
Merekapun kembali keruangan UGD, tempat Bu Nadin dirawat. Sementara itu Mang Ojo yang mendengar kabar tentang kejadian itu, datang kerumah sakit bersama istri dan yang lainnya.
“Kenapa Bapak nggak dikasih tau Yulia ?” tanya Mang Ojo pada putrinya.
“Lukanya nggak terlalu parah kok, Pak ! jadi kami putuskan untuk mengobatinya aja dulu, nanti kalau udah sembuh baru kami beri tau bapak dan yang lainnya.”
“Benar Pak, Cuma luka sedikit kok, nggak perlu cemas.” Timpal Dika.
“Ya, walau sedikit, apa salahnya Bapak dikabari juga.”
“Iya, Pak ! maafkan kami.” Kata Dika merendah.
“Ya udah, lalu gimana dengan tante Yulia itu ? kenapa dia nggak ada disini ?”
“Ooo, tante Meri maksud Bapak ? dia udah dikantor polisi sekarang, dialah sumber masalah itu yang sebenarnya, hingga terjadi hal seperti ini.”
“Apa ? tante mu itu di kantor polisi ? apa kalian berurusan dengan polisi ?”
“Karena orang yang mengaku sebagai tante Meri itu udah berulang kali memeras kami Pak.
Dia bahkan menyiksa Yulia dan melukai ibunya.” Jelas Dika pada Bapak nya.
“Astagfirullah ! Benarkah itu Dika ? tanya Alhuda terkejut.
“Benar, Bang ! terakhir kalinya dia memaksa Yulia mengambil uang dibrangkas, untung saja orang tua Yulia menolong, kalau nggak, uang satu miliar pasti udah ludes dibawanya. Tapi karena aksinya gagal, ya ! dia marah pada mereka semua.”
“Benarkah itu Yulia ?” tanya Bu Fatma pada Yulia.
“Benar Bu, tapi dia mencelakai Ibuku, itu bukan semata-mata salah tante Meri, tapi pisau yang di tusukan Ayah ke tante Meri ditepisnya, hingga pisau itu mengenai Ibu.”
“Ooo, begitu ceritanya !” kata Mang Ojo.” Kalau begitu perempuan itu, memang harus dihukum, agar dia jera dan nggak berbuat semena-mena lagi.”
Saat masih berada dirumah sakit, tiba-tiba saja kapolsek datang dan memberitahukan yang sebenarnya pada Dika, bahwa perempuan yang selama ini mengaku sebagai tantenya Yulia, sebenarnya dia bukanlah tante Yulia.
Perempuan itu hanya mengaku-ngaku saja, karena berniat ingin menipu keluarga Dika, sebab dia iri dengan kekayaan yang didapat Yulia.
Karena semenjak Yulia diangkat dari jalanan oleh Dika. dan menikahinya. Yulia tampak hidup mewah dan bahagia, rasa iri itulah yang membuatnya nekat untuk melawan hukum.
Setelah kasus Dika berakhir, keluarga Mang Ojo merasa sedikit aman, hingga tahun berikutnya. Keluarga Mang Ojo dapat mengenyam ketenangan hidup, bersama anak dan cucunya.
Akan tetapi setelah beberapa tahun, Zaki datang pada Bapaknya, untuk memberi tahukan sesuatu.
“Bicaralah nak ! Bapak dan Ibu pasti mendengarkannya.”
“Tapi aku nggak berani bicara Pak.”
__ADS_1
“Kenapa ? apa ada yang salah dengan kedatangan mu kesini.”
Zaki tak menjawab, lama dia termenung, entah apa yang di pikirkannya saat itu, sementara Mang Ojo dan Fatma merasa tak sabar mendengarkan ungkapan hati Zaki padanya.
“Kenapa diam sayang ?” tanya Fatma ingin tau.
“Aku takut membicarakannya Bu.”
“Emangnya kau mau bicara apa ?”
“Bicaralah nak, Bapak nggak akan marah, karena Bapak sangat suka dengan anak yang jujur dan berterus terang.” Kata Mang Ojo, seraya menepuk pundak Zaki dengan pelan.
“Aku mau menikah Pak, Bu !”
“Apa menikah ?” jawab Mang Ojo kaget.
Melihat Bapaknya kaget dan bicara kuat, jantung Zaki terasa hendak lepas dari gagangnya.
“Iya, Pak !”
“Kan bagus itu !”
Zaki yang mendengar kelanjutan ucapan Bapaknya, dia pun ikut tersenyum manis.
“Lalu, kenapa kau ketakutan untuk bicara pada Bapak dan Ibu sayang ?”
Seraya tersenyum, Mang ojo merapatkan duduknya dengan Zaki.
“Nak ! orang tua mana yang nggak senang kalau anaknya menikah dan hidup bahagia bersama istri dan anak-anaknya. Semua orang tua itu pasti punya tujuan yang sama dengan Bapak.”
“Maksud nya ? Bapak dan Ibu setuju ?”
“Iya sayang, kami berdua pasti setuju dengan pilihan mu.”
“Cihuii ! makasih ya Pak, makasih ya Bu !” ucap Zaki seraya mencium tangan keduanya.
“Tapi kamu jangan senang dulu, Bapak dan Ibumu memang merestui hubungan mu dengannya, akan tetapi, ada yang melarangnya selain Bapak dan Ibu mu.”
“Siapa yang melarangnya Pak ?”
“Allah dan Rasul mu. Karena dalam Al Qur’an. Ada ayat yang melarang kita menikah dengan orang yang nggak satu akidah dengan kita.”
Mendengar kata Bapaknya, sebenarnya hati Zaki terasa begitu sakit sekali, karena tak bisa menikah dengan gadis idamannya. Sebenarnya rasa kesal itu bukan ditujukan pada Bapaknya, akan tetapi rasa kesal itu di tujukan pada dirinya sendiri.
Karena terlalu cepat menyatakan isi hatinya pada Gita. Apa salahnya waktu itu Zaki bertanya dulu pada Gita tentang akidah yang di anut nya.
__ADS_1
Lama Zaki duduk menyendiri, merenungi nasib dirinya. Mang Ojo yang melihat putranya larut dalam kesedihan panjang, dia pun merasa tak tega melihatnya, di hampirinya Zaki yang tampak sedang menatap tajam kearah bulan yang sedang bersinar terang.
“Kenapa ? susah tidur ?” tanya Mang Ojo seraya menepuk pundak Zaki dari belakang.
“Eh, Bapak !” jawab Zaki sembari tersenyum lebar saat Bapaknya duduk di samping kirinya.
“Kenapa sayang ? apakah kamu udah bicara pada gadis mu itu ?”
“Udah Pak.”
“Terus, apa katanya ?”
“Dia setuju saja kalau harus jadi mu’alaf, tapi kedua orang tuanya melarang.”
“Apa nggak ada perempuan lain selain dia ?”
“Untuk saat ini belum ada Pak.”
“Kau masih muda nak ! masa depan yang akan kau tempuh pun masih dangkal, kau belum sempat berbenah diri untuk itu, jika saja, Gita itu bukan di takdirkan untuk mu, berarti ada hikmah di balik kegagalan mu itu.”
“Iya, Pak.”
“Nggak usah berprasangka buruk pada Allah, perbanyak ikstifar, karena ujian itu, kalau kita jalani dengan berkeluh kesah, maka dia akan menjadi musibah dalam hidup kita.”
“Lalu, aku mesti gimana Pak ?”
“Sholat dan serahkan dirimu kepada Allah, yang telah menjadikanmu orang sukses di dunia. Minta petunjuk padanya !”
Zaki tak menjawab apa yang di ajarkan Mang Ojo padanya, Zaki hanya menyimak setiap detail, perkataan Bapaknya.
“Hm, Bapak benar, kenapa aku harus larut dalam kesedihan, bukankah masa depanku masih panjang ?” kata Zaki pada dirinya sendiri.
“Do’a kan, agar Allah membukakan pintu hati kedua orang tua Gita itu.” Kata Mang Ojo sembari beranjak dari tempat duduknya.
“Bapak mau kemana ?” tanya zaki ingin tau.
“Bapak mau tidur ! Bapak kan bukan kayak kamu, susah tidur !” jawab Mang Ojo sembari tersenyum lebar.
“Bapak ! masih aja bercanda !” kata zaki seraya melirik kearah Bapaknya yang semakin menjauh.
Di saat zaki masih diam dengan beban yang sedang di pikulnya, sementara Mang Ojo, berlalu menuju kamar tidur, guna beristirahat, meluruskan urat yang mulai terasa tegang dan menyakitkan.
“Bapak dari mana ?” tanya Fatma yang saat itu belum tidur.
“Dari balkon !”
__ADS_1
“Tengah malam begini ? ngapain ke balkon Pak ?”
Bersambung...