Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 9 Komentar Mang Ojo


__ADS_3

“Sebenarnya, nggak seberapa naiknya kok, Mang.”


“Emangnya naik berapa Den ?”


“Hanya sedikit tapi menghimpit untuk rakyat miskin.”


“Bapak jadi heran, kenapa di dunia ini banyak sekali ketidak adilan, yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin menjerit untuk mencari sesuap nasi.”


“Benar itu Mang !” Timpal Niko membenarkan.


“Pada hal gaji yang mereka terima perbulannya, bisa memberi makan orang satu kampung, Den.”


“Gitu ya Mang ?”


“Iya Den, tapi gaji segitu besarpun mereka belum merasa cukup, mereka bahkan tak perduli dengan kami rakyat kecil, percaya nggak Aden, kalau Mamang setiap hari hanya mengkonsumsi nasi aking.”


“Nasi aking ? apaan itu Mang ?”


“Nasi aking itu, nasi rusak yang udah di buang orang, lalu kami ambil dan kami cuci lagi, untuk kami masak.”


“Hah, serius Mamang begitu ?”


“Iya Den, buat apa Mamang berbohong coba !”


“Jadi, udah berapa lama Mamang mengkonsumsi nasi aking ?”


Udah puluhan tahun Den ?”


“Kenapa Mamang nggak beli beras bagus aja untuk di konsumsi ?”


“Mamang nggak punya uang untuk membelinya Den, hasil dari berjualan kacang rebus dan mulung, hanya untuk biaya sekolah anak-anak.”


“Mulung ? siapa yang Mulung, Mang ?”


“Istri Mamang, kerjaannya memulung sampah plastik dan mengumpulkan nasi bekas.”


“Ya ampun ! jadi selama ini, hidup Mamang susah Ya.”


“Tapi walau hidup Mamang susah, Mamang nggak mau menyusahkan orang lain juga kok Den.”


“Mamang sungguh berhati mulia sekali, jarang lho orang susah, tapi dia berlagak biasa-biasa saja.


Mendengar penjelasan dari Mang Ojo, seraya tersenyum-senyum, Niko pun mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti.


“Sebenarnya, semua itu terpaksa kami lakukan jika kalau tidak dengan cara itu, tentu anak Mamang nggak bisa bersekolah. Uang dari hasil penjualan kacang rebus ini tak sanggup menutupi kebutuhan keluarga Mamang, Den.”


“Istri Mamang bekerja di mana ?”


“Istri Mamang memulung hanya disekitar daerah ini saja Den.”


“Ooo, gitu ya.”


“ Tapi semua ini nggak Mamang permasalahkan, kami sekeluarga selalu menerimanya sebagai ujian dari Allah !”

__ADS_1


“Ya, berarti Mamang orang berhati mulya rupanya.”


“Seandainya saja, setiap bantuan yang di ulurkan pemerintah, dapat terkendali dan langsung sampai ketangan kami, tentu kami nggak menderita seperti ini.”


“Ya, Mamang benar. Sekarang semuanya berbisnis menurut aturannya masing-masing, sehingga bantuan yang datang pada rakyat miskin nggak sesuai menurut aturan yang diharapkan.”


“Ya, sepertinya apa yang Mamang katakan itu benar.”


“Tapi rakyat miskin seperti kita, walaupun menjerit, mereka nggak bakalan mendengar. Karena tembok-tembok istana begitu kuat dan kokoh. Dan suara kita nggak bakalan sanggup menembusnya, lebih baik jeritan itu kita pendam aja sendiri.”


“Ya, kita terpaksa harus menahannya Mang, sebab kalau kita banyak berkomentar, takutnya nanti mereka akan menganggap kita makar . Ujung-ujungnya kita harus berurusan dengan polisi.”


“Waah, kalau gitu kita harus cari aman, Den ?” jawab Mang Ojo seraya geleng-geleng kepala.


“Benar itu Mang, lebih baik diam dan di anggap aman, dari pada berkomentar tapi kita berurusan dengan polisi.”


“Lihat itu Mang, seharian pun mereka berjemur dan berteriak, apa menurut Mamang permohonan mereka bakal diterima ?”


“Entahlah Den, tapi selama ini, kalaupun mereka dengarkan, paling mereka menjawab, akan kami pertimbangkan terlebih dahulu


“Yang paling memprihatinkan sekali Den adalah, mereka bela-belain mogok makan, jahit bibir dan bahkan mengubur sebagian tubuh mereka di dalam tanah.”


“Ya Mang, sungguh miris sekali !”


“Seandainya saja, para petinggi negara itu mau sedikit memperhatikan kami rakyat miskin ini, tentu kami tidak begitu menderita dan terpuruk.”


“Iya, Mang. Kami sebagai maha siswa pun, berharap betul, agar para pejabat negara yang gajinya bisa untuk makan orang sekampung itu, bersedia berbagi sedikit rezki pada kita rakyat jelata ini.


“O iya Mang, tapi sebelum pulang, aku mau traktir Mamang makan dulu, ayo !” ajak Niko seraya menggandeng tangan Mang Ojo.


“Maksud Aden apa ?” tanya Mang Ojo tak mengerti.


“Ya makan, nanti aku yang bayarkan !”


“Waah ! makan enak ya Den ?”


“Iya Mang, makan enak.” Jawab Niko.


“Tapi Den, Mamang jadi nggak enak, kalau Den Niko yang mentraktir.”


“Kenapa emangnya kalau aku yang mentraktir ?”


“Mamang kan jadi nggak enak Den.”


“Kalau gitu, gimana kalau Mamang aja yang mentraktir ?”


“Ah, jangan Den ! Mamang kan nggak punya uang untuk makan enak.”


“Kalau gitu, Mamang nggak usah banyak komentar, ayo ikuti aku.” Ajak Niko pada Mang Ojo.


“Ikut kemana Den ?”


“Ya, ikut pergi ke restoran !”

__ADS_1


“Tapi Den !”


“Aduh, Mamang ! kebanyakan tapinya ya !” ucap Niko seraya menarik tangan Mang ojo yang masih merasa enggan.


Setibanya di dekat mobil niko, Mang Ojo bukannya naik keatas mobil itu, dia malah berjalan kaki mendahului mobil Niko yang siap untuk berangkat.


“Lho, lho ! Mang, kenapa jalan !” seru Niko dari dalam mobilnya.


“Jadi Mamang harus gimana Den ?”


“Ya, ayo naik !”


“Naik mobil, maksud Aden ?”


“Iya, naik mobil .”


“Aduh Den ! Mamang takut, nanti kalau kita tabrakan gimana, atau kalau kita terjatuh gimana, atau kalau kita nabrak orang gimana, ah ! Mamang jalan aja, Den.”


Setelah mendengar penjelasan Mang Ojo yang panjang lebar itu, Niko akhirnya turun dari mobilnya.


“Mang, kalau Mamang baca semuanya, maka Mamang nggak akan pernah naik mobil seumur hidup Mamang. Mamang tau nggak jalan menuju restoran itu jauh sekali, ada lima jam perjalanan, kalau Mamang mau ya silahkan aja.” Kata Niko membujuk Mang Ojo.


“Kalau begitu, ayo lah.” jawab Mang Ojo pelan.


Setelah Mang Ojo bersedia naik mobil, lalu Niko membantu Mang Ojo untuk naik keatas mobil miliknya.


Kemudian Mang Ojo dan Niko berangkat menuju kesebuah restoran mahal yang ada di kota Jakarta. Diatas mobil Niko banyak bertanya tentang beberapa hal lain pada Mang Ojo. Dan dengan sigap Mang Ojo menjawab tanpa ada kendala sama sekali.


Didepan sebuah restoran mahal, kendaraan itu berhenti dan Niko pun turun seraya membukakan pitu mobilnya untuk Mang Ojo.


“Kita turun Den ?” tanya Mang Ojo pelan.


“Iya Mang, kita makan disini aja !” ajak Niko pada Mang Ojo.


“Ooo, anu Den, anu !”


“Anu apa Mang ?” tanya Niko itu heran.


“Mamang nggak usah turun ya Den ?”


“Kenapa Mang ? Apa ada masaalah ?”


“Nggak sih Den, tapi masalahnya ada direstoran itu.”


“Kenapa Mang ?”


“Mamang nggak pernah masuk ke restoran semewah ini Den !”


“Itu makanya Mamang aku ajak kesini ! biar Mamang bisa menikmati makanan lezat , seperti para petinggi negara itu !”


“Ah Den Niko, mau ledek Mamang ya ?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2