
Mendengar pertanyaan dari Bapaknya, Nurul hanya diam saja, dia tak bicara sepatah kata pun saat itu, karena selama ini Nurul tak pernah mencintai Riza.
Riza memang cowok tampan dan berwibawa, tapi Riza memiliki ke anehan pada diri pri badinya, walau terlihat pendiam, Riza menyimpan apa yang di lihat dan di dengarnya serta memendamnya.
Keanehan sikap Riza itu membuat Nurul sedikit takut bersamanya, apa lagi cara Riza memandang dirinya, dengan pandangan yang menurut Nurul sangat aneh.
“Gimana nak, apa kau mau menerima Riza menjadi suamimu?”
“Bisa aku pikirkan dulu Pak, karena saat ini aku belum berniat untuk menikah lagi.”
“Tapi Bapak ingin keputusan mu Nurul, sebab Riza menginginkan kau menjadi pendamping hidupnya.
“Iya, Pak! saya hanya butuh sedikit waktu untuk berfikir.”
“Baiklah, Bapak menunggu jawaban dari mu nak, jangan kecewakan Riza, karena dia tak mengerti masalah ini.
Nurul benar-benar tak tau mesti gimana, malam itu di cobanya menemui Zaki dan Defi, kakak iparnya.
“Tok, tok, tok!”
Mendengar pintu di ketuk Zaki langsung membukanya, akan tetapi betapa terkejutnya Zaki saat melihat Nurul telah berada di depan pintu kamarnya.
“Hei, ada apa sayang? ayo masuk!” ajak Zaki sembari memegang pergelangan tangan adiknya.
Nurul yang tak pernah bicara di rumah itu, tiba-tiba saja datang menghampiri kamar Zaki untuk membicarakan sesuatu, tentu saja hal itu membuat Zaki dan Defi menjadi heran sekali.
“Boleh aku duduk?”
“Boleh, silahkan!”
Zaki tampak begitu kaku, menyambut kedatangan Nurul di kamarnya, semua terasa serba salah.
“Ada apa sayang?”
“Aku mau bicara dengan kak Defi dan Abang.”
“Bicara masalah apa?”
“Pria psikopat yang akan di jodohkan Bapak pada aku, Bang.”
“Kok kamu tau dia itu pria psikopat?”
“Aku melihat gelagat aneh setiap dia menatap kepada ku di kantor, nanti kalau aku menyenggol sedikit aja tubuhnya, lalu dia mencium bau parfum milik ku, dia langsung keluar sembari mencium parfum milik ku, mesti saat itu aku nggak berada bersamanya.”
Mendengar ciri-ciri yang di sebutkan Nurul, memang Riza bisa di curigai, akan tetapi Zaki belum melihat Riza begitu jelas.
“Aku takut menikah dengan pria seperti itu Bang?”
“Apakah kamu udah cerita dengan Bapak?”
“Belum Bang, tapi aku takut membahas masalah ini dengan Bapak Bang.”
“Baiklah, biar Abang sendiri yang akan bicara dengan Bapak nantinya.”
“Ya , ku harap besok, Abang udah ngasih tau Bapak masalah ini, sebelum Riza datang untuk menikahi aku Bang.”
“Iya, sayang.”
“Kalau begitu aku permisi dulu.”
__ADS_1
“Ya, silahkan.”
Setelah kepergian Nurul, Zaki langsung keluar untuk menemui Bapaknya. Di ruang tamu Zaki melihat Mang Ojo sedang asik menonton televisi sendirian.
“Lagi sendirian Pak?”
“Eh, Zaki? Tumben, malam hari keluar kamar, biasanya udah ngorok tuh.”
“Iya, Pak, sebenarnya ada yang ingin aku ceritain sama Bapak.”
“Cerita apa?”
“Masalah Nurul yang akan di jodohkan dengan anak direktur itu Pak."
“Emangnya ada yang salah dengan perjodohan mereka?”
“Salah sih nggak Pak, tapi masalahnya Nurul nggak menyukai pria itu.”
“Pasti ada alasannya dong, kenapa dia nggak menyukai pria itu.”
“Katanya dia itu pria aneh yang menakutkan.”
“Ah, nggak! Bapak melihat Riza itu seperti pria biasa, dia nggak banyak ngomong, dia terlihat tenang dan ramah. Apa yang salah sih dari dia?”
“Pria yang seperti itu, yang semestinya harus di takuti Pak.”
“Di takuti gimana maksud mu nak?”
“Kata Nurul pria yang Bapak jodohkan itu seorang psikopat.”
“Ah yang benar kamu nak!” ujar Mang Ojo terkejut.”
“Iya, Pak. sedari awal Nurul udah melihat gelagat pria itu,” jelas Zaki pada Mang Ojo.
“Iya, Pak. Kalau Nurul nggak mau jangan di paksakan, biarkan saja dia memilih sendiri jodoh yang tepat untuk dirinya.”
“Iya, kau benar nak, Bapak nggak akan memaksa Nurul untuk menikah dengan pria itu.”
“Terimakasih atas keputusan yang bapak ambil.”
“Iya sayang, lagian Nurul itu kan anak Bapak, apa pun keputusan yang dia ambil, akan Bapak terima dengan senang hati.”
Keesokan harinya seperti hari biasanya, Nurul pergi kekantor, di depan pintu dia di hadang oleh Riza.
“Ada apa?” tanya Nurul heran.
“Kamu pasti menolak perjodohan ini,” ujar Riza dengan suara lirih.
“Aku belum memutuskannya kok.”
“Bohong, kau pasti udah memutuskannya.”
“Dari mana kau tau?” tanya Nurul agak sedikit ketakutan.
“Aku udah baca jalan pikiranmu,” jawab Riza sembari berbisik ke telinga Nurul.
Mendengar jawaban dari Riza, Nurul hanya bisa diam saja, sepintas Nurul juga bertanya pada dirinya sendiri siapa gerangan Riza yang selama bertahun telah menjadi orang kepercayaannya itu.
Di atas kursinya, Nurul tak lagi berkonsentrasi dalam bekerja, pikirannya begitu terganggu dengan sikap aneh Riza.
__ADS_1
“Apa benar Riza bisa membaca pikiran ku?” tanya Nurul pada dirinya sendiri.
“Kenapa kau lakukan itu pada ku?”
“Aku nggak kenal siapa kau Riza?”
“Maksud mu apa?”
“Kau terlihat aneh, tau nggak!”
“Aneh apa nya?”
“Kau bilang, kau bisa membaca fikiran ku?”
“Kalau iya kenapa?”
“Berarti selama ini, kau bisa membaca pikiran ku?”
“Iya.”
“Itu kan keahlian yang sangat luar biasa Riza! Kenapa kau sembunyikan!” ujar Nurul tersenyum lebar.
Nurul berusaha tersenyum agar suasana saat itu tidak begitu tegang, tapi Nurul lupa kalau Riza bisa membaca pikirannya.
Di saat Nurul sedang tersenyum, Riza hanya diam sembari menatap kearahnya, pandangan mata Riza yang tajam seakan-akan tertawa di balik tatapannya itu.
“Kenapa kau memandang ku seperti itu?”
“Kau tersenyum, seakan-akan kau butuh keahlian ku ini.”
“Maksud mu apa?”
Riza diam saja, dia tak menjawab pertanyaan yang di ajukan Nurul padanya, seperti tak terjadi apa-apa, Riza kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Kau seorang psikopat Riza!” kata Nurul dalam pikirannya.
Di saat kata-kata itu di ucapkan Nurul pada dirinya sendiri, Riza menatap Nurul dengan pandangan sinis.
“Kurang ajar kau Nurul, kau telah melecehkan aku!” teriak Riza di dalam hatinya.
Di saat jam kerja masih berlanjut, Riza mengajak Nurul keluar untuk makan siang, tapi Nurul menolaknya, karena Nurul ingin pulang dan makan di rumah.
Di saat itu pula Mang Ojo bersama Alhuda datang menemui direktur perusahaan itu.
“Tok, tok, tok! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam! silahkan masuk.”
Mendengar perintah izin, Mang Ojo dan Alhuda langsung masuk kedalam.
“Eh, ada tamu rupanya! Silahkan duduk!”
“Baik, Pak. terimakasih,” jawab Mang Ojo dan Alhuda, yang duduk berdampingan dengan Bapaknya.
“Gimana Pak, apakah Nurul bersedia menerima lamaran putra saya?”
“Sebenarnya berat saya untuk bicara, tapi karena ini menyangkut hubungan anak-anak kita. Boleh saya seorang Ayah bertanya ke pada Bapak yang juga seorang Ayah?”
“Oh, tentu! boleh, boleh. Emangnya Bapak mau nanya apa?”
__ADS_1
Bersambung...
\*Selamat membaca\*