
Saat pintu di buka seorang perempuan tua keluar dari balik daun pintu rumah itu, dia menatap Ranita dengan segudang pertanyaan.
“Kau siapa ?” tanya Leni pada Ranita.
“Numpang tanya Bu ? benar disini rumahnya suster Gita ?”
“Benar ! ada apa ya ?”
“Ooo, saya temannya Bu, apa Gita nya ada Bu ?”
“Nggak, Gita lagi pergi !”
“Kemana ya Bu ?”
“saya juga nggak tau, tapi dia perginya pagi tadi.”
“Kalau boleh saya bertanya, kenapa ya Bu, Gita nggak pernah lagi datang kerumah sakit, padahal dr Zaki selalu menanyakan keadaannya.”
“Gita udah nggak bekerja disana lagi saat ini, nak ?”
“Kenapa ? apa ada masalah ?”
“Ibu juga nggak tau, tapi yang jelas, gita udah nggak bekerja dirumah sakit lagi saat ini.
“Jadi apa pekerjaan Gita sekarang Bu ?”
“Dia baru memasukan lamarannya ke toko buku, dan saat ini sedang menunggu panggilan.”
“Ooo, gitu ya.”
“Apakah ada rumah sakit menanyakan Gita ?”
“Iya Bu, mereka heran kenapa udah hampir seminggu ini, Gita nggak masuk kerja, padahal Gita adalah salah seorang perawat yang baik dan rajin bekerja."
“Kamu benar nak, akan tetapi Gita merasa malu dengan dr. Zaki yang telah baik padanya.”
“Kalau itu, kami semua udah tau kok, Bu.”
“Tapi setelah Gita pacaran dengan dr. Zaki, Gita minta beralih kepercayaan pada kami. Gita ingin masuk Agama yang di anut oleh dr.Zaki.”
“Ooo gitu ? terus ! Ibu mengizinkannya ?"
“Nggak nak !”
“Kenapa ?”
“Itu kepercayaan yang telah kami anut secara turun temurun, itu agama leluhur kami nak, gimana kami bisa berubah secepat itu ?”
__ADS_1
“Ibu benar ! kalau masalah akidah, kami sangat mengerti sekali, tapi kenapa Gita nggak berterus terang aja pada dr.Zaki, biar semuanya kelar. Gita nggak larut dalam kesedihannya, sementara dr. Zaki juga nggak kepikiran terus."
“Iya, sebenarnya Ibu setuju dengan pendapatmu itu nak ! akan tetapi Gita terlalu mencintai dr. Zaki, bahkan Gita sudah beberapa hari ini, dia selalu menangis dan nggak mau makan. Ibu bingung mesti gimana nak ?”
“Kenapa sih, Bu ? Gita itu begitu suka dengan dr.Zaki, padahal kan banyak pria di dunia ini, tampan dan baik lagi.”
“Ibu juga bilang begitu padanya nak, tapi Gita hanya mencintai dr. Zaki seorang, bahkan Gita begitu mencintainya.”
“Kalau begitu, semua keputusannya ada pada Ibu dan Bapak, sebab hanya pada kalian berdua lah masalah ini bisa cair dan selesai.”
“Kenapa harus pada kami ? kenapa nggak pada keluarga dr. Zaki aja ?”
“Dr. Zaki itu, dia kan seorang Muslim Bu, biasanya seorang muslim sangat sulit beralih akidah, karena menurut ajaran kami Islam itu agama keselamatan.”
“Menurut kalian Islam agama yang benar, bagi kami agama kami tentu agama yang benar pula, jika kalian begitu sulit untuk beralih Agama, bagi kami tentu juga sulit beralih Agama.”
“Ya udah Bu, aku mau kerumah sakit dulu, takut nanti terlambat, titip salam pada Gita ya, Bu. pikirkanlah secara matang, jangan cepat mengambil keputusan, jika dia nggak bisa menikah dengan dr. Zaki, sebaiknya dia berterus terang saja, agar semua permasalahannya cepat kelar dan Gita bisa kembali kerumah sakit.”
“Iya, pesan mu akan Ibu sampaikan pada Gita nantinya.”
“Ya udah, saya permisi dulu.”
“Silahkan.” Jawab Leni seraya membukakan pintu untuk Ranita.
Setelah mendapatkan jawaban dari orang tua Gita, hati Ranita menjadi tenang, karena dia telah mendapat jawaban dari semua alasan itu.
“Gimana sayang ? apakah Gita sehat ?”
“Gita sehat Bang, tapi dia nggak bekerja dirumah sakit lagi.”
“Kenapa ? kemana Gita bekerja ?”
“Kata Ibunya, Gita melamar kerja di toko buku.”
“Apa alasannya dia keluar dari rumah sakit kak ?” tanya Zaki heran.
“Dia malu pada mu Dek, dia merasa telah mengecewakan diri mu.”
“Tapi aku nggak merasa dikecewakannya ?”
“Gita ternyata benar, kedua orang tuanya, memang nggak mau beralih kepercayaan, dia tetap teguh pada keyakinan yang telah diturunkan dari leluhurnya.”
“Masalah akidah itu memang sulit untuk di bahas nak ? karena dia datang dari sini.” Kata Mang Ojo seraya menunjuk hatinya. “Kepercayaan itu tumbuh dan bersemi di dalam lubuk hati yang paling dalam.”
“Lalu Zaki harus gimana Pak ?” tanya Alhuda pada Bapaknya.
“Jalan satu-satunya hilangkan wajah Gita dalam hati mu, karena itu dapat merusak hidupmu sendiri nantinya, cepat kau cari penggantinya agar kau bisa fokus pada kekasih baru mu itu.”
__ADS_1
“Tapi rasanya begitu sulit Pak.” Jawab Zaki seraya meneteskan air mata.
“Nak, dunia ini nggak selebar daun kelor, dunia ini luas ! begitu juga dengan wanita yang berada di dalamnya, dua kali lipat dari kaum pria, lalu kenapa kau nggak melihat jauh kedepan sana ?”
“Bapak benar dek ? cobalah !” kata Alhuda memberi keteguhan pendirian pada adiknya.
“Baik Bang, akan ku coba untuk melupakannya.”
“Menurut pendapat kakak, biarlah Gita bekerja di tempat yang lain, karena hanya dengan cara seperti itu, kalian berdua bisa saling melupakan.”
“Iya, kak.” Jawab Zaki pelan.
“Nah gitu dong !” kata Mang Ojo, menimpali pembicaraan mereka semua.
Semuanya pun tampak tersenyum bahagia, walau saat itu, Zaki juga ikut tersenyum manis.
Hari-hari setelah itu mulai berjalan dengan tenang dan aman, perlahan Zaki belajar bagai mana agar dia bisa melupakan wajah Gita yang selalu bergelayut di pikirannya.
Malam itu suasana sangat tenang sekali dirumah Mang Ojo, tampak Fatma hanya duduk santai di depan rumahnya bersama Nurul. Dari kejauhan Fatma melihat ada mobil Intan yang sedang menuju rumahnya.
“Itu kayak mobilnya kak Intan kan Bu ?” tanya Nurul pada fatma.
“Sepertinya begitu ? ada apa ya ? malam begini mereka datang ?”
“Entahlah Bu, kita lihat aja nanti semoga aja, bawa kabar baik.”
“Ya, semoga saja.” Jawab Fatma sembari berdiri menghampiri putrinya yang baru datang.”
“Ibu.” Jawab Intan seraya mencium tangan Ibunya.
“Kamu datang sayang !” kata Fatma sembari mencium kening putrinya.
Menyusul pula di belakangnya Niko dan putri kesayangannya yang saat itu ikut bersama dengannya.
“Oh, cucu nenek, kamu juga ikut bersama Mama kesini ya ?” kata Fatma sembari menggendong putri kecil itu dan menciumnya.
Di saat itu Nurul juga berdiri dan mencium tangan Intan dan Niko, dia juga mengajak si kecil bermain di kamarnya, agar pembicaraan kedua orang tuanya tidak terganggu.
Bersamaan dengan itu, Mang Ojo juga keluar dari dalam kamarnya, di begitu terkejut saat melihat Intan dan Niko ada diruang tamu.
“Hei, kalian datang rupanya ? kenapa nggak mengabari Bapak dulu.”
“Kenapa harus ngasih kabar sih Pak, kan Cuma dekat.”
“O iya, ya ! bapak jadi lupa.” Jawab Mang Ojo tersenyum lebar.
“Bapak mu itu udah mulai pelupa nak, dia bahkan kehilangan handuk yang dia lilitkan di lehernya.”
__ADS_1
Bersambung...