
“Hei Randi! Kau ini sedang bicara dengan Ayahmu, kau nggak perlu menegangkan urat lehermu kalau bicara, emangnya kau ini siapa hah!” ujar Riswan tersulut emosi.
Mendengar keduanya saling emosi, Rumana menjadi bergetar tubuhnya, perempuan yang sedarinya tampak tenang dan biasa-biasa saja, mendadak terhenyak di sopa dengan keringat dingin bercucuran.
“Ibu!” teriak Randi sembari memeluk tubuh Ibunya yang terkulai lemah di atas sofa.
Rumana tak bisa bergerak, tangannya terasa tak kuat untuk di angkat, tubuhnya lemah sebelah kanan, Randi pun menangis histeris di hadapan Ibunya itu.
“Ibu terkena stroke Ayah!” ujar Randi dengan suara sedikit pelan.
Riswan yang mendengar ucapan dari Randi, langsung terhenyak di atas sofa, hatinya begitu sedih, ternyata Rumana hanya menjemput takdirnya datang ke Jakarta.
Randi yang seorang dokter, langsung memeriksa kondisi Ibunya baik-baik, kemudian Rumana mereka larikan kerumah sakit tempat dia bertugas.
Setelah Rumana mereka masukkan keruangan UGD, Randi langsung bergegas keruangannya, betapa terkejutnya dia saat itu, karena diruangan nya sudah ada seorang dokter yang menggantikan posisinya.
“Kamu siapa?” tanya Randi heran.
“Saya dokter yang bertugas di rumah sakit ini, untuk menggantikan saudara Randi yang telah mengundurkan diri.”
“Saya Randi! Dan saya nggak pernah mengundurkan diri, lagian kamu tau dari mana kalau saya mengundurkan diri?”
“Dari pimpinan rumah sakit ini.”
Mendengar perkataan dokter baru itu, darah Randi terasa begitu mendidih, dengan cepat, Randi langsung menemui pimpinan rumah sakit.
Bagai orang yang sedang kesurupan randi menggedor-gedor pintu ruangan kepala rumah sakit tersebut, satpam yang melihat hal itu, langsung mengamankan Randi, dan menyuruhnya untuk bersabar menunggu.
Setelah beberapa saat kemudian, pimpinan rumah sakit langsung keluar menemui Randi yang sedang naik darah.
“Apa-apaan ini pak, kenapa Bapak langsung saja menukar orang lain tanpa sepengetahuan saya terlebih dahulu!”
“Itu semua salah anda dr. Randi, ini rumah sakit swasta, saya bisa menggantikan posisimu kapan saja saya mau, buat apa saya harus mempertahankan orang yang nggak pandai menjaga disiplin, lagian anda bekerja sesuka hati anda sendiri, tanpa harus mematuhi prosedur yang telah berlaku.”
“Tapi kan Bapak bisa bicara dulu dengan saya, jangan asal main pecat dan ganti orang seenaknya aja!”
“Jadi mau anda apa sekarang?”
“Saya mau posisi saya di kembalikan seperti semula, menjadi dokter lagi dirumah sakit ini.”
“Sayang sekali, saudara telah di keluarkan, saya juga nggak bisa berbuat apa-apa, karena semua yang belaku dirumah sakit ini harus sesuai dengan prosedur yang telah di tetapkan.”
“Prosedur apa? Saya lihat semuanya biasa-biasa saja kok, saya nggak melihat perubahan semenjak saya nggak masuk kerja.”
“Benar, tapi itu karena kami telah mencari dokter baru untuk rumah sakit ini.”
Karena dirinya telah dikeluarkan dari rumah sakit, Randi merasa bingung untuk biaya pengobatan Ibunya, tentu tidak murah biaya penderita penyakit stroke.
__ADS_1
“Aduh kacau! Apa yang harus aku lakukan untuk biaya rumah sakit Ibu, nggak mungkinkan aku harus mengemis uang pada anak pemulung itu,” gerutu Randi sembari senderan di tembok rumah sakit.
Sementara Randi pusing memikirkan biaya rumah sakit, Nurul tampak santai sekali pagi itu, dia masuk kedalam kantor dengan senyum manis di bibirnya.
Dari depan kantor, Nurul melihat satpam penjaga rumahnya tampak asik ngobrol bersama temannya, hati Nurul merasa heran, kenapa dia meninggalkan tugasnya dan asik ngobrol dengan teman sekerjanya.
“Dedi!” panggil Nurul dengan suara lantang.
Mendengar Namanya di panggil, Dedi langsung berlari menghampiri Nurul yang telah berdiri di depan kantor.
“Ibu memanggil saya?” tanya Dedi ingin tau.
“Iya, kamu kan saya tugaskan menjaga rumah, kenapa datang kesini?”
“Di rumah Ibu sudah ada Bapak, Bu.”
“Ada Bapak?”
“Iya.”
“Kapan dia datang?”
“Kemaren siang, dia datang bersama kedua orang tuanya.”
“Benar begitu? Kamu nggak lagi mengada-ngada kan?”
“Nggak Bu, saya nggak bohong.”
Setiba di depan rumah, Nurul langsung bergegas membuka pintu untuk masuk, namun tak ada siapa-siapa di dalam, Nurul masuk lebih dalam lagi, di atas meja Nurul melihat ada buah dan sayuran yang di petik dari kebun sendiri.
“Pada kemana mereka, kok nggak ada dirumah ini ya? apakah kerumah Ibu?” saat itu juga Nurul langsung menghubungi Ibunya.
“Hallo, ada apa sayang?” tanya Fatma ingin tau.
“Kata satpam penjaga rumah aku, kedua orang tua Randi datang ke Jakarta Bu, tapi setelah ku periksa dirumah, nggak ada siapa-siapa disini, apakah mereka datang kesana?”
“Apa iya, sebentar ya, biar Ibu tengok dulu kerumah, siapa tau dia ada di rumah.”
“Baik Bu,” jawab Nurul sembari menunggu dengan resah.
“Hallo! Nur, kau masih disana nak?”
“Masih Bu, gimana ada mereka dirumah kita?”
“Nggak ada siapa-siapa yang datang kerumah nak.”
“Pada kemana mereka semua ya?” tanya Nurul pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Karena merasa tak ada orang dirumahnya, Nurul pun langsung keluar dan kembali ke kantornya.
Dedi yang masih berjaga di depan kantor, langsung ditemui oleh Nurul.
“Nggak ada siapa-siapa dirumah kok Dedi, kenapa kau bilang mereka ada dirumah Ibu.”
“Benar Bu, mereka ada disana?”
“Pada kemana mereka semua ya?”
Pertanyaan itu, selalu datang mengganggu pikirannya, kemudian Nurul keluar untuk mencari mereka berdua, Nurul menelfon Zaki, siapa tau ada Ibu Randi di sana.
“Nggak ada sayang,” jawab Zaki seraya bertanya ke pendaftaran.”
“Gimana Bang, apakah mereka ada di sana?”
“Mereka nanya nama Ibu mertua mu, siapa sih Namanya?”
“Aku juga nggak tau Bang, kalau kita nggak mengetahui siapa Namanya, gimana kita bisa mencari keberadaannya.”
“Iya juga sih, kalau begitu baiklah, biar ku coba mencarinya ketempat yang lain saja Bang.”
“Baiklah, hati-hati mengendarai kendaraan sayang, jangan sampai lengah.”
“Baik Bang, terima kasih.”
Sembari mengedarai kendaraannya dengan pelan, Nurul terus melihat di sekitarnya, siapa tau mereka bertemu di jalanan, namun hingga siang hari, Nurul tak menemukan mereka semua.
sementara itu, Rumana yang terbaring lemah dirumah sakit, siang itu sudah mulai sadar, namun kondisinya sangat menyedihkan.
Siang hari, di saat Randi tak berada dirumah sakit, Riswan mencoba menghubungi Nurul dan mengabarkan pada Nurul kondisi Rumana padanya.
Betapa sakitnya hati Nurul saat itu, karena kedatangan kedua orang tuanya ke Jakarta tak di kabari Randi kepada keluarganya sama sekali.
Bersama sekretarisnya, Nurul datang kerumah sakit, betapa sedihnya hati Nurul saat itu, karena Ibu mertuanya mengalami stroke.
“Ayah!” ucap Nurul sembari mencium tangan Riswan.
“Ibu mu sakit nak,” ujar Riswan dengan deraian air mata.
“Iya, yah. Ayah yang sabar ya.”
“Iya sayang.”
Nurul yang melihat Ibu mertuanya mengalami penyakit struk, diapun menangis sedih, air matanya tak dapat untuk di bendung nya lagi.
“Kenapa Ayah nggak bilang kalau datang ke Jakarta.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*