Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 103 Pernikahan sederhana


__ADS_3

Sekitar dua jam perjalanan telah ditempuh Defi dengan menaiki pesawat, kini gadis yang berusia dua puluh lima tahun itu, tiba dirumahnya.


“Tok, tok, tok!”


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Marlina langsung bergegas menuju pintu. Tanpa berfikir panjang lagi pintu pun dibuka dengan lebar. Alangkah terkejutnya Marlina ketika dilihatnya, ternyata Defi yang datang.


“Oh, putri Bunda!” ucap Marlina seraya memeluk putrinya.


“Bunda!” jawab Defi, seraya memeluk Marlina dan menciumnya dengan lembut.


Air mata Marlina berderai membasahi kedua pipinya, rasa haru karena bertemu dengan putri bungsunya membuatnya menangis.


“Kenapa balik nggak ngasih tau Bunda Nak?”


“Aku pulang mendadak Bu,” jawab Defi sembari duduk di samping Marlina.


“Mendadak gimana maksud mu?”


“Di Jakarta, tempat Aku tinggal, mereka orang kaya raya, dia juga punya seorang anak dokter dan kami sama-sama pulang dan pergi kerumah sakit, setelah beberapa tahun tinggal bersama mereka, lalu Bapak pria itu menjodohkan kami berdua.”


“Benarkah, begitu?”


“Iya Bu,” jawab Defi dengan suara lembut.


“Oh, anak Bunda menikah dengan orang kaya di Jakarta, syukurlah!” teriak Marlina kesenangan.


Di saat itu terbayang oleh Marlina, betapa senangnya hidup bergelimang harta. Dengan harta yang banyak Marlina bisa membeli apa saja yang di inginkannya, perhiasan, alat kosmetik yang mahal dan mobil yang mewah, seperti orang kaya lainnya.


Di saat Marlina sedang berhayal, Defi menepuk pundak Bundanya, sehingga Marlina pun terkejut.


“Ada apa sih, DefI. Kenapa kamu ngagetin Bunda?”


“Bunda mulai berkhayal ya?”


“Hee, siapa yang berhayal, Bunda hanya membayangkan betapa enaknya jadi orang kaya!”


“Ingat, Bu, aku nggak mau Bunda buat aku malu nantinya.”


“Tenang aja, Bunda nggak akan bikin malu siapa-siapa termasuk kamu dan calon besan yang kaya raya.


“Jadi, Bunda setuju kan, dengan keputusan ini?”

__ADS_1


“Setuju dong, Bunda sangat setuju sekali, lebih cepat kalian menikah, maka Bunda akan lebih senang.”


Setelah Marlina menyetujuinya, Feri juga ikut merestui keputusan itu, lalu kabar pun di kirim ke Jakarta lewat surat resmi.


Betapa senang hati Zaki setelah dia membaca isi surat yang dikirimkan Defi untuk nya, dengan berlari kesenangan, Zaki memberi tahukan kabar gembira itu pada Bapak dan Ibunya.


Setelah mereka semua sepakat, lalu Mang Ojo dan yang lainnya bertolak menuju kota Padang, Intan dan Niko yang saat itu berada di kota Padang ikut serta menanti rombongan di bandara Minang Kabau.


Dengan dada yang terasa sesak, Defi beserta keluaga juga menanti kedatangan Mang Ojo, mesti mereka sama-sama menanti orang yang sama, namun mereka tak saling mengenal satu sama lainnya, bahkan Intan sempat tersenyum pada Defi di bandara.


“Benar Nenek dan Kakek mau datang sekarang, Ma?”


“Iya, sayang. Sabarlah sebentar lagi juga mereka bakalan turun,” jawab Intan dengan resah.


“Kamu kelihatan resah sekali sayang, cobalah sedikit tenang,” ujar Niko menasehati istrinya.


“Baik, Bang.”


Sebenarnya bukan hanya Intan saja yang merasa resah, Niko pun juga tak sabaran melihat kedatangan mereka semua, ketika mereka melihat Mang Ojo mulai keluar, barulah Intan menjerit senang.


“Bapak! Bang itu Bapak dan Ibu, udah keluar!” teriak Intan dengan suara lantang.


Mendengar Intan kegirangan melihat kedatangan Mang Ojo sekeluarga, hati Defi merasa heran, dan bertanya-tanya dalam hatinya.


Di saat Intan dan Niko memeluk Mang Ojo dan keluarga yang lain, hati Defi semakin heran, perasaannya sudah langsung berubah saat itu, tentang maksud itu semua, Defi takut, kalau kehadiran mereka semua bukan untuk dirinya.


“Mana sih, calon besan Bunda itu?” tanya Marlina pada putrinya.


“Ya ini dia, Bu,” jawab Defi menjelaskan pada Bunda nya.


Karena merasa tak nyaman, Defi berencana untuk membalikan tubuhnya, akan tetapi Zaki memanggil dirinya.


“Defi! mana Ayah dan Bunda mu?”


Saat itu barulah Defi tersenyum manis, wajahnya yang dirundung rasa kecewa itu, seketika berubah menjadi cerah.


Lalu Defi pun menggandeng Ayah dan Bunda beserta keluarganya yang lain untuk di perkenalkan pada Mang Ojo dan yang lainnya.


“Ini Namanya Intan, dia ini kakak perempuan Zaki yang sedang berada di kota Padang ini mengurus restorannya.”


“Ooo, sepertinya saya pernah melihat anak Bapak, tapi dimana ya?” ujar Marlina sembari berfikir sejenak.

__ADS_1


“Saya ada di restoran Berkah, Bu.”


“Ya, benar, kalau nggak salah Ibu melihat mu di situ, udah lama kamu buka restoran di sini, nak?”


“Udah, Bu. udah lima tahun,” jawab Intan seraya tersenyum manis.


“Ooo, begitu ya, masakan dari restoran mu enak lho!” kata Marlina seraya mencolek wajah Intan.


Intan hanya tersenyum senang, ketika masakan dari restoran di puji didepan semua orang.


Setelah mereka selesai bicara. Pak Feri langsung mengajak mereka menuju kampung halaman, tempat Defi di lahirkan.


Suasana alam yang asri, membuat sejuk mata memandang, air terjun yang tercurah deras dari bukit yang tinggi membuat hati meraka serasa berada di alam lain.


Hamparan bukit yang menghijau, luasnya sawah yang terbentang, serta gemericik suara air yang mengalir di antara bebatuan, membuat sejuk mata yang memandang.


“Kampung halaman mu sangat Indah Defi, Bapak merasa betah tinggal disini,” ujar Mang Ojo tersenyum manis.


Bukan hanya Mang Ojo yang merasa kagum dengan keindahan itu, seisi mobil pun merasakan hal yang sama.


Tak terasa sudah, akhirnya tibalah mereka semua di halaman rumah Defi. di dalam rumah itu mereka membuat rencana dan kesepakatan, untuk menentukan tanggal dan hari pernikahan mereka berdua.


Hari lamaran Zaki terhadap gadis impiannya telah berlangsung dengan sukses, keluarga Defi menyambut baik kedatangan Mang Ojo sekeluarga di Padang.


Semua tampak senang, pada kesemptan itu Intan mengajak keluarganya untuk mampir di restoran berkah miliknya, selain itu Intan juga mengajak mereka semua menikmati pantai Padang dan masjid termegah di Sumatra Barat.


Di dalam Masjid itu, Mang Ojo beserta rombongan menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat berjama’ah.


Satu minggu berada di kota Padang, membuat Mang Ojo sekeluarga dapat menikmati pemandangan yang begitu Indah, mereka semua kembali ke Jakarta dengan rasa senang.


Mengingat tempat mereka saling berjauhan, Mang Ojo tak mau membuat kedua menunggu begitu lama, untuk itu, satu bulan setelah kesepakatan itu, mereka pun melaksanakan resepsi pernikahan di kota Padang.


Acara meriah itu membuat kedua belah pihak menjadi senang dan bahagia, hanya perbedaan satu minggu dari acara resepsi di Padang, Mang Ojo juga menggelar acara resepsi di Jakarta.


Marlina dan Feri yang melihat besannya kaya raya, tak henti-hentinya berdecak kagum, tak ingin rasanya mereka berdua meninggalkan kota Jakarta yang begitu menjanjikan itu.


Mesti terbilang kaya raya, akan tetapi Mang Ojo menggelar acara pernikahan Zaki secara sederhana, tak ada kemewahan yang terlihat di acara itu, namun mesti demikian, acaranya tetap berjalan lancar dan ramai.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2