Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 149 Kedatangan Tante Meri


__ADS_3

“Apakah Bapak udah periksakan dia kerumah sakit?”


“Percuma Pak, hanya memperpanjang masalah saja.”


“Ooo, begitu,” ujar Mang Ojo manggut-manggut.


“Lagian Riza terlalu banyak membuat masalah selama ini, kalau pun saya lapor pasti imbasnya saya juga yang kena.”


“jadi gimana sekarang, apakah Riza kita mandikan aja?”


“Sebaiknya begitu saja Pak, biar semuanya selesai sampai disini.”


Mendengar perkataan Handoko, Mang Ojo bersama yang lain, membantu mengurus jenazah Riza. setelah selesai jenazahnya di sholatkan, siang itu juga, jenazah itu di antar kekuburan yang berada tepat di kebun belakang rumah Handoko sendiri.


Suasana tampak sunyi saat jenazah Riza di kebumikan, hanya isak tangis Handoko yang masih terdengar saat itu, walau hanya pelan sekali.


Seminggu setelah kepergian Riza, Septi bermimpi di datangi beberapa orang polisi dan memaksanya untuk ikut kekantor, demi mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang telah di lakukan, Septi pun menangis histeris.


Mendengar jeritan suara Septi, Nurul terbangun dari tidurnya dan mendatangi kamar Septi.


“Ada apa Bi?” tanya Nurul ingin tau.


“Hanya mimpi non.”


“Mimpi apa Bi, selama ini saya nggak pernah dengar bibi mimpi ngeri seperti itu?”


“Saya di datangi dua orang polisi non, mereka memaksa saya untuk ikut ke kantor.”


“Lalu, Bibi ikut bersama mereka?”


“Nggak non, itu sebabnya tadi Bibi menjerit, karena Bibi menolak untuk ikut. Apakah Tuan melaporkan saya ke polisi non?”


“Kayaknya nggak tuh, yang paling penting, Bibi jangan keceplosan ngomong, karena akibatnya Bibi sendiri yang akan di tangkap polisi.”


“Baik non.”


“Dah tidur lagi , besok pagi kan Bibi udah bangun duluan.”


“Iya, non,” jawab Septi sembari menarik kain selimutnya.


Mesti merasa takut dengan masalah pembunuhan itu, namun Septi harus bersyukur, karena Handoko tidak melaporkan dirinya ke polisi.


Pagi itu seperti biasa, Nurul pergi kekantor, namun saat itu dia hanya pergi bersama Bima, karena Handoko masih dalam keadaan sedih, paska meninggalnya Riza, semua pekerjaan di perusahaan di ambil alih oleh Nurul.


Keahlian yang dia miliki, membuat perusahaan berjalan dengan lancar, apa lagi Bima yang selalu ada di belakangnya, membuat Nurul merasa kokoh dalam berdiri.

__ADS_1


Sementara itu, setelah lima bulan berlalu, panti asuhan yang di bangun kini mulai tampak berdiri dengan megah, tidak sedikit dana yang di gelontorkan untuk pembangunan panti tersebut, begitu juga dengan peralatan yang menjadi kebutuhan anak panti.


Mesti demikian, hal itu tak membuat perusahaan milik Mirwan dan Handoko menjadi jatuh, bahkan dengan bantuan itu perusahaan mereka semakin berkembang dengan pesat.


Anak-anak panti merasa senang sekali, karena mereka semua sudah bisa kembali menikmati pasilitas panti yang sebelumnya telah hangus terbakar.


Pagi itu tampak Dika begitu sibuk mengatur tempat untuk anak-anak, mereka dengan patuh mengikuti perintah dari Dika dan menepati kamar mereka masing-masing.


“Bagi pengawas panti, saya anjurkan untuk lebih berhati-hati, periksa setiap pintu dan jendela setiap malam, jangan ada lagi pintu dan jendela yang terbuka, karena hal itu dapat membahayakan anak-anak kita.”


“Baik Pak,” jawab semua pengawas panti yang di tugaskan.


“Atur semua kebutuhan mereka dengan baik, saya nggak mau ada keluhan yang terdengar hanya karena kalian semua tidak menyalurkan jatah mereka tepat sasaran.”


“Baik, Pak.”


“Ya udah, pagi ini kalian semua sudah mulai bekerja, harus saling membantu, bahu membahu jangan ada yang saling curiga satu sama lainnya.”


“Baik pak.”


Sesuai dengan keinginan Dika, pagi itu anak-anak panti sudah bisa bernafas dengan lega, tempat yang nyaman dan pasilitas yang lengkap membuat mereka menjadi hidup bahagia.


Seminggu setelah anak panti menepati rumah kediaman mereka lalu, Meri datang menyelinap masuk dengan menyamar sebagai pengemis tua, mesti satpam panti sudah mengusirnya namun Meri dengan segala kelicikannya akhirnya berhasil masuk kedalam.


“Maksudnya apa sih, Ki?” tanya Dika heran.


“Katanya Ibu ini dia mau minta sedekah dari anak-anak panti.”


“Masa minta sedekah dari anak-anak panti sih?”


“Ya, saya sendiri kurang jelas Pak.”


“Menurut mu, ada yang mencurigakan dari perempuan itu?”


“Kalau saya perhatikan, nggak ada Pak, di terlihat biasa-biasa aja kok.”


“Ya udah, kalau menurut mu nggak ada yang mencurigakan suruh dia masuk, tapi ingat awasi terus jangan pernah lengah.”


“Baik Pak.”


“Nanti setelah selesai, langsung bawa dia keluar!”


“Baik Pak.”


Atas izin Dika, Diki langsung mengizinkan Meri masuk, namun dia tetap di bawah pengawasan Diki yang selalu mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Karena di awasi terus, Meri menjadi tak tenang menghampiri anak-anak panti, dendamnya terhadap Dika yang telah mengusirnya membuat dia nekad untuk berbuat seperti itu.


Setelah beberapa bulan lepas dari penjara, Meri berniat untuk balas dendam kepada Dika dan Yulia yang menurutnya telah membuat hidupnya sengsara di dalam penjara.


“Anak-anak apakah kalian ada yang ingin bersedekah! Ini ada nenek tua yang ingin minta sedekah pada kalian!” teriak Diki dari luar panti.


“Ada, Pak!” jawab anak panti serentak.


Melihat nenek tua yang berpakaian lusuh itu, seluruh anak panti langsung berlarian keluar untuk menyumbangkan sebagian uang belanja nya pada nenek tua itu.


“Ini, nek!” ujar salah seorang anak panti memberikan uang pecahan lima ribu rupiah.


“Ini nek!” ujar yang lainnya.


Dan begitulah seterusnya, sehingga nenek tua itu merasa keteteran untuk mengumpulkan uang sedekahnya itu. Karena merasa kesulitan dalam mengumpulkan uang sedekahnya, Inul bersama dengan Diki ikut membantu mengumpulkan uang nenek yang berserakan.


“Udah Nek, ayo kita keluar!” ajak Diki setelah uang sedekah itu di berikan Diki ketangan Meri.


“Tunggu dulu nak! nenek belum melihat pemilik panti ini.”


“Dia sibuk Nek, nggak usah menemuinya, nanti nenek di marahi.”


“Kenapa begitu kejam pemiliknya, kan nenek Cuma kepingin bertemu.”


“Ya udah, nenek tunggu di sini dulu, biar saya panggilkan pemiliknya.”


Setelah Diki melarangnya untuk masuk dan menyuruh Meri menunggu di luar, namun tanpa di sadari Diki, ternyata Meri telah ikut mengiringinya dari belakang, Meri yang membawa sebilah pisau, telah berencana untuk menghabisi Dika bersama istrinya.


“Pak, nenek tua itu ingin bertemu dengan Bapak!” ujar Diki dengan suara lembut.


“Ngapain dia pingin jumpa aku segala Ki?”


“Nggak tau Pak, saat ini dia berada di bawah,” jawab Diki.


Akan tetapi di saat Diki mengatakan nenek tua itu sedang berada di bawah, Meri pun langsung muncul di belakang Diki, dengan tubuh yang tampak tegak dan kuat.


“Perempuan itu yang kau maksudkan Ki?” tanya Dika yang mengetahui siapa perempuan itu.


“Yang mana?”


“Yang berada di belakang mu itu!” ujar Dika dengan tenang


Bersambung...


\*Selamat membaca\*

__ADS_1


__ADS_2