
“Sebelumnya, Tante Meri juga memaksaku untuk memberinya uang, tapi karena aku takut pada Abang, makanya uang belanja dapur yang sering ku berikan padanya.”
“Berapa Lia berikan ?”
“Kadang tiga ratus dan terkadang empat ratus ribu.”
“Udah berapa kali sayang ?”
“Udah sering Bang.”
“Kurang ajar, ternyata dia mau memeras keluargaku.” gerutu Dika pelan. “O iya sayang, berapa rupanya tante Meri mau minta uang padamu ?”
“Katanya, satu miliar.”
“Apa ? satu miliar ! Astagfirullah, dia benar-benar mau memeras kita sayang.”
“Benarkah itu Bang ?”
“Iya sayang, dia itu hanya tante yang ingin merampas harta kita sayang.”
“Lalu aku mesti gimana Bang ?”
“Emangnya tante Meri ada minta lagi selain itu ? udah berapa kali dia minta uang padamu ?”
“Udah sering Bang, kadang dia minta satu juta dan kalau aku bilang nggak ada uang, tante hanya minta lima ratus ribu saja.”
“Ini nggak bisa dibiarkan, sayang.” Jawab Dika geram. "O iya, apa Lia masih ingat rumah Pak Joko, ayah angkat mu itu ?”
“Masih Bang, tapi aku nggak yakin kalau mereka masih berada disana.”
“Tak penting, yang jelas kita harus cari mereka terlebih dahulu, agar kita bisa aman dari pengaruh buruk perempuan itu.”
“Baik Bang.” Jawab Lia sembari menganggukkan kepalanya.
Memang sangat sulit untuk diterima Dika, Selain menguras hartanya, Meri juga selalu menekan Yulia istrinya. Sehingga Yulia tampak begitu ketakutan.
Diperjalanan Yulia tampak diam saja, rasa bersalah dihatinya, akibat perempuan itu, membuat rumah tangganya terombang ambing tak menentu.
Setelah tiba di suatu tempat, Yulia mengajak Dika turun dari mobil.
“Ayo kita lihat disini Bang, barang kali mereka udah pindah ketempat ini !” ajak Yulia pada suaminya itu.
“Kamu yakin, orang tua mu itu pindah ketempat ini ?”
“Kita tengok dulu Bang, siapa tau Mereka pindah ketempat ini.”
“Baik sayang, kita turun disini saja.” Kata Dika mengiringi langkah kaki istrinya.
Tapi setelah sekian rumah di tanya, tak seorangpun yang tau dimana keberadaan orang tua angkat Yulia itu.
“Sejak kapan kau berpisah dengan ayahmu Lia ?”
“Sejak aku berusia delapan tahun.”
__ADS_1
“Kenapa pergi dari rumah ?”
“Saat itu Ayah menyuruh ku pergi mengamen, tapi ketika aku hendak pergi, tiga orang pria menangkap ku, dan mereka membawa ku ketempatnya. Mereka bertiga memerintahkan kami mengamen, uang dari hasil ngamen kami serahkan padanya.”
“Untuk apa ?”
“Untuk berfoya-foya Bang ! mereka minum dan mabuk-mabukan di jalanan.”
“Ooo, begitu ya.”
“Tapi karena merasa nggak tahan akhirnya aku kabur dari mereka. Sejak itu aku hidup sendiri di jalanan, hingga Abang menyelamatkan aku.”
“Malang sungguh nasibmu Lia, Abang janji nggak akan pernah menyia-nyiakan mu.”
“Makasih Bang, telah menolong aku, itu artinya abang telah menyelamatkan kehormatan aku dari bencana.”
“Kalau begitu, mari kita cari lagi Ayah mu, Abang yakin Ayah mu pasti berada di daerah, dimana di sanalah para pemulung meraih rezeki.”
“Baiklah, aku ikut Abang aja.” Jawab Lia tersenyum manis.
Atas kesepakatan berdua, akirnya Dika dan Yulia menyusuri daerah Kawasan kumuh dengan berjalan kaki.Karena Dika yakin orang tua angkat Yulia pasti berada disekitar Kawasan itu.
Setelah mengelilingi hampir disetiap tempat, akirnya Yulia menemukan orang tuanya .
Rasa harupun menyelimuti suasana pertemuan Yulia dengan orang tua angkatnya itu.
Hingga Pak Joko bercerita Panjang lebar dan membuka tabir yang selama ini menjadi pertanyaan dihati mereka berdua.
Pertemuan yang sangat mengharukan sekali, membuatnya tak kuasa membendung air mata. Setetes demi setetes air itu akhirnya jatuh membasahi pipi. Atas izin Dika, Pak Joko beserta istrinya dibawa kerumah mewah, dimana Dika dan Yulia tinggal.
“Benar Yah, Bang Dika yang menyuruh Ayah tinggal dirumahnya.”
“Tapi nak, rasanya Ayah dan Ibumu tak pantas tinggal dirumah kalian, kami ini kotor dan bergelimang sampah setiap hari.”
“Yah, orang tuaku dulunya juga seorang pemulung, kami hidup miskin, dan setiap hari hanya makan nasi aking. Tapi mereka tak pernah berputus asa, mereka menyekolahkan kami hingga kami berhasil.
“Benar begitu ?”
“Iya, Yah.”
“Wah ! hebat itu.”
“Dan pada akhirnya kami sekeluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk dapat mengenyam hidup bahagia. Jadi tak layak rasanya kalau aku nggak mengajak orang tua istriku bersama kami.”
“Lalu bagai mana dengan yang lainnya ?” kata Pak Joko.
“Maksud Ayah ?”
“mereka semua adalah tetangga, Ayah selama ini, bisakah kalian membantu mereka semua terlepas dari tempat kotor ini.”
“Hati Ayahmu benar-benar mulia rupanya Lia, dia nggak mau menikmati kebahagiaannya sendiri, dia mesti membawa orang lain juga untuk itu. Kalau begitu baiklah, nanti setelah saya persiapkan, baru saudara Ayah, kami carikan tempat yang layak untuk mereka.”
“benar, nak ?” tanya Pak Joko memastikan janji yang diucapkan Dika padanya.
__ADS_1
“Iya, kami janji.” Jawab Dika tersenyum.
Berita gembira itu membuat, seluruh penduduk Kawasan kumuh menjadi senang, angin sorga yang dihembuskan Dika membuat mereka menjadi tenang.
“Baiklah kalau begitu, kita berangkat.”
“Tunggu dulu, Ibu mau berkemas dulu ?” kata Nadin .
“Nggak perlu Bu, nanti pakaian Ibu akan aku belikan yang baru, begitu juga dengan Ayah.”
“lalu pakaian kami yang lama gimana ?”
“Tinggalkan aja, berikan pada orang lain.”
“Baiklah !” jawab Nadin dengan suara pelan.
“Kalau begitu mari kita berangkat.” Ajak Dika pada istri dan orang tua angkatnya.
Akirnya Pak Joko beserta istrinya ikut juga, kerumah putri angkatnya itu. Setibanya dimobil Dika, Pak joko enggan untuk naik dan memilih untuk berjalan kaki serta mengajak istrinya.
Nadin bingung mesti mengikuti siapa saat itu. Hingga diputuskannya untuk ikut jalan bersama suaminya dan meninggalkan mobil bagus itu terparkir kepanasan.
“Lho, lho, lho ! Ayah dan Ibu mau kemana Lia ?”
“Entahlah Bang, apa mau buang air kali, ya ?”
jawab Yulia yang saat itu juga kebingungan.
“Buang airnya kok jalan arah kesana Lia ? ini pasti ada yang nggak beres nih !”
“Ayah ! Ibu ! Kalian mau kemana ? Seru Lia dengan suara lantang.
“Pie toh, nduk ! katanya Ayah karo Ibu mau diajak tinggal bersamamu ?”
“Iyo, yo ! itu memang benar, tapi bukan jalan kaki ? Nih ada mobil yang membawa kalian dari tempat ini.”
“Jadi kami naik apa Lia ? naik angkot ?”
“Bukan, Ibu sayang, kita semua naik mobil Bang Dika, aja !” ajak Lia.
“Ogah ah ! ayah nggak mau naik mobil .”
“Kenapa Yah ?”
“Biar Ayah ama Ibumu jalan kaki aja, kami udah biasa kok jalan kaki.”
“Ayah, Ibu ? kalau kita jalan kaki dari sini kerumah Bang Dika, itu menghabiskan waktu selama tiga hari, apa kalian mau berjalan kaki selama tiga hari tanpa henti ?”
“Apa ? tiga hari ?”
“Iya Yah, tiga hari baru nyampe, kalau kalian nggak percaya silahkan aja bejalan kaki.”
“Nggak ! Ayah ikut kalian aja !”
__ADS_1
Bersambung...