Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 123 Mendadak Sock


__ADS_3

“Tapi Papa pinginnya sekarang Ma, begini saja, Mama siap-siap, nanti kita langsung kesana!”


“Nanti Ranita bisa marah Pa!”


“Putri kita itu nggak pemarah Ma, bahkan dia itu nggak bawel kayak Mamanya.”


“Hiss, Papa. Kalau giliran senangnya tuh, ngebet banget.”


“Ayo buruan Ma.”


“Iya, ya. nggak sabaran banget jadi orang.”


“Itu lantaran Mama udah melihat wajah putri kita, coba kalau belum, pasti Mama sama kayak Papa.”


Hilang seketika amarah yang mengganjal di dada Margono saat itu, wajahnya yang kusam tampak begitu ceriah sekali. Dengan tak sabar Margono menunggu istrinya yang sedang berpakaian.


“Cepat dikit kenapa sih Ma,” ujar Margono.


“Iya, sabar dikit kenapa sih.


“Papa udah nggak sabar lagi Ma, pingin memeluk cucu kesayangan Papa yang mungil.”


Setelah selesai dandanannya, Resti langsung turun kebawah, dan menghampiri suaminya yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan anak dan cucunya.


Di perjalanan, hati Margono tampak tenang, sembari mengangguk- angguk kan kepalanya, mengiringi alunan musik yang mendayu, Margono tampak tersenyum-senyum sendiri.


Resti hanya memperhatikannya saja, karena dia tau betapa senangnya dapat memeluk buah hati sendiri.


“Masih jauh rumahnya Ma?” tanya Margono ingin tau.


“Tuh, di depan sana pa.”


“Ooo, rumah yang ini?”


“Iya, Pa.”


“Kalau rumah yang ini, udah sering Papa lalui kok.”


“Iya, tapi Papa kan belum tau siapa pemiliknya.”


“Benar juga sih,” kata Margono sembari membelokkan setir mobilnya kearah rumah Ranita.


Mendengar ada suara deru mobil di halaman rumahnya, Alhuda dan Ranita langsung mengintip dari balik gorden jendela.


“Kayaknya, mobil Papa, deh Bang.”


“Mobil Papa?” tanya Alhuda yang ikut ngintip dari balik gorden jendela.


“Ada apa ya, mereka datang kesini?”


“Udah, nggak usah berfikiran yang jelek dulu, siapa tau Papa juga ingin memeluk anak kita.

__ADS_1


“Ya, semoga saja begitu,” jawab Ranita dengan suara lirih.


Setelah melihat Margono dan Resti keluar dari dalam mobil, Alhuda dan Ranita langsung bergegas membukakan pintu rumah selebar- lebarnya.


“Asyalamua’alaikum!” sapa Margono sembari tersenyum lebar.


“Wa’alaikum salam,” jawab Alhuda dan Ranita sembari membukakan pintu untuk mereka berdua.


Ketika melihat wajah Ranita, Margono langsung mendadak lemah, pandangan matanya begitu gelap sehingga Margono terjatuh di hadapan Alhuda.


“Papa! Teriak Resti dan Ranita serentak.


Alhuda pun segera menyambutnya, dan membawanya kedalam, Resti dan Ranita menangis histeris, mereka begitu takut kehilangan orang yang mereka sayangi.


“Tenanglah, kita coba hubungi Zaki dulu, siapa tau dia bersedia datang kesini,” kata Alhuda.


“Baik Bang,” jawab Ranita sembari memijat tangan papanya yang masih lemah.


Sementara itu, dirumah Mang Ojo, tampak suasana begitu tenang dan hening, semua penghuninya sedang asik menikmati makan malam yang sederhana.


Tiba-tiba saja ponsel milik Zaki berdering, biasanya Zaki tak pernah membawa ponsel itu ke meja makan, tapi untuk kali itu dia benar-benar lupa.


Zaki mencoba untuk mengabaikannya, tapi ponsel itu terus saja berdering, semua mata pun tertuju kearah Zaki yang tampak tenang dan biasa-biasa saja, padahal suara ponselnya mengusik ketenangan makan mereka malam itu.


“Angkat saja nak! siapa tau itu penting,” kata Mang Ojo pada Zaki.


“Baik Pak.”


Lalu Zaki pun merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan ponsel itu dari saku. Ketika dilihat pusat panggilan berasal dari Alhuda.


“Dari Bang Huda,” jawab Zaki.


“Angkat cepat, biasanya ada perlu itu.”


“Baik, Pak,” jawab Zaki sembari sedikit menjauh dari meja makan.


Melihat Zaki menerima telfon dari Alhuda, Mang Ojo berhenti menyuap nasi, dia begitu fokus pada perbincangan Alhuda dengan Zaki.


“Gimana, ada apa dengan Alhuda?” tanya Mang Ojo ingin tau.


“Papa kak Ranita mendadak pingsan dirumah mereka.”


“Papa Ranita? Kenapa dia kerumah Alhuda?”


“Nggak tau Pak.”


“Selesaikan makanan mu, kita kesana bersama-sama.”


“Baik Pak,” jawab Zaki kembali melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan, mereka semua langsung menuju rumah Alhuda, benar saja, di depan rumah Alhuda ada mobil Papa Ranita yang sedang terparkir.

__ADS_1


Setelah mobil berhenti, mereka semua langsung turun dan bergegas menuju rumah Alhuda.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaiku salam,” jawab Alhuda sembari membuka pintu rumahnya dengan lebar.


Ketika menginjakkan kakinya di rumah Alhuda, Mang Ojo melihat ada Resti disana, sedang menangis bersama Ranita. Mesti Resti melihat kearah Mang Ojo, namun Mang Ojo tak menoleh kearah Resti sedikit pun juga.


Begitu juga dengan yang lainnya, karena mereka semua tau, kalau Resti tak bisa diajak bicara, atau pun di layani untuk bicara, itu sebabnya mereka semua hanya diam saja tanpa harus menyapa.


“Papa mu kenapa Huda?”


“Nggak tau Pak, tiba-tiba saja dia nggak sadarkan diri, ketika hendak masuk rumah."


“Gimana nak?” tanya Mang Ojo pada Zaki yang saat itu sedang memeriksa kondisi Margono.


“Nggak sakit apa-apa kok, barang kali dia sock.”


“Benar nggak ada apa-apa dek?” tanya Ranita ingin tau.


“Benar kak, Papa kakak nggak apa-apa kok.”


Setelah menunggu beberapa saat, Margono pun sadar dari pingsannya, dia melihat sekeliling, begitu banyak orang yang ada dirumah itu.


“Papa dimana?” tanya Margono dengan suara serak.


“Papa ada di rumah kami,” jawab Ranita sembari menggenggam tangan Margono dengan erat.


“Tapi kenapa banyak orang?”


“Ini, semua keluarga Bang Huda Pa.”


“Ranita!” ujar Margono seraya memeluk putrinya yang telah lama hilang.


Seraya memeluk putrinya, Margono menangis tersedu-sedu, air matanya tercurah tak tertahankan, Margono begitu rindu pada Ranita, sehingga dia sampai sock saat melihat putri kecilnya itu.


“Maafkan Papa nak, karena ulah kami kamu merasa sendiri di dunia ini, Papa benar-benar telah menjadi orang tua yang tak berguna.”


“Papa nggak boleh bicara seperti itu, aku dan Bang Huda telah memaafkan Papa dan Mama kok, lagian mana ada Orang tua yang berdosa pada anaknya, hanya anak lah yang banyak dosa pada kedua orang tuanya.”


Setelah melepaskan lingkaran tangannya dari tubuh Ranita, Margono pun menoleh kearah Mang Ojo, dengan air mata yang mengalir, Margono menarik tangan Mang Ojo dan memeluknya dengan erat.


“Maafkan saya Pak, saya merasa tersiksa sekali berpisah dengan mereka, rasanya lebih baik tiada dari pada begini menanggung rasa sedih seumur hidup.”


“Keluarga ku, nggak pernah memendam rasa benci pada Bapak dan Ibu, karena kehadiran Ranita membuat jiwa putra saya menjadi hidup."


Melihat suaminya meminta maaf pada Mang Ojo, Resti juga menghampiri Fatma dan dia langsung menangis di pelukan Fatma.


“Saya juga minta maaf Bu, karena mulut saya yang lancang dan kasar, Ibu sekeluarga merasa tersakiti. Sebenarnya saya udah lama merestui pernikahan Ranita dengan Alhuda, hanya saja saya nggak pernah bertemu dengan mereka.”


“Alham dulillah, kalian semuanya udah kembali bahagia, saya merasa senang sekali, lagian selama ini saya nggak pernah mempermasalahkannya, karena mereka itu jodoh yang telah di atur oleh Allah, bukan karena kehendak kita,” jelas Fatma dengan suara lembut.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2