Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 45 Kejutan untuk keluarga


__ADS_3

“Kamu itu ya ! Kalau ngomong tolong di fikirkan dulu, jangan suka menyakitkan perasaan orang lain !” bentak Bu Liza dengan suara keras.


Di lantai bawah Bu Liza melihat Yulia menangis sedih, lalu dengan lembut Bu Liza menghampirinya.


“Nggak usah di dengarkan ucapan Hani itu sayang ! kan dia suka bicara sembarangan, Hani suka menyakiti hati orang lain, dan menuduh orang berbuat yang bukan-bukan. Yang penting kita semua udah tau siapa Hani itu sebenarnya.”


“Iya, Bu.” jawab Yulia sembari merebahkan kepalanya kebahu Bu Liza yang telah mereka anggap sebagai Ibu kandung mereka semua.


Di saat Yulia sedang menangis, tiba-tiba saja Dika datang, walau Yulia telah menghapus air matanya, namun Dika tetap saja mengetahui kalau Yulia sedang menangis.


“Kenapa menangis ?” tanya Dika ingin tau.


“Nggak ada apa-apa kok.”


“Nggak mungkin ?”


“Benar, nggak ada apa-apa !” jawab Yulia berbohong.


“Kak Lia bohong Om !”


“Ssst ! pergi sana !” jawab Yulia agar Rizki tak bicara.”


“O, tunggu Ki ! Om mau naya sesuatu pada kamu !”


“Apa Om ?”


“Kenapa kak Lia menangis ?”


“Dia habis bertengkar dengan kak Hani Om !”


“Benar begitu !” jawab Dika kaget.


“Iya Om.”


“Kapan kejadiannya ?”


“Mereka udah sering berantem Om.” Jawab Rizki dengan jujur.”


“Benar begitu Bu Liza ?”


“Benar Pak Dika !”


“Kenapa mereka bertengkar, kan semua pasilitas sudah saya penuhi !” jawab Dika heran.


“Kalau itu memang sudah Pak !”


“Lalu apa lagi yang mereka pertengkarkan Bu ?”


“Mereka merasa iri, karena Bapak pilih kasih dalam menyayangi mereka.”


“Benarkah begitu Bu? benar begitu yang mereka katakan ?”

__ADS_1


“Benar Bang !” timpal Yulia membenarkan apa yang di katakana Bu Liza saat itu.


“Ya Allah ! ampunilah aku !” teriak Dika yang merasa berdosa karena telah bersikap tak adil pada semua anak. Dika menangis dihadapan anak-anak panti seraya memeluk mereka dengan lembut.


“Maafkan kami Pak ! tidak semestinya kami berbuat seperti itu pada Bapak.”


“Aku yang salah Bu ! aku yang lalai selama ini, semestinya aku tak berbuat seperti itu pada mereka, karena semua anak-anak yang ada di tempat ini, sama di mata kita semua. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang yang lebih dari kita.


Setelah Dika meminta maaf pada semua penghuni panti, lalu Dika mengumumkan pada mereka semua.


“Degar semuanya, malam nanti, keluarga Bapak akan datang ketempat ini, untuk melamar Yulia !”


Mendengar nama Yulia di sebut, semuanya tampak bersorak gembira, akan tetapi Yulia yang mendengar kalau Dika akan melamar dirinya, Yulia langsung pingsan tak sadarkan diri.


Yulia sock mendengarkan kabar itu, karena tak pernah terbayangkan olehnya, akan menikah dengan seorang Dosen sekaligus seorang pelukis terkenal.


Melihat Yulia pingsan, semua anak-anak panti berlarian memberikan pertolongan pada Yulia, sedangkan Dika saat itu sangat cemas, takut terjadi sesuatu yang berbahaya pada Yulia.


“Gimana keadaan Yulia Bu ?”


“Dia hanya sock, karena menganggap hal ini mustahil baginya.”


“Nak Dika, apakah kamu udah pikirkan ini secara matang ?’’


“Udah Bu.”


“Apakah keluarga Nak Dika udah setuju ?”


“ Untuk itu aku mohon bantuan pada Ibu dan yang lainnya, untuk mempersiapkan semuanya secara matang dan baik.


“Ooo ! kalau soal itu beres nak Dika, kamu bisa lihat nanti malam, semuanya pasti di luar dugaan mu.


Sesuai dengan kesepakatan yang telah di tentukan, para penduduk panti bekerja sama bahu membahu mempersiapkan acara lamaran untuk Yulia.


“Bu, aku takut sekali, kenapa mesti aku yang di nikahi Bang Dika ?”


“Kenapa harus takut sayang ? sebentar lagi kau akan dipanggil nyonya Yulia, istri seorang Dosen sekaligus seorang pelukis terkenal.”


“tapi Bu, aku takut !”


“Nggak usah takut, Ibu akan menemanimu nantinya.” Jawab Liza menenangkan hati putrinya itu.


Tak dapat dipungkiri, kalau Mang Ojo dan Fatma telah mendapatkan apa yang mereka inginkan saat itu. Anak yang baik dan harta yang berlimpah.


Setelah pernikahan Alhuda dan Intan berjalan, kini Dika juga hendak berumah tangga, hal itu dibuktikan pada kedua orang tuanya untuk datang melamar perempuan yang dicintainya.


Seorang gadis berkerudung yang taat beribadah serta sangat lembut.


l


Sore itu, Dika memberitahukan hal lamarannya pada kedua orang tuanya, di hadapan kakak dan adiknya.

__ADS_1


Emangnya kamu mau menikah dengan siapa sayang ?” tanya Alhuda ingin tau.


“Nanti ku beri tau setelah kita tiba ditempat kediaman perempuan itu.”


“Bapak dan Ibumu setuju saja nak dengan siapa kau mau menikah, asalkan menurutmu dia itu baik dan cocok.” kata Mang Ojo.


“Iya Pak, aku telah pikirkan hal itu secara matang.”


“Siapa orangnya nak ?” tanya Fatma dengan suara lembut.


“Nanti malam aku akan mengajak Ayah dan Ibu kesana.”


“Baiklah, nanti malam kami akan bersiap-siap.” Jawab Mang Ojo menyenangkan hati putranya.


Tepat di malam minggu, semua keluarga sudah berkumpul dirumah, Dika mengajak semuanya, melamar gadis yang dicintainya itu.


Setelah semuanya siap dan mobilpun berangkat, ditengah perjalanan mobilpun berhenti dihalaman sebuah panti asuhan milik keluarga Mang Ojo.


Semua tampak heran dan bertanya-tanya didalam hati masing-masing.


“Kenapa berhenti nak ? inikan rumah panti milik kita ?” tanya Mang Ojo heran.


“Tenanglah, disini ada rumah pribadi ku yang baru dibangun, dan itu rumah panti kita yang dihuni lebih dari seratus lima puluh orang dan tiga puluh pekerja dan sepuluh orang perawat.


“Ayo masuk !” Ajak Dika pada keluarganya.


“Lihat, ini ruang pameran lukisan ku, bagaimana bagus kan ?”


“Wow ! ruang pameran mu udah pindah ya Dik ?” tanya Alhuda ingin tau.


“Iya Bang, baru ku pindahkan, lebih dekat ke Panti.”


“Sangat bagus, jadi selain jadi dosen kamu kerja yang begini ini, Dika ? Subhanallah ! Bapak senang Dika, Bapak senang sekali.” Kata Mang Ojo, seakan-akan tak percaya.


“Pak, nanti kalau Bapak ada waktu, kita melukis bareng ya ?” ajak Dika pada Mang Ojo.


“Ok ! Siapa takut !” tantang Mang Ojo.


Suasana pun tampak sedikit cair, namun tiba-tiba saja Mang Ojo menangis di pelukan putranya itu, rasa haru bercampur bahagia mewarnai hati Mang ojo. Karena tanpa dia sadari ternyata putranya telah menjadi orang sukses.


“Ternyata uang hasil penjualan lukisan mu, yang selama ini kau berikan pada Ibu Nak ?”


“Benar Bu, dan sisanya, untuk biaya anak-anak panti.”


“Pantasan selama ini, Ibu merasa heran kenapa gajimu sebagai dosen begitu besar. Tapi Ibu belum sempat nanya, semuanya telah terjawab dengan sendirinya.” Kata Fatma mengeluarkan pemikirannya pada saat itu.


Menyaksikan semua itu, Mang Ojo melakukan sujud syukur, di ikuti oleh anak dan para menantunya.


Mereka semua sungguh tak menduga kalau Dika yang selama ini berprofesi sebagai Dosen, ternyata sangat luar biasa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2