
“Baik Neng,” jawab Aida sembari meninggalkan Ranita yang sedang melihat keadaan restoran milik Intan.
Setelah Aida pergi, Ranita pun menghampiri Alhuda suaminya, yang saat itu sedang memeriksa kamar Intan.
“Gimana Bang? Apakah masih ada barang lainnya yang hilang?”
“Kalau di kamar Intan, Abang hanya melihat Cuma brangkasnya saja yang terbuka, kalau peralatan lainnya tak terlihat sama sekali.”
“Mendengar pengakuan Bu Aida tadi, aku semakin yakin kalau pencurinya pasti Bu Retno.”
“Buat apa dia mencuri, milik anaknya sendiri?”
“Barang kali, karena dia merasa sakit hati, karena Niko tak pernah memperhatikan dirinya lagi, selama dia menikah dengan Intan.”
“Tapi, kalau menurut Abang, nggak mungkin kan seorang Ibu tega merugikan anaknya sendiri.”
“Itu kan menurut Abang, buktinya telah terjadi kan?”
“Entahlah sayang, itu kan hanya menurut dugaan mu saja, siapa tau bukan seperti itu kejadiannya.”
“Yeah, semoga saja begitu.”
Setelah mereka berbincang, lalu mereka pun berniat untuk menemui Mang Ojo, orang tua Alhuda di kawasan kumuh.
Seiring berjalannya waktu, Alhuda bersama Ranita meninggalkan restoran milik Intan, mobil mewah yang dikendarainya melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam mobil tampak suasana sunyi sekali, mereka berdua sama-sama diam membisu, karena tak ada permasalahan yang saat itu harus mereka bahas.
Setelah tiba didepan rumah, Alhuda bersama Ranita langsung turun. Di depan rumah Fatma dan Mang Ojo telah menanti kedatangan mereka dengan senyum yang lebar.
“Gimana keadaan mu sayang?” tanya Fatma seraya mencium wajah putrinya.
“Alhamdulillah, baik Bu,” jawab Ranita sembari mencium tangan Ibunya.
Setelah Ranita berlalu, Alhuda juga datang menghampiri Ibunya, seperti seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Alhuda juga memeluk dan mencium tangan Ibu yang sudah bersusah payah menjadikan dia orang yang berguna.
“Kamu datang Nak,” sapa Mang Ojo pada keduanya.
“Iya, Pak,” jawab mereka serentak.
“Kamu udah lihat rumah Intan tadi?”
“Udah Pak.”
“Kira-kira, siapa yang punya niat sebegitu buruknya ya?”
“Paling juga ulah Mamanya Niko,” jawab Ranita spontan.
“Mama Niko?” tanya Mang Ojo heran.
“Ssst! Kalau ngomong tolong di jaga sayang, jangan berburuk sangka dulu pada Bu Retno,” ujar Alhuda menasehati istrinya.
__ADS_1
“Habis siapa lagi yang di curigai Bang, dia kan yang terlihat bersikap aneh hari ini?”
Ranita yang tak mengerti maksud dari suaminya terus saja bicara tanpa berbasa basi sedikit pun. Akan tetapi setelah di tatapnya wajah Alhuda, Ranita baru sadar kalau Alhuda melarangnya untuk melanjutkan pembicaraan di depan Bapaknya.
Sementara itu, Mang Ojo yang memperhatikan ada gelagat aneh dari menantunya itu. Dia pun langsung menatap kearah Alhuda.
“Biarkan dia bicara sayang, jangan kau larang dia mengungkapkan apa yang ada didalam pikirannya.”
“Kan, Bapak aja bilang begitu,” merasa mendapat bantuan dari Bapaknya Ranita mulai melanjutkan pembicaraannya.
“Jadi kamu punya keyakinan, kalau yang mencuri itu adalah Bu Retno?”
“Benar Pak.”
“kamu tau dari mana kalau yang mencuri itu Bu Retno?” tanya Mang Ojo heran.
“Karena sebelum kejadian itu, Bu Retno datang kerestoran dan dia marah-marah serta menghina Bu Aida. Tapi karena Bu Aida orangnya emosian, lalu terjadi deh!”
“Maksud mu, terjadi apa?”
“Pertengkaran!”
“Pertengkaran? Antara siapa?”
“Antara Bu Retno dan Bu Aida.”
“Ya Allah! kok Bapak bisa nggak tau hal itu?”
“Kenapa begitu ya?”
“Ya, paling-paling dia takut dimarahi barang kali.”
Mendengar penjelasan dari Ranita, Mang Ojo hanya terdiam sejenak, Ranita yang merasa di beri kebebasan oleh Mang Ojo untuk bicara, dia pun melanjutkan kembali apa yang ada dipikirannya saat itu.
“Bapak tau nggak, tadi di rumah sakit, kami juga mendengar Bu Retno bilang “Becus” tapi aku nggak tau apa maksud dari pembicaraannya itu.”
“Kamu dengar dari mana, dia bilang begitu?”
“Ya dengarlah, Pak! aku kan duduk di sebelahnya tadi.”
“Kalau dia bilang becus, berarti ada awalan nggak di belakangnya, “nggak becus” kalau dia bilang nggak becus, itu artinya dia itu sedang bicara dengan seseorang, atau barang kali dengan orang suruhannya, yang tak becus dalam bekerja.”
Mendengar penjelasan dari Ranita, Mang Ojo mendapat sedikit pandangan tentang hal itu, seperti Ranita, Mang Ojo juga merasa curiga dengan Bu Retno.
“Tadi di rumah sakit, Bang Alhuda juga sempat bertengkar dengan Bu Retno,” lanjut Ranita kemudian.
“Benar itu Nak?”
“Iya, Pak,” jawab Alhuda dengan jujur.
“Bertengkar gimana?”
__ADS_1
“Sebenarnya, aku nggak sengaja tersulut emosi dan mendorong Bu Retno hingga terjatuh.”
“Kamu mendorongnya hingga terjatuh?”
“Iya, Pak!”
“Pasti karena dia menghina keluarga kita lagi kan?”
“Benar Pak, dia menghina keluarga kita di depan orang banyak, sebenarnya aku udah menahan emosiku, tapi Bu Retno datang secara mendadak, sehingga aku nggak bisa mengontrol diri lagi.”
Mang Ojo yang mendengar cerita dari Alhuda, dia tak langsung marah, karena Mang Ojo begitu mengenali Alhuda, dia orang yang lembut dan penyabar, tidak gampang emosi, jika saja dia berbuat seperti itu, pasti ada penyebabnya.
“Ya udah, sebaiknya, kita jangan bahas masalah ini dulu, biarkan Niko sendiri yang menyelesaikan urusan ini bersama Mamanya.”
Di saat mereka sedang asik berbicara, tiba-tiba dari luar terdengar suara deru mobil berhenti di garasi.
Mang Ojo dan yang lainnya melihat keluar, tampak dari dalam mobil turun Dika bersama Yulia istrinya.
Mereka semua tersenyum manis menyambut kedatangan Dika bersama istrinya. Setelah bertemu dengan keluarganya, Dika tak langsung membahas masalah rumah Intan yang kemalingan.
“Gimana kabar kak Gita yang telah selamat itu Bang?” tanya Dika pada Zaki.
“Dia ada di taman bersama Mamanya. Tapi keadaannya sudah mulai membaik, bila dibandingkan dengan malam itu.”
Mendengar Zaki bicara seperti itu, Dika langsung saja menghampiri Gita yang sedang berada di taman bersama Mamanya.
“Halo, selamat pagi!” sapa Dika pada Mama Gita yang saat itu sedang memberi Gita makan.
“Hai,” jawab Leni singkat.
“Gimana kabarnya kak Gita sekarang Bu?”
“Saat ini dia udah mulai membaik nak, semua itu berkat kebaikan keluargamu.”
“Ah, Ibu terlalu berlebihan, bukankah kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong? Jika Ibu dan keluarga butuh pertolongan, sementara kami mampu untuk itu, maka kami wajib membantu Ibu, bukankah begitu?”
“iya, nak. tapi Ibu malu karena telah menyusahkan kalian semua.”
“Kami aja nggak merasa keberatan kok, kenapa Ibu sendiri yang merasa kewalahan. Yang paling terpenting, kalian sekeluarga senang tinggal di sini, hal itu membuat kami menjadi puas, karena telah memberikan yang terbaik untuk kalian sekeluarga.”
“Kalau soal bantuan, keluarga kami sangat berterimakasih, kalian telah memberi yang terbaik untuk kami sekeluarga.”
“Bagus kalau begitu,” jawab Dika sembari menghampiri Gita yang menatapnya dengan pandangan hampa.
Di hadapan Gita, Dika berlutut seraya memandang wajahnya dari dekat. Dengan lembut, Dika memegang tangan Gita, sementara Yulia dan keluarga lainnya merasa heran dengan tingkah Dika.
“Dika lagi melakukan apa itu Pak?” tanya Alhuda heran.
“Bapak juga nggak tau nak.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*