Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 107 Kado spesial


__ADS_3

Sementara itu, dirumah susun, nurul yang sudah mendapatkan pekerjaan, masih rutin membuka restorannya, yang tak pernah sepi pelanggan, setelah Randi menamatkan kuliahnya, pria itu langsung menepati janjinya untuk menikahi Nurul.


Sebelum dia menjemput kedua orang tuanya ke Padang, Randi minta restu dulu pada Mang Ojo sekeluarga.


“Apa kamu udah pikirkan secara matang Nak? karena pernikahan ini bukan sekedar tanda tangan diatas kertas saja, tapi untuk masa depan kalian berdua nantinya. Kalau Bapak sih, setuju aja tapi bagai mana dengan kalian berdua?” tanya Mang Ojo pada Nurul dan Randi.


“Kami juga udah siap, Pak! lahir dan batin,” jawab Randi dan Nurul.


“Baiklah kalau begitu, Bapak dan Ibumu merestui kalian berdua. Dan untuk pergi ke Padang, kamu Randi ! akan ditemani oleh Bang Alhuda dan Dika. Soal biayamu selama diperjalanan nanti akan kami tanggung termasuk kedua orang tuamu.”


“Oh, terimakasih Pak! saya janji akan menjadi anak yang baik, dan suami yang baik pula untuk Nurul.”


:Aamiin!” Jawab seisi rumah itu serentak.


Setelah mendapat restu dari kedua orang tua Nurul, Randi pun berangkat ke kota Padang ditemani Alhuda dan Dika.


Selama diperjalanan mereka tampak diam dan tak membahas masalah apapun. Sesampainya di pelabuhan teluk bayur, Alhuda dan Dika disambut baik oleh keluarga Randi. Mereka bersama-sama menuju rumah tempat tinggal Randi.


Disebuah perkampungan yang letaknya amat jauh dari kota, di sanalah Randi beserta orang tuanya menetap, dari balik dinding rumah yang sederhana itu, Nampak kedua orang tua Randi sedikit malu menyambut kedatangan mereka berdua.


“Beginilah tempat kami, Nak! Bapak bekerja sebagai petani sayur, sedangkan Ibu, bekerja di restoran. Tapi demi cita-citanya yang mulia, kami harus mengikhlaskannya belajar di Jakarta,” kata Ayah Randi dengan suara pelan.


“Bapak nggak usah malu menceritakan keadaan rumah tangga bapak pada kami, sebab orang tua kami dulunya bukan orang kaya, Pak. Ayah berdagang kacang rebus keliling sementara Ibu menjadi seorang pemulung. Kami hidup dibawah garis kemiskinan.”


“Ooo, gitu ya nak.”


“Agar Bapak tau, kami nggak pernah mengenyam nikmatnya hidup dimasa kecil, untuk makan saja, Ibu kami harus mengais sampah dulu baru mendapat nasi.”


“Saat ini Ayah Ibu mu masih sehat kan nak?”


“Masih Pak, keduanya masih hidup, Bapak tau nggak, Nasi yang kami makan pun, bukan dari beras murni yang dijual orang di pasar-pasar, tapi dari nasi bekas yang telah dibuang orang, itulah yang dikutip dan dijadikan nasi aking.”


"Ooo, begitu ya?"


"Itulah nasi yang kami makan selama ini, dan dari situ pula orang tua kami mendidik dan membesarkan kami hingga saat ini.”


“Nasi aking itu apa sih nak?”


“Ya itu tadi, nasi sisa yang telah di buang orang, lalu kami ambil dan kami cuci dan di masak kembali.”

__ADS_1


“Wah! orang tuamu sangat luar biasa ya, Bapak ingin sekali bertemu dengannya.”


“Iya, nanti Bapak pasti dapat bertemu dengannya!” jawab Alhuda dengan suara yang lembut.


Dua hari selama di Padang, Alhuda dan Dika sepakat akan membangun rumah orang tua Randi dengan baik dan layak huni. Setelah tekan kontrak, pagi hari saat semuanya masih tertidur pulas, para pekerja sudah berdatangan untuk proyeknya yang baru.


Pak Herman begitu terkejut, saat para pekerja itu mulai membongkar dinding dapur miliknya. Melihat hal itu, dia pun berlari keluar untuk mencegahnya.


“Oh, jangan! kenapa kalian rusak rumah kami! salah kami apa sama kalian!” teriak Pak Riswan pada para pekerja itu.


Mendengar suara gaduh diluar Alhuda dan yang lainnya terbangun dan berlarian keluar rumah.


“Ooo, sekarang mulai bekerjanya?” tanya Dika pada para pekerja itu.


“Iya, Pak! semuanya telah kami persiapkan. Dan Bu Ranita telah mengirimkan sketsa rumahnya untuk kami!”


“Baiklah silahkan kalian mulai bekerja.”


“Baik Pak,” jawab para pekerja itu.


“Pak, kami berdua udah sepakat, untuk memperbaiki rumah Bapak agar bisa layak huni.”


“Wah, benarkah itu, Nak ?” tanya Pak Riswan dan istrinya tak percaya.


“Alhamdulillah! terimakasih Nak, kalau diharapkan dari kami, nggak akan pernah berubah.”


“Ini semua rezki yang dititipkan Allah pada kami, untuk Bapak.”


Tak dapat diucapkan dengan kata-kata, lidah Pak Herman terasa kelu saat itu, air mata pria tua itupun mengalir tiada henti begitu juga dengan istri dan Randi, tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.


Setelah rumah hampir selesai dibangun, Alhuda dan Dika mengajak kedua orang tua Randi menuju Jakarta. Dan di sanalah pesta pernikahan Nurul dan Randi dilaksanakan.


Pesta berlangsung meriah, untuk yang kesekian kalinya Mang Ojo masih saja mengundang orang tua Ranita Dan Niko.


Walau mereka selalu jahat dan suka merendahkan keluarganya, tapi dihati Mang Ojo tak pernah terbersit rasa dendam sedikitpun pada mereka. Sebab karena merekalah anak-anaknya bahagia.


Bertepatan dihari pernikahannya itu, Nurul menerima sebuah kado spesial, yaitu hadiah pernikahan dari Bos tempat dia bekerja. Nurul yang telah mendapat kenaikan pangkat, kembali mendapat kenaikan pangkat lagi menjadi direktur perusahaan.


Hatinya sangat senang sekali, di dalam kado yang baru dia buka Nurul mendapatkan sebuah kunci rumah dan sekaligus kunci mobil. Tak terbayangkan sebelumnya, kalau di momen bahagia itu, Nurul mendapatkan hadiah istimewa dari perusahaannya yang ada di kota Jakarta.

__ADS_1


Rezeki memang tak kemana, jika Allah telah berkehendak semuanya pasti mudah saja terlaksana. Mang Ojo dan keluarganya selalu di remehkan dan dihina orang, kini menjadi milyader terkaya di Jakarta.


Hari-hari berjalan sesuai yang di kehendaki oleh keluarga Mang Ojo, harta yang berlimpah, anak yang sehat dan penurut, itu semua juga keinginan semua orang.


Di rumah barunya, Randi dan Nurul hidup bahagia, mereka bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing, Randi bekerja sebagai dokter sementara Nurul menjadi direktur di perusahaan Telkom.


Setelah sibuk dengan urusan masing-masing, Randi merasa tak senang dengan posisi Nurul yang lebih tinggi darinya, mesti nurul tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri, namun Randi tak puas dengan hal itu.


Malam itu secara lembut Randi bicara dengan Nurul, dari hati kehati, agar tak ada yang merasa tersinggung dengan ucapannya.


“Sayang, kesini! Ajak Randi pada istrinya.


“Ada apa Bang?” tanya Nurul ingi tau.


“Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.”


“Bicara apa?”


“Sepertinya sudah lima bulan kita menikah, tapi kok kamu belum ada menunjukan tanda-tanda kehamilan.”


Mendengar ucapan Randi, Nurul hanya bisa diam, karena hal itu memang belum terjadi pada Nurul.


“Atau karena kamu terlalu sibuk, makanya hal itu belum juga terjadi pada mu?”


“Entahlah Bang, mungkin Allah belum menghendakinya, lagian kita kan baru menikah lima bulan, orang bahkan udah bertahun belum juga di karuniai anak.”


“Jadi, kau ingin kita menikah puluhan tahun dulu baru punya anak?”


“Oh, bukan itu maksud ku, Bang.”


“Lalu apa?”


“Kenapa Abang mesti emosi begitu? Aku kan hanya bilang apa adanya!”


“Itu semua karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu itu Nur.”


“Aku nggak sibuk kok, lagian mesti sesibuk apapun aku, aku nggak pernah melalaikan tanggung jawab ku sebagai seorang istri.”


“Aaah! Kau selalu saja membantah kalau ku nasehati.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2