
“lalu kenapa dengan usiamu yang dewasa itu? Bapak nggak tau apa-apa sayang, bukankah Bapak udah katakan pada kalian, kalau kalian punya keluhan bicarakan pada pengurus panti, biar mereka nantinya yang akan melaporkannya pada Bapak.”
“Terlalu banyak prosedur,” jawab Ririn ketus.
“lalu Bapak mesti gimana lagi, apa yang salah dengan kalian semua!” teriak Dika menahan rasa kesalnya.
Sementara itu, Ririn yang sudah lama menahan diri untuk berontak, malam itu dia mencoba berdiri tegak tanpa bersikap lembut sedikit pun pada Dika.
“Katakan sayang, kenapa Tesa melakukan bunuh diri?”
“Aku nggak tau!” jawab Ririn kembali bersikap cuek.
“Ayolah sayang, bicaralah pada Bapak,” ujar Dika berharap.
“Tesa ingin menikah, tapi Bapak terlalu sibuk dengan urusan pribadi Bapak sendiri.”
Walau merasa tersakiti oleh ucapan dari Ririn, tapi Dika tak langsung marah, dia mencoba bicara lembut dengan Ririn, yang saat itu sedang kesal.
“Dia ingin menikah dengan siapa?”
“Dengan Dimas.”
“Tapi kenapa kalian nggak bicarakan hal ini pada pengurus panti?”
“Siapa bilang Tesa nggak melaporkannya.”
“Tesa udah melaporkannya?”
“Bukan hanya sekali, bahkan Tesa melakukannya berkali-kali, tapi Bu Dela bilang kalau Bapak selalu sibuk, jadi dia belum sempat membahas hal itu pada Bapak.”
“Bu Dela? Siapa yang mengangkatnya jadi pengurus panti?” tanya Dika heran.
“Saya nggak tau Pak.”
“Kamu tau, apa pekerjaan Bu Dela kesehariannya?”
“Makan, tidur dan mengatur kami semua, bahkan Bu sofia pun dimarahinya, sewaktu Bu Sofia sakit.”
Mendengar penjelasan dari Ririn, Dika langsung turun ke bawah, untuk menemui, Bu Dela, semuanya di urus Dika secara langsung agar permasalahan itu tak berlarut-larut.
“Fitri, tolong kamu panggil Bu Dela sekarang juga!” perintah Dika pada Fitri yang saat itu sedang berdiri di sudut pintu masuk.
Mendengar perintah dari Dika, Fitri langsung bergegas menemui Bu Dela yang saat kejadian itu dia sedang asik bermain ponsel.
“Tok, tok, tok!”
Mendengar suara pintu di ketuk, Dela langsung berdiri dan berjalan menghampiri pintu.
“Siapa?” tanya Dela dari dalam kamar.
“Saya, Bu. Fitri,” jawab Fitri dengan suara lantang.
__ADS_1
“Fitri siapa?”
“Penghuni kamar 26, Bu.”
“Ngapain kamu kesini?”
“Ibu di panggil Pak Dika!”
Mendengar kata itu, Dela langsung membukakan pintunya lebar-lebar untuk Fitri, setelah dia melihat Fitri berdiri di depan kamarnya, Dela langsung menarik tangan Fitri kedalam dan menutup pintu itu kembali.
“Awas kalau kamu bilangin kalau Ibu ada disini, Ibu akan bikin kamu seperti Tesa nantinya, kau mengerti!” ancam Dela seraya mengangkat kerah baju milik Fitri.
Fitri yang ke takutan berusaha menjawab perkataan Dela dengan gugup dan linangan air mata.
“Nggak usah menangis! Kamu cukup diam saja, kalau Pak Dika bertanya, paham!”
“Paham, Bu,” jawab Fitri gemetaran.
Fitri yang merasa ketakutan berusaha untuk tidak kembali pada Dika yang telah menunggunya begitu lama.
“Tito! apakah Fitri udah kembali?” tanya Dika ingin tau.
Mendengar pertanyaan dari Dika, Tito tak langsung menjawabnya, dia mencoba untuk melihat di sekitarnya, apakah Fitri telah datang atau belum, namun setalah di perhatikan Tito, dia tak melihat ada Fitri bersama anak-anak panti.
“Gimana Tito, apakah Fitri udah datang!” seru Dika dari dalam.
“Belum Pak,” jawab Tito dengan suara lantang.
Bersama dengan Tito, Dika menghampiri kamar Fitri terlebih dahulu, karena Dika tau pasti Fitri di marahi oleh Dela sehingga dia sembunyi di kamarnya.
“Fitri! Buka pintunya sayang, Bapak mau masuk!”
Setelah beberapa kali pintu diketuk, Fitri belum juga keluar, sebenarnya dia begitu kesal sekali malam itu, tapi karena dia tau, Fitri adalah anak yatim piatu, itu sebabnya, dia tak langsung marah pada Fitri.
Sambil menunggu Fitri membukakan pintunya, Dika dan Zaki mencoba, membukakan pintu kamar Fitri dengan menggunakan kunci serap, milik panti.
“Sayang! Kenapa kamu sembunyi nak?” panggil Dika sembari melirik ke seluruh sudut ruangan itu.
Di balik Gorden kamarnya, Fitri berdiri dengan kedua kaki gemetaran. Dika yang melihat Ada Fitri di balik Gorden kamarnya, dia langsung saja duduk di samping ranjang milik Fitri.
“Katanya anak yang baik itu, anak yang jujur dan penurut, tapi Fitri kok nggak kayak gitu ya, dia justru menyembunyikan kebenaran dan membantu orang berbuat bohong. Kasihan sekali nasib kak Tesa ya sayang.”
Mendengar Dika bicara seperti itu, Fitri langsung saja keluar dari persembunyiannya, dia berlari menghampiri Dika yang duduk di atas ranjang miliknya.
Melihat Fitri berlari menghampiri dirinya, Dika langsung memeluk perempuan yang baru berusia sepuluh tahun itu.
“Kenapa nggak kebawah sayang, kan Bapak capek nungguin nya.”
“Bu Dela marah, dia suruh aku tutup mulut.”
“Bu Dela lagi ngapain di kamarnya?”
__ADS_1
“Dengerin musik, sambil main handphon.”
“Kurang ajar, sudah jelas orang sedang berduka, dia malah enak-enak main handphon,” ujar Dika sembari berlari menuju lantai dua.
Setibanya di lantai dua, Dika langsung menuju kekamar milik Dela yang saat itu di kunci dari dalam.
“Tok, tok, tok !”
Dengan kuat pintu diketuk Dika dari luar, Dela yang mendengar suara pintu diketuk, dia pun langsung menghampirinya.
“Siapa?” tanya Dela dari dalam.
“Saya Buk.” Jawab Tito. Karena saat itu dia mendapat tugas dari Dika.
“Ngapain kamu disini, hah!”
“Ibu di panggil Pak Dika,” jawab Tito dengan suara lantang.
“Bilang sama Pak Dika kalau Ibu udah tidur.”
“Nggak bisa Bu, nanti saya di marahi Pak Dika.”
“Tau apa dia!”
“Saya tau semuanya!” jawab Dika sembari menghampiri kamar milik Dela.
“Pak Dika!” ucap Dela kaget.
“Kenapa? Katanya tadi udah tidur, kok malah main handphon,” kata Dika seraya merebut handphon itu dari tangan Dela.
“Tadi saya memang tidur Pak,” jawab Dela berbohong.
“Kau enak-enakan tidur disaat semua orang menangis melihat Tesa terbujur kaku, dimana perasaan mu!”
“Maafkan saya Pak,” jawab Dela pelan.
Di saat itu, Dika langsung saja masuk kedalam kamar Dela yang telah di lengkapi berbagai macam peralatan, ada mesin cuci, kulkas televisi, kipas angin, yang semua itu milik anak-anak panti.
Melihat kamar Dela yang serba mewah itu, darah Dika terasa begitu mendidih, tangan kanannya langsung melayang menampar wajah Dela saat itu.
Karena kuatnya tamparan dari Dika, Dela pun terpental hingga menyerempet meja yang ada di kamarnya.
“Jadi ini kerja mu selama di panti milik ku, kau berlagak seperti orang kaya di dalamnya dan menekan semua penghuni panti.”
“Maafkan saya Pak!”
“Nggak perlu! Sekarang juga keluar kau dari sini, kembalilah kejalanan, seperti pertama kali aku memungut mu,” ujar Dika sembari mengusir Dela dari kamarnya.
Karena telah di usir oleh Dika, Dela pun keluar dengan deraian air mata, semua orang yang berada di rumah Dika saat itu, tidak mengetahui kejadian itu yang sebenarnya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*