
“Oh, Ibu,” ucap Alhuda sembari mencium tangan kanannya.
“Udah dari tadi kamu datang sayang?”
“Barusan Bu, tapi ada apa dengan Randi, kenapa dia kelihatan begitu kesal sekali?”
“Itulah yang kami hadapi selama ini, dia membuat seisi rumah ini menjadi tegang dan sakit kepala.”
“Ucapan Randi sangat kasar sekali pada ku, tadi,” kata Alhuda.
“Bukan hanya kepada mu dia bersikap kasar Nak, pada kami juga, begitu juga pada Ayah dan istri yang merawatnya selama ini.”
Di saat mereka sedang berbincang-bincang diruang tamu. Tiba-tiba Zaki datang dan langsung masuk kedalam rumah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab semua orang yang berada di dalam ruangan itu.
“Ada Bang Huda,” ujar Zaki sembari mencium tangan Abang dan kakak iparnya.
“Kapan nyampainya Bang?” tanya Zaki ingin tau.
“Baru saja.”
“Ooo, gitu.”
“O iya dek. Tadi Abang masuk kedalam kamar Randi, padahal Abang bertanya baik-baik padanya, tapi jawabannya itu kok begitu menyakitkan ya?”
“Dia itu belum siap dengan kenyataan yang sedang dia hadapi Bang, jadi pikirannya sedikit labil dan terganggu dengan kondisi tubuhnya yang seperti sekarang ini.
“Dia juga bersikap kasar pada ku, Bang," ujar Nurul.
“Apa yang telah dia lakukan pada mu sayang?”
“Dia tak melakukan apa-apa, tapi dia selalu mengatakan kalau aku ini istri nggak berguna.”
“Kamu yang sabar ya, sayang. Mungkin kejadian ini membuatmu lebih banyak bersabar.”
“Iya, Bang,” jawab Nurul singkat.
“Maaf, sepertinya keluarga ku, telah menyusahkan kalian semua, kalau kalian merasa keberatan dengan kami, kalian boleh hantarkan kami ke Padang saja.”
“Ke Padang?”
__ADS_1
“Iya, biar di sana Bapak akan rawat Randi bersama Ibunya, tanpa harus membebani kalian semua.”
“Justru hal itulah yang membuat kami semakin terbebani, Yah.”
“Jadi aku mesti gimana?”
“Ayah tenanglah disini, kami nggak ada yang merasa keberatan dengan kehadiran keluarga Ayah disini, justru kami sengaja memperlakukan Randi seperti itu, agar kelak dia nggak semena-mena dengan kedua orang tuanya.”
“Ayah malu dengan perbuatan Randi pada keluarga ini nak,” ujar Riswan menangis sedih.
“Walau kami di perlakukan begini, kami nggak merasa keberatan kok, nanti setelah Ibu sembuh kembali, Ayah baru bisa menentukan pilihan Ayah sendiri. Ingin pulang ke Padang atau tetap di Jakarta bersama Nurul.” Jawab Alhuda dengan suara lembut.
Mesti Alhuda telah menyuruh Riswan agar menetap di rumahnya sampai Rumana sembuh, tapi Riswan merasa keberatan sekali untuk tinggal dirumah itu, sebab kelakuan Randi udah keterlaluan pada Mang Ojo sekeluarga.
Siang itu, Riswan mencoba bicara pada putranya secara baik, untuk bisa memilih, pulang ke Padang atau tetap di Jakarta menetap di rumah Mang Ojo.
“Gimana menurut mu nak?”
“Aku nggak tau!” jawab Randi ketus.
“Kalau kau nggak punya jawabannya, berarti kita akan menetap di Jakarta, tapi ingat! ubah semua kelakuan buruk mu itu, udah bersyukur mereka mau menerima kita disini, jangan lagi tambah beban di pundak mereka.”
“Ayah nggak tau apa-apa, jadi nggak usah Ayah banyak bicara.”
“Padahal kami nggak pernah mendidik mu menjadi anak durhaka, tapi kenapa hari ini Ayah melihat jelas kelakuan buruk mu itu.”
Itulah sebabnya Randi selalu mencari kesempatan untuk membalas semua perlakuannya itu. Begitu juga dengan Nurul yang telah membuatnya cacat seumur hidupnya.
Setelah dua bulan berlalu, Rumana sudah mulai menunjukan reaksi kalau tubuhnya yang lemah, bisa di gerakan, karena setiap pagi Nurul selalu membawa Ibunya keluar untuk jalan-jalan di taman.
Sambil menghirup udara segar, Nurul menyempatkan diri memijat bagian tubuh Rumana yang sakit dengan air embun.
Mesti tak dapat bicara, tapi Rumana merasakan betapa tulusnya Nurul merawatnya dengan penuh kasih sayang.
“Gimana keadaan Ibu sekarang ini Bang?” tanya Nurul pada Zaki yang saat itu baru selesai memeriksa kondisi Rumana.
“Alhamdulillah, kondisinya semakin membaik dek.”
“Syukurlah, semoga Ibu segera sembuh dan dapat beraktifitas kembali.”
“Insya Allah, semoga Allah membantu kesembuhan Ibu mu.”
“Aamiin.”
__ADS_1
Setelah Rumana selesai di periksa, Nurul langsung membersihkan tubuh Rumana, agar tubuhnya terasa segar, bukan hanya itu tugas Nurul, selanjutnya dia memberi Rumana makan dan mengganti pakaiannya.
Barulah setelah itu dia membersihkan tubuh Randi dan menggati pakaiannya. Walau terasa begitu melelahkan, namun Nurul tetap melakukannya dengan Ikhlas, karena dari sanalah ladang pahala yang akan diterimanya nanti.
Mesti telah di perlakukan dengan baik, namun Randi tetap saja bersikap buruk pada Nurul.dia menghujat Nurul dengan kata-kata kasar, namun Nurul tetap saja diam.
Saat mengganti pakaian Randi, tanpa sengaja, nurul menyenggol tangan Randi yang telah di amputasi, Randi langsung marah dan di mendorong Nurul kebelakang, untung saat itu ada Zakia di belakang Nurul dan menahan tubuh Nurul dengan sekuat tenaganya.
“Kamu ini ada apa Bang, udah di bantuin masih saja jahat!” ujar Nurul dengan nada kesal.
“Itu semua karena kelakuanmu yang buruk itu!”
“Baiklah, kalau kau selalu mengatakan aku perempuan yang berperilaku buruk, sekalian saja mulai besok akan ku cari laki-laki lain untuk ku nikahi,” ujar Nurul sembari meninggalkan Randi sendirian di kamar.
“Keparat kau Nurul!” teriak Randi kesal.
Mendengar suara Randi yang menggelegar itu, seisi rumah jadi terkejut, mereka semua keluar dari kamar untuk mendengar pertengkaran itu.
Namun Nurul telah berlalu meninggalkan mereka semua, Nurul keluar rumah dengan rasa kesal yang membebani pikirannya.
Fatma yang mendengar deru mobil di garasi, langsung bergegas keluar untuk menemui putrinya.
“Nak!” sapa Fatma dengan wajah memelas.
Melihat Ibunya datang menghampiri, Nurul pun keluar dari mobil. Dan menyalami tangan tua renta tersebut.
“Ada apa Bu? kenapa menghalangi ku?”
“Kamu sedang kalut nak, jangan menyetir dalam keadaan kacau, lebih baik kau diantar sama Ahong aja.”
“Aku nggak apa-apa kok Bu.”
“Nggak, kau keluar dalam keadaan kesal, Ibu nggak mau terjadi sesuatu pada mu.”
“Baiklah, biar Pak Ahong yang mengantar kan aku kekantor.”
“Baik, akan Ibu panggil dia sebentar,” kata Fatma seraya bergegas mencari keberadaan Ahong.
Sebagai seorang direktur, Nurul begitu di segani di kantor, apa lagi Nurul memiliki wajah yang cantik membuat bawahannya merasa salah tingkah bila bertemu dengannya, apa lagi semenjak Randi mengalami kecelakaan yang membuat tubuhnya cacat, tentu hal itu membuat semua pria berpandangan lain.
Salah seorang dari pria yang menaruh simpatik pada Nurul adalah Riza, dia pria sempurna yang memiliki tubuh atletis, Riza adalah sekretaris Nurul semenjak dia diangkat menjadi direktur.
Bersama Riza, Nurul sering berpergian untuk melihat proyek yang sedang mereka kerjakan, walau perasaan itu tak pernah muncul di hati Riza, akan tetapi semenjak Randi mengalami kecelakaan, Rizal punya kesempatan untuk mendekati Nurul.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*