Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 85 Disekap


__ADS_3

Saat zaki menyuruh Bapak itu untuk makan, Bapak itu hanya menatap Zaki dengan tatapan hampa.


“Nak, jika nanti Gita udah kita temukan, aku akan izinkan dia masuk Islam seperti Agama yang kau anut, karena hanya kamu yang bisa membahagiakan dia.”


“Nggak usah Pak, lagian kami udah putus kok,” jawab Zaki pelan.


“Kenapa?”


“Karena aku nggak mau membuat keluarga ini berantakan, hanya karena keinginan Gita yang keluar dari aliran kepercayaan. Bukankah udah bertahun aliran itu kalian anut?"


“Itu memang benar, Nak. tapi Gita sangat mencintaimu,” jawab Ahong.


“Baiklah, nanti aja hal itu kita bahas, sekarang ini bagai mana caranya agar Bapak mau makan, biar perutnya nggak kosong, habis itu baru kita mencari Gita bersama-sama.”


“Benarkah itu, nak? kau mau membantu kami mencari Gita?”


“Iya, Pak. Makanlah yang banyak, agar perut Bapak nggak kosong, habis itu kita pergi bersama-sama mencari Gita,” jawab Zaki seraya tersenyum lebar.


Mendengar penjelasan dari Zaki, Ahong langsung menyantap makanan itu dengan lahabnya. Setelah selesai makan, Ahong pun bersiap-siap untuk segera berangkat bersama Zaki mencari keberadaan putrinya.


Di perjalanan tampak keduanya saling diam, Zaki melirik dengan sudut matanya, hanya tersenyum geli melihat mereka berdua.


“Ini mobil mu, nak?” tanya Ahong pada Zaki.


“Iya, Pak.”


“Harganya mahal ya?”


Zaki tidak menjawab pertanyaan dari Ahong, dia hanya diam saja, tapi bibirnya yang tipis tampak sedikit merekah.


“Nggak usah dijawab, Bapak tau kok, kalau mobil ini sangat mahal sekali,” kata Ahong.


“Bapak bisa nyetir?”


“Bisa dong, hanya mobilnya aja yang nggak ada.”


“Bapak tahan kalau duduk lama-lama?”


“Ya tahanlah, Bapak kan udah biasa.”


Zaki tersenyum saat semua pertanyaannya, dijawab lantang oleh Ahong. Walau terbilang udah lanjut usia, tapi semangat Ahong masih berada ditingkat atas.


Setelah beberapa saat kemudian, tibalah Zaki di depan rumahnya, kendaraannya pun langsung masuk kedalam garasi, Ahong dan Leni merasa heran, akan tetapi mereka malu untuk bertanya pada Zaki.


“Ayo Pak, Bu, kita turun,” ajak Zaki pada mereka berdua.


“Ini rumah mewah siapa nak?” tanya Leni heran.


“Ini rumah ku, Bu.”


“Rumah mu ternyata mewah juga ya?” lanjut Leni sembari berjalan mengiringi suaminya.


Di depan rumah, ketiganya langsung di sambut baik oleh Mang Ojo dan istrinya Fatma.

__ADS_1


“Kenalkan mereka berdua ini, Bapak dan Ibu ku,” ujar Zaki memperkenalkan kedua orang tuanya pada kedua orang tua Gita.


Setelah mereka saling bersalaman, Mang Ojo dan Fatma langsung mengajak mereka masuk kedalam, akan tetapi Ahong menolak saat di ajak makan oleh Mang Ojo.


“Kenapa nggak makan, Pak?” tanya Mang Ojo ingi tau.


“Tadi sebelum kesini, saya udah makan dirumah.”


“Ooo, Gitu.”


Di saat mereka baru mulai ngobrol, tiba-tiba Zaki keluar seraya menghampiri mereka berempat.


“Pak, Bu. sebenarnya kedua orang tua Gita ini, hendak pergi bersama ku, mencari keberadaan Gita yang menghilang dari kemaren sore.”


“Gita menghilang?” tanya Mang Ojo terkejut.


“Iya, Pak. Dari pagi tadi aku dan Ibu ini mencarinya, tapi belum ketemu.”


“Kalian udah lapor polisi?” tanya Mang Ojo pada Zaki.


“Belum Pak. Tapi polisi biasanya menanggapi setelah hilang selama satu kali dua puluh empat jam.”


“Apakah kau udah menghubungi Abang mu, sayang?”


“Rencananya begitu,” jawab Zaki sembari mengeluarkan ponselnya dari kantong celana.


Sesuai perintah Mang Ojo, Zaki langsung menghubungi Alhuda dan Dika. Zaki menceritakan kejadian itu pada mereka berdua.


“Baiklah, kalau begitu kami segera meluncur,” jawab Alhuda.


“Ok, sayang.”


Sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka buat, ketiganya langsung berkumpul di rumah Mang Ojo. Dan mereka bertiga segera berangkat.


Hati Leni merasa senang, karena keluarga Zaki tak tinggal diam membantu mencari keberadaan putrinya.


Setelah tiba di tempat terakhir kali berpisah, mereka bertiga sepakat menyisir daerah di sekitar sungai. Setelah beberapa kali melewati daerah itu, Alhuda dan yang lainnya masih belum menemukan Gita.


“Gimana, Ki? Apakah kau udah menemukan tanda-tanda keberadaannya?”


“Belum Bang,” jawab Zaki.


“Apakah kau udah menemukannya dek?” tanya Zaki pada Dika.


“Belum, aku bahkan nggak melihat ada rumah disekitar tempat ini,” ucap Dika.


“Kalau rumah sih, ada! Tapi sebelah sana, udah nggak layak huni kayaknya.


“Siapa tau Gita ada didalam rumah itu!”


“Iya, benar. Kalau begitu mari kita menuju rumah kosong itu.” Ajak zaki pada saudaranya.


Di saat mereka semua sibuk mencari keberadaan Gita yang tak tau kemana hilangnya, ketiga pria yang telah menyekap Gita justru sedang asik bermain judi disebelah Gita terikat.

__ADS_1


Ketiga pria itu tampak tenang dan santai sekali, mereka sedikitpun tak ada menaruh rasa kasihan pada Gita.


Bukan hanya sekedar diikat, Gita bahkan mereka jadikan tempat pemuas nafsu bejadnya. Mereka bertiga mabuk dan berjudi hingga larut malam.


Ada banyak darah yang berceceran ditempat itu, Gita bahkan tampak sock duduk disudut ruangan, jangan kan untuk menyelamatkan diri, bahkan Gita sendiri tak lagi berpakaian.


Setelah mobil, mereka parkir di tempat yang aman, Alhuda bersama kedua adiknya langsung menyusuri tepi hutan itu bersama-sama, hingga malam mulai mencekam pun, mereka belum juga menemukan keberadaan Gita.


Sementara itu Ahong dan istrinya yang berada di dalam mobil tampak ketakutan sekali, setiap saat mereka berdua menoleh kearah belakang dan depan, namun alhuda dan kedua adiknya belum juga kelihatan.


Setelah menunggu begitu lama, barulah mereka bertiga kembali kemobil yang di kendarainya. Di saat Zaki baru masuk kedalam mobil itu, Ahong langsung bertanya pada Zaki tentang kabar putrinya.


“Kami belum menemukannya Pak, sabarlah, kita akan tunggu sampai pagi disini, kalau Bapak dan Ibu ngantuk, tidurlah duluan.


“Apakah kalian udah menemukan rumah yang dimaksudkan tadi?”


“Belum, Pak,” jawab Zaki pelan.


“Kenapa belum di temukan, padahal kita tau persis posisi rumah itu di mana.” Ahong pun mengingatkan.


“Bapak benar, tapi kita harus mencari waktu yang tepat untuk kesana.”


“Kapan itu nak?”


“Nanti malam, sekarang Bapak dan Ibu tidurlah, biar kami yang mencari Gita.”


“Kalau mereka menyakitkan Gita, gimana nak?”


“Berdo’alah, agar Gita selamat, karena do’a, orang tua yang sedih, cepat di ijabah oleh sang pencipta."


Mendengar ucapan Zaki, air mata Ahong langsung mengalir dengan deras, Ahong menangis dengan pilu sekali, sehingga Zaki pun turut berduka bersama pria tua itu.


Tak tahan melihat air mata Ahong mengalir deras, Zaki langsung turun dari mobilnya untuk menemui Alhuda dan Dika.


“Tidurlah, jangan pernah membukakan pintu mobil ini untuk siapa pun, selain aku,” ujar Zaki pada Ahong dan istrinya.


“Kau mau kemana nak?”


“Aku akan mencari kepingan hati mu yang hilang.”


“terimakasih, nak. Hati mu memang mulia sekali.”


Setelah Zaki minta izin pada Ahong dan istrinya, Zaki pun pergi menemui Alhuda dan Dika.


“Bang!” Zaki mengetuk pintu mobil milik Alhuda.


Melihat Zaki menghampiri mobilnya, Alhuda langsung terbangun, begitu juga dengan Dika.


“Ada apa dek?”


“Kita cari Gita sekarang, Bang,” ujar Zaki pada Alhuda.


“Kenapa kau nggak sabar, sayang?” tanya Alhuda heran.

__ADS_1


Bersambung...


\*Selamat membaca\*


__ADS_2