
Pernikahan yang akan diaksanakan serentak akan menelan banyak biaya, tapi Alhuda dan Intan sudah siap dengan semua itu, tanpa melibatkan kedua orang tuanya.
Pernikahan yang telah direncanakan secara matang dengan menelan banyak biaya itu, ternyata tak seindah yang dibayangkan, oleh keluarga Mang Ojo.
Disaat pernikahan akan di laksana, sang penghulu pun sudah datang, para undangan sudah ramai memenuhui rumah pesta, bahkan rumah Mang Ojo yang besar itu kini menjadi sempit karena sarat oleh banyaknya tamu undangan.
Resti yang tak pernah merestui pernikahan Ranita dengan Alhuda, merasa kesal dan marah pada Suaminya Margono, karena telah merestui pernikahan putrinya tanpa sepengetahuan dirinya.
Disaat Ijabqobul akan dimulai, tiba-tiba saja Mama Ranita muncul dengan berbagai spekulasi dan modus.
“Tunggu ! teriak Resti, ketika Margono akan menjadi wali di pernikahan putrinya itu.
Mendengar suara Resti yang begitu lantang, semua mata langsung tertuju padanya.
“Siapa yang ngizinin Ranita menikah dengan anak pemulung ini Pa ?”
“Aku yang ngasih izin dia Ma !”
“Nggak bisa gitu dong !”
“Kenapa nggak bisa ?”
“Ini udah di luar kesepakatan kita Pa !”
“Kesepakatan apa Ma ? Papa nggak pernah membuat kesepakatan dengan Mama ?”
“Yang jelas aku nggak mau menikahkan putri ku, dengan anak seorang pemulung ! jelas-jelas dia membawa Bibit, bebet dan bobot yang nggak baik, kenapa mesti dipaksakan juga untuk menikah !”
“Nggak bisa gitu dong, Ma !”
“Harus bisa !” jawab Resti seraya menarik tangan Ranita yang saat itu sedang berada dihadapan penghulu.”
“Lepaskan dia Ma !”
“Nggak akan !” teriak Resti seraya berusaha untuk keluar dari kerumunan orang banyak.
Di saat resti berusaha memaksakan kehendaknya kepada Ranita, namun Ranita juga sedang berharap pada Papanya agar tangannya terlepas dari genggaman Mamanya.
“Pa, tolong aku !” teriak Ranita seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Mamanya.
“Lepaskan dia Resti !” teriak Margono begitu keras.
Walau sekeras apapun Margono berteriak, namun Resti tetap pada pendiriannya, membawa putrinya pergi sejauh yang dia bisa.
Melihat kejadian itu Alhuda hanya bisa menahan rasa pilu dan sedih, hatinya terasa begitu hancur saat itu, air matanya mengalir sederas dan sekencang Resti menarik tangan calon istrinya.
__ADS_1
Resti telah mencoba memamfaatkan kesempatan yang ada untuk menyudutkan keluarga Mang Ojo dan menjatuhkan harga dirinya didepan para tamu undangan.
“Papa ! tolong aku ! aku hanya mau menikah dengan Alhuda, bukan pria lain !” jelas Ranita seraya terus meronta untuk dilepaskan.
“Kau ini benar-benar keterlaluan Resti ! kau bukan saja mencoreng nama keluarga Alhuda, tapi kau juga merusak reputasiku di hadapan semua orang.” Gerutu Margono dengan kesal.
Di dekat mobilnya, Resti melepaskan tangan Ranita dari genggamannya dan Ranita langsung berlari mengejar Papanya yang sudah semakin mendekat.
“Apa ! Papa mau membela keluarga pemulung itu, ketimbang Mama !” bentak Resti dengan berlagak pongah.
“Sadar Ma ! apa yang kau lakukan itu tadi, sama artinya kau telah menjatuhkan harga dirimu sendiri. Kenapa kau harus berperilaku seperti itu ? bukankah kau seorang yang berpendidikan !”
“Mama nggak perduli, yang penting Mama nggak akan izinkan Ranita menikah dengan anak pemulung itu !”
“Papa sudah ngizinin mereka menikah Ma, dan hal itu nggak bisa lagi dicabut.”
“Itu kan salah Papa sendiri ! sejak kapan sih, Papa punya keberanian membantah Mama !”
“Semenjak harga dirimu kau rendahkan, dihadapan orang banyak.”
“Sudah, sudah, sudah ! aku capek tau ! kenapa sih kalian selalu saja bertengkar, aku capek mendengarnya Pa, Ma !”
“Mama mu itu, yang keras kepala, nggak bisa diajari jalan yang lurus, selalu saja memilih jalan yang bengkok. Nggak pernah patuh pada ucapan suami.” Jawab Margono kesal.
“Terserah !” bantah Resti sembari naik keatas mobilnya.
“Ayo sayang ! kita kembali ke pernikahan.” Ajak Margono pada putrinya.
“Ayo, Pa.”
Namun Resti yang melihat putrinya kembali bersama suaminya ketempat Mang Ojo, darahnya terasa mendidih, jantungnya panas seperti hendak membakar apa pun yang ada disekitarnya.
“Hei ! kalian mau kemana ?” teriak Resti marah.
“Kenapa ? apa kau mau ikut ?” jawab Margono sembari terus melangkah menjauhi Resti.
“Tunggu Pa ! sebenarnya apa maksud semua ini ? bukankah Papa udah tau sendiri kan, kalau Mama nggak merestui pernikahan mereka, lalu kenapa Papa tetap bersikukuh untuk tetap menikahkan putri kita dengan anak pemulung itu Pa?”
“Maafkan Papa, Ma ! karena tampa sepengetahuan Mama, Papa telah merestui pernikahan Ranita, Mama tau kenapa ? karena Papa nggak mau ikut-ikutan jadi orang tua yang dianggap diktator seperti Mama.”
Seraya menangis histeris, Resti mencoba duduk di samping mobilnya, walau terpuruk tapi bukan berarti dia merenungi nasib buruknya, akan tetapi Resti mencoba menyusun siasat untuk menyudutkan keluarga Mang Ojo di hadapan orang banyak.
Diam-diam Resti masuk kedalam kerumunan orang banyak dan dia menghampiri Retno untuk menghasut.
“Kau Mamanya anak itu kan ?” tanya Resti seraya menunjuk Niko.
__ADS_1
“Iya, kenapa ?”
“Jadi kau ikut merestui pernikahan putramu dengan anak pemulung itu ?”
“Iya, emangnya kenapa ?”
“Apakah kau nggak tau sebelumnya, kalau perempuan itu putri seorang pemulung ?”
“Tau ! dan bahkan putraku sudah memberitahukan sebelum dia menikah dengan gadis itu.”
“Lalu, kau langsung merestui !”
“Sebenarnya, aku nggak merestuinya, tapi putra ku bersikeras, dan bahkan dia siap pergi dari rumah, jika aku nggak merestui pernikahannya.
“Sama dengan putri ku, dia lebih memilih bunuh diri, jika aku nggak merestui pernikahannya.”
“Apa iya, begitu ?”
“Iya, aneh kan ? atau jangan-jangan keluarga pemulung itu menggunakan dukun untuk mempengaruhi putra putri kita.”
“Kalau begitu putra putri kita dalam bahaya dong.” Jawab Retno.
“Itu makanya, kau hentikan pernikahan mereka, sebelum semuanya berlanjut.”
“Tapi aku nggak berani, karena suamiku telah merestui pernikahan putranya.”
“Sama, padahal suamiku, pertama kalinya nggak merestuinya lho, akan tetapi tiba-tiba saja suamiku berubah dan merestui putrinya menikah.
“Anehkan, padahal ini bukan cara pandang kita berdua lho, ini seperti kenyataan kan ?”
“Iya, seperti satu kenyataan.” Jawab Resti begitu yakin dengan apa yang dikatakan Retno padanya.
Kemudian Resti dan Retno sudah sepakat untuk bekerja sama menghina Mang Ojo dan keluarganya.
Di saat ijab kobul kembali akan dimulai, tiba-tiba saja Resti muncul lagi di antara mereka semua.
“Pernikahan ini batal ! karena saya nggak pernah menyetujui putri saya menjadi bagian keluarga pemulung.
“Ma !” teriak Ranita.
“Kalian sengaja memanfaatkan anak saya, agar derajat kalian terangkat dari keluarga pemulung menjadi konglomerat. Begitu kan ?”
Semua tampak diam di saat Resti berkoar-koar di antara para tamu undangan yang begitu banyak sekali.
“Berhenti Ma !” teriak Pak Margono.
__ADS_1
Bersambung...