Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 122 Rindu ingin jumpa


__ADS_3

Menyusul pula dengan Ranita yang juga kembali ke mobilnya, yang saat itu Alhuda telah menunggu dengan sabar.


“Benar dia itu nenek kita Pa?”


“Iya, sayang, dia itu Ibu kandung dari Mama.”


“Tapi, kenapa dia nggak pernah kelihatan selama ini?”


“Tadi udah di bilangin Mama kan, kalau nenek itu tinggalnya sangat jauh sekali, jadi dia belum sempat berkunjung kerumah kita.”


“Jauh, di luar negeri maksud Papa?”


“Oh, bukan!”


“Lalu, jauhnya itu dimana?”


“Ya di sekitar Indonesia ini juga.”


“Kalau hanya di sekitar Indonesia ini juga, itu mah dekat Namanya Pa!”


“Iya, juga sih!” jawab Alhuda sedikit pelan.


Ranita yang melihat wajah suaminya agak sedikit berubah, diapun merasa heran, perasaan ingin tau itu langsung muncul secara tiba-tiba.


“Ada apa? kok kelihatan sewot?”


“Nggak ada apa-apa kok, Papa itu jawab pertanyaan ku, salah!”


“Maksudnya, salah gimana ya? Mama nggak ngerti.”


“Udahlah nggak usah di bahas.”


“Putra mu itu merajuk sayang, tadi dia itu nanya, benar apa bukan kalau yang tadi itu neneknya, lalu kujawab, iya. Kemudian dia nanyak lagi, kenapa nenek nggak pernah negokin dia, lalu ku jawab, kalau nenek itu tinggalnya sangat jauh, tapi dianya ngambek deh!”


Mendengar perselisihan kecil itu, Ranita pun ikut menjelaskannya pada putra sulungnya itu.


“Sebenarnya Papa itu benar sayang, kalau nenek itu tinggalnya sangat jauh.”


“Kalau masih di Indonesia, itu bukan jauh Namanya Ma, itu mah dekat!”


“O, iya, dekat! Mama jadi lupa!” jawab Ranita tersenyum.


Akan tetapi senyum Ranita itu tak ditanggapi sama sekali oleh putranya, di seperti merasa di bohongi oleh kedua orang tuanya.


Sesaat kemudian, tibalah mereka di depan halaman rumah, mobil langsung di putar kearah garasi, menyusul di belakangnya Resti yang mobilnya di parkirkan di pojok halaman rumah mewah milik Ranita.


“Wow! Ini rumah mu sayang?” tanya Resti sembari tersenyum lebar.


“Iya, Ma! Rumah ini kami buat dengan hasil jerih payah kami berdua,” jawab Ranita datar.


“Kamu menyindir Mama, ya?”


“Oh, nggak kok Ma.”

__ADS_1


Resti yang merasa kalau Ranita telah menyindir dirinya, langsung mengomentarinya, tapi karena Ranita pandai untuk berkilah, dia pun langsung mengajak Resti untuk masuk kedalam rumah miliknya.


Dengan lembut Ranita menggandeng tangan Resti, sampai keruang tamu, hati Resti terasa begitu hangat sekali, karena Resti sudah lama tak merasakan sentuhan lembut dari jemari putri kesayangannya itu.


“Duduklah Ma, biar aku buatkan minum dulu.”


“Iya sayang,” jawab Resti sembari memeluk putri kecil Ranita.


Diruang tamu yang begitu luas itu, Resti bermain bersama kedua anak Ranita, mereka begitu lincah dan lucu, Resti sampai mengeluarkan air mata karena terharu.


“Kalau saja dari dulu aku merelakan mereka berdua menikah, pasti batin ku nggak tersiksa begini,” ucap Resti pada dirinya sendiri.


Saat itu kebahagiaan terasa sudah berada di atas pundaknya, tanpa merasa dendam sedikit pun, putri kecilnya yang dahulu menerimanya dengan senang hati.


“Ini, Ma! Di minum airnya.”


“Terimakasih, sayang.”


“Sama-sama Ma,” jawab Ranita sembari duduk di samping Mamanya.


Baik Resti mau pun Ranita, mereka berdua sama-sama merasa senang, nostalgia semasa dahulu seperti terulang kembali di hari itu, Resti tak mau melupakan momen yang bahagia itu, dia bahkan tiduran di rumah Ranita, sembari melihat kedua cucunya bermain.


Saat itu hari sudah semakin sore, Resti belum ingin berpisah dari anak dan cucunya, kakinya terasa berat sekali untuk melangkah, Margono yang telah menunggunya sedari tadi berjalan hilir mudik diruang tengah.


“Kemana, Resti? Udah sore begini belum juga kembali,” ujar Margono dengan resah.


Ranita yang melihat Mamanya terlalu menikmati tinggal dirumahnya, tak ingat sama sekali untuk pulang.


“Oh, iya, Mama mau pulang!” jawab Resti sembari membenahi pakaiannya.


Ranita begitu senang sekali, karena Mamanya yang dulu tak sama lagi dengan yang sekarang, kelembutannya sudah mulai Nampak dari tingkah lakunya


“Baiklah, sayang, sekarang Mama pamit dulu, tapi lain kali Mama boleh mampir lagi nggak?”


“Boleh, Ma! Mama bisa datang kapan saja Mama mau, aku dan Bang Huda nggak melarang Mama kok, untuk menemui kami dan juga cucu kesayangan Mama.”


“Benarkah itu sayang?”


“Iya, Ma,” jawab Ranita seraya memeluk dan mencium Mamanya dengan lembut.


Ketika hendak keluar dari rumah Ranita, Resti mengeluarkan amplop berwarna coklat dan memberikannya kepada putri kecilnya Ranita.


“Apa ini, Ma?” tanya Ranita heran di saat amplop itu diserahkan Resti ketangan nya.


“Anggap aja ini penebus kesalahan Mama kepada kalian berdua.”


“Oh, nggak usah Ma, kami masih punya simpanan kok.”


“Tapi ini untuk mu, karena Mama udah lelah mencari mu selama ini, Mama capek hidup menderita tanpa kalian, Mama menyesal.”


“Udah ! ambil saja uangnya sayang, Mama janji nggak akan mengganggu hidup kalian lagi.”


Mendengar perkataan Resti Ranita jadi menangis haru, air matanya tak dapat lagi untuk di bendungnya. Di peluknya tubuh Resti erat-erat, tak ingin rasanya berpisah lagi untuk selama nya.

__ADS_1


“Besok hari libur, Mama akan ajak Papa kesini, boleh kan sayang?”


“Boleh, Ma! Boleh, sekalian Papa dan Mama nginap disini juga ya.”


“Iya sayang, kami berdua akan nginap di sini. Kalau begitu Mama pulang dulu.”


“Iya, Ma. Hati-hati di jalan.


Saat itu Resti telah menyadari kesalahannya, dia begitu senang sekali, sembari tersenyum manis, Resti mencoba mengiringi lagu Meriam belina, pada musik yang sedang di putarnya.


Setibanya dirumah, mobil langsung dia masukan kegarasi, suara deru mesinnya membuat Margono menyadari kalau istrinya sudah kembali pulang kerumah.


Emosinya saat itu sedang memuncak, sembari duduk diatas sofa, Margono mencoba membolak balik lembarang koran yang ada ditangannya, jantungnya terasa mendidih saat itu, karena dia telah menunggu Resti begitu lama sekali.


Di saat Resti mulai melangkah masuk kedalam rumahnya, Margono pun berpura-pura sedang membaca koran yang berada ditangannya.


“Kemana saja Ma, kenapa pulangnya telat, nggak kekantor lagi?”


“Papa tadi pergi kekantor nyariin Mama?” tanya Resti ingin tau.


“Iya, tapi kata teman kerja mu, Mama nggak masuk hari ini, kemana keluyuran nya?” tanya Margono dengan nada kesal.


“Kerumah Ranita!” jawab Resti dengan suara lantang.


Mendengar ucapan Resti itu, Margono langsung membuang koran yang berada di tangannya, dan datang menghampiri Resti, yang saat itu tampak tersenyum senang.


“Apa, Ranita? Benar Mama pergi kesana?”


“Iya, Pa. tadi Mama pergi kerumah Ranita, Mama bertemu dengan cucu Mama yang sangat lucu dan menggemaskan itu.


“Terus, Mama bertemu dengan Ranita?”


“Iya, Pa.”


“Gimana keadaannya Ma?”


“Mereka sehat Pa, begitu juga dengan kedua anaknya, sehat semua.”


“Oh, Ranita anak Papa,” ujar Margono lirih.


“Tapi Ranita ngizinin kita besok kesana Pa.”


“Besok?”


“Iya, besok,” jawab Resti datar.


“Kelamaan Ma, Papa maunya sekarang aja, Papa udah nggak sabar mau lihat mereka semua.”


“Tapi Ranita ngasih izinnya besok Pa.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2