Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 51 Kecelakaan di kilometer tiga belas


__ADS_3

Ketika Intan dan Niko tiba dirumah, semua keluarga menyambutnya dengan bahagia, begitu juga Mang Ojo, wajah keriputnya tampak sedikit pucat saat itu.


Intan yang melihat Bapak nya, bergerak secara perlahan, dia pun mencoba untuk menolongnya.


“Bapak sakit ?” tanya Intan ingin tau.


Mendengar Intan bicara, Mang Ojo tiba-tiba saja menangis, sepertinya rasa rindunya terlalu mendalam pada Intan, sehingga Mang Ojo, merasa kehilangan sekali saat Intan meninggalkan dirinya.


“Kenapa dengan Bapak, Bu ?” tanya Intan semakin heran.


“Bapak mu sangat merindukan mu Intan, hampir tiap malam Bapakmu sulit tidur, dia selalu menyebut-nyebut nama mu saja, di setiap ucapannya.”


“Benarkah begitu Pak ?”


“Kenapa lama sekali nak ?”


“Masih banyak yang harus Intan selesaikan di sana Pak, tapi saat ini Intan udah kembalikan, seharusnya Bapak jangan bersedih lagi !”


Di saat Intan bicara seperti itu, tampak wajah Mang Ojo sedikit tersenyum, seperti sedang dipaksakan.


Namun mesti demikian, saat itu Mang Ojo merasa sangat senang sekali, karena tak seorang pun anaknya yang berada jauh dari pandangan matanya.


Bersamaan dengan itu, Randi yang sedang libur kuliah, di ajak Sutoni mengelilingi kota Jakarta.


“O iya Ran, besok kan hari minggu, gimana kalau besok kita ke Jakarta.”


“Ngapain ? kan jauh Ton ?”


“Kan ada mobil gue !”


“Mm, gimana Ya ?”


“Udaah ! Nggak usah kebanyakan mikir. Yang jelas besok kita ke Jakarta.”


“Baiklah !” jawab Randi singkat.


“Nah ! Gitu dong !” kata Sutoni dengan perasaan lega.


Sesuai rencana keesokan harinya Randi dan Sutoni berangkat ke Jakarta, ketika mobilnya melintas di kilometer tiga belas.


Tiba-tiba saja sebuah truk gandeng dengan kecepatan tinggi menabrak pembatas jalan, mobil Sutoni yang berada dibelakang mobil lain, ikut terseret dan ditabrak oleh mobil yang lainnya. Kecelakaan beruntun itupun tak dapat dielakkan lagi.


Sutoni dan Randi yang saat itu tak sempat keluar ikut terseret bersama dengan mobil lainnya, kaca mobilnya hancur, kaki Randi terjepit dan dia mengalami luka yang sangat parah.

__ADS_1


Karena terseret begitu jauh dan mengeluarkan begitu banyak darah, akhirnya Randi tak sadarkan diri. Randi melihat semuanya menjadi gelap, dan kesadarannya berangsur melemah.


sementara Toni, juga tak sadarkan diri, karena benturan yang kuat mengenai kepala belakangnya.


“Ayah ! Ibu ! teriak Randi dengan rasa takut yang menderanya.


Di saat itu batin Rumana terasa berguncang, hatinya langsung teringat pada Randi.


“Ya Allah ! ada apa ini !” teriak Rumana secara tiba-tiba.


“Ada apa Bu ?” tanya Yesi heran.


“Tiba-tiba saja perasaan Ibu nggak enak, fikiran Ibu langsung tertuju pada anak Ibu, Randi. Ibu takut sekali terjadi sesuatu pada dirinya disana."


“Tenanglah Bu, Ibu berdo’a aja, doa seorang Ibu untuk anaknya yang soleh, biasanya cepat di kabulkan oleh Allah.


“Iya, Yesi. Semoga saja Randi aman berada disana.”


“Aamiin !” jawab Yesi yang ikut mendo’akan keberadaan Randi yang sedang menuntut ilmu di Jakarta.


Seketika itu juga, banyak para penduduk yang datang untuk menyaksikan kejadian itu, sehingga membuat pihak kepolisian menjadi kesulitan untuk mendekati para korban.


Meski mereka tak ada yang berani menolong, akan tetapi mereka juga tak mau menjauh dari tempat itu. Walau polisi sudah berulangkali memberi peringatan untuk mereka agar sedikit menjauh dari tepat kejadian.


Sutoni dan Randi dilarikan kerumah sakit terdekat bersama yang lainnya. Tapi karena Randi mengalami luka parah dan kehabisan banyak darah, akhirnya dia pun dirujuk kerumah sakit dipusat kota Jakarta.


Kebetulan yang bertugas pagi itu adalah Zaki. Dibawah pengawasan dr. Zaki, Randi dirawat secara instensif. Sudah dua minggu dia koma, namun tak ada satupun keluarga yang datang membesuknya, termasuk yang bertanggung jawab masaalah administrasinya.


“Gimana Dok ? sepertinya pasien ini nggak punya keluarga di Jakarta, lalu bagaimana dengan Administrasinya ?” tanya seorang perawat pada Zaki.


“Sebaiknya kita tangani saja dia dulu, nanti kalau sudah sadar baru kita tanya asal usulnya.”


“Tapi hal itu nggak sesuai dengan prosedur yang telah di sepakati rumah sakit dok.”


“Prosedur apa ?”


“Prosedur yang telah di tetapkan rumah sakit, bahwa seorang pasien akan ditangani setela pihak keluarga yang bersangkutan melunasi administrasinya dulu.”


“Apa benar begitu ?”


“Benar dok !”


“Rumah sakit macam apa ini, mereka lebih mengutamakan uang dari pada keselamatan pasiennya !”

__ADS_1


“Tapi prosedur itu udah lama di terapkan rumah sakit ini dok !”


“Sekarang kamu nggak usah banyak bicara dulu, kerjakan saja apa yang telah saya perintahkan, masalah prosedur itu urusan saya dengan pimpinan nantinya.”


“Tapi dok !”


“Udah, nggak usah banyak fikir ! kerjakan aja sekarang !” perintah Zaki bada perawat rumah sakit itu.


“Baik dok.” Jawab para perawat itu dengan keadaan ragu.


Setelah Zaki pergi, perawat itu langsung minta pendapat pada teman-temannya, karena dia sendiri tak berani untuk mengambil keputusan walau telah mendapat izin dari dr. Zaki.


“Kenapa harus takut ? dr. Zaki itu kan orang kaya, kalau sampai terjadi sesuatu pada mu dan kau dipecat, minta aja agar dr.Zaki menikahi mu !”


“Ssst, jangan bicara keras-keras, nanti ke dengar olehnya baru tau rasa kamu.”


“Emangnya kalau kedengaran oleh dr. Zaki, kita mesti di apainnya, kalau aku mah, mau aja disentuh oleh dokter ganteng seperti dia.”


“Aah, kamu kalau ngomong itu ya, nggak ada malu-malu nya !”


“Habis mesti gimana lagi ? siapa sih perawat yang nggak tergila-gila padanya ? udah ganteng tajir lagi.”


“Udah, udah ! kamu ini kalau udah kelamaan ngomong, kayaknya semuanya jadi ngelantur deh.”


“Kalau kamu nggak mau dengerin aku ngomong ya udah, kamu kerjakan aja sendiri.”


“Jangan gitu lah ! kita kan teman, masa aku sendiri nantinya yang kena omelan pimpinan !”


“Iya, juga ya ?”


“Barengan dong !” ucap Gita seakan bermohon pada silvi sahabatnya itu.


“Ya udah kalau gitu, kamu kerjakan aja perintah dr. Zaki itu.”


“Nanti kalau kita kena marah gimana ?”


“Ya ! kita tanggung berdua dong !”


Karena merasa ragu, Gita diam saja, dia enggan mengikuti perintah dr.Zaki. setelah beberapa saat kemudian, Zaki pun kembali dari ruangannya, tapi betapa terkejutnya dia, tak ada seorang perawatpun yang memberi tindakan pada Randi yang sudah tak sadarkan diri.


Mesti kesal, namun Zaki tak marah pada perawat yang di suruhnya, karena Zaki tau, prosedur rumah sakit telah membuat peraturan sedemikian rupa, sehingga para perawat takut untuk membantah perintah atasannya.


Dengan tenang dan santai, Zaki melepas pakaian yang di kenakan Randi satu persatu, kemudian Zaki juga membersihkan luka Randi agar tidak terjadi infeksi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2