Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 54 Keputusan yang sulit


__ADS_3

“Kenapa dokter melakukan semua itu pada ku ? dokter tau sendirikan bagai mana kondisi kami sekeluarga, kita nggak setara kan, aku malu, kami hanya perempuan miskin.”


“Hei, ada apa sayang ? kamu nggak suka kalau Abang mencintai mu ?”


“Aku hanya perempuan miskin Bang, aku nggak mau kalau keluargamu nggak menerima ku nantinya, dari pada hal itu terjadi, lebih baik sekarang kita nggak usah melanjutkan hubungan kita ini.”


“Gita, Gita sayang ! hei lihat Abang ! perhatikan baik-baik, apakah selama ini kau melihat kalau Abang ini seorang pria yang arogan, yang suka berpoya-poya ? atau seorang pria yang hobi menghambur-hamburkan uang ? nggak kan ?”


“Maafkan Aku ! huhuhu !” Gita pun menangis dipelukan Zaki.


Ternyata Gita merasa malu, karena menurutnya kemiskinan yang dia miliki tak pantas di sandingkan dengan kekayaan yang di miliki Zaki, seorang pria tajir .


“Abang memandang mu nggak seperti itu sayang ? Abang akan menerima mu apa adanya.”


Gita tetap saja menangis, karena masih ada rasa yang di jadikan rahasia di dalam dirinya, yaitu keyakinan yang saat itu dia anut, berbeda dengan keyakinan yang di anut Zaki.


Setelah Zaki keluar dari rumah kontrakan milik Gita, Zaki langsung memcarikan sebidang tanah yang terletak dekat dari rumah sakit. Tanah yang di belinya dengan ukuran kecil itu, di bangun di atasnya sebuah rumah sederhana.


Setelah rumah itu selesai di bangun, Zaki mengajak Gita dan keluarganya pindah kerumah itu, awal mulanya Gita merasa malu dan enggan, akan tetapi karena Zaki tetap memaksanya, akhirnya Gita pun pindah ke rumah baru miliknya sendiri.


Satu bulan setelah hubungan mereka berjalan, hati Gita merasa tak tenang, karena cepat atau lambat, Zaki pasti tau kalau Gita memiliki keyakinan berbeda dengan dirinya.


Saat mereka berdua pergi rekreasi kepantai, di sana Gita mencoba membuka rahasia yang selama ini dia sembunyikan dari Zaki.


“Bang, jika aku buka rahasia yang telah ku sembunyikan selama ini, apakah kau masih tetap mencintai ku ?”


“Rahasia ? rahasia apa itu ?”


Gita tak langsung memberi tahukannya, karena dia masih takut, kalau Zaki tau mereka berbeda keyakinan, Zaki meninggalkan dirinya.


“Tapi aku takut untuk berterus terang Bang ?”


“Kenapa ? apakah rahasia mu dapat merusak hubungan kita ?”


“Aku nggak tau ?”


“Katakan sayang, jangan buat Abang penasaran.”


“Sebenarnya aku ini seorang non Muslim, Papa ku seorang tionghoa dan Mama orang Indonesia asli.”


“Kalian udah lama tinggal di Indonesia ?”


“Udah Bang, udah dua puluh tahun lebih.”


"Ooo."


“Lalu gimana dengan hubungan kita ini ?”


“Gita sayang, dalam agama yang kami anut, dilarang keras menikah dengan wanita yang berbeda keyakinan.” Jadi, kamu bisa berfikir sendirikan ?”


Mendengar jawaban dari Zaki, Gita jadi serba salah di buatnya, karena rasa cinta yang dia miliki, malam itu dia bicara dengan Papa dan Mamanya untuk beralih akidah.

__ADS_1


Mendengar permintaan dari Gita, papa nya langsung marah, dia nggak mau jika menikah harus mengubah akidah yang dia miliki.


“Kan masih banyak laki-laki yang lain nak ? nggak mesti dokter itu kan ?”


“Tapi gita sangat mencintai dokter itu Pa ?”


“Tapi jangan menukar keyakinan kita dong sayang, Papa pasti izinkan kamu menikah, tapi kan kamu bisa cari pria yang lain, yang satu keyakinan dengan kita.”


“Aku sangat mencintai Bang Zaki, Pa.”


“Nggak, Papa nggak suka !” jawab Papa Gita.


Mendengar keputusan yang telah di tetapkan oleh Papanya, Gita tak dapat berbuat apa-apa, dengan sedih pagi itu Gita pergi kerumah sakit. Akan tetapi Zaki melihat raut wajah kusam pada diri Gita.


“Ada apa sayang ? kenapa kau tampak sedih pagi ini ?”


“Aku nggak bisa membujuk Papa .”


“Membujuk Papa ? maksud mu ?”


“Aku nggak bisa membujuk Papa, agar kami sekeluarga masuk Islam.”


“Gita ! nggak semudah itu, untuk beralih akidah, semuanya butuh waktu dan keikhlasan diri, orang yang beralih akidah karena menginginkan sesuatu, maka dia nggak akan tetap pada keyakinan yang dia anut.”


“Jadi aku mesti gimana ?”


“Bersabarlah, hanya itu yang dapat kamu lakukan, karena Allah maha mengetahui apa yang ada didalam fikiran setiap manusia.”


Di saat Zaki menunggu harapan yang belum pasti, Gita terus berjuang untuk cinta sucinya itu, namun berhari-hari dia tetap dalam keputusan Papanya.


Sementara itu, di rumah sakit, Gita melihat Randi siuman dari koma yang di alamainya.Setelah beberapa hari Randi sadar dari komanya, namun kondisi fisiknya masih saja lemah.


“Selamat pagi ! Udah bangun dek ?” sapa Zaki pada Randi.


“Udah dok, saya berada dimana ya, dok ?”


“Saat ini kamu berada dirumah sakit umum di Jakarta.”


“Tapi dok, besok saya mau kuliah, ada praktek anatomi.” Kata Randi pada dr. Zaki.


“Besok kapan ?” tanya Zaki.


“Ya, besok hari senin kan ?” Jawab Randi dengan jujur.


“Tapi kamu sudah lebih tiga minggu nggak sadarkan diri.”


“Apa ? aku sudah tiga minggu nggak sadarkan diri ?”


“Benar, sudah tiga minggu kamu pingsan, karena banyak kehabisan darah.”


“Astagfirullah ! lalu bagaimana dengan surat untuk orang tuaku di kampung, mereka pasti sudah menunggu surat dari ku.”

__ADS_1


“Kamu kuliah di sini, dek ?” tanya Zaki dengan suara lembut.


“Iya, dok.”


“Jurusan apa ?”


“Kedokteran.”


“Ooo, berarti kamu dari semarang ?”


“Iya dok.” Jawab Randi singkat.


“Ada urusan apa datang ke Jakarta ?”


“Teman ku ! Teman ku mana dok ?"


“Teman yang mana ? setahu saya kamu datang kerumah sakit ini karena dirujuk dari rumah sakit lain. Kamu dikirim dari puskesmas dan untuk urusan yang lain saya nggak tau.” Jawab Zaki.


“Dan aku nggak punya biaya untuk membayar perawatan selama dirumah sakit ini dok, lalu aku harus gimana ?”


“Keluargamu ada kan ?” tanya zaki dengan suara lembut.


“Ada, tapi jauh dok ! di Sumatera.”


“Mm, jauh ternyata.”


“Orang tua ku, hanya seorang petani sayur dok, dia nggak punya apa-apa untuk biaya pengobatan ku ini. aku kuliah di sini, juga karena mendapat beasiswa.”


“Benarkah itu ?”


“Iya dok, lagian untuk apa saya berbohong.” Jawab Randi dengan jujur.


“Saya juga punya orang tua yang hidupnya lebih susah dari orang tua mu, kamu tau ? Apa pekerjaan orang tua saya ? mereka hanya seorang pemulung. Tapi mereka mati-matian bekerja demi kesuksesan anak—anaknya.”


“Benarkah itu dok ? tanya Randi sedikit tak percaya.


“Ya, itu benar, bahkan saya tak pernah malu mengakuinya sebagai anak dari seorang pemulung.”


“Wah ! satu infirasi bagi saya dok, semoga saya lebih giat lagi belajar.”


“Bagus itu, dan untuk biaya perawatan mu selama disini biar saya yang bayarkan.”


“Oh, terimakasih dok.”


“Sekarang kamu istirahatlah dulu, biar kondisimu semakin fit.”


Betepa senangnya hati Randi, saat diketahuinya dr. Zaki telah menanggung biaya perawatannya selama dirumah sakit itu. Setelah Randi benar-benar sembuh Zaki mengajaknya menemui keluarganya dikawasan kumuh.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2