
Sepertinya prahara benar-benar sedang melanda keluarga Mang Ojo. Rasa sakit yang dirasakan putra putrinya tak pernah ada habis-habisnya.
Kesamaan itu juga masih dirasakan Intan, Ibu mertuanya yang tak menyukai kehadiran dirinya, mencoba menempuh jalur hukum untuk mendapatkan cucunya.
“Percayalah pada Niko, Ma. Itu nggak akan berhasil ! karena dimana-mana, yang mengurus anak itu, ya Ibunya, bukan neneknya. Kecuali Intan udah nggak sanggup lagi mengurus anaknya itu, itupun akan diserahkan pada ayah kandung anak itu, bukan pada neneknya.” Jelas Niko pada Mamanya.
“Diam kau anak durhaka ! bukanya belain Mama, kau bahkan merusak segalanya.” Bentak Retno dengan suara lantang.
“Ma, Ma ! apa Mama lupa, kalau Niko ini, seorang pengacara. Kalau Mama tetap saja bersikeras untuk mendapatkan anakku, akan kupastikan Mama nggak akan mendapatkan apa-apa dari kegigihan Mama itu !” jawab Niko dengan nada emosi.
“Putramu itu benar Retno, apa sih maksudmu ingin mengambil anaknya Niko ? sedangkan anakmu sendiri kau buang begitu saja !” kata Hermawan marah.
“Aku hanya nggak ingin cucuku dibesarkan oleh keluarga pemulung itu.”
“Apa bedanya Retno ! anak yang telah bertahun-tahun kau didik dan kau besarkan, saat ini kau buang keseorang pemulung, sementara anak yang akan kau besarkan dan kau didik itu juga anak yang berasal dari keluarga pemulung ! nggak ada bedanya kan ?” jelas pak Hermawan.
“Cukup Pa ! cukup ! sepertinya kalian berdua nggak bosan-bosannya menghina orang lain, ingat Ma, Pa ! karma itu akan berlaku pada setiap orang yang dikehendaki Allah. Jangan Mama sampai lupakan hal itu, nanti Mama akan menyesal sendiri !” tegas Niko lagi.
“Jadi kau menyalahkan Mama dan Papa mu ?”
“Niko tak menyalahkan siapa-siapa, Ma. Tapi Niko heran, kenapa kalian begitu benci sekali pada keluarga istriku, padahal mereka nggak merugikan kalian sama sekali.”
“Nggak merugikan kita ? Jelas rugilah ! Terutama sekali, Mama telah kehilangan dirimu. Karena mereka telah merebut putra satu-satunya dari Mama, yaitu kamu !”
“Mama salah, nggak ada yang merebutku dari siapapun juga, Mama merasa seperti itu, karena keegoisan Mama sendiri.”
“Diaam ! Lama-lama kau bisa jadi anak durhaka Niko ! selalu saja membantah omongan orang tua.”
“Itu semua salah Mama yang terlalu egois. Coba saja kalau kalian menghargai istriku sedikit saja, tentu kejadiannya nggak seperti ini.”
“Ooo kau menyalahkan Mama ?” kata Retno tersulut emosi.
“Iya, karena itu semua memang salah Mama !”
“Tutup mulutmu anak durhaka ! sekarang keluar kau dari rumah Mama, belain terus istrimu yang anak pemulung itu !”
“Walau dia anak seorang pemulung, tapi dia lebih mulia dimata ku ! permisi !” kata Niko seraya pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Karena telah di usir oleh Mamanya, Niko pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya, hatinya terasa begitu sedih dan sakit, dengan linangan air mata Niko langsung masuk kedalam mobil yang di parkir dihalaman rumahnya.
Sementara itu, sepeninggalnya Niko, Retno menangis tersedu-sedu, air matanya tak mau berhenti, walau Hermawan telah membujuknya dengan berbagai macam cara.
“Mama siih ! Terlalu memaksakan diri, apa Mama nggak tau gimana sifat Niko ? Dia akan tetap bersikeras kalau dia itu berada dipihak yang benar. Mama tau apa maksud Papa ? maksudnya, Mama itu saat ini berada diposisi yang salah.”
“Jadi Mama mesti gimana Pa, Mama pingin sekali memeluk dan mencium cucu mama itu, darah daging anak kita Pa ?”
“Papa tau, itu makanya, Mama jangan terlalu bersikeras, turuti aja apa maunya, Papa yakin jangankan memberikan satu orang anak, keduanya pun kalau Mama mau Niko pasti menyerahkan anaknya pada Mama.”
“Benar begitu Pa ?”
“Iya ! tapi Mama jangan berpura-pura baik pada mereka, karena jika saja hal itu mereka ketahui nantinya, mereka berdua justru tambah membenci Mama dan kita sekeluarga.”
“Kalau begitu Mama mau Pa !” jawab Retno dengan senangnya.
“Berfikirlah dulu, jangan terlalu cepat mengambil keputusan, karena keputusan yang tergesa-gesa nggak baik hasilnya.”
“Jadi Mama mesti gimana Pa ?”
Mendengar komentar dari suaminya, Retno diam saja.
Seperti halnya keluarga Intan, Alhuda juga merasakan hal yang sama dari keluarga Ranita, tekanan-yang datang bertubi-tubi juga dirasakan Ranita saat itu.
Resti yang telah berniat membawa masalah ini keorang pintar, terus saja di lakukannya, jika dia tak berhasil dari satu tempat, maka dia akan datang ke tempat yang lainnya.
“Jadi gimana nyai ?” tanya Resti yang datang kerumah dukun itu sendirian di tengah malam.
“Besok malam pergilah kau ke kuburan orang yang baru meninggal di malam jum’at Kliwon, ambil tanah kuburan itu sedikit dan bawa kesini.”
“Apa ! tanah kuburan ? apa nyai nggak salah ?”
“Hei ! yang bisa baca jampi-jampi itu aku ! dan yang bisa mengobati orang itu aku ! kalau kau mau mengerjakan apa yang kusuruh, ya kerjakan ! tapi kalau kau nggak mau ya terserah !”
“Masalahnya itu aku nggak berani ke kuburan malam-malam nyai ?”
“Kau kan banyak uang, kau bisa kan, menyuruh orang lain untuk mengambil tanah kuburan itu ! dan kau nggak perlu mengotorkan tangan mu yang halus itu untuk hal semacam ini !”
__ADS_1
“Ternyata Nyai pintar juga ya ?”
“Jangan di lanjutkan, aku marah kalau kau terlalu banyak bicara.”
“Baiklah ! nanti akan kusuruh orang lain untuk mengambil tanah kuburan itu sedikit.”
“Ingat ! jangan sampai salah ambil !”
“Kalau sampai salah ambil gimana nyai ?”
“Karmanya akan menimpa diri mu sendiri.”
“Wah ! gawat dong kalau begitu !”
“Itu makanya kau sendiri yang mengambilnya, jangan menyuruh orang lain, karena orang lain terkadang punya niat jahat pada kita.”
“Gimana kalau yang mengambilnya orang suruhan Nyai aja, pasti mereka mengetahuinya ?”
“Aku memang punya orang suruhan, tapi aku nggak mau jamin, kalau dia bisa di percaya.”
“Aduh ! kacau mah kalau begini.” Jawab Resti sembari keluar dari rumah Nyai Romlah.
Dengan langkah pelan, Resti pun kembali kerumahnya, sementara itu di rumah Margono telah menunggu sedari tadi. Karena merasa takut, Resti masuk rumah dengan cara mengendap-endap seperti maling.
“Ehem !” jawab Margono, seolah-olah memberi isyarat kepada istrinya kalau dia saat itu sudah berada didalam rumah.
“Eh, Papa !” jawab Resti malu.
“Dari mana kamu ? kok jam segini baru pulang ?”
“O anu Pa, anu, tadi Mama mampir dulu kerumah teman.”
“Benar mampir kerumah teman ?” tanya Margono sedikit curiga.
“Iya, Pa ! buat apa Mama berbohong !
Bersambung...
__ADS_1