
Zakia dan Leni yang mendengarkan hasil rapat malam itu, sempat berdecak kagum pada pria tua yang menjadi pemimpin di dalam rumah megah itu.
Tidak sedikit biaya yang akan digelontorkan oleh seluruh putra putri Mang Ojo, akan tetapi mereka tak ada yang merasa keberatan dan kecewa saat itu.
Benar saja setelah selesai rapat di malam itu, keesokan harinya, mereka semua mulai bekerja sesuai dengan rencana yang telah disepakati, halaman panti yang begitu luas, dihiasi dengan tenda dan pelaminan yang sangat indah.
Di sebelah panti, Dika juga megerahkan puluhan tenaga kerja untuk membuat rumah sederhana untuk mereka yang baru menikah.
Acara pernikahan sangat meriah sekali, pasangan pengantin juga telah duduk di atas pelaminannya masing- masing, ruangan panti paling bawah di sediakan Dika sebanyak enam kamar dan di hiasi dengan pernak Pernik yang berwarna warni.
Semua penghuni panti sangat bergembira saat itu, anak-anak dapat menyicipi makanan apa saja yang mereka sukai.
Dika dan Yulia tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah, atas semua rezeki yang telah dititipkan kepada mereka.
Tampak juga kedua orang tua angkat Yulia sedang menggendong si kecil sembari ikut bergoyang-goyang kecil, mendengarkan alunan musik yang sangat mendayu indah.
Semua tamu undangan juga sudah banyak yang datang memberikan ucapan selamat pada pasangan mempelai.
Seorang Ibu, yang berada disekitar pemukiman itu, bertanya pada pengawas panti, tentang acara yang sedang terselenggara tersebut.
“Kamu penghuni panti ya?” tanya perempuan itu pada Sofia.
“Iya, saya salah seorang pengawas yang di tunjuk Pak Dika, untuk mengatur anak-anak panti.”
“Penghuni pantinya banyak, ya?”
“Iya, banyak juga,” jawab Sofia sembari terus bergoyang mengikuti irama musik.
“Ada berapa orang?” tanya perempuan itu tak henti hentinya bertanya.
“Sangat banyak,” jawab Sofia kemudian.
“Acara pesta ini, siapa yang mengadakannya?”
“Mang Ojo, beserta anak-anaknya.'"
“Mang Ojo itu orang kaya?”
“Iya, hartanya semakin hari semakin bertambah, dia begitu dermawan, begitu juga dengan kelima anak-anaknya selalu bersedekah pada siapa saja, kami yang tinggal di panti ini saja, selain kebutuhan kami di penuhi, kami juga di jatah uang saku setiap paginya.”
“Berapa?”
“tergantung usia,” jawab Sofia santai.
Merasa puas dengan jawaban Sofia, perempuan itu langsung pergi dari tempat itu, sementara yang lainnya masih menikmati acara pesta dengan bergembira ria.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, bel rumah Mang Ojo berdering, seisi rumah saling beradu pandang, mereka semua bertanya-tanya di dalam hati.
__ADS_1
Tak ingin menunggu, majikannya bicara, Zakia langsung membukakan pintu, di depan pintu telah berdiri seorang wanita muda seraya menggandeng anak di tangannya.
“Ibu siapa?” tanya Zakia heran.
“Betulkah ini rumahnya Mang Ojo?”
“Betul, memang ini rumahnya.”
“Bisa saya bertemu dengan Mang Ojo?”
“Ooo, tunggu sebentar,” jawab Zakia sembari berlari menghampiri Mang Ojo.
“Siapa yang datang Kia?” tanya Fatma yang baru selesai mandi.
“Nggak tau Bu, tapi katanya dia mau bertemu dengan Bapak.”
“Suruh dia masuk!” perintah Mang Ojo pada Zakia.
Karena telah di beri izin, perempuan itu langsung masuk, dan menghampiri Mang Ojo beserta Fatma. Di hadapan Mang Ojo dan Fatma perempuan itu langsung saja bersimpuh dan menangis.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Fatma ingin tau.
“Ini anak yatim, Pak,” ujar perempuan itu seraya memegang kedua pundak putranya.
“Lalu kenapa dengan dia?”
“Sekarang suamimu itu mana?”
“Dia keluyuran saja kerjaannya, Pak. Kalau pulang dia hanya minta uang dan marah-marah pada kami berdua.”
“Suami mu hobi judi dan minum?”
“Iya, Pak! bahkan dia juga pernah hendak menjual kami pada mucikari. Sebenarnya aku sudah nggak tahan dengan perlakuannya itu. Ingin sekali aku pergi dari rumah, tapi aku nggak tau kemana harus pergi, tapi hari ini mataku terbuka, kalau selama ini Bapak memiliki rumah panti.”
“Iya rumah panti itu sudah lama berdiri dan putra saya yang mengelolanya di sana.”
“Bolehkah saya tinggal di panti bersama putra saya ini, Pak?”
“Boleh, saya nggak merasa keberatan kok. Asal kan, apa yang barusan Ibu bicarakan tadi benar adanya.”
“Benar Pak, saya nggak bohong! Jika pun kami kembali, kami juga sudah nggak punya rumah lagi, karena suami ku telah menjualnya.”
“Memang jahat suami mu itu,” jawab Mang Ojo kesal.
Setelah pengaduan perempuan itu diterima, Mang Ojo langsung memerintahkan Zakia untuk memberinya makan. Zakia menuruti apa yang di katakana majikannya itu.
“Anak Ibu siapa Namanya?” tanya Fatma ingin tau.
__ADS_1
“Debi, Bu.”
“Debi udah sekolah?”
“Saya nggak punya biaya untuk menyekolahkannya, Bu.”
“Di depan panti ada sekalah dasar, yang kami bangun, kau bisa mengantarkan anakmu kesana, selama di panti kalian juga mendapatkan uang saku setiap paginya. Manfaatkan uang itu sebaik-baiknya, siapa tau jika kalian ingin keluar dari Panti, kalian punya sedikit modal.”
“Terimakasih, atas kebaikan Ibu sekeluarga.”
“Sekarang silahkan kalian makan yang kenyang, nanti putra saya yang akan mengantar kalian ke panti.”
“Baik, Bu,” jawab perempuan itu sembari menuju ruang makan.
Di panti asuhan milik Mang Ojo, memang telah tersedi fasilitas yang lengkap, ada mini market disana, ada masjid tempat beribadah, ada SD dan SMP, yang menampung anggota panti, sedangkan gurunya, adalah para pengajar terbaik.
Di saat keduanya sedang menyantap hidangan dengan lahabnya, Fatma memandangi Debi, dengan sorot mata yang lain, wajah Debi yang polos dan cantik, membuat Fatma begitu tertarik padanya.
“Nama mu siapa?” tanya Fatma pada perempuan itu.”
“Ema, Bu,” jawab Wanita itu.
“Ema punya keahlian apa?”
“Saya punya keahlian menjahit, Bu?”
“Menjahit?”
“Iya, Bu.”
“Ema, udah lama bisa menjahit?”
“Dulu Ayah dan Ibu saya seorang penjahit Bu.”
“Berarti Ema, bisa merancang model pakaian.”
“Bisa, Bu. dulu semasa Ayah dan Ibu masih hidup, mereka juga merancang berbagai model busana, banyak sekali para pelanggan, yang memesan baju dari hasil tangan Ayah sendiri, tapi setelah Ayah pergi, saya jatuh miskin, dan saya bekerja sebagai buruh cuci di rumah orang.”
“Baiklah, kalau begitu, untuk sementara waktu, Ema tinggalah disini dulu, nanti, Ibu akan mendirikan sebuah butik disini, dan kita ambil karyawannya dari panti.”
Mendengar ide fatma yang begitu cemerlang, hati Ema begitu senang sekali, hidupnya yang selama ini terasa begitu menyakitkan pagi itu dia tampak tersenyum lebar sekali.
Dalam kehidupan Ema, jangankan untuk tertawa, tersenyum pun dia sudah tak pernah lagi, pipinya yang cantik hanya dia sediakan untuk mengalirkan air mata saja.
Kemiskinan dan susahnya hidup, merupakan factor utama, yang membuatnya selalu menangis. Di tambah lagi siksaan yang di lakukan oleh suaminya, hal itu menambah beban pikirannya semakin menumpuk.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*