Mutiara Yang Terabaikan

Mutiara Yang Terabaikan
Part 89 Hati yang tersentuh


__ADS_3

“Tapi dia itu!”


“Tunggu dulu, saya belum selesai bicara, Ibu bisakan sekedar merespon keluhan mereka saja? Siapa tau, ide dan keluhan seseorang itu baik dan bermanfaat bagi restoran Ibu.”


Karena merasa pembicaraannya di potong oleh pria itu, Aida terpaksa diam saja, dia hanya sekedar menganggukkan kepalanya di hadapan pria itu.


Akan tetapi setelah pria itu selesai bicara, Aida yang suka emosi, dia langsung bicara pada pria itu. Bahkan tanpa berbasa-basi sedikit pun, karena menurut Aida, pada permasalahan saat itu dia tak merasa bersalah sama sekali.


“Udah bisa saya bicara, Pak,” ujar Aida dengan suara sedikit bergetar.


“Oh, silahkan,” jawab pria itu sembari kembali duduk.


“Agar Bapak ketahui, Ibu yang datang tadi itu, dia itu bukan pembeli dan bukan pula pelanggan direstoran ini, akan tetapi, dia itu adalah Ibu dari Pak Niko.”


“Ibu dari Pak Niko pemilik restoran ini?”


“Iya, Bapak benar,” kata Aida membenarkan ucapan pria itu.


“Tapi! Ibu Pak Niko itu, tak pernah merestui pernikahan mereka berdua, oleh sebab itulah dia selalu datang dan membuat onar disini.”


“Ooo, begitu ya, kejadian yang sebenarnya, tapi kenapa Ibu nggak bilang sedari tadi.”


“Gimana saya mesti bilangin, kalau ngomong aja, langsung di marahi tadi,” jawab Aida dengan wajah masam.


“Ya udah saya minta maaf, lain kali, kalau ada pelanggan yang komen, Ibu jangan cepat emosi dulu,” ujar pria itu.


“Iya, saya tau, Neng Intan juga bilang gitu kok.”


“Ya udah, kalau begitu saya permisi dulu.”


“Silahkan, Pak.”


Setelah pria itu berlalu dari restoran, Aida yang masih sakit hati, berusaha untuk tetap tenang, agar bawaan amarahnya tidak melebar kemana-mana.


“Kenapa ya, orang kaya itu selalu saja bersikap sombong dan angkuh, padahal kekayaan yang mereka miliki semua itu hanya titipan belaka.”


“Kamu benar Tin, orang kaya memang kebanyaannya seperti itu. Sombong dan angkuh, apa lagi orang yang bekerja sebagai pejabat negara, mereka itu, lebih sombong lagi.”


“Iya, mereka itu nggak sadar, kalau gaji yang mereka terima tak terlepas dari keringat kita para rakyat kecil. Mereka enak-enak duduk di kursi yang empuk, makan enak dan hidup mewah, bisa shoping, bisa refreshing sesuka hatinya.”

__ADS_1


“Iya, itu pun masih juga korupsi, padahal gaji yang mereka terima perbulannya bisa untuk biaya hidup orang satu kecamatan,” jawab Aida berlagak tau.


“Waau, mereka benar-benar nggak mensyukuri ya, coba saja mereka bandingkan dengan gaji yang kita terima, hanya seujung kuku.”


“Mesti pun demikian, kita tetap bersyukur, karena telah diberi kesehatan dan umur panjang, sehingga kita dapat memberi makan anak-anak dirumah.


‘Iya, kamu benar Da, apa lagi semenjak Fatma memberikan kita pekerjaan ini, kita nggak susah lagi bekerja mengais sampah, untung nggak seberapa, hina nya malah nggak sepadan dengan yang di dapat.”


“Ya udah Tin, sebaiknya kita lanjutkan bekerjanya,” ujar Aida pada Tini.


“Baik Da,” jawab Tini sembari kembali bekerja.


Meskipun restoran di tinggal oleh Intan, namun rezeki nggak pernah meninggalkan dirinya, selama Intan pergi, restoran dipercayakannya kepad Aida, di tangan Aida, semua berjalan dengan aman terkendali.


Akan tetapi malam itu, setelah semua orang tertidur dengan pulas, beberapa orang pria, suruhan dari Retno datang menghampiri restoran yang saat itu telah tutup, mesti demikian, di dalam restoran itu ada Ujang, yang di percaya Intan untuk menjaganya.


Beberapa orang pria itu datang mengendap-endap dari balik pepohonan, karena malam itu turun hujan gerimis, Ujang tertidur dengan pulas sekali, sehingga dia tak mendengar kalau pintu dapur di congkel dari luar.


Dengan tenang dan santai, pria itu masuk kedalam restoran dan menggasak perhiasan serta uang milik Intan yang jumlahnya sangat banyak sekali, bukan hanya sekedar itu saja, mereka juga menikmati hidangan restoran yang masih tersisa saat itu.


Walau di luar suasana sangat gaduh dan ribut, namun Ujang tak sadar dan bahkan dia tak mendengar apa-apa malam itu.


Benar apa yang ada dibenaknya saat itu, kalau maling itu telah menggasak perhiasan dan uang milik Intan yang sangat banyak sekali.


Melihat kejadian itu, Ujang langsung berlari menuju rumah Mang Ojo, walau jaraknya agak sedikit jauh, namun Ujang tak merasakan hal itu.


Di dalam rumah itu, semua penghuninya sedang melaksanakan sholat subuh berjama’ah, Ujang yang merasa tak sabaran terpaksa harus menunggu, sampai mereka semua selesai melaksanakan sholat.


Dengan resah, Ujang berjalan hilir mudik diruang tamu, mesti dia menunggu dengan resah, namun matanya tak henti-hentinya memperhatikan Mang Ojo sekeluarga sholat.


Setelah di lihatnya Mang Ojo selesai salam, ujang langsung bergegas menemui Mang Ojo, setelah dekat dan ketika Ujang hendak bicara, tiba-tiba saja Mang Ojo mengangkat tangannya keatas.


Ujang merasa bingung, kenapa saat itu Mang Ojo mengangkat tangannya, padahal dalam pelajaran agama sewaktu masih sekolah dulu tak ada tambahan untuk mengangkat tangan selesai sholat.


Karena merasa bingung Ujang kembali buka suara untuk mengabarkan perihal kejadian yang menimpa keluarga Intan.


Lagi-lagi seraya bertasbih, Mang Ojo kembali mengangkat tangannya, Ahong yang melihat kejadian itu langsung menghampiri Ujang.


“Ada apa? Kok ngotot banget ingin bicara?”

__ADS_1


“Rumah Neng Intan kebobolan maling!” jawab Ujang pelan.


“Intan itu siapa?” tanya Ahong ingin tau.


“Intan itu putri kedua Mang Ojo yang saat ini sedang ke Kota Batam untuk melihat keadaan restorannya di sana,” jelas Ujang kepada Ahong.


Tampak Ahong manggut-manggut, mendengar penjelasan dari Ujang yang saat itu masih menunggu Mang Ojo selesai sholat.


“Itu tadi kenapa ya, Bapak mengangkat tangannya sewaktu Sholat, padahal dalam sholat nggak ada lho, tambahan untuk mengangkat tangan?” ujar Ujang pada Ahong.


“Mana saya tau, yang beragama Islam itu kan kamu, masa kamu malah nanya ke saya.”


“Iya juga sih,” jawab Ujang sedikit malu.


“Apakah kamu nggak bisa sholat, seperti mereka?”


“Pernah juga, semasa kecil, tapi semenjak remaja sampai sekarang, saya udah meninggalkannya.”


“Kenapa di tinggalkan? Itu kan bagian dari ajaran agama yang kamu anut, nanti menyesal lho.”


“Sebenarnya menyesal juga, tapi saya begitu enggan untuk menjalankannya.”


“Saya yang non Muslim saja, melihat mereka selalu melaksanakan sholat, kadang hati saya terasa begitu asing sekali, ingin sekali rasanya saya ikut bersama mereka sujud dan menyembah Tuhan mereka sekeluarga.


“Benar, kamu mau masuk Islam?”


“Sebenarnya begitu, karena semakin hari, hati Nurani saya semakin terpanggil untuk mengikuti mereka, mesti dulu saya melarang putri saya untuk masuk Islam, tapi setelah kejadian ini, saya jadi menyesal.”


“Menyesal kenapa?”


“Coba saja dulu saya izinkan putri saya masuk Islam dan menikah dengan dr. Zaki, pasti kejadiannya nggak seperti ini.”


“Saya turut berduka ya, Pak. semoga kejadian yang di alami putri Bapak dapat memberi pelajaran yang berharga untuk kita semua.”


“Ternyata kamu pintar juga ya,” kata Ahong sembari menepuk pundak Ujang dengan pelan.


Bersambung...


\*Selamat membaca\*

__ADS_1


__ADS_2