Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 18 Kejutan untuk keluarga


__ADS_3

Tak terasa waktu terus berlalu, selesailah ibadah haji yang ditunaikan Mang Ojo beserta Fatma di tanah suci, ketika hendak menaiki pesawat, Mang Ojo juga dikejutkan dengan seorang wanita mirip dengan Intan.


Tapi Mang Ojo diam saja karena dia belum yakin, kalau itu adalah putrinya. Di atas pesawat Mang Ojo tertidur pulas, saat itulah Fatma melihat wanita yang mirip dengan Intan, berdiri tersenyum manis kearahnya.


Fatma terkejut, rasa ingin tahu berubah menjadi takut. Tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu sakit, dan meminta obat kepada jama’ah yang berada disampingnya.


“Bu, boleh aku minta minyak kayu putihnya sedikit ? kepalaku agak sedikit pusing.” Ujar Fatma pada perempuan yang berada disampingnya.


“Ya, boleh !” jawab perempuan itu seraya menyodorkan minyak kayu putih miliknya kepada Fatma.


Disaat itulah Fatma membisikan sesuatu ke telinga perempuan itu.


“Apa Ibu melihat seorang gadis muda berdiri disamping pramugari itu ?”


“Nggak ! Saya nggak melihat siapa-siapa ? mungkin karena kepala Ibu pusing kali, jadi Ibu sedikit berhalusinasi.” Jawab perempuan itu.


“Tapi Aku yakin kok Bu, saat ini saja dia sedang menatapku dengan tersenyum.”


“Kalau memang Ibu melihatnya, sebaiknya Ibu banyak-banyak istighfar pada Allah.”


“Iya Bu, terimakasih atas Sarannya.”


“Ya sama-sama.”


Setelah mendengarkan saran dari perempuan itu, Fatma mencoba beristigfar sebanyak yang dia mampu, hingga akhirnya Fatma pun tertidur pulas.


Sementara itu, Intan yang terlalu sibuk mengurus segalanya sendirian, malam itu dia mengalami demam tinggi, tubuhnya terasa menggigil karena terlalu panas, Alhuda dan Zaki semalaman tak bisa tidur karena mengurus Intan.


Alhuda bersama yang lainnya, selalu siap siaga di samping Intan, mereka saling bekerja sama merawat Intan, agar demamnya segera reda.


“Gimana Bang, apa demam kakak udah turun ?” tanya Zaki ingin tau.


“Belum dek, mungkin sebentar lagi.”


“Kak Intan makan ya ! biar habis itu, makan obatnya.”


“Iya, sayang !” jawab Intan seraya memakan nasi yang disendokkan Zaki ke mulutnya.


Sementara itu, Alhuda tiada hentinya mengganti kain kompres yang berada di kening Intan setiap saat, sedangkan yang lainnya selalu siap selalu untuk urusan yang lainnya.


“Jadi kan kak, kita besok jemput Bapak dan Ibu ke bandara ?” tanya Intan Pada Alhuda.


“Tentu sayang, nggak mungkin kan, mereka pulang begitu saja, pasti mereka sedih sekali.”


“Kalau kakak mau ikut, jemput Bapak dan Ibu, kakak harus cepat sembuh.”

__ADS_1


“Iya sayang, besok kakak juga agak mendingan kok.” Jawab Intan memberi semangat pada adiknya.


Setelah hari yang ditunggu itu tiba, Alhuda bersama yang lainnya segera berangkat ke bandara pagi itu, karena di jadwalkan Bapak dan Ibunya akan tiba sekitar pukul sebelas siang.


Setibanya di bandara, seluruh jamaah dijemput oleh keluarganya tetangga dan sanak famili.


Begitu juga dengan Mang Ojo, seluruh anaknya dan penduduk Kawasan kumuh ikut beramai-ramai datang menjemputnya, termasuk Ranita dan Niko.


Setelah turun dari pesawat, mereka dikejar oleh Alhuda beserta adiknya. Rasa haru pun berbaur dengan linangan air mata. Mang Ojo dan Fatma memeluk anak-anaknya dengan rasa bahagia.


Tiba-tiba saja, Fatma merasa ada yang kurang disaat itu.


“Intan mana ? Intan, kok Ibu nggak lihat. Di mana dia ?” tanya Fatma heran.


“Ada Bu ! Dia di mobil, bersama kak Ranita dan Bang Niko.” Jawab Alhuda.


“Kakak sedang sakit Bu !” kata Zaki dengan suara pelan.


Lalu Fatma langsung berjalan menuju mobil, saat Fatma menoleh kedalam dia melihat Ranita dan Niko, ada bersama Intan.


“Hei kalian ternyata ada disini juga ya ?”


“Iya, Bu, Intan yang ngasih kabar, kalau Bapak dan Ibu hari ini pulang dari tanah suci.” jelas Niko pada Bu Fatma.


“Tapi Intan nggak apa-apa kan nak ?”


“Ooo, syukurlah nggak apa-apa.” kata Fatma. “Tapi benar kamu sakit nak ?” tanya Fatma pada putrinya.


“Hanya sedikit demam Bu, tapi nggak apa-apa kok. Ayo Ibu naik, ada kejutan untuk Ibu dan Ayah serta yang lainnya.


“Kejutan apa itu intan ?” tanya Fatma penasaran.


“Ada deh, nanti kalau ku kasih tau duluan, nggak surprise doong !" jawab intan dengan sedikit manja.


“Aaah putri Ibu bisa aja !” kata Fatma tersenyum.


Bersama dengan Mang Ojo, lalu keduanya naik kedalam kendaraan Yang di kemudi kan oleh Niko.


Di dalam mobil yang sedang melaju tenang, Fatma terus menerus memandangi wajah Intan putrinya itu, rasa penasarannya tentang kejadian di tanah suci dan diatas pesawat, sepertinya tak masuk akal dan sulit untuk dipahami.


Ingin rasanya Fatma bertanya, tapi takut kalau-kalau yang lain menertawakan dirinya.


Dan akhirnya kejadian itu dipendamnya sendiri, siapa tau suatu saat nanti dia bisa bercerita tentang hal itu pada anak-anaknya.


“Gimana kabarnya selama di tanah suci Bu ?” tanya Ranita dengan suara lembut.

__ADS_1


“Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar, tanpa ada gangguan sama sekali.”


“syukurlah, Ibu pulang dengan selamat !” kata Ranita lagi.


“Alhamdulillah, itu berkat do’a kalian semua. “O iya, terimakasih neng Ranita dan den Niko, mau menyempatkan diri menjemput Ibu ke bandara.


“Sama-sama Bu, Tentu saja kami menjemput Ibu, kan Ibu Serta Mamang sudah menjadi bagian dari kami.” Kata Niko datar.


“Ah, Niko ! kamu ini bisa aja.” Kata Fatma seraya tertawa senang.


Beberapa saat kemudian, merekapun hampir sampai ketempat yang dituju, dan intan memerintahkan Ranita dan Niko menutup mata Bapak dan Ibunya, begitu juga dengan saudara Intan yang lainnya.


“Baik tuan putri, perintah segera kami laksanakan.” Jawab Niko dan Ranita serentak.


Sebenarnya ada apa ini nak ?” tanya Mang Ojo dan Fatma heran.


“Ini perintah dari tuan putri Mang.” Jawab Ranita sembari menutup mata mereka semua dengan sapu tangan.


Begitu juga dengan Niko, dia mengikatkan sapu tangan itu ke mata mereka masing-masing. Sementara di mobil bagian belakang, mereka menunggu dengan terheran-heran.


“Kenapa mobilnya berhenti, apa ada yang rusak ?”


“Entahlah tapi tampaknya ada yang sedang mereka lakukan ?” jawab sopir angkot itu.


“Emangnya mereka lagi melakukan apa ?” tanya Resni pada temannya.


“Mbuuh, aku juga ora ngerti ?” jawab Mita yang saat itu sama-sama resah menunggu.


Tidak begitu lama kemudian, mobilpun kembali melaju seperti biasa, suasanapun tampak terkendali seperti semula. Tiba-tiba saja mobilpun memasuki sebuah areal rumah mewah, dan mobil mereka berhenti disitu.


Para penumpang tampak heran dan bertanya dalam hati. Tapi hal itu cepat terjawab saat Ranita menyuruh mereka semua turun dan berdiri disamping rumah mewah itu.


“Ada apa sih ?” tanya seorang Ibu heran.


“Tenang aja ada sedikit kejutan !” jawab Ranita.


“Ooo, kejutan !” jawab Ibu itu seolah-olah paham dengan apa yang baru dikatakan Ranita.


Kemudian Intan memberikan dua buah gunting ketangan Mang Ojo dan Bu Fatma.


“Bapak, Ibu ! nanti kalau aku mulai menghitung satu sampai tiga, kalian langsung memotong pita nya ya ?”


“Iya sayang, tapi kamu beri kejutan seperti apa sih, bikin jantung Ibu berdebar aja ?”


“Tenang Bu, nanti setelah ini Ibu dan Bapak bisa lihat sendiri kok.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2