Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 56 Berita Duka


__ADS_3

“Lubuk hati ku yang paling suci nggak boleh di isi dengan kata-kata muluk dari pria yang bukan muhrimnya. Tapi lubuk hati ini hanya di isi oleh kata-kata suci dari suami ku nantinya.


“Oh bunga ! lalu aku mesti gimana ?”


“Kau kuliahlah yang benar, tunjukan pada kedua orang tua mu, kalau kau adalah seorang anak yang berbakti pada mereka.”


“Apa hubungannya, seorang anak yang berbakti dengan di terimanya cinta ku.”


“Pasti ada, kamu carilah sendiri jawabannya.” Kata Nurul sembari menuju kamarnya dan meninggalkan Randi sendirian diluar.


“Aneh ! perempuan di dunia ini pada aneh semua, kecuali Ibu ku.” Gerutu Randi pelan.


Sementara itu, Nurul yang pergi meninggalkan Randi, sebenarnya hatinya ingin sekali dekat dengan pria, yang di hari pertama di lihatnya, telah membuatnya jatuh hati.


Tapi baginya tak semudah itu mempercayai lelaki mana pun, karena lelaki yang tak bertanggung jawab, selalu saja merayu dan menggombal lawan jenisnya.


“Hm, semoga saja kau bukan bagian dari pria yang ku maksud Randi.” Gumam Nurul pelan.


Setelah dihari keempat Nurul merawat Randi. Pria itupun dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang ke kontrakannya di Semarang. Suasana hati Randi yang masih di masa penantian, selalu bermohon dan berdo’a kepada Allah, agar di bukakan pintu hati Nurul untuk bersedia menerima cinta suci darinya.


Benar saja, ternyata Allah mengabulkan do’a dari anak yang sholeh. Di hari keempat itu pula Nurul memberi jawaban atas pemintaan Randi padanya.


“Gimana ? katakan lah, karena besok aku harus pergi ?” tanya Randi yang begitu berharap sekali.


“Baiklah, kau ku terima, tapi ingat ! hanya sebatas kekasih di atas kertas, karena kau belum menyelesaikan studi mu. Nanti kalau kau telah menyelesaikan studi mu, baru kau boleh mendekati ku lebih jauh lagi.


“Lalu apa jawaban dari anak yang berbakti semalam ?”


“Seorang anak yang taat dan patuh serta sayang kepada kedua orang tuannya, pasti dia sangat menyayangi istrinya.”


“Ooo, begitu ya.”


“Iya.” Jawab Nurul sembari meninggalkan Randi sendirian.


Keesokan harinya Zaki mengantarkan Randi kekontrakannya. Di atas mobil tampak Randi tersenyum-senyum sendiri, hatinya merasa begitu senang, walau hanya di jadikan kekasih jarak jauh, tapi Randi merasa puas saat itu.


“Terimakasih Bang, atas semuanya.” Kata Randi dengan suara lembut.


“Iya, sama-sama.”


“Tapi, Bang ?”


“Ada apa Randi ?” tanya Zaki heran.


“Terus terang ada yang mengganjal di lubuk hatiku saat ini, Bang.”

__ADS_1


“Apa itu ?” tanya Zaki ingin tau.


“Maaf terlebih dahulu, tapi hal ini tak bisa kupendam sendiri, sebenarnya aku benar-benar mencintai Nurul.” Jelas Randi pada Zaki.


“Hah ! baru lima hari dirumah Abang, kau bisa jatuh cinta begitu cepatnya ?”


“Lalu, aku mesti gimana Bang, perasaan ini tak dapat dipungkiri. Aku terpaksa harus berterus terang, dari pada nanti Abang akan mengira ku yang bukan-bukan.”


“Abang nggak keberatan, asalkan hal itu nggak mengganggu kuliahmu. Ingat ! kedua orang tuamu sangat mempercayai mu, jangan kau abaikan pengorbanan dan kepercayaannya.” kata Zaki sekedar mengingatkan Randi.


“Insya Allah, Bang. Nasehat dari Abang akan selalu ku ingat.”


“Bagus itu.”


“Alhamdulillah ! kita udah nyampe Bang. Terimakasih banyak !” Kata Randi sembari mencium tangan Zaki.


“Udah, nggak perlu dipikirkan ! pesan Abang, kuliah yang benar, cari pekerjaan yang layak. Abang pasti merestui hubungan kalian berdua.”


“Baik, Bang ! kalau begitu aku akan bersungguh- sungguh belajar !”


“Bagus itu. Jawab Zaki seraya tersenyum manis. “Ya udah, selamat belajar. Kapan kau punya waktu datanglah ke Jakarta.”


“Baik, Bang.”


Randi menerima uang yang diberikan Zaki padanya dengan senang hati. “ Terimakasih Bang, atas semuanya.”


“Iya, sama-sama. Assalamu’alaikum !”


“Wa’alaikum salam.” Jawab Randi dengan sura lembut.


Setelah berpamitan Zaki pun berlalu dari hadapannya, amplop itupun segera dibuka Randi, tapi alangkah terkejutnya dia, ternyata amplop itu berisi uang sebanyak lima juta rupiah.


“Astagfirullah ! isinya banyak sekali ?” kata Randi seraya melempar amplop ditangannya, karena kaget.


Sungguh diluar dugaan Randi, amplop yang diperkirakannya hanya berisi sekitar puluhan ribu saja, ternyata berisi jutaan. Sejak saat itu, Randi berjanji akan bersungguh-sungguh belajar, dia tak mau mengecewakan orang yang telah baik padanya.


Setelah membuka amplop itu, Randi langsung berlari menuju kamarnya, seraya menghampiri pintu kamar itu, Randi berteriak-teriak memanggil sahabatnya Sutoni.


“Toni ! Sutoni ! aku udah datang !” kata Randi dengan senangnya.


“Tok, tok, tok ! assalamu’alaikum ! Ton, Toni ! kok nggak ada orang ya ? pada kemana dia ini, kok pintu masih dikunci ?” merasa heran karena Toni nggak datang, Randi mencoba untuk tidur tiduran di depan rumah kontrakannya, sembari membayangkan wajah Nurul.


Tidak berapa lama kemudian, krisna datang menghampiri Randi yang sedang tiduran di depan kamar kontrakannya.


“Hei Ran ! udah lama nggak kelihatan, kemana saja kau !”

__ADS_1


“He, Kris ! tapi tiga minggu yang lalu aku mengalami kecelakaan bersama Toni, di kilo meter tiga belas. Mungkin karena luka di bagian kaki ku sangat parah, itu sebabnya mereka merujuk aku ke Jakarta.”


“O, gitu.”


“Iya, Kris, tapi semenjak itu aku belum pernah mendapat kabar dari Toni, apakah dia udah kembali sehat, atau masih dirumah sakit.”


“Jadi kamu nggak tau keadaan Toni, sampai saat sekarang ini ?”


“Nggak Kris, rencananya aku mau ngasih kejutan buat Toni, tapi ternyata dia sedang pergi kuliah, biarlah ku tunggu aja dia disini.”


“Ran, sebenarnya Toni udah meninggal, sewaktu kecelakaan itu.”


“Ah, yang benar kamu Kris ?” tanya Randi tak percaya.


“iya Ran ! Toni udah meninggal saat kecelakaan itu, kepala bagian belakangnya memar parah, sehingga terjadi pendarahan pada otaknya.”


“Ya Allah, Toni ! huhuhuhu ! oh maafkan aku Ton !” ucap Randi sembari menangis histeris.


“Papa dan Mamanya yang langsung menjemput mayat Toni kerumah sakit, Ran.”


“Oh, kasihan sekali kamu Ton, jika saja hari itu kita nggak ke Jakarta, pasti semua ini nggak bakalan terjadi.”


“Udahlah, Ran, semuanya udah terjadi dan kamu nggak perlu menyesalinya.”


“Lalu gimana dengan semua barang miliknya ?”


“Masih di dalam, belum ada yang datang mengambil.”


“Terimakasih Kris, atas informasinya.”


“Iya, Ran.” Jawab Krisna seraya tersenyum lebar.


“Kamu tau Kris, dimana kunci rumah ini sekarang ?”


“Ada bersama Ibu kos, kalau kau mau biar ku hantarkan kau kesana.” Jawab Krisna.


“Baiklah, mari kita kesana sekarang.” Ajak Randi pada Krisna.


Lalu mereka berdua, berjalan menuju rumah pemilik kontrakan. Setibanya di depan rumah kontrakan itu, Krisna langsung mengetuk pintu.


“Tok, tok, tok !”


“Siapa ?” tanya seseorang yang berada di dalam rumah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2