
“Tapi Pak, untuk dua hari ini saja kami sudah mendapatkan makanan sedikit,” ujar seorang anak pada Mang Ojo.
“O ya?”
“Iya, Pak, mereka menjatah makanan kami hanya sedikit dari yang biasanya, dan itu pun hanya dua kali sehari kami di beri makan, kata Bu sotia, Pak Dika nggak punya biaya lagi untuk memberi makan kita, jadi kita harus berhemat.”
Di saat anak itu bicara, mata Mang Ojo hanya menatap pilu kearah Bu Sotia yang tampak menunduk kan kepalanya.
“Bu Sotia memang benar, Pak Dika saat ini memang sudah kehabisan uang, tapi kami semua tetap berusaha untuk mencari donatur yang bisa membiayai kalian semua.”
Semua tampak diam, di saat Mang Ojo bicara, hati mereka dalam rasa takut, karena takut harus kembali ke jalanan, jadi pengemis dan pemulung.
Setelah hampir dua minggu mereka berusaha kian kemari untuk meminta bantuan, mereka pun kehabisan cara, karena dana yang bisa di kumpulkan hanya sedikit sekali, sementara anak-anak panti telah resah, mereka ada yang sakit dan bahkan seorang nenek tampak lemah karena hanya mendapat sedikit makanan.
Malam itu Nurul menangis di dalam kamarnya, setiap kali dia keluar rumah, hanya penderitaan anak panti yang dia dengar, malam itu Nurul bermunajad ke pada Allah, agar di beri kekuatan untuk menghadapi masalah itu.
Pagi itu keputusannya sudah bulat, akan menerima Riza sebagai suaminya, agar Pak Handoko bersedia membantu anak-anak panti, agar mereka bisa kembali ceria.
“Semoga saja pengorbanan ku nggak sia-sia kali ini, aamiin!”
Ketulusan hati Nurul, membuat semua keluarga menjadi terharu, Nurul rela melakukan pernikahan itu, agar anak panti dapat menikmati hidup yang layak.
“Apakah udah kau putuskan nak?” tanya Mang Ojo.
“Udah Pak, aku udah mengambil keputusan ini, demi anak-anak panti, biar aku yang mengalah.”
“Tapi nak, bukan kah hari itu kau bilang sama Bang Zaki kalau kau nggak mencintai pria itu?”
“Untuk apa mempertahankan cinta Pak, aku lebih baik nggak punya cinta, dari pada banyak nyawa yang melayang.”
Fatma yang mendengar jawaban Nurul air matanya mengalir tak terasa, perasaan haru bercampur sedih, mengusik hatinya.
Di peluknya tubuh Nurul dengan lembut, tak ingin rasanya dia melepaskan putri kecilnya itu untuk di jadikan korban oleh psikopat.
__ADS_1
“Buatlah satu perjanjian sebelum kau menikah dengan pria itu,” ujar Fatma pada Nurul.
Ucapat Fatma bagai satu senjata yang tajam bagi Nurul, hal itu menjadikan nya semakin yakin untuk menerima lamaran pria itu.
Benar saja, disaat ijab qobul akan di laksanakan, Nurul pun angkat bicara, Pak Handoko yang mendengar langsung memberi Nurul izin.
“Kau mau bicara apa nak?” tanya Pak Handoko.
“Aku mau menikah dengan Riza dan iklas menjadi istrinya lahir dan bathin, tapi ada beberapa syarat yang harus di laksanakan oleh Riza, kalau dia menyanggupinya maka aku bersedia menikah dengannya.”
“Baik, baik, katakan saja aku pasti memenuhinya,” jawab Riza tanpa berfikir panjang.
“Pertama, cukupi semua kebutuhan anak-anak panti, sampai waktu tertentu, yang kedua, jangan pernah berbuat kekerasan kepada ku, walau hanya sekali, yang ketiga, jika keluarga ku datang berkunjung hargai dia sebagai keluarga sendiri.”
“Nurul, ternyata kau begitu pintar membuat alasan, awas kau ya, akan ku buat kau lebih menderita lagi nantinya.” Ucap Riza di dalam hatinya.
Mendengar permintaan Nurul, Riza langsung menyanggupinya, wajahnya tak memperlihatkan sedikit pun kalau dia dalam masalah.
Malam itu setelah acara pernikahan mereka selesai di laksanakan, Nurul sebagai seorang istri, dengan lembut dan penuh kasih sayang melayani suaminya dengan baik, mesti tak ada cinta di hatinya untuk Riza.
Riza yang hampir tiap malam mendengar do’a Nurul, hatinya semakin hari semakin berubah menjadi lembut, sikap kasar dan kejam yang dia miliki semasa lajangnya, tak lagi terlihat setelah mereka menikah.
Apa lagi Nurul melayani suaminya dengan baik dan penuh cinta kasih, hal itu membuat Riza menjadi puas dan senang.
Sepulang bekerja, Nurul sering membawa Riza menemui kedua orang tuanya, dan bahkkan Nurul mengajak Riza ke panti, melihat begitu banyak anak-anak yang menginginkan belas kasihan dari dirinya.
Pak Handoko yang melihat penyakit Riza tak pernah kambuh, hatinya menjadi senang, kemuliaan hati Nurul telah membuktikan kalau kelembutannya telah menyembuhkan penyakit psikopat yang di derita oleh putra tunggalnya itu.
“Gimana dengan pernikahan mu sayang, semuanya baik-baik saja kan?”
“Beres pa, aku senang sekali. Nurul adalah istri yang sempurna, baik dan sholehah.”
“Syukurlah, semoga kau dapat menjaganya dengan baik istri yang kau cintai itu.”
__ADS_1
“Baik, Pa,” jawab Riza senang.
Lima bulan setelah pernikahan mereka berlalu, Nurul pun dinyatakan hamil, pasangan ini begitu senang sekali, mereka merasakan kebahagian hidup, karena ada bayi yang selalu menemani hari hari mereka berdua.
Setelah usia kandung Nurul mencapai bulannya, dia pun melahirkan seorang bayi laki-laki, tampan dan sangat lucu, tapi dengan kehadiran bayi itu Riza tampak menunjukan sikap anehnya.
Pagi itu setelah Nurul selesai memandikannya, Bayi itu di letakkan di atas Kasur, karena cuaca dingin Nurul menyelimutinya dengan handuk, di saat itu Riza masuk kedalam, melihat bayi mungil itu menangis, Riza langsung mengangkatnya.
Akan tetapi betapa terkejutnya Nurul saat melihat Riza mengangkat sebelah kaki bayinya sambil tertawa senang. Nurul langsung berlari dan merebut bayi itu dari tangan Riza.
“Gila kau Bang, kau mau kaki anak kita patah hah!”
Melihat mata Nurul yang melotot tajam kearahnya, Riza langsung marah dan menggigit tangan Nurul yang memeluk bayinya hingga berdarah.
Karena di gigit, darah pun mengalir begitu banyak dari tangan Nurul, Riza menjadi senang, dia tersenyum dan bertepuk tangan. Melihat Riza yang sepeerti itu, Nurul berusaha untuk menyelamatkan diri bersama dengan putranya.
Nurul berlari kearah pintu, namun Riza telah menutup pintunya dan berusaha untuk mengejar Nurul, karena Nurul ketakutan Riza malah tersenyum dan tertawa senang.
“Oh, ya Allah. tolong aku!” jerit hati Nurul.
“Percuma saja, tuhanmu nggak akan datang untuk menolong mu.”
“Astagfirullah, aku lupa kalau dia bisa membaca pikiranku.”
“Sini bayi itu, biar kupatahkan kakinya sampai dia menangis,” ujar Riza tersenyum manis.
“Nggak, kau Ayah yang kejam, dasar psikopat jahanam.”
“Kurang ajar, kau katakan aku seorang psikopat?”
Mendengar ucapan Nurul itu Riza bertambah marah, emosinya langsung meningkat, dia berusaha mengejar Nurul dan merebut bayi itu dari tangan Nurul yang berdarah-darah.
“Tolong! Tolong! Ada orang di luar, tolong aku!” teriak Nurul sekuat tenaganya.
__ADS_1
Bersambung...
\*Selamat membaca\*