
Mendengar Retno bicara, Hermawan jadi tertawa geli, dia ternyata berhasil mengelabui istrinya yang sok hebat itu.
“Rasain kamu Ma, itu makanya kalau jadi Ibu itu yang baik, jangan jahat dan kejam,” ujar Hermawan menahan tawanya.
Malam itu di saat semuanya telah terlelap tidur, seseorang datang mengetuk pintu luar, Retno yang mendengarkannya mencoba untuk membangunkan suaminya.
“Pa, bangun. Di luar kayaknya ada orang yang mengetuk pintu loh.”
Mengetuk pintu? Siapa yang mengetuk pintu sih, Ma?”
“Mama juga nggak tau Pa!”
“Ah biarkan saja paling juga pengemis yang minta sedekah.”
“Tapi dia nggak berhenti mengetuk pintunya Pa, ayo buruan kita lihat.”
“Ah, Mama ajalah, Papa ngantuk banget nih.”
“Mama takut Pa, Mama nggak berani, nanti kalau yang datang perampok gimana?”
“Ya, udah lah, mari kita lihat!” ajak Hermawan sembari menggandeng tangan istrinya.
Setelah Hermawan membuka pintu rumah itu dengan pelan, ternyata benar saja di luar ada empat orang pengemis yang berpakaian lusuh, begitu juga dengan kedua anaknya yang masih kecil, mereka seperti berharap sesuatu pada Hermawan dan Retno.
Melihat ke empat pengemis itu menegadahkan tangannya, Retno jadi marah sekali, hingga dia mendorong keempat pengemis itu hingga terjatuh.
Hermawan yang melihat istrinya begitu kejam, langsung marah dan menampar wajah Retno hingga berbekas.
“Kau memang berhati Iblis Ma, kenapa kau mendorong mereka, kalau kau nggak punya uang atau sesuatu yang akan kau berikan, bilang saja baik-baik padanya! Jangan kasar begitu!” bentak Hermawan pada istrinya.
“Habis dia itu kotor Pa, dekil lagi, bawa penyakit tau!”
“Tapi bukan seperti itu caranya, kan bisa bicara lembut, nggak pakai dorong seperti itu!”
“Aaah, terserah Papa lah!” ujar Retno kesal.
Lalu Hermawan menolong mereka berempat berdiri, kemudian keempat pengemis itu pergi secara bersamaan, Hermawan yang melihat mereka pergi tanpa membawa apa-apa, lalu Hermawan kembali memanggil mereka semua.
“Sini! Bapak Cuma punya uang segini, kalian ambil dan beli makanan ya?"
Saat uang pecah dua puluhan, dua lembar sampai ketangan pengemis itu, Retno langsung menyambarnya satu lembar, sehingga uang itu hanya tersisa satu lembar lagi.
“Kebanyakkan!” jawab Retno dengan nada ketus.
__ADS_1
“Kebanyakkan gimana maksud Mama, kan mereka itu ada berempat Ma, jadi hanya beli nasi empat bungkus.”
“Kenapa harus empat bungkus Pa, kedua anaknya kan bisa nebeng sama orang tuanya, ingat Pa! kalau kita ngasih uang lebih kemereka, nanti mereka bisa malas bekerja, Sukanya hanya jadi pengemis.”
“Mama itu kalau jadi orang, jangan kejam lah.”
“Kejam gimana, lihat tuh, tubuhnya masih kuat, lihat ini tangannya aja masih kekar, kenapa nggak cari kerjaan yang halal untuk anak istri, nggak perlu mengemis tau,” ujar Retno sembari memegang tangan pria itu.
Saat itu tiba-tiba saja topi pria itu terjatuh, dan Retno melihat sendiri kalau yang mengemis itu ternyata putranya sendiri Niko bersama istri dan kedua putrinya.
“Hah, Niko!” teriak Retno sembari memeluk putranya itu.
Niko diam saja, ketika tangan lembut Mama nya menyentuh tubuhnya, hanya Retno melihat ada tetesan bening jatuh di kedua pipinya.
“Maafkan Mama nak, maafkan Mama,” ucap Retno menangis tersedu-sedu.
Melihat istrinya menangis Hermawan langsung membangunkan istrinya, Hermawan berusaha mengguncangkan tubuh Retno hingga terbangun.
“Ada apa?” tanya Retno heran.
“Mama mimpi ya.”
“Iya, Pa.”
Retno hanya diam saja, karena dia merasa malu untuk menjawabnya, kalau dia bicara kan tentang mimpinya itu, pasti Hermawan menertawakan dirinya, untuk itu, Retno tak mau buka mulut tentang mimpinya itu.
“Nggak, Mama hanya mimpi hantu Pa,” jawab Retno berbohong.
“Itu makanya, kalau tidur itu baca do’a.”
“Baik Pa,” jawab Retno sembari menarik selimutnya, hingga menutup sebagian tubuhnya.
Bersambung...
*Selamat membaca*
Saat memejamkan mata, Retno masih saja terbayang wajah pengemis itu, wajah putra kesayangannya yang meminta belas kasihan pada Ibu kandungnya sendiri. Tak terasa air mata Retno mengalir membasahi bantalnya.
Butiran air bening itu, satu persatu menetes membasahi bantalnya, Retno tampak begitu sedih mengingat mimpinya itu.
“Aku Ibu yang kejam dan jahat, aku bahkan tega merampok dirumah putra ku sendiri, pasti Niko begitu marah melihat kelakuan ku ini,” batin Retno pilu.
Pagi hari, setelah Retno bangun, dia membersihkan seluruh kamarnya yang berserakan, tiba-tiba dia melihat bungkusan kecil miliknya yang sedang di carinya
__ADS_1
“Ya ampun! ternyata ini yang sedang ku cari itu, rupanya jatuh di bawah tempat tidur. Oh syukurlah, untung nggak hilang,” ujar Retno membuka kembali bungkusan yang di dapatnya itu.
Setelah di periksa, ternyata semua perhiasan miliknya masih utuh di dalam bungkusan itu.
“Apa sebaiknya ku kembalikan aja ya, sama Intan,” pikir Retno saat itu. “Kalau ku kembalikan pasti dia masih punya modal lagi untuk berjualan dan Niko nggak jadi pengemis seperti yang ada dalam mimpi ku itu.”
Setelah di pikirkan Retno secara matang, pagi itu sebelum berangkat mengajar, dia menyempatkan diri untuk mampir kerumah Niko putra kesayangannya.
Mobil miliknya kemudian di parkir di depan restoran itu, karena masih pagi, Retno terpaksa haru menunggu di dekat mobilnya sampai pintu restoran itu di buka.
Aida yang pertama muncul, menatap heran pada Retno yang berdiri sambil senderan di dekat mobil miliknya. Retno tidak mengubrisnya, dia tampak berlagak cuek saat itu.
“Ada apa? kenapa pagi-pagi begini udah memantau rumah neng Intan, mau maling ya?”
Retno diam saja, dia tak menanggapi ucapan Aida, walau terasa begitu menyakitkan sekali, karena Retno sadar, kalau tujuannya datang ke rumah Niko hanya untuk mengembalikan semua perhiasan yang telah di curi dari Intan.
Bagi Retno, mesti perhiasan itu tak seberapa yang tinggal, namun perhiasan itu masih bisa di jadikan modal untuk membangkitkan usahanya yang sudah terpuruk. Retno benar-benar takut, kalau Niko jatuh miskin dan menjadi pemulung dan mengemis sedekah kerumah orang.
Aida yang langsung masuk kedalam restoran, segera mengabarkan Intan dan Niko, kalau di luar ada Retno yang sedang menunggunya.
“Dimana Buk’e?” tanya Intan ingin tau.
“Tuh, di depan restoran, neng.”
Saat itu Niko menatap kearah Intan, dia begitu bingung, apakah Mamanya ingin berbuat baik atau malah sebaliknya, pandangan matanya mengundang rasa ragu yang teramat sangat, Niko butuh kepastian dari istrinya.
“Gimana sayang, di temui atau nggak!”
“Temui aja, Bang, nggak baik mengabaikan orang tua sendiri.”
“Nanti kalau dia ingin berbuat jahat gimana?”
“Aku yakin kok, sejahat apa pun Bu Retno, dia pasti nggak akan menyakiti putranya sendiri.”
“Baiklah, akan Abang temui dia.”
“Tenang dan berhati-hatilah.”
“Baik sayang.”
Setelah beberapa saat menunggu , akhirnya Retno melihat kehadiran Niko di hadapannya, Retno tak bicara sepatah pun, di hanya menatap wajah Putranya dengan perasaan sendu.
Hati Retno bagai teriris-iris saat itu, begitu perih yang dia rasakan, ingin sekali Retno memeluk putranya itu dengan lembut dan tak akan dia lepaskan lagi walau hanya satu senti sekali pun.
__ADS_1