Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 55 Bertemu gadis idaman


__ADS_3

“Nah kita udah nyampe, ini rumah saya.” Kata Zaki mengenalkannya.


“Wah ! rumah dokter ternyata besar dan mewah.”


“Nggak juga, rumah ini dibangun oleh kakak saya. Ayo masuk !” ajak zaki pada Randi.


“Baik dok.” Jawab Randi seraya melangkah masuk kedalam.


“Panggil aja, Abang ! biar nggak canggung.”


“Baik dok, eeh, Bang !” Kata Randi gugup.


Saat mengajak Randi masuk, Zaki berpapasan dengan Ibunya. Yang hendak keruang tamu.


“Siapa ini Nak ?” tanya Fatma pada Zaki.


“Dia temanku Bu.” Jawab Zaki pada Ibunya.


“Siang, Bu !” sapa Randi pada Fatma.


“Siang, Nak !” jawab Fatma dengan tersenyum. “Disini nggak usah malu, kalau lapar cari aja sendiri.”


“Baik Bu, terimakasih.”


Disaat bersamaan, Nurul datang dan masuk kedalam kamar, sekilas Randi melihat Nurul, tapi Nurul tak melihatnya. Didalam ruang kamar Zaki, Randi mencoba bertanya, tentang gadis berkerudung yang baru dilihatnya.


“Itu adek, Namanya Nurul.”


“Ooo !” jawab Randi tanpa berkomentar.


“Kenapa ?” tanya Zaki heran.


“Nggak ada apa-apa kok, Bang.”


“Kalau begitu, mari kita kebawah, kita makan ! kamu lapar kan ?”


“Iya Bang, baiklah.”


Diruan bawah, semua telah berkumpul didepan meja makan, termasuk Nurul yang duduk tenang dihadapan Randi. Dengan pelan Nurul mengisikan nasi ke piring masing-masing.


Randi menatap wajah Nurul tanpa berkedip.


“Kamu dari mana, Nak ?” tanya Mang Ojo.


“Oh, ada apa Pak ?” jawab Randi gelagapan.


“Kamu berasal dari mana ?”


“Aku dari Sumatera, Pak !”


“Ada tujuan apa datang ke Jakarta ?”


“Aku kuliah Pak. Jurusan kedokteran.”


“Waah, bagus itu. kalau kuliah yang benar, jangan main-main ! Lalu kenapa kamu ada di Jakarta ?”

__ADS_1


“Tadinya Aku diajak teman untuk mengantar surat kekantor pos. tapi naas, dijalan tol dikilo meter tiga belas, ada mobil yang menabrak pembatas jalan, lalu mobil yang lainnyapun ikut terseret dan terjadilah tabrakan beruntun.” Jelas Randi pada Mang Ojo.


“Lalu temanmu itu mana ?”


“Saya nggak tau, Pak ! dia entah selamat atau nggak. Sejak kejadian itu, saya udah nggak sadarkan diri lagi.”


“Sebenarnya Randi ini dirujuk dari puskesmas ke Jakarta. Karena banyak kehabisan darah, kebetulan Aku yang menanganinya.”


“Dan Abang ini juga yang telah membayarkan biaya perawatan saya selama ini, Pak.”


“Ah, nggak usah terlalu dipikirkan, kami udah biasa menolong orang yang membutuhkan bantuan dari kami.”


“Maaf ya Pak, kehadiran saya hanya mengganggu keluarga Bapak saja.”


“Kami nggak merasa diganggu kok, malah kami senang ada orang yang datang berkunjung kerumah kami ini.”


“Terimakasih, keluarga ini begitu baik sekali, saya jadi malu.”


“Malu ? kenapa mesti malu, kamu kan nggak bersalah. Kalau kamu mencuri lalu tertangkap, baru malu.” Kata Mang Ojo. “O iya, apa orang tuamu masih ada ?”


“Masih Pak, mereka bekerja sebagai petani sayur dikampung.”


“Bagus itu, Bertani adalah pekerjaan yang sangat mulia. Nggak usah malu menjadi seorang petani !”


“Iya, Pak.” Jawab Randi dengan pelan.


“Zaki ! besok pagi biarkan dia beristirahat dulu disini, nanti kalau sudah benar-benar sembuh, baru kamu antar dia ke kontrakannya.” Kata Mang Ojo.


“Baik, Pak.” Jawab Zaki pelan.


“Nah sekarang baca do’a, biar kita mulai makan." perintah Mang Ojo pada anaknya.


Sekali menyantap Randi merasakan betapa nikmatnya masakan yang disuguhkan pada malam itu.


Suasana terasa mencekam dimeja makan saat itu, karena tak ada yang berdenting, bahkan untuk menarik nafaspun rasanya harus dengan pelan, agar tak terdengar diruangan itu. Tak ada suara sepatah pun saat akan menyuap nasi, semuanya diam menikmati makanan mereka masing-masing.


Randi merasa sedikit gugup dengan suasana malam itu, karena tidak sepertinya di kampung, kadang makan pun berjalan kesana dan kesini, dan untuk minum saja kadang Randi berdiri.


Di tempat Mang Ojo, semuanya diam, tak ada yang berkomentar sedikit pun, Randi mencoba untuk mengikuti gaya makan keluarga Mang Ojo itu, namun tetap saja, nasi yang hendak di suap berceceran di pinggir piringnya.


Dengan pelan Randi mencoba mengutip satu persatu, agar tak ada sisa di bawah piringnya.


“Nggak usah di kutip, biar putri Bapak yang membersihkannya nanti.”


“Baik Pak.” Jawab Randi sedikit pelan.


Setelah selesai makan, seluruh keluarga mulai beristirahat, malam itu mereka semua tidur diruang masing-masing. Tapi bagi Randi malam itu matanya begitu sulit untuk di pejamkan, wajah Nurul selalu terbayang di pelupuk mata.


“Kenapa Ran ? susah tidurnya ?” tanya Zaki, ketika melihat Randi gelisah sekali malam itu.


“Iya, nih Bang !” jawab Randi.


“Itu biasa, karena baru memasuki suasana yang asing.”


“Iya Bang.” Jawab Randi berbohong.

__ADS_1


Setelah pagi saat Randi membuka matanya, Zaki sudah tak ada bersamanya. Dia telah berangkat ketempat tugasnya.


Dari balik pintu, Randi melihat gadis yang dihayalkannya semalaman muncul seraya membawa segelas susu putih dan sepiring roti kering buatannya. Tiba-tiba saja Randi melompat dan bersimpuh dihadapan Nurul.


“Ada apa ini ?” tanya Nurul heran.


“Semalaman mataku nggak bisa tidur, wajahmu selalu terbayang di pelupuk mata ini. Tolonglah terima aku jadi kekasihmu.”


“Mm ! apa kamu nggak tau, kalau usiaku lebih tua darimu.”


“Itu nggak masaalah bagiku, terimalah ! karena ini baru kali pertamanya aku jatuh cinta pada seorang wanita.


“Baiklah, akan aku pertimbangkan.” Jawab Nurul memberi harapan.


“Tapi jangan pakai lama ya sayang !”


“Lama apanya ?”


“Ya, mikirnya, jangan kelamaan.”


“Istirahatlah dulu, nanti kalau kau udah sembuh baru akan ku beri jawabannya.”


Tak dapat dipungkiri, wajah Randi yang tampan dan memiliki kelembutan, sebenarnya juga telah membuat Nurul terpikat padanya. Tapi sebagai seorang wanita Nurul harus bisa mengendalikan diri dan menyembunyikannya.


Malam itu, di saat Nurul sedang duduk di luar rumah seraya menikmati suasana malam, Randi datang menghampiri dirinya, sebenarnya dari kejauhan Nurul udah melihat kalau Randi datang menghampirinya.


“Hai !” sapa Randi dengan pelan sekali.


Nurul tak menjawab teguran dari Randi, walau pun dia mendengar dengan jelas suara Randi saat itu.


Dari balik hijabnya yang panjang hingga menutupi sebagian tubuhnya, Nurul mencoba untuk melirik kearah datangnya suara yang menghampirinya.


“Sendirian ?” tanya Randi lagi.


“Nggak !” jawab Nurul singkat.


“Aku melihat nggak ada orang disekitar tempat ini ?”


“Ada Allah dan dua orang malaikat penjaga, yang selalu setia menemani kemanapun aku pergi.”


“Ooo, gitu.”


“Belum tidur kamu ?” tanya Nurul ingin tau.


“Belum.”


“Kenapa ? nggak nyaman rumahnya ?”


“Oh, bukan itu masalahnya !”


“Maksud nya ?”


“Kalau rumahnya sih, udah nyaman sekali, tapi hati ku ini, yang hingga sekarang belum nyaman juga, dia sepertinya butuh, tempat yang lebih layak.”


“Gombal kamu !” kata Nurul seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


“Oh, bunga ku ! ku mohon berilah aku sedikit tempat di lubuk hati mu yang suci itu.”


Bersambung...


__ADS_2