
Septi yang mendengar jeritan Nurul dari taman belakang rumah, langsung berlari, untuk memanggil tuannya Handoko.
“Tuan, tuan, tadi saya mendengar suara non Nurul menjerit minta tolong, dari kamarnya.”
“Apa! Non Nurul menjerit di kamarnya?”
“Iya, tuan.”
Mendengar laporan dari Septi pembantunya, Handoko bersama satpamnya langsung berlari menuju kamar putranya Riza.
“Tolong! tolong! aku! jerit Nurul dengan suara lantang.
“Aduh, penyakit Riza kambuh lagi Din, ayo kita bantu Nurul.”
“Baik tuan,” jawab Nurdin sembari menggedor-gedor pintu kamar Riza dari luar.
“Buka pintunya nak,” ujar Handoko pada Riza.
“Ada apa sih Pa! aku hanya bermain-main kok dengan Nurul!”
“Nggak Pa, dia mau membunuh aku!” jerit Nurul dengan suara lantang.
“Kurang ajar, kau mengadu hah!" plak! plak!
dua tamparan pun mendarat di pipi Nurul.
“Aww! Sakit keparat!”
“Diam! diam!” bentak Riza dengan suara yang kuat.
“Ayolah nak, Papa juga ikut bermain-main dengan mu sayang, tolong bukakan pintunya!”
seru Handoko sembari berharap agar Riza mau membukakan pintu untuk dirinya.
“Tunggu sebentar Pa, biar ku bukakan pintu untuk Papa.”
Seperti tak terjadi apa-apa, Riza dengan tenang membukakan pintu untuk Papanya, akan tetapi betapa terkejutnya Handoko, di saat melihat darah yang begitu banyak menetes di kamarnya, sementara bayi kecil itu terus saja menangis di gendongan Nurul.
Di saat pintu di buka, Nurul langsung berlari keluar rumah, dia berlari sejauh-jauhnya, sehingga Riza dan Handoko kesulitan untuk menemuinya.
Di tempat yang begitu sepi, Nurul menyusui buah hatinya yang tak berpakaian itu, di sebuah rumah yang terletak di pinggir jalan, Nurul numpang istirahat pada pemiliknya.
“Kamu dari mana duk?”
“Aku dari rumah Pak Handoko, Bu.”
“Pak Handoko pengusaha itu?”
“Iya, Ibu kenal dengannya?”
“Iya, tapi Ibu nggak dekat dengan nya, hanya sebatas kenal saja.”
“Ibu sendiri tinggal di rumah ini?”
“Iya, nak,” jawab wanita tua itu sembari melihat darah yang mengalir dari tangan Nurul.”
“Ada apa dengan tangan mu?”
“Keparat itu mengigit tangan ku, Bu.”
“Keparat siapa?”
__ADS_1
“Anak Pak Handoko yang kaya itu.”
“Kenapa tangan mu bisa di gigit nya?”
“Aku istrinya Bu.”
“Ya Allah! kau menikah dengan orang gila itu?”
“Maksud Ibu apa?”
“Anak Pak Handoko itu udah lama syarafnya terganggu, dia juga telah membunuh Ibu kandungnya sendiri, dan memutilasi hingga menjadi beberapa bagian.”
“Tapi kenapa dia berlagak seperti orang sehat selama ini?”
“Itu, karena Pak Handoko menyuntikan obat setiap hari ketubuh anaknya itu.”
“Ibu tau dari mana?”
“Maaf, sebenarnya Ibu ini bekas pembantu mereka nak, tapi setelah Riza membunuh Ibunya dan memutilasinya, Ibu keluar dari rumah itu, Ibu melihat sendiri, dia meminum darahnya.
“Hiii, aku jadi merinding mendengarnya Bu, tapi kenapa anaknya nggak di penjara?”
“Udah, Riza udah di hukum dan di rehabilitas, dia bukan hanya sakit jiwa, tapi dia itu seorang psikopat nak, selama di penjara, dia juga menyiksa beberapa orang nara pidana, dan di masukkan kedalam bak kamar mandi.”
“Syukurlah aku bisa kabur dari sana, oh ya Allah, aku nggak akan pergi lagi kerumah itu,” ujar Nurul sembari menangis sedih.
“Untuk sementara waktu, tinggalah kau disini, karena Riza pasti mencari mu sampai kerumah.”
“Ibu tinggal bersama siapa?”
“Ibu hanya tinggal sendirian,” jawab perempuan itu.
“Udah berapa tahun kau menikah dengan anak Pak Handoko itu, nak?”
“Udah lebih satu tahun.”
“Udah lebih satu tahun, apakah kau nggak pernah bertanya pada Pak Handoko atau anaknya itu, tentang Ibu nya?”
“Pernah sih.”
“Lantas apa jawabannya?”
“Kata Riza, Mama meninggal karena serangan jantung.”
“Dari mana kau kenal dengan Riza, nak?”
“Dia sekretaris di kantor ku, Bu.”
“Apakah selama kalian bekerja, nggak ada informasi tentang keluarga mereka?”
“Nggak Bu, bahkan aku nggak pernah bertanya pada orang tentang keluarga Pak Handoko, awalnya aku menolak perjodohan ini, karena aku tau Riza selalu bertingkah laku aneh di kantor.”
“Lalu kenapa kau menerimanya menjadi suami mu?”
“Aku terpaksa Bu, aku sengaja mengorbankan diri ku, demi anak-anak panti, mereka semua kelaparan, kalau Pak Handoko tak mau menjadi donatur.”
“Jadi Pak Handoko, mau jadi donatur, asalkan kau mau menikah dengan putra gilanya itu!”
“Iya, Bu.”
“Astagfirullah, kejam sekali hati Pak Handoko, dia tega berbuat seperti itu demi nafsu bejat putranya yang gila itu.”
__ADS_1
Mendengar sumpah Ibu itu, Nurul hanya bisa diam saja, sembari meneteskan air mata, Nurul terus memperhatikan putra kecilnya yang sedang terlelap dengan nyenyak.
“Istirahatlah di sini, Ibu akan keluar sebentar.”
“Ibu mau kemana?”
“Kewarung sebelah, kamu nggak usah keluar, nanti Riza bisa menemukan dirimu.”
“Baik, Bu,” jawab Nurul seraya merebahkan tubuhnya di atas Kasur santai milik perempuan tua itu.
Sementara itu Bu Rohana, pergi kepasar untuk mencarikan pakaian ganti, buat Nurul dan bayi mungilnya. Setelah selesai berbelanja Bu Rohana kembali kerumahnya, saat tiba di rumah, dia melihat Nurul bersama putranya sedang tertidur dengan nyenyak.
Dengan perlahan Rohana memakaikan pakaian yang di belinya untuk bayi mungil itu, dan membalut tangan Nurul yang mengalami luka sobek karena bekas gigitan suaminya.
“Kau akan aman tinggal bersama Ibu nak, dari pada pulang kerumah, pasti orang gila itu mencari mu kemana-mana.”
Setelah hari hampir gelap, Rohana membangunkan Nurul dari tidurnya, pria itu ternyata telah menyiapkan makan malam untuk Nurul.
“Ibu udah masak banyak hari ini ya?”
“Nggak, Ibu masak hanya seperti biasa.”
“Ibu pergi ke pasar tadi?”
“Iya, Ibu membelikan bayimu pakaian, agar dia nggak masuk angin.”
“Terimakasih, karena Ibu telah berbuat baik pada kami berdua.”
“sama-sama, ayo makan!” ajak perempuan tua itu pada Nurul.
Dengan pelan, Nurul mengambil nasi yang ada di hadapannya dan membagikan ke piring Rohana, setelah itu, Nurul langsung memakan makanannya dengan tenang dan pelan, tak sedenting pun Rohana mendengar suara piring Nurul.
“Kamu tamatan apa?”
“S2, Bu.”
“Berarti kamu anak orang kaya ya?”
“Tergantung orang yang memandangnya Bu,” jawab Nurul dengan suara lembut.
“Maksud Mu?”
“Dulu kami berasal dari keluarga pemulung, ayah ku hanya seorang penjaja kacang rebus keliling, sementara Ibu hanya seorang pemulung.”
“Jadi, kenapa kamu bisa sekolah setinggi itu?”
“Awalnya, ada anak pejabat yang bersimpatik pada kami, sehingga dia nggak segan-segan mengelontorkan uang sesuka hatinya, untuk keluarga kami, dan kami sekeluarga juga pernah di panggil ke istana, atas undangan presiden.”
“Tunggu, tunggu, tunggu! Kalau memang keluarga mu pernah di panggil presiden ke istana, berarti kau ini anak Mang Ojo, penjaja kacang rebus keliling itu ya?”
“Benar Bu.”
“Oh, bangga rasanya Ibu menolong kalian berdua, karena Ibu udah lama tau, sepak terjang keluargamu, kalian orang kaya yang dermawan, suka menolong orang yang kesusahan.”
Nurul diam saja mendengar sanjungan Bu Rohana, baginya bantuan keluarganya belum seberapa.
“Ya udah, habiskan makanannya nak.”
Bersambung...
\*Selamat membaca\*
__ADS_1