
Sedangkan Resti dia berusaha mencari cara untuk mendapatkan Foto Alhuda, setelah dia berusaha keras untuk berfikir, lalu Resti punya ide dengan menyuruh orang lain mengambil Foto Alhuda secara diam-diam.
“Ibu sanggup bayar saya berapa ?” tanya pria bayaran Resti itu.
“Akan saya bayar kamu dua juta untuk satu pengambilan Foto.”
“Gimana kalau tiga juta ?” tawar Pria itu.
“Kamu niat nggak nolongin saya ?”
“Terserah Ibu, kalau Ibu mau bayar saya tiga juta, akan saya lakukan.”
“Untuk satu foto kau minta tiga juta ? yang benar saja ! udah syukur saya kasih dua juta.”
“Kalau Ibu nggak setuju, ya cari aja orang lain yang menurut Ibu mau dibayar segitu.”
“Dasar sombong kamu ! udah miskin berlagak kaya pula !” kata Resti dengan suara lantang.
Ucapan Resti itu membuat pria bayaran itu tersinggung dan marah, diapun berdiri dan menampar wajah Resti.
“Lain kali kalau bicara tolong dijaga ucapannya ya Bu !”
Resti yang ditampar Pria itu langsung menjerit-jerit kesakitan, sementara pria yang menamparnya telah pergi menjauh darinya.
Karena Resti menjerit minta tolong, beberapa orang pun datang menghampirinya.
“Ibu kenapa ?” tanya seorang wanita padanya.
“Saya ditampar oleh pria itu !” jawab Resti
seraya menunjuk seseorang.
“Pria yang mana ?”
“Yang itu.”
“Yang mana ? nggak ada pria kok.”
Setelah Resti mendengar kalau pria itu nggak ada, barulah dia sadar ternyata pria yang telah menamparnya telah pergi jauh meninggalkannya.
“Kurang ajar, ternyata dia udah pergi.” Ucap Resti kesal.
Merasa tak ada yang melakukan kekerasan pada Resti, lalu orang itupun pergi meninggalkan Resti sendirian.
“Sial ! sial sekali ! gerutu Resti sembari memukul atap mobilnya dengan kuat.
Setelah gagal pada pria bayaran pertama, Resti pun beralih pada pria bayaran berikutnya.
“Jadi berapa Ibu sanggup bayar saya ?”
“Saya bayar kamu dua juta untuk satu kali pemotretan.”
“Gimana kalau Ibu bayar saya empat juta.”
__ADS_1
“Gila kamu ya ? hanya untuk satu pemotretan aja kau meminta bayaran sebesar itu ?”
“Ibu kan orang kaya, kalau Ibu nggak mau Ibu bisa cari orang lain aja.”
“Sombong sekali kamu.”
“Hei, Bu ! kami ini pembunuh bayaran, kami bisa bunuh Ibu, kalau Ibu berani kurang ajar pada kami !”
Mendengar kata pria itu, jantung Resti terasa berhenti berdetak, tak ingin mencari masalah dengan pria yang hendak disuruhnya, lalu Resti pun pergi meninggalkan mereka semua.
“Huh ! susahnya mencari orang yang mau diperintah.” Gerutu Resti seraya duduk menyendiri.
Sementara Itu, Margono yang sedari tadi pulang dari kantor, di dapatinya istrinya tak berada dirumah. Dia pun menunggu hingga larut malam.
“Huh ! keman dia ? udah selarut ini belum juga pulang, apa mungkin dia pergi kerumah dukun itu ?” gumam Margono sembari mengambil kaca mata dan koran yang terletak di depan televisi.
Mesti matanya mengarah ke koran, namun hatinya sedang tak bersama dengannya, Margono begitu cemas sekali karena selama ini dia tak pernah berpisah dengan istrinya, selalu bersama baik dalam suka maupun duka.
“Kemana kamu Resti ? kenapa lama sekali pulangnya ?” tanya Margono pada dirinya sendiri.
Hilir mudik, Margono berjalan dan matanya tiada henti menoleh kearah jendela depan.
Tak berapa lama kemudian, Resti pun kembali kerumah, Margono yang melihat istrinya kembali, dia pun berpura-pura tidur, agar terlihat kalau dia tak perduli pada Resti saat itu.
Karena terdengar majikannya pulang, Bi Inah langsung membukakan pintu rumah untuk Resti.
“Bapak udah pulang Bik ?”
“Dari jam berapa ?”
“Dari tadi siang nyah.”
“Apakah dia menanyakan saya Bik ?”
“Nggak nyah, tuan langsung masuk kamar kok.”
“Apakah dia udah makan ?”
“Belum nyah, nasinya nggak di sentuh sama sekali.”
“Apakah Bibi udah menyuruhnya makan?
Nanti Bapak bisa sakit loh.”
“Bibik udah berkali-kali memanggil tuan nyah, tapi tuan diam saja dia nggak bicara sama sekali.
“Ya udah, biar saya sendiri yang mengajaknya makan.”
“Baik nyah.” Jawab Bi Inah seraya mundur dari hadapan majikannya.
Resti yang melihat suaminya belum makan, dia pun langsung kekamar atas untuk menemui suaminya.
“Papa ! papa udah makan ?” kata Resti seraya menyentuh bahu suaminya.
__ADS_1
Margono yang masih kesal dengan kelakuan Resti, dia hanya diam saja, walaupun dia mendengarkan dengan jelas pertanyaan yang di ajukan istrinya itu.
“Papa masih marah pada Mama ya ? jangan gitu dong, itu kan nggak adil Namanya, Mama minta maaf deh !” jawab Resti dengan suara lembut dan mendayu.
Margono yang tak menyangka sama sekali, kalau istrinya bersedia meminta maaf, hatinya jadi terhenyuh. Dia pun langsung membalikan tubuhnya.
Lalu dilihatnya tangan Resti sudah berada didepan dadanya untuk meminta maaf, Margono yang tak mau membuat dosa untuk istrinya, dia pun langsung menyambut uluran tangan Resti.
“Nah gitu dong !” ucap Resti tersenyum lebar.
“Mama kemana tadi ?”
“Mama di suruh oleh orang pintar itu untuk meminta foto Alhuda, tapi setelah Mama pikir-pikir, nggak mungkin kan Mama harus kekawasan kumuh untuk memotret mereka ? jadi Mama suruh orang lain untuk memotret Alhuda secara diam-diam.
“Berarti Mama jadi, kerumah orang pintar itu ?”
“Jadi dong, Pa !” ucap Resti seakan-akan tak bersalah sama sekali.
Mendengar penjelasan dari Resti yang seakan bangga dengan apa yang dia lakukan, membuat hati Margono menangis pilu.
“Sepertinya Mama, merasa bangga dengan apa yang telah Mama lakukan, bukan ?”
“Ya jelas dong, Pa !”
“Mama tau nggak, perbuatan yang baru saja Mama lakukan itu sama artinya Mama melakukan syirik ! Mama telah menyekutukan Allah dengan percaya pada seorang dukun.”
“Ah masa syirik, Mama kan membayarnya saja, Mama nggak sepenuhnya percaya kok.” Jawab Resti dengan gamblangnya.
“Kalau Mama nggak percaya sepenuhnya, kenapa Mama membayar nya ? berarti Mama membayar orang yang bekerja setengah hati dong !”
“Kalau kerjanya Mama percaya kok Pa, hanya Mama nggak percaya sama dukun nya aja.”
“Sewaktu kecil Mama pernah nggak belajar agama atau belajar ngaji barang kali ?”
“Pernah, tapi karena Mama nakal, jadi Pak Ustad mengusir Mama pulang.”
“Nakal gimana ?”
“Ya nakal ! Mama sering mengambil buku teman dan mencoretnya, Mama juga sering menyembunyikan sandal anak-anak kampung itu, hingga pak Ustad Marah dan mengusir Mama.”
“Mama bangga dengan kelakuan Mama itu ?”
“Nggak juga sih ! tapi, Mama sedari dulunya kan nggak suka dengan orang-orang miskin itu.”
Mendengar kejujuran yang terucap dari istrinya, Margono merasa semakin tau siapa istrinya itu sebenarnya.
“ternyata Papa salah memilih Mama menjadi istri.”
“Maksud Papa apa ?”
“Sekarang mata Papa baru terbuka lebar, kalau istri yang Papa nikahi itu ternyata memiliki hati iblis.” Jawab Margono sembari kembali tidur.
Bersambung...
__ADS_1