
Namun air mata itu di coba untuk menelannya kedalam, Retno yang memiliki sifat lembut, kali itu menampakkan sikap tegar dan kuat di hadapan Niko putranya.
Tak bicara sepatah pun, Retno langsung memegang tangan Niko dan memberikan bungkusan kecil itu ketangan putranya, lalu dia pun kembali kedalam mobil dan pergi berlalu meninggalkan putranya itu.
Niko pun menangis histeris setelah Mamanya berlalu tanpa bicara sepatah pun, air matanya tak kuasa untuk di bendung lagi, dia pun bersimpuh di tanah menahan rasa sakit.
Retno yang melihat hal itu, tak tahan untuk melanjutkan perjalanan, mobil yang telah jauh dari rumah Niko kembali surut kebelakang, dia pun turun dan memeluk tubuh Niko dengan lembutnya.
“Maafkan Mama nak, Mama bukan Ibu yang baik untuk kalian, Mama perempuan jahat, huhuhuk!”
Tak ada yang bisa di ucapkan Niko saat itu, karena lidahnya terasa kelu untuk bicara, namun air matanya telah membuktikan kalau dia begitu merindukan Mama yang disayanginya selama ini.
Intan yang menyaksikan kejadian itu, hanya bisa menatap tajam dari kejauhan, ingin sekali Intan menghampiri mereka, tapi dia begitu takut, kalau Retno akan berbuat jahat pada dirinya.
Di sela tangis yang menyatukan mereka berdua, sepintas Retno melihat Intan bersama kedua putrinya berdiri anggun di tiang restoran miliknya, jiwa ke Ibuan Retno langsung saja terpanggil untuk datang menghampiri mereka bertiga.
“Sini, nak!” Panggil Retno pada Intan.
Dengan rasa takut, Intan pun datang menghampiri Ibu mertuanya itu, di ikuti oleh kedua putrinya yang cantik dan lucu.
“Maafkan Mama nak, Mama sangat kejam sekali pada kalian, Mama tak pantas menjadi orang tua yang baik untuk kalian nak,” ujar Retno bersimbah air mata. Sementara itu, kedua putri Intan yang saat itu bersembunyi di balik tubuh Intan, berlari menghampiri Niko.
“Dia itu nenek kalian sayang,” ujar Niko pelan.
“Nggak, aku nggak mau!” ujar putri sulung Intan.
“Sini sayang, sini nenek peluk nak,” bujuk Retno pada cucu sulungnya itu.
Mesti Retno menunjukan muka manisnya pada putri kecil itu, namun dia tetap tak mau menghampiri Retno.
“Ya udah, kalau kamu nggak mau, besok Nenek akan datang lagi kesini, membawa boneka yang besar untuk mu,” bujuk Retno sembari tersenyum manis.
Melihat semuanya telah baikan Aida pun datang menghampiri Retno dan meminta maaf atas sikap lancangnya selama ini pada Retno.
“Iya, saya udah maafin kamu kok, kalau begitu Mama permisi dulu nak, selamat tinggal,” ujar Retno sembari tersenyum manis.
Setelah Retno pergi, Hermawan yang memantau istrinya dari kejauhan tampak begitu puas sekali, di saat dia hendak memutar balik kendaraannya tiba-tiba saja dia mendengar suara yang begitu kuat sekali.
__ADS_1
Hermawan langsung melajukan kendaraannya dengan kencang, betapa terkejutnya dia, ketika di lihat ternyata mobil Retno di tabrak oleh mobil tangki yang bermuatan penuh. mobil Retno terseret begitu jauh.
Walau saat itu Retno masih sempat lari kearah kursi belakang, namun tiba-tiba saja jantung nya anfal, beberapa orang berusaha mengeluarkan Retno dari dalam mobil yang ringset itu, dan memberikan pertolongan pada jantungnya yang mendadak sakit.
“Alhamdulillah, istri Bapak selamat,” kata seorang pria yang mengeluarkan Retno dari bangku belakang mobil.
“Syukurlah kau selamat Ma!” ujar Hermawan sembari memeluk erat tubuh istrinya.
“Jantung Mama Pa, oh!” jerit Retno kesakitan.
“Panggil ambulance, cepat!” teriak seorang pria yang berada ditempat itu.
Sementara mereka sibuk berteriak-teriak memanggil ambulance, Niko bersama Intan datang memberi pertolongan pada Retno yang sedang kesakitan.
“Ayo Ma! Akan Niko bawa Mama kerumah sakit,” ujar Niko sembari menggendong tubuh Retno dan menaruhnya di pangkuan Intan.
Di sepanjang jalan Intan hanya bisa menangis pilu, air mata perempuan itu sepertinya tak mau berhenti mengalir.
Setiba di rumah sakit tempat Zaki bertugas, Niko langsung berlari memanggil perawat. Bantuan pun datang menghampiri Retno yang tampak melemah.
“Ada apa Bang?” tanya Zaki heran.
“Insya Allah Bang,” jawab Zaki seraya mendorong tubuh Retno menuju ruang UGD.
Hati Niko dan Intan merasa tak tenang, apa lagi saat itu mobil Papanya belum juga datang menyusul mereka, Niko lupa membawa Papanya karena dia begitu panik sekali saat itu.
“Kenapa begitu lama sekali Pa?” tanya Niko pada dirinya sendiri.
Sembari berjalan mondar mandiri di ruang tunggu, Niko tak henti-hentinya menoleh kearah gerbang rumah sakit. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Niko memutuskan untuk menjemput Hermawan.
“Dek, Abang mau nyusul Papa dulu, kayaknya Papa kesulitan deh melewati jalanan yang begitu padat.”
“Iya, Bang. Hati-hati di jalan,” pesan Intan untuk suami tercintanya.
“Baik, tolong jagain Mama ya?”
“Insya Allah.”
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Intan, Niko langsung bergegas menuju parkiran, setelah mobil miliknya di putar balik, Niko pun mengengarai kendaraannya dengan kecepatan sedang, hatinya yang tak tenang membuat jantungnya memompa begitu kencang.
“Ya Allah, semoga nggak terjadi apa-apa dengan kedua orang tua ku ya Allah.”
Di saat Niko tiba di lokasi tempat kejadian, dari jauh Niko melihat Papanya duduk diam di sisi trotoar jalan, ada beberapa orang warga yang masih bersama dengannya saat itu.
Niko pun datang menghampiri Hermawan, dengan tenang dia turun dari mobil dan melangkah menghampiri Papanya.
“Papa, kenapa masih disini?” tanya Niko heran.
“Papa anda nggak kuat untuk berjalan, tubuhnya terasa lemah, mungkin karena dia masih sock, melihat kejadian tadi.”
“Baiklah, biar Papa, saya bawa kemobil saja. Terimakasih Bapak-bapak semua, atas pertolongannya.”
“Iya, sama-sama dek,” jawab beberapa orang pria yang saat itu ada bersama dengan Hermawan.
Niko langsung menggendong tubuh Hermawan dan menaikannya ke dalam mobil, hatinya begitu sedih sekali saat itu, ketika melihat wajah Papanya tampak pucat sekali.
Di tempat yang sepi, Niko menghentikan kendaraannya, di sebuah kedai yang terletak di pinggir jalan, Niko membeli sebotol minuman dan memberikannya ke Hermawan yang tampak sock.
“Papa tenang saja, Mama baik-baik saja kok, dia sedang di tangani di rumah sakit saat ini.”
“Hermawan tidak menjawab, hanya air matanya yang mengalir membasahi kedua pipinya, pria paroh baya itu, benar-benar tak berdaya saat itu, kejadian yang hampir saja merenggut nyawa istrinya membuatnya tubuhnya lemah.”
Setiba di rumah sakit, Niko langsung memanggil perawat untuk membawa Papanya kedalam.
“Papa kenapa Bang?” tanya Intan heran.
“Sepertinya Papa sock, tubuhnya begitu lemah sekali."
“Ya, Allah, tolong selamatkan mereka berdua,” ujar Intan seraya mengangkat kedua tangannya.
Di ruang tunggu keduanya tampak diam, tak sepatah kata pun yang dapat di ucapkan saat itu, baik Niko maupun Intan mereka berdua sama-sama merasakan kengerian di saat mengeluarkan Retno dari badan mobil yang terseret begitu jauh.
Beberapa saat menunggu, tiba-tiba Zaki keluar dari ruang UGD, Intan dan Niko langsung menghampirinya.
“Gimana keadaan Mama dek?” tanya Niko ingin tau.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*