Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 144 Pendekatan


__ADS_3

“Kebetulan barusan pak Handoko menelpon Papa, butuh sekretaris baru, untuk perusahaannya, jadi pak Handoko minta kau yang kesana sebagai sekretaris nya.”


“Apa kah Pak Handoko nggak salah Pa, selama ini kan dia tau, kalau saya juga bagian dari perusahaan Papa.”


“Untuk lebih jelasnya, Papa kurang tau persis, apa tujuan Pak Handoko memintamu menjadi sekretaris pribadinya. Tapi untuk Papa, ini merupakan peluang besar bagi perusahaan kita agar bisa merapat ke perusahaan milik Pak Handoko.”


“Maksud Papa, agar Pak Handoko mau menyuntikkan dana ke perusahaan kita, gitu?”


“Iya, sayang. Ini merupakan kesempatan emas untuk perusahaan kita nak, agar perusahaan kita nggak gulung tikar, kasihan dengan semua keryawan yang udah lama bekerja, pasti mereka semua merasa ketakutan.”


“Baiklah, besok, aku akan masuk ke perusahaan milik Pak Handoko.”


“Trimakasih, atas pengertian mu nak, semua ini kita lakukan hanya demi semua karyawan di perusahaan kita.”


“Iya, Pa. aku sangat mengerti sekali,” jawab Bima pelan.


Keesokan harinya sesuai dengan kesepakatan yang di buat oleh Papanya, Bima langsung menuju ke perusahaan milik Handoko yang berkembang begitu pesat.


Pagi sekali, sebelum karyawan berdatangan, Bima langsung menuju ruangan Handoko. Mesti masih pagi, Handoko telah berada di perusahaan bersama Nurul putrinya.


Tok, tok, tok!”


Ketika suara pintu di ketuk dari luar, Handoko langsung yakin kalau yang datang itu pasti Bima putra Mirwan yang telah di mintanya menjadi sekretaris Nurul.


“Silahkan masuk!” jawab Handoko dari dalam ruangannya.


Karena telah mendapat perintah dari Handoko, Bima langsung membuka pintu ruangan itu.


“Assalamua’alikum.”


“Wa’alaikum salam.”


“Sama, Pak Handoko?”


“Ya, saya sendiri,” jawab Handoko sembari tersenyum manis.


“Saya Bima, putra Pak Mirwan.”


“Oh, Bima, silahkan duduk.”


“Terimakasih, Pak.”


Di saat Bima duduk, Handoko hanya tersenyum senang melihat wajah Bima, dia langsung menyukai Bima saat itu.


“Gimana kabar perusahaan mu saat ini nak?” tanya Handoko pada Bima.


“Perusahaan Papa sedang mengalami masa kritis saat ini Pak.”


“Ya, saya udah baca beritanya dari surat kabar.”


“Kata Papa, Bapak meminta saya menjadi sekretaris pribadi Bapak.”


“Bukan saya, tapi putri saya.”


“Putri Bapak?”


“Iya, istri Riza, yang saat ini memegang separoh saham perusahaan saya.”

__ADS_1


Bima diam saja saat mendengar penjelasan Pak Handoko, karena dia juga belum pernah melihat wajah Nurul sebelumnya.


“Sekarang, langsung aja kamu masuk ke ruangannya, nanti kamu akan diantar kesana.”


“Baik, Pak,” jawab Bima dengan suara lembut.


Dengan sigap, Bima langsung menuju ruangan tempat Nurul bekerja. Setibanya di depan pintu ruangan itu, Bima langsumg mengetuk pintu. Nurul yang sedang asik bekerja, hanya mempersilahkan saja Bima masuk tanpa melihat siapa yang datang.


Bima merasa segan, karena tak ada perintah dari Nurul, dia hanya diam saja berdiri di depan pintu. Sementara itu Nurul yang terlalu asik bekerja tak memperdulikan siapa yang yang berada di sampingnya saat itu.


Karena merasa tak ada yang datang, Nurul pun menoleh kearah pintu, akan tetapi betapa terkejutnya Nurul ketika di lihatnya ada pria tampan berada di sampingnya.


“Kamu? Kamu siapa?” tanya Nurul heran.


“Saya Bima, Bu.”


“Bima, Bima siapa?”


“Sekretaris Ibu yang baru.”


“Ooo, sekretaris baru saya, yang di carikan Pak Handoko?”


“Iya, Bu.”


“Silahkan duduk,” ujar Nurul seraya mempersilahkan Bima duduk di hadapannya.


“Kamu berasal dari mana?”


“Saya putranya Pak Mirwan, Bu.”


“Saya nggak kenal Pak Mirwan. Tapi nggak apalah, yang penting kamu udah bisa bekerja mulai sekarang.”


“Itu meja mu,” jawab Nurul, seraya menunjuk meja kosong yang berada di sampingnya.


Mulai pagi itu, Bima resmi bekerja di perusahaan Handoko menjadi karyawan baru, sebagai sekretaris pribadi Nurul untuk menggantikan Riza yang mengalami gangguan jiwa.


Di saat bekerja, Nurul selalu berkonsentrasi penuh, sehingga dia tak pernah memikirkan orang lain yang berada di samping atau di depannya, sementara itu, Bima yang tampak sedikit tenang mencoba melirik kearah Nurul.


“Hmm, cantik juga istri Riza ini,” Gumam Bima dalam hatinya.


Bukan hanya sekedar mencarikan sekretaris baru untuk Nurul, akan tetapi Handoko punya niat tersendiri untuk mendekatkan mereka berdua, karena Handoko tau, kalau Bima adalah anak yang baik dan penurut pada kedua orang tuanya.


Setelah jam kerja berakhir, Handoko langsung masuk keruangan Nurul untuk melihat Bima yang beru pertama menyesuaikan diri di kantor itu.


“Gimana sulit kerjanya nak?” tanya Handoko pada Bima.


“Nggak kok, Pak, pekerjaannya sama dengan di kantor Papa.”


“Bagus, kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan di sini.”


“Baik, Pak,” jawab Bima pelan.


“O iya, Nur! Mobil mu Papa pakai dulu, nanti pulangnya kamu barengan dengan Bima aja,” ujar Handoko pada Nurul.


“Lhoh, kok.”


“Udah mobil Papa lagi di bengkel.”

__ADS_1


“Ya udah,” jawab Nurul pelan.


“Bim, kamu antar Nurul sampai kerumah Bapak ya?”


“Baik Pak.”


“Ingat, kamu jangan macam-macam, nanti bisa di pecat sama bos cantik ini nanti.”


Mendengar sendaan Handoko, Bima hanya bisa tersenyum, sementara Nurul melotot tajam kearah Papanya.


“Ya udah kalau begitu papa permisi dulu ya?”


Walau ucapan Handoko sama-sama mereka dengar dengan jelas, akan tetapi tak seorang pun yang menjawabnya, keduanya tampak diam sembari saling beradu pandang.


“Sini, saya bantu Bu,” ujar Bima ketika melihat Nurul membawa begitu banyak berkas di tangannya.


“Oh, terimakasih.”


Mesti Nurul terlihat biasa-biasa saja, akan tetapi seluruh karyawan menatap lain kearah Bima yang berwajah tampan.


“Oh, tampan,” ujar Rena yang terpaku di pintu ruangannya.


“Hei, siapa pria tampan itu Ren?”


“Yang barusan lewat?”


“Iya,” jawab Tantri penasaran.


“Dia itu sekretaris pribadi Bu Nurul yang baru.”


“Waaw, tampannya. Gitulah ya, mesti kita seorang janda sekalipun, kalau kita banyak duit, pasti ada aja yang mau melirik kita.”


“Kata siapa?”


“Ya kata seluruh dunia.”


“Nggak juga, buktinya, aku nggak kaya aja banyak yang lirik kok.”


“Itu kan karena kamu itu masih gadis, sayang, coba kalau janda, mau nggak punya anak pun kagak bakalan ada yang melirik.”


“Kata siapa, itu tetangga ku yang punya anak tiga aja kemaren baru menikah dengan duda kaya, nggak punya anak lagi, alias singel.”


“Itu pasti karena kebetulan saja.”


“Kamu kenapa ngotot banget sih, membahas masalah janda.”


“Hei, kamu duluan kan yang ngomong masalah janda, kalau aku mah, belum pernah ngerasain jadi janda.”


“Kepingin apa?”


“Nggak juga sih, tapi kalau janda dapat pria tampan dan kaya aku mau sih.”


“Hee, enak ama lho, semua orang di dunia ini, juga punya cita-cita yang sama, pingin hidup kaya dan berkecukupan."


Di saat mereka sedang sibuk, menceritakan Nurul, orang yang mereka ceritakan pun sudah pergi jauh dari hadapan mereka semua.


Di atas mobil yang di kendarai Bima, tampak Nurul duduk diam tak bicara, suasan sepi terasa saat itu, tapi karena Nurul diam Bima juga tak berani untuk memulainya.

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2