
“Kenapa nggak lapor ke polisi, Pa?”
“Udah sayang, Papa udah laporkan, kita hanya mendengar kabarnya saja.”
“Kalau begitu, biarkan Nurul dan putranya di sini dulu, sampai Riza di temukan,” ujar pak Mirwan.
“Iya, Pak. saya titip mereka berdua, jaga mereka dengan baik.”
“Baik, Pak,” jawab Mirwan.
“Papa mau kemana?” tanya Nurul di saat Handoko pergi meninggalkan mereka.
“Papa mau kerumah.”
“Takutnya, nanti Papa kenapa-kenapa lagi?”
“Riza nggak akan berani menyakiti Papanya sendiri nak.”
“Itu kan dulu pa, tapi aku begitu takut sekali, kalau Riza sampai nekad menyakiti Papa.”
“Tenang saja, kalau nanti sesuatu terjadi sama Papa, urus perusahaan dengan baik, jaga Radit agar kelak dia bisa menjadi CEO yang handal.”
“Hati-hati Pa, jaga diri baik-baik,” ujar Nurul dengan linangan air mata.
“Di sini, kau bersama putra mu akan aman nak.”
“Tapi aku takut, kalau Riza akan menyakiti Papa.”
“Udah, nggak perlu menghawatirkan Papa.”
“tapi, Pa.”
Di saat rasa kuatir itu menyelimuti pemikiran Nurul, Handoko terus saja berlalu meninggalkan mereka bertiga di rumah Mirwan.
Malam itu di saat semua orang sedang tertidur dengan pulas, Riza dengan tenang dan santai melangkah pelan menghampiri panti milik Dika, mesti di luar ada satpam penjaga, namun mereka tak melihat kapan Riza masuk kedalam.
Dengan santai dan tenang, Riza membakar, kain gorden, yang menutupi jendela dapur, para pengawas panti saat itu lupa untuk menutup jendela. Setelah Riza membakar di bagian dapur, Riza masih sempat duduk sejenak memperhatikan kain yang terbakar.
Di saat api mulai membesar dan menghanguskan ruangan dapur, hingga menjalar kekamar anak panti, barulah Riza keluar dari areal panti. Namun sayang di saat Riza keluar, api udah semakin membesar dan tak dapat di kendalikan lagi.
Dua ruangan kamar bagian bawah telah di lahab si jago merah dengan dasyatnya, sementara penghuni panti masih tidur dengan lelap.
__ADS_1
Di saat api sudah membesar dan asap tebal memenuhi seisi ruangan, Tantri bayi mungil yang berusia dua tahun menangis karena sesak nafas, di saat itulah Sinta, pengawas panti terbangun dan melihat api udah membakar sisi ranjang milik Tantri.
Sinta kaget dan dia menjerit sekuat tenaga seraya berteriak-teriak minta tolong, suara gaduh juga mulai terdengar di kamar lain dan kamar lainnya juga.
Dika yang rumahnya berada di sebelah panti langsung berlarian keluar dan membuka pintu panti untuk menyelamatkan seluruh anak-anak yang terjebak di dalamnya.
“Tolong! tolong! tolong!”
Jeritan anak-anak panti terdengar begitu riuh, mereka semua panik dan tak tau kemana harus pergi, sementara api di ruang bawah sudah semakin membesar.
Dika di bantu oleh para pengawas panti dan warga mencoba menyelamatkan anak-anak panti satu persatu, Dikan menggendong dan membawa anak-anak itu keluar sebanyak yang dia bisa, serta menjauh dari areal panti.
“Gimana pak, apakah masih ada yang terjebak di dalam?”
“saya kurang tau pasti dan untuk memastikannya mari kita periksa setiap kamar.”
“Baik, Pak.” jawab pengawas panti dan para warga serentak.
Di tengah kobaran api yang sangat dahsyat dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi, Dika dan para pembantunya bekerja keras memeriksa setiap ruangan, setelah mereka pastikan ternyata ada dua kamar bagian bawah yang penghuninya tak bisa lagi untuk di selamatkan.
“Gimana Pak?” tanya seorang warga.
“Sepertinya ada dua kamar yang udah terbakar dan ada delapan anak panti di dalamnya.”
Dua jam api melahap habis semua yang berada di dalamnya termasuk delapan anak panti yang terjebak. Tak berapa lama kemudian mobil damkar pun datang memberi bantuan dan api pun berhasil di padamkan setelah dua jam kemudian.
Tampak Dika menagis histeris di hadapan semua orang, bukan karena kerugian yang dia tangiskan akan tetapi delapan orang penghuni panti yang tak sempat menyelamatkan diri, itulah yang dia tangisi.
Setelah api berhasil di padamkan, Dika langsung berlari kedalam panti untuk memeriksa, jasad anak panti yang terbakar.
Dika bersama para pengawas panti mencoba membuang semua potongan kayu yang berjatuhan dari atas, untuk melihat dengan jelas berapa orang anak panti yang telah tewas di malam kejadian itu.
Setelah Dika memasuki kedua kamar yang menurutnya delapan orang terjebak di dalamnya, ternyata dia tak menemukan siapa pun juga, Dika tak melihat jasad Tantri dan anak balita yang lainnya.
Dika tampak sedikit tersenyum saat itu, jika dia tak menemukan hal yang mencurigakan, tentu anak-anak itu telah di selamatkan seseorang.
Tanpa berfikir panjang, Dika langsung berlari keluar dan berteriak-teriak memanggil nama Bu Sinta.
Dari sekian banyak anak panti, tak seorang pun yang menjawab panggilan Dika, semuanya tampak saling pandang dan berusaha ikut mencari orang tersebut.
“Anak-anak, apa kalian melihat Bu Sinta?”
__ADS_1
“Nggak!”
“Kalau Tantri, dan Dela, apakah mereka ada bersama kalian?”
“Nggak Pak!”
“Nggak, jadi kemana mereka, apakah mereka sudah pergi jauh, atau masih terjebak di dalam? Oh, ya Allah, tolong selamatkan mereka semua.”
Di saat hati Dika sangat kuatir memikirkan mereka semua, salah seorang penghuni panti yang baru menikah dan mendapat rumah di dekat supermarket, melaporkan pada Dika kalau ke delapan orang itu telah selamat.
“Alhamdulillah, benar mereka telah selamat?”
“Benar, Pak. saat ini mereka semua ada bersama kami.”
“Oh, syukurlah.”
Setelah Dika mengetahui dengan jelas, kalau Sinta, pengawas panti itu telah selamat, maka Dika pun mengajak seluruh anak-anak panti kerumahnya, malam itu seluruh anak-anak tidur di aula rumah Dika, bersama pengawasnya sekalian.
Pagi hari setelah mereka semua bangun, mereka teringat dengan nek Rodiah, penghuni panti yang sudah berusia Sembilan puluh tahun.
Salah seorang anak panti langsung mendatangi Dika yang saat itu masih tertidur dengan pulas.
“Pak, bangun!” ujar anak itu, mencoba untuk membangunkan Dika yang tertidur dengan nyenyak nya.
“Hm, ada apa sayang, kan masih pagi, ayo tidur lagi, sini sama Bapak tidurnya!” ajak Dika pada pria kecil itu.
Walau Dika terus mengajaknya, Reno tetap berusaha untuk membangunkan Dika, yang masih begitu berat untuk membuka matanya.
“Ada apa sayang, kenapa nggak tidur?”
“Hari udah siang Pak, tapi nek Rodiah nggak ada bersama kita pagi ini.”
“Apa, Nek Rodiah, nggak ada bersama kita?” teriak Dika kaget.
Melihat Dika terkejut, semua anak-anak panti juga terkejut, mereka semua langsung berdiri dan berlari kearah panti mengikuti Dika dari belakang.
Di tengah puing-puing, reruntuhan yang berserakan, Dika menemukan kursi Rodiah, tapi tak ada siapa-siapa di dalamnya, untuk memastikannya, Dika pun memeriksa seluruh ruangan panti termasuk kamar mandi.
Di dalam bak mandi, Dika menemukan Rodiah telah kaku, jasad nenek tua itu pun di angkat dan dibawa Dika keluar. Melihat Dika membawa Nek Rodiah keluar, semua anak-anak panti menangis histeris, karena nek Rodiah, sosok nenek yang lucu dan baik.
“Nenek! huhuhu,” ratap anak panti ketika melihat jasad nek Rodiah di bawa Dika keluar.
__ADS_1
Bersambung...
\* Selamat membaca\*