
Malam itu, di saat semua keluarga berkumpul, di situ Mang Ojo mengutarakan kepada semuanya termasuk kedua orang tua Defi, kenapa mereka mengadakan pesta pernikahan secara sederhana.
Semuanya mendengarkan secara baik saat itu, tak ada suara sepatah pun yang terucap dari mereka semua.
“Aku tau, kalian pasti merasa heran, kenapa Bapak mengadakan pernikahan Zaki secara sederhana?”
Semua mata saling pandang satu sama lain, namun tak ada yang bicara sepatah pun, karena saat itu mereka benar-benar tak tahu kenapa acara pernikahan di selenggarakan secara sederhana.
Bapak sengaja melaksanakannya secara sederhana, karena Bapak tau, dibalik kebahagiaan yang akan kita lakukan, ada jeritan hati seorang Ibu, yang kebahagiaannya telah terenggut.
Mendengar kata Mang Ojo, barulah mereka semua mengerti, kenapa acara pernikahan itu diselenggarakan secara sederhana.
Marlina yang tak tau apa-apa, mencoba untuk angkat bicara, dan bertanya pada Mang Ojo, tentang yang kebahagiaannya telah terenggut.
“Kalau boleh saya tau, siapa sih orangnya yang kebahagiaannya telah terenggut itu?”
“Dia itu, Pak Ahong dan Bu Leni, yang satu tahun lalu mereka kehilangan putri tercintanya.”
Semua tampak diam, hanya Bu Leni yang menangis, mengenang kisah itu, namun hatinya telah tenang, karena Mang Ojo sekeluarga telah menerimanya dengan tangan terbuka.
Marlina yang sudah tau alasan, kenapa pernikahan putrinya di selenggarakan secara sederhana, tak ingin rasanya kembali ke Padang.
Akan tetapi hal itu tak dapat dirubah lagi karena Marlina telah membeli tiket pesawat untuk kembali pulang.
“Jadi nggak bisa di tunda ya nak?” tanya Marlina pada Defi saat berada di dalam kamarnya.
“Nggak Bun, udah terlambat, kemaren kayaknya bunda begitu ngotot untuk pulang, kenapa sekarang bisa berubah?”
“Itu karena Bunda belum tahu permasalahan yang sebenarnya, sayang,” jawab Marlina dengan wajah setengah berharap pada putrinya.
“Nggak bisa Bunda, lagian aku udah bilang pada Bapak, kalau Ayah dan Bunda akan pulang besok pagi.”
“Ya udah, kalau kamu nggak bisa merubah jadwal penerbangan bunda, baiklah, besok pagi Bunda akan kembali ke Padang.”
Seperti permintaan Marlina, keesokan harinya mereka berdua langsung berangkat menuju bandara, di tengah jalan Marlina bicara pada Zaki, kalau dia belum puas melihat kota Jakarta.
“Lain kali, kalau Bunda datang kesini, maka kami berdua akan mengajak Bunda dan Ayah keliling kota Jakarta.”
“Nggak perlu,” jawab Marlina ketus.
“Kenapa?”
“Nggak usah, lain kali pun kami belum tentu kesini lagi kok.”
__ADS_1
Mendengar kata Marlina, Zaki langsung menghentikan mobilnya dengan menggunaka rem cakram, sehingga mobil itu pun berhenti secara mendadak.
Defi yang sedang duduk di bangku paling depan, merasa terkejut, namun dia tak bisa berkomentar, Marlina memang selalu bikin kesal, ucapannya selalu saja salah, sehingga membuat orang lain tersinggung dan sakit hati.
“Ayo Bang, nggak usah di ambil hati, Bunda ku selalu begitu,” ujar Defi.
Tapi semenjak kejadian itu, hati Zaki merasakan hal yang lain, Bunda Defi bisa membuat rumah tangganya suatu saat menjadi retak.
Setelah kembali dari bandara, Zaki memanggil Defi untuk bicara dari hati ke hati, karena hanya dengan cara seperti itu, Zaki bisa masuk kedalam hati Defi, agar dia bisa menasehati Bundanya.
“Baik Bang, aku mengerti maksud Abang itu, nanti aku akan bicara dengan Bunda, agar dia bisa merubah sikapnya itu.
Setelah beberapa bulan menikah, Zaki tak langsung pindah rumah, karena Bapaknya memang melarang mereka pindah rumah.
Menurut Mang Ojo, Zaki sangat mereka butuhkan, di usianya yang sudah tua, karena di usianya yang sudah lanjut, penyakit sering kali menyerang kesehatan mereka berdua.
Jika Zaki dan Defi tak berada dirumah, siapa yang akan menentukan dirinya nanti kalau penyakit datang menyerangnya sewaktu-waktu.
Di saat keadaan rumah Mang Ojo tampak tenang dan aman, putri bungsunya pun juga mengalami ketenangan hati, di Fakultas tempat dia melanjutkan kuliahnya, Nurul mendapatkan gelar sarjana, keberhasilannya membuat Randi menjadi senang.
Untuk membuktikan keberhasilannya Nurul mencoba melamar pekerjaan di perusahaan Telkom, bagian jaringan. Kecerdasan yang di miliki Nurul mendapat predikat terbaik di perusahaan itu.
Bahkan semakin hari ginerja Nurul semakin meningkat, menunjukan hal baik. Yang membuat posisinya mendapat perhatian khusus di perusahaan tempat dia bekerja.
“Ada apa ya?”
“Nggak tau, datang aja sendiri kesana.”
“Baiklah, terimakasih.”
“Tok, tok, tok!”
Mendengar pintu di ketuk dari luar, Pak Direktur langsung mempersilahkan Nurul untuk masuk kedalam.
“Assalamua’laikum, Bapak memanggil saya?”
tanya Nurul pada Direktur perusahaan tersebut.
“Benar, anda yang bernama Nurul bukan?”
“Iya, saya yang bernama Nurul.”
“Silahkan duduk.”
__ADS_1
“Baik, terimakasih,” jawab Nurul sembari duduk di hadapan Direktur.
“Bapak melihat Ginerjamu selama ini, menunjukan hasil yang cukup memuaskan, untuk itu kami sepakat untuk menaikan jabatan mu menjadi pengawas lapangan.”
“Oh, terimakasih, dengan posisi ini, Pak. semoga dengan jabatan baru ini, saya dapat bekerja lebih baik lagi.
Nurul sangat senang sekali mendapat posisi sebagai pengawas, karena di bagian itu Nurul hanya bertugas mengawasi dan memantau para pekerja pada posisinya masing-masing.
“Gimana pekerjaan mu di perusahaan nak?” tanya Mang Ojo, sewaktu mereka sedang nonton di ruang keluarga.
“Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar Pak, saat ini aku telah diangkat menjadi pengawas, jadi pekerjaan ku sedikit ringan dari yang sebelumnya.”
“Itu amanah, jagalah amanah itu dengan sebaik-baiknya, karena nggak mudah di perusahaan sebesar itu kamu dengan cepat naik pangkat menjadi pengawas.”
“Benar itu Pak, teman ku yang sama bekerja aja, hingga saat sekarang dia masih di posisi yang sama, padahal dia udah bekerja hampir tujuh tahun.”
Karena mendapat peningkatan jabatan, Nurul mengabarkan berita itu kepada Randi, Randi sangat senang mendengarnya, sehari setelah kabar itu diterimanya, dia pun tiba di Jakarta.
Untukmeresmikan kenaikan jabatan Nurul itu, Randi mengajak Nurul pergi berwisata ke Pantai selatan, yang katanya ombak pantai selatan sangat dahsyat sekali, Nurul setuju dengan keinginan Randi tersebut.
Akan tetapi ketika mereka minta izin kepada Mang Ojo, Nurul tak mendapat izin sama sekali, hati Nurul merasa sedih, karena keinginannya tak di penuhi oleh kedua orang tuanya.
“Kami nggak nginap kok Pak,” ujar Randi pada Mang Ojo.
“Nginap atau nggak, bagi Bapak sama saja.”
“Apa sih yang bikin Bapak kuatir dengan kami?”
“Banyak,” jawab Mang Ojo singkat.
“Ayolah Pak, sekali ini saja!”
“Sekali Bapak bilang nggak, tetap nggak, jangan minta lagi,” ujar Mang Ojo sekali lagi sembari dia pergi meninggalkan Randi dan Nurul sendirian.”
“Bapak mu keterlaluan Nurul,” kata Randi sembari berdiri di tiang rumah megah itu.
“Sebenarnya Bapak ku nggak keterlaluan, dia itu berkata benar.”
“Apa maksud mu?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1