
“Apa itu, Pa ?”
“Datanglah kerumah sakit, jenguk Mamamu, dia butuh kau saat ini.”
“Baik Pa.” jawab Niko seraya bergegas untuk pergi kerumah sakit.
Atas izin Fatma dan Mang Ojo, Niko pun berangkat kerumah sakit bersama Intan istrinya.
“Kenapa datang bersama anak pemulung ini Niko ?” tanya Retno, meskipun tubuhnya masih lemah.
Mendegar perkataan Retno yang sangat janggal itu, Niko dan Intan sangat terkejut, begitu juga dengan Fitri dan Lia.
“Astagfirullah, Mama ! seru Niko dengan nada penuh amarah. Sekali lagi Mama mencaci Intan, akan Niko pastikan kalau Niko nggak akan pernah menemui Mama lagi !” Ancam Niko pada Mamanya. Seraya menarik tangan Intan untuk keluar dari kamar perawatan Mamanya.
Hingga buah segar yang dipegang Intan saat itu jatuh berserakan dilantai. Sementara Retno memalingkan wajahnya saat melihat Niko dan Intan keluar dari kamarnya.
“Mama benar-benar keterlaluan ! Fitri benci Mama !"
“Fitri ! tunggu nak ?"
Namun Fitri terus saja berlalu meninggalkan Mamanya yang lemah diatas ranjang.
Bertepatan saat itu Hermawan pun datang memasuki kamar Retno istrinya.
“Apa Niko udah datang Ma ?” tanya Hermawan pada istrinya.
“Sudah Pa, tapi Mama mengusirnya.” potong Lia seraya menatap tajam kearah Mamanya.
“Apa ? Mama mengusirnya ?”
“Benar Pa, Bang Niko datang bersama Kak Intan, tapi Mama malah mengusirnya.”
“Betul itu, Ma ?’ tanya Hermawan tak percaya.
“Aku benci anak pemulung itu Pa ?”
“Astagfirullah, kenapa Mama lakukan itu ? bukankah Mama sendiri yang ingin bertemu dia, dengan menyebut nama Niko terus. Lalu kenapa diusir ?”
“Aku hanya ingin Niko, bukan anak pemulung itu !” tegas Retno.
“Papa ngerti maksud Mama itu, tapi Niko kan sudah menikah dengan Intan, mana mungkin dia diam saja kalau dia tau mertuanya sakit, pasti dia ikut merasakannya juga. Sudahlah Ma, restui saja lah pernikahan mereka, toh ! udah terjadi bukan ?”
“Nggak, sampai matipun, Mama nggak akan merestui mereka berdua.”
“Baiklah ! kalau itu yang menjadi keputusanmu. Sekarang hadapilah sendiri, jika suatu hari nanti sesuatu hal buruk terjadi pada Mama, Papa nggak bakalan ikut campur lagi.” Tegas Hermawan pada istrinya.
__ADS_1
“Apa maksud Papa itu ?”
“Papa hanya nggak ingin, penyakit jantung Mama itu kambuh lagi, dan harus dirawat lagi. Mama tau nggak berapa biaya kita sekali berobat dirumah sakit ini ? puluhan juta Ma ! Mama harus tau itu !"
"Iya Mama tau !"
"Nggak sedikit kita menghabiskan uang hanya untuk kelakuan Mama itu.” Kata Hermawan seraya pergi meniggalkan Retno yang terus menangis karena kemarahan suaminya.
Setelah Hermawan keluar, dr.Zaki masuk untuk memeriksa pasiennya. Karena rumah sakit tempat Retno dirawat adalah rumah sakit tempat Zaki ditugaskan.
“Gimana kabarnya Bu ? apa ada keluhan ?” tanya dr. Zaki pada Bu Retno sebagai pasiennya.
“Nggak dok, sekarang tubuhku sudah terasa baikan.”
“Tapi Ibu nggak boleh terlalu capek dan banyak fikiran, usahakan untuk tetap rilek. Agar peredaran darah Ibu tetap berjalan lancar. Saat ini jantung Ibu masih lemah belum sepenuhnya pulih dan stabil.”
“Baik dok !” jawab Retno tanpa menoleh kearah dr. Zaki.
“Ya sudah, Ibu istirahatlah yang cukup, saya mau periksa pasien yang lain.”
“Baik dok ! Terimakasih !” jawab Retno mengakhiri pembicaraan mereka.
“Sebenarnya Zaki tau kalau yang terbaring itu Mama Niko, itu sebabnya dia datang dengan menggunakan masker, agar Retno tidak melihat wajahnya.
Setelah Zaki pergi meninggalkan Retno yang masih terbaring lemah, Lia pun datang menghampiri Mamanya dan membisikan sesuatu ke telinga Mamanya itu.
“Siapa emangnya ?” tanya Retno penasaran.
“Ganteng kan, Ma ? “
“Iya, tapi siapa orangnya ?”
“Dia itu adeknya kak Intan, anak pemulung yang selalu Mama sebut-sebut Namanya, jika sedang bertemu kak Intan.”
“Apa ? Kamu serius, Kalau itu adiknya intan anak si pemulung itu ?”
“Iya, dia itu adiknya kak Intan. Orang yang selalu mama lecehkan.”
“Ah nggak mungkin ! mana ada anak pemulung yang jadi dokter, ngaco kamu !”
“Bukan hanya itu saja Ma, Kak Intan juga punya seorang Kakak yang saat ini telah menjadi direktur Bank.”
“Udah, udah ! kalau ngomong itu ya, pakai dipikir dulu sayang !”
“Kalau Mama nggak percaya, ya udah ! jangan menyesal nanti ya Ma ?”
__ADS_1
“Jadi kamu ikut-ikutan menyalahkan Mama ?”
“Ssst, jangan keras-keras nanti kedengaran orang.”
“Biarkan saja orang tau, Mama begini ini juga karena diakan, kalau gitu Mama mau pulang aja. Mama nggak mau diperiksa oleh anak pemulung itu lagi, nanti tubuh Mama pada alergi. Tolong panggil Papa, bilang kalau Mama pingin pulang.” Jerit Retno dengan suara bergema.
Melihat kondisi Mamanya seperti itu, Lia berusaha menenangkan Mamanya, tapi Retno terus saja meronta-ronta minta pulang.
Keributan itupun memicu para dokter untuk bergegas mendatangi kamar Retno, dan berusaha untuk menenangkannya.
Zaki yang saat itu berada diruang kamar Retno, membuat Retno semakin bersemangat untuk membuka asal usul dirinya agar semua orang tau siapa dr. Zaki itu.
“Kurang ajar, aku benci dokter itu, aku benci dia. Dasar anak pemulung !” kata Retno seraya mengacung-acungkan telunjuknya.
“Maaf, Ibu ini siapa ya ? kok memaki-maki aku ?” tanya dr. Zaki heran.
“Maafkan Mama saya dok, mungkin karena Mama banyak fikiran makanya dia bicara ngelantur.” Kata Lia menenangkan suasana.
“Nggak, aku nggak ngelantur ! kalian semua harus tau, kalau pria ini anak seorang pemulung.”
“Iya, benar ! kalau aku ini anak seorang pemulung, tapi ada apa dengan status orang tua ku ? apa Ibu merasa dirugikan dengan status orang tua ku ?”
“Iya, karena keluarga kalian, gara-gara kakak perempuanmu itu, aku kehilangan putra ku !”
“Ooo, jadi Ibu ini orang tuanya Bang Niko ?” kata Zaki berpura-pura tak mengenalnya.
“Iya, benar ! gara -gara perbuatan keluargamu, akhirnya aku menderita diruangan ini.”
“Maaf, itu urusan pribadi Ibu kan ? kalau Ibu ingin, nanti saja hal ini kita bahas setelah Ibu sembuh dulu.”
“Nggak, Aku mau pulang sekarang, cepat Lia kemasin semua barang kita. Kita tinggalkan rumah sakit ini. Disini Mama semakin sakit bukannya sembuh.”
“Maaf, kata Bang Niko orang tuanya itu seorang guru, apa begini kelakuan seorang panutan itu ?”
“Tutup mulut mu !” teriak Retno.
Dalam keadaan emosi seperti itu, Hermawan pun masuk. Dia mencoba menenangkan istrinya yang udah tersulut emosi.
“Ada apa ini, kenapa ribut-ribut ?”
“Pa, ayo kita pulang ! Mama nggak mau dirawat oleh anak pemulung ini.” Rengek Retno pada suaminya.
“Maaf, semestinya kalian bisa mengambil contoh dari kedua orang tua ku, walau mereka seorang pemulung tapi Aku sebagai seorang anak merasa bangga padanya, aku nggak malu mengakuinya sebagai anak seorang pemulung.”
“Tutup mulut mu ! kau benar-benar nggak tau malu !”
__ADS_1
Bersambung...