Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 141 Kebahagiaan


__ADS_3

Siang itu setelah jasad putra kesayangan Zaki selesai di kuburkan, Defi tampak tersandar di samping kulkas, dia merasa sakit karena begitu berat rasanya duka yang sedang di alaminya.


“Tenang sayang, kalian kan masih muda, masih banyak kesempatan untuk memiliki seorang anak, sabar dan ikhlaskan saja kepergiannya agar jiwanya tenang di alam sana.


“Iya, Ma,” jawab Defi dengan suara lirih.


Mesti kedua orang tua Defi selalu menenangkan hati putrinya itu, tapi bagi Defi, hatinya belum bisa menerima kata nasehat dari kedua orang tuanya, Defi masih butuh waktu yang tepat untuk bisa menerima apa yang telah hilang dari dirinya.


Setelah seminggu berada dirumah Intan, kedua orang tua Defi kembali ke kota Padang, rasa sedih pun datang menghampirinya lagi, di sebabkan karena kedua orang tuanya telah pergi. Defi terlihat seperti orang yang tak memiliki semangat hidup.


Rasa bencinya terhadap Nurul membuat dadanya semakin sesak, mesti Defi berusaha untuk bisa menerima kenyataan itu, namun Defi semakin hari melihatkan rasa dendam yang mendalam pada Nurul.


Pagi itu ketika Nurul datang berkunjung kerumah Intan, semua keluarga menyambutnya dengan hati senang, namun Defi langsung masuk kedalam kamarnya dengan wajah marah.


“Ada apa kak, kenapa kelihatan nggak senang dengan kehadiran saya?"


Defi tak menjawab, tapi raut wajahnya tetap menunjukan rasa tak senang, Fatma yang melihat hal itu menjadi kuatir dengan sikap Defi, karena Defi yang selama ini baik ternyata berubah seketika pada keluarganya.


Setelah Defi masuk kedalam kamarnya, Nurul langsung duduk, Fatma mencoba untuk menenangkan putri bungsu nya itu, agar kesedihan tak melanda dirinya.


“Tenang sayang, nanti biar Ibu yang bicara pada kakak mu.”


“Aneh ya Bu, tiba-tiba saja kak Defi berubah padahal selama ini dia kelihatan begitu baik pada kita.”


“Bukan pada kita nak, tapi pada mu saja dia yang merasa tak senang.”


“Kenapa begitu ya Bu.”


“Entahlah, Ibu sendiri juga nggak tau.”


“Ya udah kalau kak Defi merasa nggak senang dengan kehadiran ku, sebaiknya aku pergi saja, nanti kalau dia udah merasa baikan, baru aku kesini lagi.”


“Ah, jangan gitu lah nak, mesti gimana pun, kamu nggak bisa bicara seperti itu.”


“Kalian berdua itu udah menjadi saudara, yang semestinya harus saling menyayangi dan berbagi bersama,” timpal Mang Ojo.


“Tapi Bapak lihat sendiri kan, dia marah ketika aku datang.”


“Ini hanya masalah kecil nak, nanti Bapak yang bicara dengan kakak mu,” lanjut Mang Ojo, yang mendengar perbincangan mereka berdua.


“Bapak dan Ibu itu betul sayang, mungkin kak Defi masih sedih, makanya kelihatan seperti itu, nanti biar kami yang bicara padanya,” ujar Intan yang juga ikut menimpali pembicaraan mereka bertiga.”


“Ya udahlah, kalau emang begitu,” jawab Nurul dengan rasa tak puasnya.


Mesti semua keluarga mencari cara agar Nurul bisa tersenyum, namun gadis manis putri bungsu Mang Ojo itu tampak merasa tak puas dengan kejadian saat itu.


Melihat putrinya seperti itu, Mang Ojo merasa tak senang, lalu di panggilnya Defi secara diam-diam ke suatu tempat.


“Kenapa sayang, apa ada masalah antara kau dengan Nurul?”

__ADS_1


“Nggak!” jawab Defi ketus.


“Nggak usah berbohong dengan Bapak, adik mu itu udah datang dari jauh lho, hanya untuk mengucapkan rasa bela sungkawanya kepada mu, tapi kau merasa nggak senang dengan kehadiran dirinya, kenapa?”


“Aku nggak ada merasa seperti itu, Pak.”


“Jangan membohongi Bapak!”


Mendengar tekanan dari mertuanya, Defi hanya diam saja, dia tampak tertunduk lemah di hadapan Mang Ojo.


Nurul itu orang baik sayang, dia nggak mungkin akan membalas perbuatan buruk yang kita lakukan padanya, melihat sikap mu tadi, dia merasa sedih sekali.


“Aku merasa sakit hati Pak.”


“Sakit hati kenapa?”


“Gara-gara suaminya kita jadi begini,” jawab Defi pelan.


“Maksud mu apa?”


“Bapak lihat sendiri kan, rumah kita ludes terbakar, sementara putra ku satu-satunya pergi meninggalkan kita semua, coba kalau suaminya itu nggak membakar rumah kita, pasti kita nggak seperti ini bukan?”


Mendengar pengakuan Defi, Mang Ojo merasa sedikit aneh dengan ucapan mantunya itu, ternyata selama ini Defi telah menganggap rumah suaminya itu rumahnya sendiri.


Mesti merasa tak senang dengan pengakuan Defi, Mang Ojo tetap menyikapinya dengan bijak, agar Defi tidak merasa tersinggung.


“Iya, Pak.”


“Bukankah saat itu Nurul menolak untuk kita nikahkan dengan Riza.”


“Iya, pak.”


“Tapi demi menyelamatkan anak-anak panti, dia terpaksa harus mengorbankan cinta dan perasaannya, semestinya kau menghargai itu, mesti sedikit.”


Defi tampak diam mendengarkan penjelasan dari mertuanya itu, namun mesti dia diam, Defi tetap mendengarkan dan menyimak satu persatu ucapan mertuanya itu.


“Bukan putramu yang pergi, harta Bapak juga ludes, kamu lihat sendirikan?”


“Tapi rumah Bapak udah mereka ganti kan, lalu gimana dengan putra ku.”


“Kamu emang benar, kalau saat ini rumah Bapak udah mereka ganti kembali, tapi itu hanya sekedar hunian sementara saja nak, bukan untuk selamanya.”


“Maksud Bapak apa?”


“Hunian yang aslinya hanya ada di sisi Allah, dan belum diberikannya kepada kita, kamu tau kenapa?”


Defi tak menjawab, akan tetapi dia menggelengkan kepalanya, pertanda, dia masih merespon pertanyaan yang dia ajukan Mang Ojo pada dirinya.


“Bersabar dan ikhlas, hanya itu jawabannya.”

__ADS_1


“Aku nggak ngerti, maksud Bapak.”


“Kalau rumah di dunia ini hanya hunian sementara, maka yang aslinya ada di dalam surganya Allah, sedangkan putra kecilmu, telah menanti kita semua di sana, lalu siapa yang beruntung, Bapak atau kamu?”


“Aku Pak,” jawab Defi dengan suara lembut.


“Tapi dengan satu catatan, harus sabar dan ikhlas, ikhlas bagai mana? ikhlas dalam menerima apa-apa yang telah menjadi ketentuan Allah, karena semua yang terjadi di dunia ini, dan menimpa pada diri seseorang, itu sudah merupakan ketentuan yang telah ditetapkannya.”


“Iya, Pak.”


“Kamu udah mengerti Nak?”


“Udah Pak.”


“Jadi ini semua bukan salah Nurul, karena dalam masalah ini Nurul juga menjadi korban, dan bahkan kita sendiri yang mengorbankan nya, demi siapa? Demi nyawa anak-anak panti yang kelaparan.”


Mendengar penjelasan dari Mang Ojo, hati Defi menjadi senang, pikirannya yang tadi mengandung rasa sakit dan benci, berubah menjadi rasa penyesalan, tanpa di suruh oleh Mang Ojo, akhirnya Defi keluar dengan sendirinya.


Defi meminta maaf dan memeluk tubuh adiknya itu, karena selama ini, Defi juga mengetahui kalau Nurul memang mereka korbankan saat itu, demi anak-anak panti yang kelaparan.


“Maafkan kakak, dek. Karena kakak telah salah menilai mu selama ini.”


Nurul yang merasa sedikit di hargai, hatinya menjadi senang, rasa sakit yang tadinya dia rasakan telah berubah menjadi perasaan bahagia.


Semua tampak tersenyum bahagia di saat itu, senyum yang tak dapat di bayar dengan segenggam emas.


“Putra ku ini, juga telah menjadi putra kakak juga, aku nggak merasa keberatan kok, kalau sewaktu-waktu kakak datang untuk membawanya.”


“Benarkah itu sayang?”


“Iya, kak.”


“Terimakasih ya dek, atas pengertiannya.”


“Sama-sama kak.”


Seperti satu saudara yang utuh mereka semua, berkumpul dan tersenyum bersama, rasa sedih dan bahagia mereka nikmati bersama-sama.


“Ya udah, kayaknya aku mesti pulang nih, nanti Papa kecarian lagi.”


“Iya, sayang, hati-hati di jalan,” ujar Fatma pada Nurul.


“Iya, Bu.”


Setelah mereka berpamitan, Nurul pun kembali pulang kerumahnya bersama Rohana, bersama Rohana, Radit pun tumbuh sehat dan kuat.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2