Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 40 Berkarya


__ADS_3

“Kenapa mesti malu ? thoh pekerjaan orang tua saya halal, bahkan mereka bisa menjadikan anaknya manusia-manusia yang berkualitas. Berkat jasa mereka juga lah saya bisa menolong orang banyak, bahkan atas izin Allah, saya menyelamatkan nyawa Ibu dari kematian.”


“Kurang ajar, kau kira kau itu siapa hah !”


“Saya bukan siapa-siapa kalian, tapi saya seorang dokter yang ditugaskan untuk menolong kalian semua, seperti Ibu yang kemaren datang kesini dalam keadaan anfal. Maaf saya harus pergi, saya nggak punya banyak waktu untuk ngurusin hal semacam ini.”


Kata Zaki seraya meninggalkan ruangan itu.


“Dr.Zaki itu benar Bu, kalau bukan dia yang menolong Ibu waktu anfal kemaren, mungkin nyawa Ibu nggak bisa tertolong lagi.” Jelas Mita seorang perawat yang selalu membantu Zaki dirumah sakit itu.


“Bodoh amat ! ayo Pa, kita tinggalkan tempat ini.”


“Nggak bisa gitu Ma ! semua ada prosedurnya, betul kata mereka, Mama itu terlalu egois, bersikaplah sportif nggak perlu menghina orang seperti itu, karena buruk akibatnya bagi diri kita sendiri.”


“Mama nggak perduli kalau Papa nggak mau ikut, biar Mama sendiri yang pulang.” Kata Retno bersikeras.


“Dasar keras kepala, diajari yang benar malah nggak mau nerima.” Kata Hermawan menahan rasa malu oleh kelakuan istrinya sendiri.


“Maafkan istri saya sus, dia orangnya memang keras hati.” ucap Hermawan pelan.


“Nggak apa-apa, kalau memang Ibu ingin pulang sekarang boleh saja, silahkan kalian mengurus administrasinya dulu.”


“Baik sus.” Jawab Hermawan dengan suara datar.


Setelah Hermawan selesai mengurus Administrasi rumah sakit itu, Retno pun diizinkan pulang.


Sementara itu dikawasan kumuh, Fatma keluar dari kamarnya ketika dia mendengar deru kendaraan memasuki halaman rumahnya. Dari dalam mobil itu keluar Niko bersama dengan Intan.


Fatma melihat ada yang aneh dengan keduanya, saat masuk rumah wajah Niko agak sedikit berubah, seperti sedang kesal pada sesuatu. Fatma mencoba menghampiri keduanya dan bertanya tentang apa yang sedang terjadi.


“Ada apa sayang ?”


Namun Niko diam saja dia terus saja berlalu dan mengabaikan pertanyaan dari Fatma, sepertinya Niko sedang tidak berkonsentrasi dengan pertanyaan itu, lalu Fatma mencoba untuk mengulanginya lagi.


“Niko ada apa sayang ?” kali ini Fatma memanggil Niko dengan setengah berseru.


“Oh, Ibu ! bikin kaget aja !” jawab Niko sedikit gelagapan.


“Habis, dari tadi Ibu memanggil mu ! kenapa nggak menjawab ?”


“Tapi aku nggak dengar Bu !”


“Ya sudah ! sebenarnya kamu sedang memikirkan apa sayang ?”


“Nggak Bu ! aku nggak sedang memikirkan apa-apa kok.”


“Benar, kamu nggak sedang memikirkan sesuatu ?”


“Iya, Bu.” jawab Niko pelan.


“Ya sudah, gimana kabarnya Mamamu ?”


“Mama udah mulai baikan kok Bu.”

__ADS_1


“Oh syukurlah, Mama mu udah berangsur stabil.”


“Sekarang istirahatlah kalian.”


“Baik Bu.” jawab Niko sembari berlalu menuju kamarnya.


Sementara itu dikawasan kumuh, dirumah susun yang kini telah berubah menjadi perumahan susun yang berstandar. Disana ada Nurul yang berjualan nasi menggantikan orang tuanya.


Pagi itu Nurul telah selesai beres-beres, hidangan siang itu telah siap disajikan. Orang yang bekerja dirumah makan Nurul semuanya berasal dari Ibu-Ibu yang ada dirumah susun itu sendiri.


Menu masakannya sangat sederhana dan lezat. Seperti orang tuanya, Nurul juga memiliki sifat rendah hati dan welas asih yang tinggi.


Rumah makan yang dikelola Nurul semakin hari semakin rame pengunjungnya, seperti rumah makan yang dikelola Intan. Rumah makan Nurul pun banyak diminati oleh kalangan atas, bahkan artis dan pejabat pun pernah merasakan nikmatnya masakan keluarga Mang Ojo ini.


Kini putri bungsu Fatma itu telah duduk di bangku semester lima, walau dia tidak secerdas dan selincah Intan, tapi Nurul memiliki sifat yang gigih dan pantang menyerah.


Sedangkan Dika, dia memiliki sifat yang diturunkan Ayahnya, hobi melukis. Saat ini Dika telah menjadi seorang dosen disebuah universitas negri di Jakarta.


Dika memiliki karya lukis yang sangat banyak, semua lukisannya itu dipajang disebuah Gedung yang sudah direnovasinya sendiri.


Sungguh cantik dan unik, itulah kata yang keluar dari setiap mata yang memandang ke lukisan yang digelar Dika, di pameran lukisan, di sebuah gedung yang dibelinya sendiri.


Suasana yang nyaman dan asri, membuat setiap lukisan itu tampak hidup. Banyak dari kalangan atas yang berminat dengan lukisan Dika. Karena menurut mereka lukisan Dika memiliki unsur mendidik dan berkarakter bagus.


Diantara para kalangan atas, hadir juga para artis dan model yang menyukai lukisan tangan Dika, yang rapi dan indah. Satu lukisan, Dika membandrol sampai puluhan juta.


“Hai Dik !” sapa Mona.


“Hai, kak Mona !”


“Lho, kan baru seminggu yang lewat kakak, aku lukis !”


“Iya, Dik. Tapi lukisan yang kemaren di ambil sama gebetan kakak, jadi terpaksa deh dilukis lagi.”


“Ok, apakah lukisannya sama dengan yang hari itu kak ?”


“Model yang lain aja Dik, yang lebih sedikit eksotis, gitu !”


“Baik. Silahkan kakak duduk disana.” Kata Dika seraya menunjuk tempat untuk Mona.


“Lukisan mu bagus Dik, kamu belajar melukisnya dari siapa ?” tanya Mona ingin tau.


“Dari Bapak, kak.”


“Jadi Bapak mu pintar melukis juga ya ?”


“Dulu semasa SMA, katanya hanya sekedar iseng, tapi hasil dari isengnya itu, terlihat begitu cantik, sehingga menginspirasi ke jiwa aku kak.”


“Emangnya Bapak mu itu bekerja dimana Dik ?”


“Bapak penjual kacang rebus keliling kak.”


“Kalau Ibu mu ?”

__ADS_1


“Ibuku hanya seorang pemulung.”


“Apa ! pemulung ?”


“Iya, kenapa kaget ?”


“Masa sih, anak seorang pemulung punya galeri semewah ini ?”


“Apa yang ada dipikiran kakak saat ini, sama dengan apa yang dipikirkan orang lain sebelum kakak.”


“Kok bisa ya ? kakak jadi nggak habis pikir.”


“Allah itu berbuat sekehendaknya kak, siapa yang dikehendaki miskin maka miskinlah Dia, tak terkecuali pada keluarga ku, sementara Allah menghendaki keluarga Kakak kaya raya, maka kaya lah kalian sekeluarga.”


“Terus !”


“Tapi kakak harus waspada, karena kekayaan yang kakak miliki, siapa tahu esok lusa jadi milik keluarga ku. Itu sebabnya, jika roda kehidupan kita sedang berada diatas, maka berhati-hatilah, jangan sekali-kali memandang rendah orang yang sedang berada dibawah kita.”


“Ooo, gitu ya Dik ?”


“Iya kak. Nah ! lukisan kakak udah selesai.”


“Udah siap ?”


“Iya, hanya tinggal mempolesnya sedikit lagi, maka akan terlihat lebih cantik dari yang kakak inginkan.”


“O ya ! boleh kaka menengoknya ?”


“Silahkan !”


Karena telah mendapat izin dari Dika, Mona pun turun untuk melihat penampilannya di dalam lukisan Dika.


“Wow ! keren sekali !” jawab Mona kagum.


“Kakak suka ?”


“Oh suka banget !” teriak Mona seraya melompat kegirangan dan memeluk tubuh Dika dan menciumnya.


“Terimakasih sayang ! jadi kapan kakak bisa menjemputnya ?”


“Tiga hari lagi.”


“Ini DP nya Dik.”


“Iya, berapa ini kak ?”


“Lima puluh.”


“Ya terimakasih.”


“Tiga hari lagi kakak akan kemari lagi.”


“Iya kak.”

__ADS_1


“Terimakasih ya Dik, kakak suka dengan lukisan mu.” Kata Mona seraya berlalu meninggalkan Dika.


Bersambung...


__ADS_2