Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 32 Kecewa dan putus asa


__ADS_3

“Sudahlah, Bu ! tak ada yang perlu disesali, bukankah tadi Mamang bilang, semua ini takdir dari Allah Swt, jadi kita harus menerimanya dengan lapang dada dan hati yang iklas. Saat ini aku telah mendapatkan semuanya Bu, mendapatkan semua yang selama ini ku cari-cari, sebuah keluarga yang bahagia, serta mengandung unsur mendidik dan mengasihi antara sesama.”


Kata-kata Ranita itu penuh dengan makna, baginya walau tinggal dirumah mewah sekalipun kalau hati tak merasa tenang tentu tak ada artinya.


Disaat bersamaan, Retno sedang bertaruh nyawa dirumah sakit, Hermawan, Niko dan keluarga yang lainnya, terus berdo’a tiada hentinya.


Retno memang sudah lama menderita sakit jantung. Retno dilarang Dokter terlalu banyak berfikir serta emosi yang berlebihan. Karena hal itulah yang memicu kinerja jantung tidak stabil, akibatnya bisa struk.


Tapi Retno tak bisa mengontrol emosinya, dia selalu diburu oleh hawanafsu yang berlebihan, sehingga membuat jantungnya sering kejang dan anfal.


Diluar ruangan Hermawan tampak gelisah sekali, dia berjalan hilir mudik tiada henti, membuat yang lainnya juga semakin resah dan cemas.


Tak berapa lama kemudian Intan dan keluarganya datang, melihat kehadiran istrinya, rasa gelisah dihati Niko sedikit berkurang, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir keluarga Niko, semuanya tampak diam dan membisu. Hingga Mang Ojo buka mulut untuk bicara.


“Sabar ya, Pak ! Bu Retno akan sembuh kok, yang terpenting kita sama-sama berdo’a.”


“Yang sabar gimana kata mu ! jelas-jelas istri saya tak sadarkan diri terbaring, kau hanya bisa bicara sabar, sabar ! ini semua gara-gara kalian tau !” bentak Hermawan seraya mendorong tubuh Mang Ojo.


Kejadian itu Membuat semua yang hadir jadi terkejut dan melotot tajam. Mang ojo diam saja walau hatinya sedikit kecewa dengan sikap Hermawan yang telah membentak dan mendorong tubuhnya di depan orang banyak.


“Kalau bukan kata sabar yang harus saya ucapkan, lalu kata apa lagi yang bisa saya katakan pada Bapak.” Kata Mang Ojo pelan.


Melihat kejadian itu Fatma, cepat-cepat menarik tangan suaminya kebelakang, agar pertengkaran dapat di elak kan.


Mang Ojo manut saja, dia tak banyak bicara. Sementara Niko yang menyaksikan kemarahan Papanya pada Mang Ojo mertuanya, jadi tersulut emosi.


“Apa-apaan ini Pa ? kenapa mesti membentak mertuaku, dia kan hanya memberi support agar Papa bisa sabar menerima keadaan ini ! kok malah dia, Papa bentak !”


“Ah ! Sudahlah ! Kamu juga ikut-ikutan memarahi Papa ?”


“Aku nggak sedang memarahi papa, tapi aku hanya memberi tau Papa, mestinya Papa bersyukur keluarga mertuaku datang membesuk Mama.”


“Bersyukur kau bilang ? Bersyukur apanya ? ini semua salah Mu yang tak pandai mencari istri, Mama mu kan ! yang jadi korbannya ?”

__ADS_1


Korban apa maksud Papa ? Siapa yang telah aku korbankan ? Astagfirullah al’azim. Papa benar-benar keterlaluan ya, tak menghargai istriku sama sekali.”


“Ooo, kamu sudah merasa besar ya ? udah bisa menggurui Papa, lihat dirimu ! Kau sadar dengan siapa kau bicara ? dasar anak nggak tau diri !” kata Hermawan seraya meluapkan emosinya dengan menudingkan telunjuk kirinya ke dada Niko.


“Baik, kalau menurut Papa aku ini bersalah, lalu aku mesti bagai mana ? harus diusir dari rumah, sama sewaktu Mama mengusir aku waktu itu. Baik akan kulakukan seperti yang Papa inginkan.”


“Udah Den, udah ! Mamang nggak apa-apa kok, kami semua sudah biasa dihina dan diperlakukan seperti ini, jadi Aden mah, nggak usah merasa bersalah, gitu !” kata Mang Ojo.


“Iya Mang, tapi Papa sudah keterlaluan sekali !”


“Udah-udah, Mamang nggak mau kalian berdua itu ribut, kalau begitu Mamang permisi aja ya, Den ?”


“Aku ikut Mamang aja pulang ! Disini aku juga nggak dibutuhkan kok !” Kata Niko dengan suara ketus.


“Nggak usah ! Aden kan lagi nungguin Mama ?”


“Nggak perlu Mang disini kan ada Papa yang selalu nungguin Mama.” Jawab Niko seraya mengambil jaket kulit yang digantung dekat jendela ruangan itu.


“Nggak usah dipikirkan Mang !”


“Tapi tadi ulah kehadiran Mamang Aden bertengkar, kok dibilang nggak usah dipikirkan ! Piye thoh Den ! bikin Mamang bingung aja.” Kata Mang Ojo seraya mengikuti Niko dari belakang.


Mang Ojo begitu bingung, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, dengan pelan dia kembali menemui Hermawan, walau Fatma dan yang lainnya melarang.


“Ada apa ? kenapa harus kembali ?” tanya Hermawan pada Mang Ojo.


“Nggak, saya hanya minta maaf, karena ulah saya Bapak dan Niko jadi bertengkar.”


“Udah tau, masih berlagak. Pergi sana ! ingat mulai hari ini aku nggak sudi kalian melihat istri ku lagi !” kata Hermawan dengan suara lantang, hingga seisi ruangan itu menjadi kaget.


Mang Ojo yang sudah melangkah, akhirnya terhenti dan menoleh kebelakang dan menarik nafas Panjang, seraya menggelengkan kepalanya , seakan nggak mengerti apa yang ada didalam pikiran Hermawan saat itu.


Diatas mobil saat menuju pulang, semua tampak diam, tak seorangpun yang angkat bicara, termasuk Intan yang biasanya selalu berkicau seperti murai kesiangan. Tampaknya suasana hati mereka sedang galau saat itu.

__ADS_1


Setiba dirumah Mang Ojo dan Fatma langsung masuk kamar, mereka berdua kelihatan begitu lelah, karena usianya yang sudah semakin tua.


Sedangkan dirumah Alhuda beserta adiknya tampak heran melihat semuanya pulang dengan muka masam dan tak bergairah.


Disudut lain, Nampak Ranita duduk diam menyendiri, Niko datang menghampirinya dan duduk disamping sahabatnya itu.


Mata mereka saling beradu pandang, kekecewaan tanpak jelas menyelimuti hati mereka berdua, sebab karena kehadiran mereka berdualah keluarga yang harmonis itu, kini menjadi kacau dan tersakiti.


“Aku merasa nggak nyaman loh ! Karena gara-gara kehadiran kita, keluarga Mang Ojo jadi menderita.” Kata Ranita dengan suara sedikit serak dan pelan.


“Aku juga Nit ! papa dan Mama telah membuat Aku malu dan tak punya harga diri, mereka berdua telah membuatku kecewa.”


“Iya mereka telah membuat kita kecewa, coba kamu fikir ? kenapa Mama, melakukan itu padaku justru dihari pernikahan putri satu-satunya. Apa mereka tak sayang lagi padaku ?” kata Ranita dengan mata berkaca-kaca.


“Aku juga heran kenapa mereka begitu egois, dan mengabaikan perasaan kita anaknya, padahal Papa dan Mama selama ini begitu menyayangiku. Jangankan untuk mengusirku untuk memarahiku saja tak pernah mereka lakukan, apa menurut mereka menikahi orang miskin menjadi aib terbesar bagi mereka, ya ?”


“Iya aku juga.” Jawab Ranita singkat. “Lalu apa yang mesti kita lakukan Nik ?”


“Entahlah Aku juga nggak tau Nit.”


“Hmm, sepertinya kita menemukan jalan buntu.”


“Ya, jalan buntu.” Jawab Niko singkat.


“Hai !” sapa Dika, menyela pembicaraan mereka berdua.


“Heh, kamu Dik ? jawab Niko dan Ranita serentak.


“Boleh Aku duduk ?”


“Ya, silahkan !”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2