Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 117 Menghadapi suami cacat


__ADS_3

“Kau emang laki-laki yang nggak berguna ya Ran, kau suami payah!”


“Kau yang nggak berguna, kau istri yang lalim.”


“Kau ini, kau nggak tau berterimakasih ya! udah syukur kau di tampung dirumah ini, dirawat dan diselamatkan oleh keluarga ku, tapi apa balasannya, kau tetap saja menghina keluarga ku.”


“Karena kalian semua sampah!”


“Kau yang sampah, kau bahkan seperti sampah yang nggak berguna.”


Fatma yang mendengar pertengkaran itu, menarik tangan Nurul untuk keluar dari kamar Randi, Nurul menangis tersedu-sedu di pelukan Fatma, hatinya begitu sakit sekali.


“Dasar istri nggak berguna!”


“Kau yang nggak berguna, kau suami nggak tau diri Ran.”


Mendengar pertengkaran Randi dan putrinya yang tak pernah berhenti, Mang Ojo langsung menghampiri Nurul dan menarik tangannya agar sedikit menjauh dari kamar Randi.


“Kenapa Pak, kenapa kita mesti menjauh dari pria nggak berguna itu?”


“Justru dia itu pria nggak bergunalah, makanya Bapak mengajak mu untuk menjauh darinya, karena semakin kau layani dia bicara, maka semakin sakit rasa hati mu.”


“Dia itu memang nggak tau diri Pak.”


“Biarkan saja, mungkin Randi sedang mengalami depresi karena sakitnya itu, sepertinya Randi belum bisa menerima kenyataan yang telah dia alami,” jelas Mang Ojo.


“Tapi, Pak. mestinya Randi itu bisa menghargai orang yang telah simpatik padanya, karena tanpa orang lain dia itu nggak bisa berbuat apa-apa.”


“Bapak tau sayang, suatu hari nanti, Bapak akan memberinya pelajaran yang sangat berharga.”


“Maksud Bapak?”


“Kita lihat saja nanti.”


“Baiklah, akan kita lihat apa yang bakal Bapak lakukan padanya,” jawab Nurul dengan senyuman nya yang manis.


Ke esokan harinya, Riswan tampak keluar dari kamar Randi dengan wajah cemberut, Mang Ojo yang melihatnya langsung datang menghampiri Riswan, yang duduk disudut dapar seraya memandang ke langit-langit loteng.


“Ada apa, kenapa kelihatan begitu sedih sekali.”


Melihat kedatangan Mang Ojo, Riswan tampak sedikit tersenyum, mesti senyumnya itu terlihat di paksakan.


“Ada Bapak.”


“Duduk aja, nggak perlu berdiri,” ujar Mang Ojo yang langsung duduk di samping Riswan.


“Ada apa, kenapa Bapak terlihat begitu sedih?”


“Randi, Pak. dia nggak mau makan dan nggak mau bicara dengan saya.”

__ADS_1


“Kenapa dia seperti itu, bukankah dia itu begitu butuh sekali dengan pertolongan Bapak.”


“Iya, tapi dia kelihatan begitu sedih sekali.”


“Mungkin karena dia belum bisa menerima takdir yang sedang menimpa dirinya. Itu sebabnya dia seperti itu.”


“Tapi Randi benar-benar udah keterlaluan, Pak,” jawab Riswan sembari menangis sedih.


Mendengar cerita dari Riswan, hati Mang Ojo terasa begitu sakit, dia langsung menghampiri Randi di kamarnya.


Melihat Randi duduk senderan, di bantal yang berada di punggungnya, Mang Ojo langsung menarik bantal itu.


“Apa-apaan ini? Kenapa kau memperlakukan aku seburuk ini?”


“Karena kelakuanmu yang buruk itu, kau bahkan nggak bisa melihat kebenarannya.”


“Kebenaran apa! kebenaran kalau aku ini cacat, kau puas!”


“Semestinya kau bersyukur nyawa mu udah dapat di selamatkan, dan kau bisa menghirup udara segar kembali, akan tetapi kenapa kau nggak juga sadar.”


“Lebih baik aku mati, dari pada harus seperti ini.”


“Itu karena kesalahan mu sendiri, karena kau telah jauh dari ajaran Allah, kau udah mulai belajar untuk jadi anak yang durhaka.”


“Sok tau kamu!”


Setelah bicara banyak, lalu Mang Ojo menyuruh Ahong untuk mendorong Randi ke lapangan.


“Tinggalkan dia disana!” ujar Mang Ojo sembari meninggalkan ruangan itu.


Sementara Randi yang ditinggal di tengah cuaca terik, tubuhnya terasa panas sekali, dia menjerit-jerit minta tolong pada siapa saja yang dia lihat, namun Mang Ojo tetap diam membisu.


Riswan yang melihat putranya mendapatkan hukuman, hatinya begitu sedih, dia tak ingin hal itu terjadi pada putranya itu, namun demi mendidiknya agar menjadi orang yang berguna. Riswan terpaksa harus mengelus dadanya sendiri.


Karen amerasa tak tahan melihat hal itu, Riswan langsung bermohon pada Mang Ojo, agar membawa masuk putranya itu.


“Baiklah, akan kita bawa masuk dia,” jawab Mang Ojo, sembari memerintahkan Ahong membawanya masuk kedalam.


Di saat melihat Mang Ojo tersenyum padanya Randi merasa sakit hati, ingin rasanya dia membunuh Mang Ojo yang telah begitu kejam padanya.


Mang Ojo juga melihat, ada dendam yang membara di hati Randi padanya, dia tau Randi tak akan bisa berubah mesti dia udah di selamatkan dari maut.


“Kenapa? Kau nggak bisa menghindar dari teriknya panas bukan?”


“Diam! Kau orang tua yang kejam!” bentak Randi kesal.


“Aku terpaksa harus bersikap kejam kepada orang yang tak tau balas budi seperti mu.”


“Dasar Pamulung! walau berlagak seperti orang kaya sekalipun, jiwa pemulung nya yang kejam dan jahat tetap saja tampak jelas.”

__ADS_1


“kalau kau udah tau, kalau kami keluarga pemulung, lalu kenapa kau menikahi putri ku?”


“Karena putrimu memoles tubuhnya dengan gaya orang kaya.”


Setelah merasa tersakiti oleh kelakuan Randi, Mang oJo langsung keluar dan masuk kedalam kamarnya, Mang Ojo tak lagi memperhatikan orang yang berada disekitarnya.


“Ada apa dengan Bapak?” tanya Nurul sembari mendatangi Mang Ojo ke kamarnya.


Dibalik gorden pintu kamar itu, Mang Ojo tampak duduk diam sembari memegang dadanya yang tampak begitu sesak.


“Ada apa Pak, kenapa bersedih?” tanya Nurul sedikit heran.


“Eh, kamu nak, kemarilah, ada yang ingin Bapak sampaikan kepada mu.”


“Ada apa Pak?”


“Bapak melihat, jiwa suamimu itu, tak ada menunjukan kebaikan sama sekali, dia kasar dan egois.”


“Aneh, semasa kami menikah, tak ada sifat buruk itu terlihat pada dirinya, kenapa sekarang dia langsung berubah secara drastis.”


“Barang kali Randi belum bisa menerima kenyataan yang telah menimpa dirinya sayang.”


“Tapi setidaknya, dia bisa menghargai kebaikan dari kita pak.”


“Bapak nggak tau nak, Bapak lelah menghadapi dirinya.


“Aku juga pak, aku begitu lelah menghadapinya, mulutnya terlalu kasar untuk bicara, aku udah berusaha untuk berbuat baik.”


“Yang bisa kita lakukan saat ini, hanya memperhatikannya saja, nggak lebih,” jawab Mang Ojo datar.


Nurul sangat mengerti apa yang dikatakan Bapaknya, dia mencoba untuk tak memperdulikan Randi yang selalu saja bicara kasar.


Siang itu Alhuda datang kerumah itu bersama Ranita dan kedua anaknya, karena rasa perhatiannya yang berlebihan Alhuda langsung menemui Randi di kamarnya.


“Gimana kabarmu Ran?” tanya Alhuda ingin tau.


“Kabar apa? kau lihat sendirikan aku udah menjadi orang cacat! Kau tau siapa yang menyebabkan semua ini, adik kesayangan mu itu, dasar istri nggak berguna, tau nggak!”


“Kau, kau sedang bicara dengan siapa hah!” jawab Alhuda tersulut emosi.


Ranita yang melihat hal itu, langsung menarik tangan suaminya dan menjauh dari ruangan Randi.


“Ada apa dengan nya, kenapa dia seperti itu?” tanya Alhuda heran.


“Aku nggak tau Bang,” jawab Ranita sembari menarik tangan Alhuda hingga menuju ruang tamu.


“Kalian datang nak?” tanya Fatma yang melihat Alhuda dan Ranita menghampiri mereka semua.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2