
Perbuatan terpuji yang dia lakukan membuat nama Dika cepat dikenal orang, anak-anak terlantar dan para gelandangan yang dia jemput dan cari, langsung diurus dan dirawat Dika dengan tangannya sendiri.
Karena budi pekerti Dika yang baik, akhirnya para Ibu-ibu yang berada didalam panti itu bahu membahu, membantu Dika dalam mengurus segala sesuatunya.
Pagi-pagi sekali, setelah selesai pulang dari berbelanja, para Ibu-Ibu langsung pergi kedapur mempersiapkan makanan untuk anak panti, secara bergiliran, Intan dan Nurul di suruh kepanti untuk mengajari para Ibu-ibu cara memasak makanan yang lezat dan enak untuk disantap.
Benar saja hal asil dari kerja keras mereka semua, berapa pun masakan yang telah mereka masak semuanya habis termakan dan tak bersisa.
Karena dalam masa pertumbuhan, anak-anak butuh vitamin dan makanan bergizi, Dika selalu menyediakan kebutuhan anak panti secara teratur setiap hari.
Dengan teliti, Dika mengurus semua anak-anak itu, sehingga mereka tak pernah mengeluh sakit dan kelaparan.
Karena setiap hari Dika selalu sibuk mengurus anak-anak dan Orang jompo, Yulia merasa kasihan pada Dika, sehingga di waktu-waktu sulit Yulia selalu datang membantunya.
“Siapa namamu sayang ?” tanya Dika pada gadis yang selalu ada disampingnya.
“Yulia, Bang.” Jawab Yulia tersenyum lebar.
“Nama yang indah.” Puji Dika sembari melirik kearah Yulia.
Yulia diam saja, walau hatinya merasa senang dengan pujian itu, karena menurut Yulia, pujian itu cocoknya untuk gadis kota yang cantik dan kaya.
“Orang tua mu masih ada ?”
“Nggak Bang, mereka udah lama meninggal.”
“Jadi kamu tinggal bersama siapa ?”
“Orang tua angkat.”
“Mereka tinggal dimana ?”
“Aku udah nggak tau lagi, terakhir aku diculik seseorang, setelah aku kembali, Bapak dan Ibu angkat ku udah nggak berada disana lagi.”
“Ooo, begitu.”
“Kalau kamu mau, besok kita cari mereka bersama !”
“Benarkah itu Bang ?”
“Iya, sayang.”
Hati Yulia sangat senang sekali, karena Yulia sudah begitu lama tak pernah bertemu dengan keduanya.
Keesokan harinya, seperti janji yang di ucapkan Dika pada Yulia, mereka pun pergi ke kawasan kumuh tempat orang tua angkat Yulia tinggal.
“Tempatnya disini Bang !” ucap Yulia.
Lalu mereka berdua pun turun dari mobil, ketika hendak berjalan, tangan Dika yang halus dan lembut langsung memegang pergelangan tangan Yulia.
Akan tetapi, Yulia yang tak pernah di gandeng oleh orang lain, apa lagi dia itu seorang pria tampan dan gagah, yulia pun merasa malu dan menarik tangannya dari genggaman tangan Dika.
Karena merasa Yulia menarik tangannya dari genggaman Dika, lalu Dika memperkuat genggamannya seraya melirik kearah Yulia.
__ADS_1
Gadis belia itupun malu dan menundukkan kepalanya.
“Kenapa ? nggak boleh Abang pegang ?”
“Kan nggak pantas Bang !”
“Nggak pantas apanya ?”
“Aku ini, hanya seorang gelandangan dan tinggal bersama para pemulung, nggak pantas untuk digandeng.” Jawab Yulia dengan polos.
“Kata siapa ?”
“Semua orang kaya itu sama kan Bang ?”
“Nggak sayang.” Jawab Dika seraya memegang dagu Yulia yang lancip dan indah.
Setelah berkeliling, di sekitar Kawasan kumuh, Yulia tak juga menemui rumah orang tua angkatnya itu, sehingga mereka berdua mencoba untuk beristirahat sejenak.
Dika yang sudah terbiasa berkecimpung di Kawasan kumuh, dia tak segan- segan duduk di atas tumpukan karung kotor.
“Kamu capek, sayang ?”
“Iya Bang.”
“Kalau begitu kita duduk dulu sebentar.”
“Baiklah.” Jawab Yulia pelan.
Di saat mereka sedang duduk berduaan, Dika memandangi wajah Yulia, gadis itu tampak tersipu malu. Dalam hati kecil Dika dia sangat mengagumi gadis yang selalu aktif bersama dengannya dalam mengurus anak-anak panti.
“Terserah Abang saja.” Jawab Yulia dengan suara lembut.
“Baiklah, untuk pencarian kita akhiri sampai disini dulu, nanti kalau ada kesempatan akan kita lanjutkan.”
“Baiklah.” Jawab Yulia sembari bangkit dari duduknya.
Akan tetapi di saat Yulia hendak berdiri, kakinya terpeleset dan diapun jatuh ketanah, dan menimpa tumpukan besi tua yang udah berkarat, potongan besi itupun menusuk ke dada Yulia sebelah kanan, hingga membuat darah segar mengalir membasahi pakaiannya.
“Ya Allah ! hati-hati sayang.” Ucap Dika seraya menolong Yulia berdiri.
Namun disaat itu Dika melihat tangannya berdarah, ketika Dika menoleh kearah dada Yulia, Dika melihat pakaian yulia berdarah.
“Oh, sakitnya !” rintih Yulia seraya mengernyitkan kedua alisnya.
“Kamu terluka sayang.” Kata Dika seraya membaringkan Yulia di pangkuannya.
“Sakit sekali Bang !” rintih Yulia menahan rasa sakit.
Sebenarnya Dika merasa ragu untuk menolong Yulia, tapi karena dia melihat ada potongan Besi menancap di dada Yulia, Dika terpaksa harus membuka pakaian Yulia.
“Maafkan Abang sayang, Abang terpaksa harus melakukannya.” Ucap Dika sembari membuka dengan lebar pakaian Yulia. Di saat itulah Dika melihat tubuh gadis itu dengan jelas.
Yulia yang selama ini tampak kumal tak terurus, ternyata memiliki tubuh yang indah dan bersih, hati Dika merasa tersentuh sekali, ketika dia membuka bra milik Yulia.
__ADS_1
“Ternyata kau memiliki tubuh yang indah Yulia .” kata Dika pada dirinya sendiri.
Dengan perlahan Dika mencabut besi yang menancap di dada Yulia dan di saat itu Yulia tampak mengerang Manahan rasa sakit, dan dengan beraninya Dika menghisap darah bekas potongan besi itu dan membuangnya.
Dika sengaja melakukan semua itu, agar racun dari besi itu tidak langsung menyerang jantung Yulia. Potongan besi yang menusuk dada Yulia itu ternyata panjang, sehingga darah di dada Yulia tak henti-hentinya mengalir.
Dengan cepat Dika menggendong tubuh Yulia yang diambang kesadaran keatas mobil serta melarikannya kerumah sakit.
Di rumah sakit ada Zaki yang sedang bertugas, tanpa berbasa basi lagi Dika langsung berlari kedalam seraya menjerit-jerit minta bantuan.
Zaki yang melihat kejadian itu langsung menghampiri adiknya.
“Ada apa sayang ? kenapa dia ?”
“Dia anak panti Bang, dia tertusuk potongan besi tua yang ada dikawasan kumuh.”
Mendengar informasi dari Dika, Zaki langsung membantu menangani Yulia, Zaki menyuntikan anti tetanus ketubuh Yulia, agar Yulia tidak mengalami demam tinggi.
Beberapa jam berada didalam ruang operasi, Dika merasa gelisah sekali menunggu diluar, hatinya begitu cemas, takut terjadi hal buruk menimpa Yulia.
Di saat dia melihat Zaki keluar,Dika langsung menghampiri Zaki.
“Gimana keadaannya Bang ?”
“Alhamdulillah, lukanya udah dijahit dan abang juga telah menyuntikan anti tetanus ke tubuhnya.”
“Oh, syukurlah !” jawab Dika sedikit lega.
“Sepertinya kau begitu cemas terjadi sesuatu padanya Dik ?”
“Ah, Bang Zaki !”
“Nggak usah malu, mengungkapkan isi hati kita pada orang yang kita sukai.” Ledek Zaki.
“Abang sendiri gimana ?”
“Kalau, Abang masih lama Dik.”
“Kenapa ?”
“Belum ada yang cocok.”
“Ooo, gitu ya." Jawab Dika seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya udah kamu lihatlah dia kedalam, siapa tau dia butuh sesuatu.”
“Baik Bang.” Jawab Dika sembari menghampiri ruang UGD tempat Yulia menjalani operasi kecil.
“Bang !” ucap Yulia pada Dika.
“Gimana keadaan mu sayang ?”
“Aku nggak apa-apa kok, biasa aja kali !”
__ADS_1
“Abang sangat cemas tau nggak !”
Bersambung...