
“Jadi Abang mau mengusir aku,” ujar Randi sembari membanting gelas yang berada di tangannya keatas meja, sehingga air di dalam gelas itu berserakan mengenai makanan yang berada di atasnya.
“Ya, bahkan lebih dari itu. Mulai hari ini kau nggak usah datang lagi kerumah ini!” bentak Zaki dengan suara keras.
“Dasar keluarga aneh!” gerutu Randi pada Zaki.”
Mendengar ucapan dari Randi, Zaki hendak mengejarnya, tapi Fatma telah mencegahnya dan membiarkan Randi pergi.
“Dia telah menguji kesabaran ku Ibu.”
“Biarkan dia pergi nak, yang kamu lakukan tadi sudah lebih dari cukup, kita jangan menambah beban Nurul menjadi bertambah berat lagi.”
“Baik Bu,” jawab Zaki mematuhi ucapan Ibunya.
Setelah kepergian Randi yang penuh amarah itu, Zakia dan Leni kembali membersihkan meja dan menata ulang semuanya agar tampak rapi kembali.
“Saya rasa Neng Nurul menyesal ya, menikah dengan pria seperti dia?”
“Ibu rasa begitu, Kia. Awalnya baik, eh nggak Taunya jadi berbalik begitu ya, untung saja baru menikah, kalau nanti udah punya anak gimana, gawat lah.”
“Semoga saja anak ku nggak seperti itu nantinya, Bu. semoga saja dia kelak menjadi orang baik.”
“Aamiin!” jawab Leni sembari tersenyum manis.
“Udah selesai meja makannya Kia?” tanya Fatma yang masih berada di ruang tamu saat itu.
“Udah, Bu,” jawab Kia sembari meninggalkan ruang makan itu, setelah Zakia dan Leni pergi, Mang Ojo langsung keluar dari kamarnya, melihat suasana sepi, Mang Ojo pun duduk di di tempat yang biasanya, menyusul Fatma dan yang lainnya.
Mereka semua menikmati makanan yang telah di hidangkan tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun.
Selesai sarapan mereka semua kembali beraktifitas seperti biasanya, Fatma kebutik bersama Ema, sementara Zaki dan istrinya kerumah sakit untuk bertugas.
Begitulah setiap harinya keluarga Mang Ojo beraktifitas mencari kesibukan mereka masing-masing.
Sementara itu nun jauh disana, kedua orang tua Randi mendengar kabar tentang pertengkarannya dengan Nurul, hati keduanya menjadi sedih.
Rumana hingga subuh dia tak bisa tidur sama sekali, mesti dia telah menjadi orang kepercayaan Intan, tapi Rumana belum punya banyak uang untuk biayanya ke Jakarta.
“Lalu Ibu mesti gimana nak?”
“Ibu datanglah ke Jakarta, nanti soal biaya biar aku yang tanggung,” ucap Randi pada Ibunya.
“Nggak bisa gitu lah, nak. Untuk biaya ke Jakarta itu sendiri Ibu nggak punya uang.”
“Kalau begitu biar Randi yang belikan tiket pesawat untuk Ibu dan Ayah.”
“Boleh, biar nanti, Ibu mampir di rumah Neng Intan.”
“Ngapain kesana Bu?”
“Kok kamu ngomongnya gitu sih, nak? Intan itu kan majikan Ibu di Padang Ini, lagian keluarganya telah mengangkat martabat kita nak, menjadi orang yang hidup sederhana.”
__ADS_1
“Aku juga bisa kok, bangunkan Ayah dan Ibu rumah.”
“Udah, nggak usah banyak bicara kamu, rumah untuk kalian berdua saja, kau belum sanggup untuk membuatnya, gimana mau membangun rumah untuk Ayah dan Ibu di kampung.”
Mendengar ucapan dari Ibunya itu, hati Randi terasa begitu sakit sekali, mesti ucapannya itu benar, tapi hal itu telah merendahkan harga dirinya sebagai seorang suami.
Seminggu setelah kejadian itu, Nurul datang ke rumah orang tuanya di Kawasan kumuh, dari halaman rumahnya, Fatma mendengar suara deru mobil berhenti di parkiran, Fatma langsung berlari keluar melihat siapa yang datang.
“Ibu!” seru Nurul sembari berlari memeluk Ibunya.
“Kenapa kau datang sendiri sayang, Mana suami mu?”
“Randi, maksud Ibu?”
“Iya, kemana dia, kenapa kau nggak datang bersamanya?”
“Bukankah Bapak bilang, kalau dia ada disini?”
“Jadi semenjak hari itu, dia belum pernah pulang kerumah,” tanya Fatma heran.
“Belum,” jawab Nurul singkat.
“Udah satu minggu loh, dia pergi.”
“Biarkan saja Bu, nanti kalau udah bosan keluyurannya, dia pasti pulang kok, nggak usah cemas,” jawab Nurul dengan gamblangnya.
“Suami nggak pulang kerumah, kamu tanggapi dengan santai?”
“Lalu aku mesti gimana Ibu sayang, aku ini kan perempuan, apa aku mesti acak-acak semua isi kota Jakarta ini untuk mendapatkan dia, nggak mungkinkan Bu.”
“Sebenarnya kamu ini kenapa sih, sayang, apakah kau belum siap untuk berumah tangga, lihatlah saudara mu yang lainnya, mereka begitu gigih mempertahankan rumah tangganya, mesti begitu berat rintangan yang mereka hadapi.”
Mendengar Fatma bicara, Nurul hanya diam saja, tak sepatah pun kata Ibunya yang dijawab dan di bantahnya, sebenarnya Nurul sendiri tak tau kalau Randi itu telah pergi dari rumah orang tuanya, namun hatinya masih terlalu sakit untuk kembali baikan.
“Kenapa sih, dia pergi dari rumah ini Bu?”
“Dia, dia siapa maksud mu nak?”
“Randi.”
“Itu suami mu sayang, jangan kau ucapkan kata itu lagi, nanti kau tenggelam dalam api neraka yang membara, jika kau tak menghormatinya sebagai suami.”
“Baiklah Bu, nanti sore akan ku putari kota Jakarta ini, untuk mencari keberadaannya.”
“kau pergi dengan siapa sayang?”
“Sendiri Bu,” jawab Nurul pelan.
“Suamimu kami usir dari rumah nak.”
“Kenapa?”
__ADS_1
“pagi itu, dia duduk sendiri di meja makan dan mengacak semua masakan yang telah di hidangkan Zakia dan Leni, lalu Zaki marah dan mengusirnya dari rumah.”
“Ooo, bagus itu, biar dia tau diri.”
“Maksud mu apa sayang?”
“Kalau dia di beri pelajaran begitu, suatu saat dia pasti mengerti, kalau tidak semua perbuatan yang dia lakukan menerutnya baik tapi belum tentu baik menurut pandangan orang lain.”
“Ibu, heran, kenapa dia begitu cepat sekali berubah, padahal sewaktu kalian belum menikah, dia begitu baik dan santun pada kita.”
“Aku juga nggak tau, Bu.”
“Perbanyaklah berdoa, semoga Allah memberi petunjuk untuk nya.”
‘Ya semoga saja begitu,” jawab Nurul sembari meninggalkan Ibunya yang sedang bicara dengannya.
“Kau mau kemana sayang?”
“Nyariin Bapak, Bapak mana Bu?”
“Ada di kamarnya.”
Mendengar ucapan dari Ibunya, Nurul langsung masuk kedalam kamar Bapaknya, yang saat itu, Mang Ojo sedang asik membaca koran.
“Bapak!”
“Eh, putri Bapak, kapan nyampainya sayang?”
“Barusan,” jawab Nurul seraya membantu Mang Ojo berdiri.
“Mana suami mu, kok dia nggak ikut kesini?”
"Dia belum pernah pulang semenjak hari itu, Pak.”
“Berarti udah satu minggu lebih dong.”
“Iya, sepetinya dia masih kesal dengan aku, Pak.”
“Dia itu bukan kesal dengan kamu nak, tapi dia itu merasa tersinggung dengan keluarga kita, karena hari itu Abang mu telah mengusirnya keluar dari rumah ini.”
“Iya, Ibu udah cerita tadi diluar, biarkan saja, Pak, nanti kalau dia sadar dia pasti akan kembali kerumah.”
“Tapi Bapak nggak yakin, kalau dia mau kembali kerumah mu, kalau kau nggak menjemputnya sayang.”
“Aku mesti jemput kemana Pak, keliling kota Jakarta gitu.”
“Iya, juga sih.”
“Ya udah, mulai besok, aku pulangnya kerumah ini saja, karena di rumahku yang besar itu, terasa sepi sekali.”
“Iya, sayang, kau boleh tinggal dirumah ini sesuka hati mu,” ujar Fatma senang.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*