
Mendengar kata-kata Zaki, hati Gita serasa begitu hancur, dia menangis tiada hentinya. Dengan perasaan kecewa, Gita langsung pergi meninggalkan Zaki sendirian.
“Hei! Kamu mau kemana sayang?” tanya Zaki heran.
Walau Gita mendengar jelas apa yang dikatakan Zaki, namun dia diam saja, hatinya begitu sakit sekali, karena hanya dalam beberapa saat saja, Zaki langsung berpindah ke lain hati.
Sebenarnya itu hanyalah alasan Zaki semata, karena Zaki tak ingin melanjutkan hubungan itu lagi. Bukan hanya Gita yang merasakan sakitnya saat itu, Zaki juga merasakan hal yang sama. Walau terasa berat namun hal itu harus disampaikannya.
Setelah kepergian Gita, Zaki tak mau menyusulnya, dia lebih memilih kembali pulang kerumahnya ketimbang datang kerumah Gita.
Sementara itu Gita yang merasa di kecewakan, dia terus saja berlari tanpa memperhatikan jalannya. Di saat dia tersadar ternyata dia sudah berada di suatu tempat yang dia sendiri tak mengenal daerah itu.
“Ya ampun, aku berada dimana ini?” tanya Gita pada dirinya sendiri.
Dengan langkah penuh rasa takut, Gita terus saja berjalan menyusuri tempat itu, tiba-tiba saja di daerah sunyi, muncul tiga orang pria dari balik semak-semak.
“Anak manis, mau kemana kamu?” tanya pria itu pada Gita.
“Hah! Kamu siapa?”
“Justru kami yang mesti bertanya, kenapa sore-sore begini kami mendapat makanan yang begitu lezat sekali.”
Merasa ketakutan, Gita mencoba untuk menyelamatkan dirinya, akan tetapi hanya berlari beberapa langkah saja Gita langsung tertangkap dan menjadi bulan-bulanan ketiga pria itu.
Gita menjerit dan menangis histeris, namun tak seorang pun yang datang menolongnya, karena tempat itu begitu sunyi dan sepi.
Mereka semua menarik paksa tangan Gita yang tampak melemah karena kewalahan setelah mencoba berlari untuk menyelamatkan diri.
“Lepaskan aku! Bajingan kamu!” teriak Gita dengan sekuat tenaganya.
Akan tetapi ketiga pria itu begitu Tangguh, sedikit pun Gita tak dapat melepaskan genggaman tangan pria itu, yang melilit dipergelangan tangan Gita.
“Ya ampun gimana ini, habislah aku,” kata Gita pada dirinya sendiri.
Mesti berusaha sekuat apa pun untuk berontak dari ketiga orang pria itu, namun mereka lebih Tangguh dari yang di bayangkan Gita.
Gita pun mereka bawa ke sebuah rumah kosong yang ada di tempat itu, kerena merasa posisinya dalam bahaya, Gita berusaha meraih apa yang berada di dekatnya untuk di lemparkan kearah para pria itu.
Tak cukup sampai di situ, Gita bahkan mencoba menjerit dan minta tolong dengan teriakan yang sangat kuat sekali. Hingga suaranya serak pun, namun tak ada orang yang datang memberi bantuan pada Gita.
Di dalam rumah kosong itu, Gita mengalami kekerasan fisik, bahkan di rumah itu pula mereka melakukan pemerkosaan terhadap Gita secara bergantian.
Gadis itu merintih menahan rasa sakit, hidupnya benar-benar telah hancur, rasa sakit yang di alaminya malam itu, ternyata bukan hanya sampai disitu saja, setelah mereka memperkosa Gita, ketiga pria itu juga mengikat kaki dan tangan Gita di ruangan kosong di dalam rumah itu.
Setelah itu ketiganya langsung pergi entah kemana, Gita menangis menahan rasa pilu yang telah menyelimuti dirinya.
“Papa, Mama! Tolong aku,” ucap Gita dengan suara lirih.
Dalam kesendiriannya, diruangan yang sangat gelap itu, Gita merasakan ada darah yang mengalir di kedua belah betisnya.
__ADS_1
“Oh, sakit!” teriak Gita dengan kuatnya.
Suasana hening di dalam ruangan itu membuat Gita menagis menahan rasa takut, bermacam bayangan seakan datang menghampiri dirinya.
“Tolong aku Ma.” Gita menangis lirih.
Di saat itu, Leni yang merasakan sedih karena putrinya belum juga kembali, berjalan hilir mudik tak tentu arah, pikirannya benar-benar kalut sekali, kemana harus bertanya, sementara dia sendiri tak tau keberadaan rumah Zaki.
Bukan hanya Leni yang merasakan hal itu, Ahong juga merasa gundah sekali, dia bahkan tak mau makan dan minum sebelum melihat putrinya kembali.
“Gimana ini, Pa?” tanya Leni dengan resah.
“Aku juga nggak tau, Ma,” jawab Ahong kebingungan.
“Atau jangan-jangan dia kabur dari kita Pa.”
“Aduh! Jangan bertanya terus gimana sih, Ma!”
“Gimana aku nggak bertanya terus, coba! Dia itu putri kita satu-satunya Pa.”
“Iya! Aku tau itu.” Ahong langsung pergi mendengar istrinya selalu bertanya padanya.
Melihat suaminya pergi meninggalkan dirinya, Leni langsung menangis histeris, begitu berat beban yang dirasakannya saat itu, sementara dia sendiri tak tau harus bertanya kemana.
Hingga pagi menjelang, Leni langsung datang kerumah sakit, guna mengabari berita itu pada Zaki. Karena datanganya terlalu pagi, Leni terpaksa harus menunggu di dalam ruangan satpam penjaga.
“Sore itu pak, setelah aku bertengkar dengan Papa nya, Gita langsung menghilang, dan dia tak kembali hingga pagi ini.”
“Ibu udah coba menghubungi teman-temannya?”
“Kami nggak punya henfon, Pak,” jawab Leni dengan suara serak.
“Ooo, gitu.”
Sambil menunggu kedatangan Zaki, Leni tak di izinkan masuk kedalam rumah sakit itu, dia hanya duduk diam di kursi, yang mengarah kejalan masuk.
Dari kejauhan, Leni melihat sebuah mobil mewah, mengarah ke hadapannya, dia begitu yakin kalau itu adalah mobil Zaki, setelah di pandanginya, mobil itu langsung masuk kedalam parkiran.
Leni langsung berlari menghampiri mobil itu, dari dalam mobil itu, Leni melihat seorang wanita keluar dengan berpakaian putih.
Jantung Leni langsung berdebar saat itu, hatinya merasa kalau selama ini Zaki telah mempermainkan putrinya dan menjalin hubungan dengan wanita itu.
Setelah melihat Zaki kelur dari dalam mobilnya, Leni langsung saja menghampirinya, akan tetapi, satpam rumah sakit itu menghalanginya untuk menyentuh Zaki.
“Bu, Ibu! Tolong jangan menghampiri dr Zaki ya?”
“Kenapa?”
“Karena prosedur rumah sakit menganjurkan begitu.”
__ADS_1
“Persetan dengan prosedur rumah sakit!” teriak Leni dengan suara lantang.
Suara Leni yang lantang itu, ternyata telah menyita pandangan Zaki kepadanya, dengan perlahan Zaki langsung menghampiri perempuan itu.
“Dr. Zaki!” teriak Leni.
Setelah Zaki menghampirinya, Leni langsung bersimpuh di hadapan Leni.
“Tolong Ibu, nak,” kata Leni berharap.
“Tolong? Tolong apa Bu?”
“Gita menghilang!”
“Apa? Gita menghilang?”
“Iya, nak. Dari sore itu dia pergi dan belum kembali sampai saat ini.
“Jadi, Ibu ini Mamanya Gita, ya?”
“Iya, nak,” jawab Leni sembari berdiri di hadapan Zaki.
“Ibu ini, datang dari pagi tadi dok,” ucap satpam itu.
“Katanya Gita menghilang dari sore kemaren.”
“Benar dok, tadi Ibu ini juga bilang begitu kesaya,” jawab satpam itu, membenarkan perkataan zaki kepadanya.
Setelah berpikir sejenak, lalu Zaki menghampiri Ibu itu dan menggandengnya untuk masuk kedalam mobil mewah miliknya.
“Masuklah Ibu kedalam, biar saya antar Ibu mencari Gita.”
“Baik, nak.”
Setelah Leni duduk di dalam mobil itu, Zaki pun ikut masuk kedalamnya, dengan sudut matanya yang bening, Zaki menatap dalam kearah Leni.
Perasaan sedih yang tergambar diwajah polos perempuan itu, membuat Zaki ikut merasakan pilunya. Betapa tidak, Gita adalah putri satu-satunya, tempat dia bergantung dan berharap untuk di sayangi.
“Kita mau cari Gita kemana, nak?” tanya Leni ingin tau.
“Kita akan cari kesemua tempat, sampai Gita nya kita ketemukan.”
“Benar kamu mau mencari putri saya sampai ketemu?”
“Kenapa nggak, bukankah Gita itu putri Ibu yang sangat berbakti?”
Bersambung...
\*Selamat membaca\*
__ADS_1