Ibu dari temanku yang tinggal bersama kami.”
“Lho, kok bisa gitu ?”
“Kisahnya sangat menyedihkan Bu, hidupnya begitu teraniaya sekali, sampai-sampai aku nggak bisa mengatakannya pada Ibu, betapa menderitanya dia.”
“Lalu ? kenapa dia ada bersama mu ?”
“Kebetulan sewaktu Bang Zaki mengantarkan aku ke kontrakan, dia ada memberi aku uang sebanyak Lima juta. Dan uang itu, ku berikan padanya untuk menebus utangnya selama bersama juragan yang kejam itu.”
“Terus ?” ucap Fatma merasa penasaran dengan kelanjutan cerita Randi.
“Aku mohon pada Ibu, sekiranya Ibu bersedia memberikan orang tua temanku itu pekerjaan di sini, dirumah yang mewah ini.”
Mendengar kepolosan Randi, Mang Ojo dan Fatma tertawa senang, seperti dalam kisah sebuah novel, Randi bercerita panjang lebar, yang membuat Mang Ojo dan Fatma penasaran ingin mengikuti kelanjutan ceritanya.
“O walah Ran, Ran ? kirain kau mau cerita apa ? kalau soal itu mah, Ibu mau saja menerimanya.”
“Benar Ibu mau menerimanya bekerja disini ?”
“Benar ! Ibu nggak keberatan kok, asalkan dia bisa menyelesaikan kuliah putranya sampai sarjana.”
“Oh terimakasih Bu, Ibu sangat baik sekali.”
Ucap Randi sembari mencium tangan Fatma berulang kali.
“Randi, Randi ! Ibu senang sekali melihat kebaikan budi mu, jangan sampai kau kehilangan perasaan mu yang suci ini sayang, demi orang lain, kau korbankan apa yang ada pada dirimu. Semoga Allah akan membalasnya dua kali lipat dari yang kau keluarkan.”
“Aamiin !” jawab Randi seraya tersenyum lebar.
Mendengar cerita dari Randi hati Mang Ojo dan Fatma sangat tersentuh sekali, lalu saat itu juga Mang Ojo memerintahkan Zaki untuk menjemput orang tua Krisna yang saat itu berada di rumah kontrakan Randi.
“Apakah sekarang aku menjemputnya Pak ?”
tanya Zaki ingin tau.
“Lebih cepat kau jemput dia, maka lebih cepat pula kau meringankan beban perempuan itu.”
“Baik Pak. Akan ku jemput dia sekarang juga.”
Jawab Zaki sembari meninggalkan kedua orang tuanya.
Diatas mobil Zaki bersama Randi tampak saling diam, karena tak ada persoalan yang harus mereka bahas saat itu, akan tetapi merasa canggung dengan suasana yang sunyi itu, Randi mencoba untuk angkat bicara terlebih dahulu.
“Gimana dengan pekerjaan Abang di rumah sakit, apakah aman ?”
“Alhamdulillah aman, Ran.” Jawab Zaki pelan.
__ADS_1
Bersambung...